Langsung ke konten utama

Saat Kaki Mas Amay Keseleo

Hari Minggu, 5 April 2015 lalu, kami kedatangan tamu dari Bandung. Cici Sharon, Cici Joyce, Ibu Ming Tjen, dan Pak Paul. Sharon dan Joyce, anak-anak manis yang sudah seperti kakak sendiri bagi Amay.

Ceritanya, Amay sangat bahagia karena kedatangan mereka. Sore itu, dia lari-larian sambil tertawa-tawa. Duh, kelihatan banget cerianya. Sampai menjelang maghrib tiba, mendadak Amay tak sanggup berjalan. Awalnya kami kira itu hanya acting belaka mengingat hari-hari sebelumnya ia selalu bertingkah seolah-olah sedang sakit.

Kami minta dia meluruskan kaki, dan bisa. Tapi ketika kami menyuruhnya berdiri, ia melipat lututnya sambil menangis, "Sakit loh, Ma..." Tangisannya berhenti ketika dia tertidur. Namun tak berapa lama ia kembali meringis. Kami sudah berusaha memijat bagian lututnya yang memang terasa kaku, tapi ternyata tak cukup menolong.

Esok paginya ketika bangun dari tidur, Amay meminta saya menggendongnya. Ia masih takut untuk berdiri. Kami bingung harus bagaimana. Suami sempat mencari tahu dimana tukang urut terdekat, bahkan terpikir untuk membawa Amay ke rumah sakit orthopedi.

Namun Allah sungguh Maha Penyayang. Allah mengirimkan penolong di tengah-tengah kami, yaitu Tante Diba. Beberapa saat setelah Diba masuk kantor (kantor Akanoma memang menggunakan rumah kami untuk sementara), kami menceritakan kronologi kejadian padanya. Rupanya, Diba pernah belajar tentang pijat refleksi. Anak itu memang cerdas, hehe, bisa mempelajari semuanya hanya dengan membaca.

Akhirnya, saat pemijitan pun tiba. Amay memberontak, tapi Diba dan saya berusaha mengendalikannya. Saat itu saya tahu, ini benar-benar sakit ternyata, karena Amay menjerit-jerit begitu kerasnya. Dan ya, kami salah. Salahnya adalah, meskipun titik sakit yang ditunjuk Amay adalah di bagian lututnya, titik refleksinya bukanlah disana. Jadi, sakit di belakang lutut itu adalah akibat dari otot yang terpelintir, dan menurut Diba, titik itu berada di sisi luar punggung kaki. Diba juga memberi tahu saya beberapa titik refleksi yang lain, misalnya sela-sela jari jempol dan telunjuk untuk pencernaan, dan lain sebagainya.

titik yang dipijat jika nyeri lutut

Alhamdulillah, setelah diurut dari titik itu ke atas sampai lutut sebanyak tiga kali, Amay langsung pulih. Iihh, beneran lho, dia bisa berdiri (Meskipun niat awalnya mau menendang tante Diba karena sudah membuatnya sakit. Hmm..tapi sakitnya sih karena sedang diobati..). Kami pun langsung mencandai Amay, "Wah, Alhamdulillah sudah bisa berdiri. Mas Amay sudah sembuh..." Dan ini semua berkat pertolongan tante Diba.

Oya, setelah itu, Amay saya bimbing untuk mandi. Tak berapa lama ia sudah kembali bisa berlari. Duh, kami sangat berterima kasih pada Diba. 

Terima kasih ya tante Diba... :)




Komentar

  1. Wah..ternyata gitu ya, mas Aufa kadang juga sakit lutut. Sama Ayah dipijet bagian lututnya. Pantesan...nggak sembuh-sembuh. Ayo May, lari2an lagi...hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bun.. tau gak, aku jadi tertarik mempelajari titik-titik refleksi, hehehe...

      Hapus
  2. aku prnh baca sepintas aja mba, ga sampe menguasai ;p... tapi memang saraf2 di kaki dan telapak kaki kita itu efeknya nyambung ke bagian2 tubuh yang lain ya... ngeliat gbrnya, wihhh rumit bangetttt... mikirnya lgs 1, Allah itu nyiptain manusia emg udh sedemikian sempurna :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul sekali mba.. Subhanallah yaa.. Salah sedikit saja kita bisa langsung sakit. Sayangnya kita sering lupa untuk bersyukur saat sehat.

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…