Langsung ke konten utama

4 Tips Aman Ikut Arisan a la Irawati Hamid

photo credit: https://www.mojomarketplace.com/item/arisan


Arisan identik dengan kegiatan para Nyonya, benar tidak?

Iya, kebanyakan, yang mengikuti kegiatan arisan adalah para ibu. Jarang sekali bapak-bapak mengadakan arisan. Setidaknya, ini berdasar pengamatan di lingkungan terdekat saya. Jika ibu saya dulu mengkuti beberapa macam arisan, dari arisan PKK, arisan RT, RW, juga arisan beberapa kelompok lain (banyak banget ya? iya emang...), bapak saya cuma ikut 1 arisan saja, yaitu arisan Malam Minggu Kliwon, hehe... Bapak pun ikut karena memang arisan itu ditujukan untuk menabung konsumsi, jadi rumah tangga yang ketempatan arisan di malam minggu kliwon itulah yang mendapatkan arisan. Supaya tidak memberatkan tuan rumah, maka uang konsumsinya ditabung dalam bentuk arisan.

Sekarang, setelah menjadi Nyonya Yopie, saya juga ikut arisan. Arisan yang saya ikuti ini ada yang sifatnya wajib, ada juga yang sunnah, hehehe.. Sunnah disini artinya, jika saya ikutan maka saya bisa sekalian menabung, jika tidak ya tidak apa-apa. ✌

Lalu, manfaat arisan menurut saya apa saja?

1. Seolah-olah dipaksa menabung. Ini bermanfaat dong yaa... Karena kalau sudah ikut arisan itu 'kan kita diwajibkan untuk setor dalam jumlah tertentu secara rutin. Dan ketika kita dapat arisan, yeaayyy, kekumpul uangnya.. Hehe.. Kalau ngga ikut arisan, mau ngumpulin sejumlah "itu" akan jadi hal yang mustahil buat saya, karena godaan untuk terus memakai uang biasanya besar sekali, hehe...
Tapiiii, ketika kita dapat arisan, untuk setoran selanjutnya bukan menabung lagi jadinya, tapi bayar hutang, xixixi...

2. Menjalin silaturrahmi dengan tetangga. Ini penting. Alhamdulillah lingkungan tempat tinggal saya itu asik-asik orangnya. Tapi kami bisa jarang sekali bertemu meski berada dalam komplek yang sama. Penyebabnya adalah, ada beberapa yang bekerja, atau terkadang mendampingi suami ke luar kota. Kalau saya sih di rumah saja, jadi biasanya tiap sore ada waktu untuk nongkrong sambil momong anak-anak.

3. Temu kangen dengan teman-teman lama. 

Arisan perumahan, dress code: Meraaahhh :)

Lalu, menurut Mbak Irawati Hamid, bagaimana agar arisan yang kita ikuti bisa mendatangkan manfaat? Ini 4 tips-nya:

1. Pilihlah teman arisan yang dapat dipercaya (sebisa mungkin orang yang dikenal baik)
Setuju banget. Ini penting. Teman yang ngga bisa dipercaya itu bisa merugikan anggota kelompok yang lain. Kasihan yang rutin membayar dengan tertib, ya 'kan? Urusan uang itu sensitif loh, karena bisa merenggangkan hubungan persahabatan sekalipun. 
Sering sekali terjadi, yang sudah dapat arisan malah ngga bertanggung jawab, dan nunggak di setoran-setoran selanjutnya. :(

2. Pilih tenor arisan yang tidak terlalu lama (maksimal setahun dalam satu periode arisan)
Ini juga penting, biar tetap semangat dan ngga lupa. Terlalu lama menunggu giliran kadang bikin males juga. Apalagi kalau udah pernah dapat, ya 'kan? Kan hutangnya jadi buanyaaakkk, hehehe...

3. Pilih nominal yang sekiranya tidak memberatkan.
Nah, kalau ini cuma kita yang bisa mengukur kemampuan diri. Jangan dipaksakan ikut arisan dalam jumlah besar kalau tidak mampu. Jangan karena gengsi, lalu kita meng-iyakan ajakan teman, padahal sebenarnya kita belum mampu.
Catatan lagi, kalau mampunya cuma ikut 1 nomor arisan, ngga usah memaksakan ikut 5 nomor. Iya sih, memang jadinya kalau 1 nomor sudah dapat, masih ada harapan 4 nomor yang lain. Tapiiii, ingat lagi sama kemampuan diri. Mampu tidak? Karena pernah ada -pengalaman dengan orang dekat-, yang sok-sokan ikut banyak nomor, tapi setelah semua dapat, dia kerepotan membayar dan malah merepotkan keluarga. :(

4. Anggaplah iuran arisan sebagai utang yang wajib dibayar setiap bulan.
Seperti yang saya bilang di atas, sebelum dapat arisan, maka isitilahnya adalah "menabung". Tapi setelah kita mendapat arisan, maka istilah "menabung" berubah menjadi "hutang". Serem 'kan? Apalagi hutang adalah sesuatu yang wajib dibayar. 

Tambahan tips dari saya:
* Selalu beritahu suami, arisan apa saja yang kita ikuti. Hubungannya dengan apa? Ya dengan "menabung" yang bisa berubah jadi "hutang" itu tadi. Ini termasuk urusan muamalah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di kemudian hari.

