Skip to main content

Tentang Pemberian ASI; Botol atau Langsung?

Botol susu mungkin menjadi barang yang dibeli saat mempersiapkan kelahiran bayi. Saya pun demikian. Saat Amay bayi, saya bahkan sempat memberikan ASI yang sudah saya perah dengan dot. Hal itu dikarenakan ASI saya yang Alhamdulillah sangat melimpah, sedangkan Amay saat itu masih hobi tidur. Dibangunkan pun susah, sehingga mau tidak mau saya pun memerah susu untuk kemudian disimpan di botol, meskipun saya selalu ada di rumah.

Syukurnya, setelah tiga bulan Amay sudah bisa memutuskan untuk lebih memilih puting saya dibanding puting yang terdapat pada botol susu. Alhamdulillah sekali, karena banyak cerita yang saya baca dan dengar, bahwa terkadang bayi lebih memilih minum ASI melalui botol dibanding langsung menghisap dari puting ibunya sendiri. Alhamdulillah lagi, saya tidak perlu repot dan pusing memikirkan bagaimana cara memisahkan anak saya dari botol susunya. Kebetulan juga, Amay tidak saya beri susu formula.

Ketika usia Amay sudah dua tahun dan tidak minum ASI lagi, saya menyediakan air putih setiap malam, jaga-jaga ketika dia kehausan. Amay memang sudah terbiasa minum dengan gelas sejak kecil.

Nah, bagi ibu-ibu yang memberikan susu melalui botol, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Jangan merebus botol susu! Karena jika direbus, botol berbahan dasar plastik ini akan melepaskan residu senyawa kimia, yaitu bisphenol-A (BPA) yang sangat berbahaya, baik pada sistem reproduksi, saraf dan sistem daya tahan tubuh. 
2. Jangan menggunakan sikat yang kasar karena bisa menggores bagian dalam plastik. Senyawa dalam botol plastik juga sangat berbahaya bagi kesehatan.
3. Mensterilkan botol susu bisa juga dilakukan dengan alat sterilisasi perlengkapan bayi yang sudah tersedia di pasaran. 
4. Perhatikan cara membersihkan perlengkapan bayi yang benar. Misalnya dengan air hangat yang sudah diberi sabun khusus pencuci perlengkapan bayi, membilas dengan air yang mengalir, dll.

Jika pemberian ASI bisa dilakukan tanpa melalui perantara botol susu, maka lakukanlah. Ini tentu berlaku bagi stay at home mom. Saya sangat paham perjuangan working mom yang tetap ingin memberikan ASI secara eksklusif, dan saya salut pada mereka.

Bagi stay at home mom, ayo berdayakan apa yang ada dalam diri kita. Jika menyusui bisa kita lakukan secara langsung, mengapa harus diwakilkan pada botol? Menurut Muhammad Fauzil 'Adhim, pakar pernikahan dan parenting, menyusui sebaiknya dilakukan secara langsung. Biarkan anak mendapatkan ASI langsung dari puting ibu, karena hal ini akan berpengaruh pada perkembangan psikologis anak. Dari kegiatan menyusu itu, anak akan mempelajari perubahan psikologis sang ibu, dengan mendengar detak jantung dan merasakan suhu tubuh sang ibu. Menyusui secara langsung, akan mempererat ikatan batin antara ibu dan anak. Dan tentunya, kita tak perlu repot membeli botol dan mensterilkannya, bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Jawa Timur Park 2 (Batu Secret Zoo)

Beberapa waktu lalu, alhamdulillah keluarga kecil kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Malang. Awalnya saya dan Amay hanya ingin menemani suami bertemu dengan kliennya, namun kemudian terpikir untuk sekaligus berwisata ke Batu. Mumpung ada waktu :)

Karena budget kami terbatas, kami memilih hotel yang ramah di kantong. Hanya dengan 200 ribu rupiah per malam, kami sudah bisa menikmati kamar yang nyaman, fan, televisi, juga air hangat untuk mandi. Tak perlu kamar ber-AC lah, karena Malang sudah cukup sejuk :). Kami juga memilih hotel yang tak terlalu jauh dengan stasiun, tentunya agar menghemat ongkos transportasi. 

Keesokan harinya, kami mengunjungi Jawa Timur Park. Lagi-lagi, untuk menghemat pengeluaran kami menyewa sepeda motor untuk pergi kesana. Biaya sewa motor rata-rata 50 ribu - 60 ribu, atau 75 ribu untuk layanan antar jemput. Jadi kita tak perlu mengambil dan mengembalikan sendiri sepeda motor sewaan kita. (Sudah bisa disebut backpacker belum? :p) 
Oya, tentang Jatim Park, …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …