Kamis, 09 April 2015

Ketika Gading Tak Boleh Retak

Karena saya pernah sekolah dan belajar bahasa Indonesia, tentu saya tak asing lagi dengan peribahasa yang berbunyi "tak ada gading yang tak retak" yang artinya tak ada manusia yang sempurna.

Namun akhir-akhir ini, banyak yang menginginkan kesempurnaan dari sosok bernama manusia. Siapa yang menginginkannya? Manusia juga. Tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri juga mempunyai kekurangan, seseorang terkadang berharap lebih terhadap orang lain.

Tak usah jauh-jauh. Lihat saja pendidikan kita, yang menuntut setiap orang menguasai banyak bidang "dengan baik". Kalau tidak, resikonya tidak naik kelas. Bahkan beberapa tahun lalu lebih sadis, tidak akan lulus jika nilai ujian nasionalnya dibawah standar. Alhamdulillah, tahun ini peraturan itu ditiadakan. Saya termasuk "korban" loh, hihi.. Di tahun kelulusan saya dulu, saya sempat deg-degan, khawatir tidak lulus.

Kembali ke soal di atas. Banyak sekali manusia yang menganggap dirinya lebih baik dari manusia lainnya. Yah memang sih ya, gajah di pelupuk mata selalu tak tampak sedangkan kuman di seberang lautan selalu mudah terlihat. Eh, kita belajar peribahasa lagi ini, hihi.. :D

Padahal kalau mau diingat-ingat, Pak Habibie saja punya kekurangan. Meskipun beliau sangat ahli dalam membuat pesawat, kecerdasannya pun tak payah diragukan lagi, tapi beliau ini polos dalam berpolitik. Ya you know lah, orang-orang macam apa yang doyan ngurusi politik. Kebanyakan, kebanyakan loh yaaa, kebanyakan dari politikus itu ya bermental TIKUS. Dan itulah kekurangan Pak Habibie.

Mau contoh lain lagi?

Raja Dangdut Rhoma Irama, siapa yang tak kenal? Dari kata "lari pagi" saja bisa jadi lagu yang indah lewat tangannya. Beliau itu, meskipun lihai dalam menggubah nada, tapi ada kurangnya juga. Kurangnya apa? Hehe, bagi saya sih, kurang setia. :p

Manusia itu tempatnya khilaf, salah, lupa. Yang Maha Sempurna hanyalah Allah Ta'ala. Jadi stop lah menghina-hina orang lain, apalagi sampai memojokkan orang yang kamu benci. Ayo belajar mengevaluasi diri sendiri, sudah sebermanfaat apa kita bagi orang lain?

Dan kembali lagi, tak ada gading yang tak retak. Maklumi sajalah.






2 komentar :

  1. bener mba... aku kdg abis sabar kalo baca di berita, tv, majalah, ttg sekelompok org yg ngejelek2in kelompok yg lain, trs merembet ke para pengikutnya yg nulis hal2 berbau provokatif di fb ato media sosial.. ujung2nya berantem deh.. jujurnya, udh bnyk temen2 yg aku unfriend, block, ampe unfollow cuma gara2 mereka menghina ato nyebarin link menghasut yg bikin panas.. FB ku jadi kotor -__-.. jd ga peduli sodara sendiri, ato sahabat, lgs aku delete.. jd org kok ya ga bs mikir positif gitu -_-

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...