Langsung ke konten utama

Tahun Ajaran Baru Paling Mengena di Hatiku

Bulan Juni-Juli, setelah libur kenaikan kelas, maka kita akan memasuki tahun ajaran baru.
"Kita? Anak-anak sekolah aja keleeuuus.." nyengir kuda.
"Ya ngga usah sombong gitu deh, mentang-mentang udah tua.." *ups, udah lulus maksudnya.

Hehe, memang sih, tahun ini saya baru sadar sudah menjadi orang tua. "Whaattt?" *lalu ditimpuk pake THR.
"Lah, selama ini statusnya tentang Amay melulu, apa ngga inget kalo udah tuwir, woy?"
Eiittt, sabar duluu.. Maksudnya baru sadar sudah menjadi orang tua itu karena tahun ini Amay sudah akan masuk sekolah. Hiks.. Dan ini benar-benar tahun ajaran yang paling syahdu.

Time flies yaaa.. Kayaknya baru kemarin anak ini dikeluarkan paksa lewat perut, eh tahu-tahu udah empat tahun. Tahu-tahu sudah ada Aga juga.

Dan iya, tanggal 6 Juli nanti insya Allah Amay akan masuk sekolah. Beberapa waktu lalu saya diundang oleh sekolahnya untuk sosialisasi program-program di sekolah selama setahun. Di hari itu, ustadzah (panggilan untuk ibu guru di sekolah Amay) juga menjelaskan bahwa tanggal 6-10 Juli nanti akan ada Masa Orientasi Santri. Dalam 3 hari pertama, orang tua boleh mendampingi anak-anak hingga KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) selesai. Hanya 3 hari, iya 3 hari. Dan di hari ke empat dan lima, orang tua dipersilakan pulang setelah mengantar, tidak peduli si anak akan menangis meronta-ronta, muntah-muntah, atau apalah apalah...

Sejak jauh-jauh hari saya selalu membisikkan pada Amay bahwa ketika sekolah nanti saya akan mengantar, kemudian saya pulang, dan jika waktu pulang tiba saya akan menjemputnya. Dia mengangguk setuju. *Hah, nyicil lega. Semoga semua berjalan dengan semestinya ketika waktunya tiba nanti. Aamiin...

Nah, masalah yang muncul saat ini justru bukan dari Amay, akan tetapi dari Pak Yopie, Papa Amay. Huh, gimana siih, ini koq malah suami saya yang bingung? Iya, beliau khawatir dan sering ragu, apa Amay bisa? Apakah Amay kuat menghadapi ujian ini (halah lebay)? Takutnya nanti Amay menangis.

Tapi karena saya adalah mantan guru TK, saya meyakinkan suami bahwa sounding yang kita lakukan setiap hari insya Allah ada hasilnya. Dan yang paling penting, dukungan dari orang tua harus penuh. Artinya, orang tua pun harus ikhlas meninggalkan anaknya untuk diasuh orang tua barunya di sekolah. Kalau orang tua resah, anak juga akan merasakan hal yang sama. 

*Mohon do'anya ya semua, semoga Amay menjadi anak yang sholih, mandiri, kuat dan tangguh. :)

Dan selain tahun ajaran baru 2015/2016, tahun ajaran baru yang juga mengena di hati saya adalah tahun ajaran 1993/1994. Yap, 22 tahun yang lalu. *Lebih berasa lagi tuanya ketika menulis inih. :P

Tahun itu, saya mulai mengenakan seragam putih merah. *Yeaayy, masuk SD. Akan tetapi ibu saya sudah mewanti-wanti bahwa saya hanyalah anak bawang karena baru berusia 5 tahun. Ya, meskipun faktanya saya bisa naik ke kelas 2 di tahun berikutnya.

Nah, yang paling mengena adalah di hari pertama itu, saya bak ratu. Ibu saya menyiapkan sarapan sambil menyuapi saya. Bapak menyetrika seragam saya, dan setelah saya pakai, beliau yang merapikan juga. Dan tidak mau kalah, Uti saya, nenek dari ibu yang tinggal persis di sebelah rumah orang tua saya. Beliau khusus datang pagi-pagi untuk melihat saya berbalut seragam baru. Tak cuma itu, Uti pun membantu saya dengan memakaikan kaos kaki. 

Kebayang kan, bahagianya saya di hari itu? Wajar saja kalau saya masih mengingatnya hingga detik ini, hihi...

Komentar

  1. Haha...sepertinya setiap anak yg baru pertama kali memasuki tahun ajaran baru di sekolah mempunyai pengalaman yg sama ya Mbak.. Dulu itu aku juga malah dianterin sama papa hingga kelas berakhir dan kami pulang sekolah.. Jgn ditanya perhatian mama di rumah, sdh sejak jauh hari persiarpan kayak dia yg mau sekolah..hehe..

    BalasHapus
  2. Wah...ternyata kamu sudah tuwir ya? Aku juga nggak jauh beda kok sama kamu....aku masuk SD tahun 85 *halah luwih tuwek boo...:p
    Bapak sing ngucir rambut terlalu kenceng, jadinya mataku ketarik ....duuuhh

    BalasHapus
  3. Saya sedih tidak punya pengalaman nervous mengahadapi anak pada tahun ajaran baru "pertama kali" sekolah si kecil. Si kecil sejak baby dah di penitipan yang ada PAUD, Play Group dan TK. Padahal si kecil dengan sendirinya dari penitipan otomatis PG, otomatis TK. saya tinggal bayar ini itu. Lain kalau Kakak Fai, ditunggu hanya dua-tiga hari, habis itu dipaksa simboknya mandiri.
    tapi senengnya Faiq dan Faiz mandiri. Nggak seru ya, nggak pakai menangis gulung-gulung. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanti anak yang ke tiga bu imaaa.. ditungguin deh, biar nangis gulung2, kwwkwkwk

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…