Sabtu, 11 April 2015

Saat Kaki Mas Amay Keseleo

Hari Minggu, 5 April 2015 lalu, kami kedatangan tamu dari Bandung. Cici Sharon, Cici Joyce, Ibu Ming Tjen, dan Pak Paul. Sharon dan Joyce, anak-anak manis yang sudah seperti kakak sendiri bagi Amay.

Ceritanya, Amay sangat bahagia karena kedatangan mereka. Sore itu, dia lari-larian sambil tertawa-tawa. Duh, kelihatan banget cerianya. Sampai menjelang maghrib tiba, mendadak Amay tak sanggup berjalan. Awalnya kami kira itu hanya acting belaka mengingat hari-hari sebelumnya ia selalu bertingkah seolah-olah sedang sakit.

Kami minta dia meluruskan kaki, dan bisa. Tapi ketika kami menyuruhnya berdiri, ia melipat lututnya sambil menangis, "Sakit loh, Ma..." Tangisannya berhenti ketika dia tertidur. Namun tak berapa lama ia kembali meringis. Kami sudah berusaha memijat bagian lututnya yang memang terasa kaku, tapi ternyata tak cukup menolong.

Esok paginya ketika bangun dari tidur, Amay meminta saya menggendongnya. Ia masih takut untuk berdiri. Kami bingung harus bagaimana. Suami sempat mencari tahu dimana tukang urut terdekat, bahkan terpikir untuk membawa Amay ke rumah sakit orthopedi.

Namun Allah sungguh Maha Penyayang. Allah mengirimkan penolong di tengah-tengah kami, yaitu Tante Diba. Beberapa saat setelah Diba masuk kantor (kantor Akanoma memang menggunakan rumah kami untuk sementara), kami menceritakan kronologi kejadian padanya. Rupanya, Diba pernah belajar tentang pijat refleksi. Anak itu memang cerdas, hehe, bisa mempelajari semuanya hanya dengan membaca.

Akhirnya, saat pemijitan pun tiba. Amay memberontak, tapi Diba dan saya berusaha mengendalikannya. Saat itu saya tahu, ini benar-benar sakit ternyata, karena Amay menjerit-jerit begitu kerasnya. Dan ya, kami salah. Salahnya adalah, meskipun titik sakit yang ditunjuk Amay adalah di bagian lututnya, titik refleksinya bukanlah disana. Jadi, sakit di belakang lutut itu adalah akibat dari otot yang terpelintir, dan menurut Diba, titik itu berada di sisi luar punggung kaki. Diba juga memberi tahu saya beberapa titik refleksi yang lain, misalnya sela-sela jari jempol dan telunjuk untuk pencernaan, dan lain sebagainya.

titik yang dipijat jika nyeri lutut

Alhamdulillah, setelah diurut dari titik itu ke atas sampai lutut sebanyak tiga kali, Amay langsung pulih. Iihh, beneran lho, dia bisa berdiri (Meskipun niat awalnya mau menendang tante Diba karena sudah membuatnya sakit. Hmm..tapi sakitnya sih karena sedang diobati..). Kami pun langsung mencandai Amay, "Wah, Alhamdulillah sudah bisa berdiri. Mas Amay sudah sembuh..." Dan ini semua berkat pertolongan tante Diba.

Oya, setelah itu, Amay saya bimbing untuk mandi. Tak berapa lama ia sudah kembali bisa berlari. Duh, kami sangat berterima kasih pada Diba. 

Terima kasih ya tante Diba... :)




4 komentar :

  1. Wah..ternyata gitu ya, mas Aufa kadang juga sakit lutut. Sama Ayah dipijet bagian lututnya. Pantesan...nggak sembuh-sembuh. Ayo May, lari2an lagi...hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bun.. tau gak, aku jadi tertarik mempelajari titik-titik refleksi, hehehe...

      Hapus
  2. aku prnh baca sepintas aja mba, ga sampe menguasai ;p... tapi memang saraf2 di kaki dan telapak kaki kita itu efeknya nyambung ke bagian2 tubuh yang lain ya... ngeliat gbrnya, wihhh rumit bangetttt... mikirnya lgs 1, Allah itu nyiptain manusia emg udh sedemikian sempurna :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul sekali mba.. Subhanallah yaa.. Salah sedikit saja kita bisa langsung sakit. Sayangnya kita sering lupa untuk bersyukur saat sehat.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...