* Bijak dalam mengikuti arisan. Pilih arisan yang masuk akal ya, teman. Sudah banyak terjadi, seperti yang beberapa kali diberitakan di televisi dan media lainnya, penipuan berkedok arisan. Niatnya mau menabung, ee malah uangnya dibawa kabur orang yang tidak bertanggung jawab. :(

Semoga tips-tips di atas jadi pengingat ya teman-teman... ☺

Komentar

  1. bener banget..mesti cari teman2 yg amanah.... rajin nyetor..gitu udah dpt kabur..kasian yg lainkan...

    BalasHapus
  2. Bukan cuma arisan dalam berbentuk uang yang dimintai pertanggungjawaban.. Arisan link juga #eh

    BalasHapus
  3. Iyooo.. tambahin.. satu lagi yang penting, pilihlah arisan yang gak suka berubah jadi majelis Ghibah wkwkkww

    Kebanyakan arisan kumpu-kumpul, jeleknya gitu, suka ngrumpiin orang dan kalau pulang, oleh-olehnya ngomentarin si ini dan si itu. banyak kan yang kayak gitu :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha..itu biar jadi urusan mereka lah.. Kadang yang disebut ghibah itu sebenarnya cuma berbagi informasi..hahaha..

      Hapus
    2. Kalo di sekolahe Hana namanya arisan cok-bar, kocok langsung bubar, jadi nggak ada traktir2-an, nggak ada gibah2-an. Aman kantong, aman amalan

      Hapus
    3. Hahaaa beneerrr, slama ini suka mnghindari arisan karena alasan ini klo tante mbul mah

      Hapus
    4. haha, aku mah suka arisan.. rumpi-rumpi, tapi ngga ngomongin orang siii..

      Hapus
  4. aku sih pilih arisan ayng wajib saja, spt arisan di kantor suami, di rt dan tempat ngajarku, yg lain2 gak pernah ikutan , habis kebayang banyak sekali arisan juga bikin pusing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba.. saya yang wajib juga cuma 1 aja, arisan komplek. yang sunnah 1 juga, hehe.. ngga kebayang kalo arisannya kebanyakan, pusing nanti.. :D

      Hapus
  5. Saya sih nggak pernah ikut arisah sih ehhehehe emak saya tuh sering ikut arisan ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya masa Mase mau ikut ngerumpiii...wkwkwkwk...

      Hapus
  6. aku ikut arisan kantor awalnya ada tmn yang resign krn masalah akhrinya bwt pelajaran cari tmn yang amanah bener bgt tipsnya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang kayak iya-iya tapi dalamnya hati orang kita ngga tau ya Mba.. :(

      Hapus
  7. Iyo, arisan meamng bisa jadi tabungan, aku beli mesin cuci juga gara2 dpt arisan. Tapi sekarang milih pake reksadana, biasa, otak nggak mau rugi wkwkwkk

    BalasHapus
  8. Tipsnya ^^
    Aku arisan di rt untuk silaturahim sama tetangga, alhamdulillah lancar mba^^
    Nomor 3 perlu banget :) sesuai kemampuan kita yaa mba

    BalasHapus
  9. Iya mak, arisan itu bisa jadi awal reunian ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kayak film Arisan! itu juga, hehe

      Hapus
  10. Setuju sama dua tips tambahan dari Mba Arin, suami memang harus tahu yah Mba dan kita juga harus bijak memilih arisan mana saja yang harus diikuti :)

    BalasHapus
  11. arisan bisa jg buat jadi ajang silaturahim dan pembuka rejeki yaa..

    BalasHapus
  12. Betul sekali, habisnya paling lama setahun lah, juga yang tidak terlalu memberatkan, sehingga arisan jadi terasa menyenangkan, bukan beban :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo kelamaan males Mas.. yang nungguin ngga kelar2.. yang udah dapet juga merasa utangnya kelamaan, hehe

      Hapus
  13. Tante mbul blom pernah ikutan arisan nih...kadang klo ketemuannya minggu suka ngrasa nda ada jatah libur jatohnya, cz paksuami cm libur minggu doang, sementara kebanyaan arisan keluarga diadakannya hari minggu aahahhah #alesyannn

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tantee..hehe.. emang sih jadinya berasa ga libur. tapi diniatkan silaturrahminya itu sekalian liburan. :D

      Hapus
  14. Ih aku malah belom dapet ide untuk yang ini maaaak x) Hihihiiihihiiii. Setuju banget, tujuan arisan yang utama utk aku juga buat silaturahmi aja maaak, kumpul kumpul ya khaaannnnn :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi, saya malah masih 3 hutangnya.. :v

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Ayahmu Miskin, Ya, May? Koq Kulkas Kamu Kecil?

Jika mengingat materi Seminar Parenting tentang bullying bulan lalu, barangkali kalimat yang diucapkan seseorang pada Amay beberapa waktu lalu itu, termasuk dalam verbal bullying. 
Sebelum mengomentari kulkas kami yang berukuran kecil itu, orang yang sama bertanya pada Amay, putra sulung kami. Entah apakah niatnya hanya bertanya ataukah ada tujuan lainnya, katanya, "Ayah kamu miskin, ya, May? Koq kamu ngga punya TV?" yang dijawab oleh Amay dengan cerdas, "Tapi ayahku lebih keren daripada ayah kamu!"
Kalau mengingat kembali materi parenting bulan sebelumnya tentang mempersiapkan ananda masuk SD, bahwa salah satu tanda kesiapan anak untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi adalah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, maka saya berkesimpulan kalau Amay memang sudah siap untuk menjadi anak SD dengan jawaban cerdas di atas. Amay tidak mengadu, dalam artian meminta bantuan orang lain untuk menjawab perlakuan orang itu.
Sayangnya, saat insiden "pemiskinan" it…