Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan Marshanda?

Marshanda memang sedang menjadi sorotan beberapa bulan terakhir. Bermula dari gugatan cerainya pada sang suami, Ben Kasyafani, ia membuat publik ternganga tak percaya. Rumah tangga yang terkesan harmonis dan romantis selama ini, ternyata berujung perpisahan. Kemudian perebutan hak asuh anak antara keduanya juga menjadi perbincangan, hingga yang paling menghebohkan adalah keputusan Marshanda untuk melepas hijab. Belum hilang kekecewaan para fans, walaupun semua itu merupakan hak asasinya untuk membuka atau menutup aurat, publik kembali dikejutkan dengan berita pemasungan yang dilakukan oleh ibunya sendiri.

cantik banget kan ya?

Awalnya saya kurang tertarik mengikuti perkembangan beritanya. Saya juga mengetahui ini semua dari berita yang disebarkan teman-teman facebook, bukan dari infotainment. Namun kasus terakhir menggelitik naluri saya, ada apa sebenarnya dengan Chacha, begitu Marshanda biasa disapa. Saya pun iseng membuka situs youtube, mencari sesi wawancaranya bersama Alvin Adam dalam Just Alvin.

Dari wawancara itu, saya mencoba melihat permasalahan ini dari sisi Chacha, setelah selama ini saya melihat semua dari sisi saya sendiri. Saya cukup terkejut ketika ia menceritakan tentang ibundanya yang selama ini menjadi managernya. No, bukan soal manajemen keuangan yang memang menjadi pokok persoalan antara Chacha dengan sang ibu. Saya justru mulai mengernyitkan dahi dan tak henti bertanya-tanya pada diri sendiri, ketika Chacha bercerita bahwa ketika dia sakit dan meminta perhatian lebih pada sang ibu untuk memeluk dan mengelus-elus punggungnya, sang ibu menolak sembari menangis dan berkata bahwa beliau sudah cukup tua, begitu tega Chacha memintanya untuk selalu terjaga dan kehilangan waktu tidur.

Oh ibu, apa kasihmu masih tak terhingga sepanjang masa? Apa kasihmu masih seperti mentari, yang hanya memberi dan tak harap kembali?




Oh, benarkah sampai seperti itu? Jika benar apa yang dikatakan Chacha dalam acara Just Alvin beberapa hari lalu, maka bagi saya sudah jelas bahwa rentetan peristiwa yang Chacha alami adalah hasil dari pola asuh yang diterapkan sang ibu. Ini memang belum bisa dikatakan sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), wong cuma menolak diminta mengelus punggung. Tapi dari satu hal ini saja, saya koq percaya dengan curhatan Chacha yang sering mengatakan bahwa ia butuh didengar, butuh disayang. See? Happiness has nothing to do with money, beauty, and even popularity.

Kemarin-kemarin, saya hanya berkesimpulan, "Oh, dahsyat sekali ya pengaruh perceraian orang tua terhadap anak-anaknya?" Tapi setelah menyaksikan wawancara itu, saya jadi lebih banyak bertanya pada diri sendiri. Apa ya yang menyebabkan kedua orang tua Chacha bercerai? Apakah karena sikap masa bodoh sang ibu terhadap suaminya? Kalau benar masa bodoh, hingga menyebabkan berkurangnya rasa hormat istri terhadap suami, apakah itu karena kekayaannya? Apakah sang ibu berpikir bahwa ia tidak membutuhkan laki-laki pendamping karena semua bisa dilakukannya asal punya uang? Dan ini berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan lain. Mengapa sang ayah sampai begitu tega hingga enggan menemui anak-anaknya? Mengapa Chacha mesti mencari sendiri dimana ayahnya berada?

Saya mulai sedikit memahami apa yang Chacha rasakan selama ini. Iya, dia merasa kesepian dan haus kasih sayang di tengah limpahan kekayaan yang diberikan keluarganya. Meskipun begitu, saya yang pernah merasakan menjadi seorang anak, juga sudah merasakan menjadi seorang ibu, menyayangkan sikapnya yang mengumbar aib ibunya sendiri. Saya kemudian terngiang-ngiang sebuah nasihat mulia dari Uwak Muhammad ketika silaturrahmi lebaran yang lalu. "Meskipun ibumu membuangmu, kamu tidak punya hak sedikitpun untuk membalasnya. Kamu masih punya kewajiban penuh untuk menghormatinya."

Semoga Chacha bisa berdamai dengan masa lalunya. Karena setiap manusia diuji sesuai kesanggupannya masing-masing. Ada yang diuji dari sisi finansial, kesehatan, dan mungkin untuk Chacha adalah ujian dari keluarga. Tidak ada orang yang bisa disebut beriman, sebelum dia benar-benar diuji, bukan?

Komentar

  1. Iya, just alvin yg terakhir dan meninggalnya Robin Williams yg ternyata struggle dengan depresi sepanjang hidupnya bikin saya tersadar juga.

    Marshanda mungkin menderita depresi seperti yg dikatakannya, dan seharusnya masyarakat tidak men-judge langsung dgn bilang dia stress, dan lain2. Mungkin Marshanda memang terluka dan seharusnya media massa juga step back dan lebih bijak saja jangan memanasi suasana hubungan dengan ibunya. Masyarakat juga begitu. Wallahu a'lam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget mbak, seharusnya masyarakat mau mengerti kalo ia butuh berproses untuk sembuh. Tidak melulu mengolok dan menghina, mungkin dukungan dari masyarakat bisa bikin dia sadar banyak orang yang ingin dia berubah lebij baik.

      Hapus
    2. Iya Mak. Kita aja kalau mengalami peristiwa yg traumatik nyembuhinnya lama, apalagi ini yang berlangsung sejak ortunya bercerai.. butuh waktu untuk sembuh.

      Hapus
  2. Ya, kita memang harus belajar menyimpulkan masalah dari 2 sumber. Nggak adil juga kalau hanya men-judge salah satu pihak.

    BalasHapus
  3. Ada yg menyalahkan orang lain atas keterpurukannya, tapi yg membiarkan terpuruk adalah dirinya sendiri, kurang kuat menghadapi masalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. perlu waktu Mak, dan lingkungannya juga harus mendukung.

      Hapus
  4. caca kok cerai ama suaminya knp ya mba? hehe ketinggalan berita

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang tau mba..Ben nya sih masih ingin mempertahankan rumah tangga mereka.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Transpulmin, Balsam untuk Atasi Gejala Influenza Pada Bayi dan Seluruh Anggota Keluarga

Sudah beberapa lama aku berada di tengah-tengah keluarga Pak Yopie. Aku dibawa kemari untuk menggantikan pendahuluku yang sudah disingkirkan, seiring dengan isinya yang semakin berkurang.

Kali ini, aku tak datang sendiri, karena aku ditemani saudaraku, yaitu TRANSPULMIN Balsam Keluarga, yang kemasannya berwarna kuning cerah.


Oya, aku sendiri bernama TRANSPULMIN BB Balsam. Aku lebih diperuntukkan bagi bayi di bawah 2 tahun. Jika bayi sedang batuk, pilek, atau terserang gejala influenza, maka aku dan kawan-kawanku siap bekerja.
Aku memiliki beberapa kelebihan dibanding balsam yang lain:
1. Aku tidak panas, hangatku pas jika dioleskan di kulit bayi. Ini karena aku tidak mengandung Menthol dan Camphor. Bisa dibilang, aku sangat mendukung #momenkehangatanibu
2. Aku tidak lengket, jadi bayi akan tetap merasa nyaman bersamaku.
3. Bauku harum karena mengandung ekstrak bunga Chamomile dan juga Eucalyptus Oil. Sudah tau belum, ekstrak bunga Chamomile memiliki banyak manfaat baik untuk kecantika…

Curug-Curug yang Ada di Kota Purworejo, Jawa Tengah

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil bernama Purworejo. Kota ini berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) di sisi timur, Kabupaten Wonosobo dan Magelang di sisi utara, Kabupaten Kebumen di sisi barat, dan Samudera Hindia di sisi selatan. Karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, tak heran jika salah satu daya tarik pariwisatanya adalah pantai. Pantai yang bisa kita temukan di Purworejo, antara lain: pantai Ketawang, pantai Jatimalang, juga pantai Jatikontal dan pantai Keburuhan.
Tapi kali ini saya tak hendak membahas tentang pantainya. Tulisan saya ini sekaligus ingin menjawab bahwa di Purworejo ada banyak hal menarik yang bisa dieksplor, sehingga kita tidak harus pergi ke kabupaten sebelah bila ingin berwisata.
Jujur saja, saya termasuk warga durhaka  yang suka melipir ke kabupaten sebelah jika bosan di rumah. Hingga kemudian saya tertampar dengan foto-foto Mas Amien Budiarto, teman SMA saya. Lewat foto-foto yang di unggahnya d…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …