Skip to main content

Family Trip I, Keraton Mangkunegaran, Surakarta

Alhamdulillah, libur tahun baru 2017 kemarin, kami sekeluarga bisa jalan-jalan bersama. Luar biasa, karena keluarga Hermansyah bisa berkumpul semua, alhamdulillah...

Mama mertua datang ke Solo, Jumat, tanggal 30 Desember 2016. Saat itu belum komplit semua sih, karena Om Dika (suami Tanton) dan keluarganya Tantin belum datang. Jadi cuma ada Oma, Mama, Ayah, Tanton dan baby Radit yang diantar Mang Iyus.

Tanggal 31-nya, Sabtu, kami ke Keraton Mangkunegaran. Dadakan, karena sampai detik itu kami bingung pengen kemana. Tadinya saya dan Mas Yopie usul, gimana kalau ke Umbul Ponggok (ini sih karena terpengaruh sama foto liburannya temen-temen #BloggerSolo, hehe...) atau ke kolam renang Pandawa? Tapi dua usulan itu ditolak, wkwkwkwk...

Akhirnya Mas Yopie punya ide, gimana kalau kita ke Keraton? Tadinya sih saya mikir, buat apa? Kayaknya ngga ada yang menarik disana, haha... Tapi Mas Yopie bilang, kan Mamah suka foto-foto selfie tuh, jadi disana biar pada foto-foto di ikon-nya Kota Solo, hihi... Okelah kalau begitu... Bukan apa-apa ya, dulu saya dan suami pernah ke Keraton Kasunanan, tapi ngga ngerti mau apa. Waktu itu sempat lihat drum band nya sih. Tapi mungkin karena ngga ada guide-nya (entah karena memang ngga ada atau pas kami berkunjung, guide-nya sedang pada sibuk), jadi kami cuma lihat benda-benda peninggalan jaman dahulu tanpa tau sejarahnya.

Singkat kata, sampailah kami di Keraton Mangkunegaran. Saya lewat jalan Slamet Riyadi (barat ke timur ya, karena 'kan satu arah), belok kiri di samping McD, melewati depan Soto Triwindu yang sedang direnovasi. Sampai perempatan belok kiri lagi. Sempat melirik ke arah Cafe Tiga Tjeret, tapi sayangnya kami harus belok ke kanan dulu, hihihi...

Iya, kami masuk lewat pintu yang berseberangan dengan Cafe Tiga Tjeret dan Omah Sinten itu.

Sampai sana, Mamah membeli tiket masuk untuk kami semua. Biaya masuknya cukup murah, Rp 10.000,- saja per orang. Anak-anak tidak dihitung.

Disini, ternyata ada guide yang siap memandu perjalanan kami. Alhamdulillah, jadinya kami bisa sekaligus belajar, 'kan? Ngga cuma jalan-jalan doang.

Sebelum kemana-mana, Mas Dodi sang guide, menawarkan untuk memfoto kami di depan. ☺

berfoto di depan Keraton Mangkunegaran, Surakarta

Kami memutari halaman yang diselimuti rumput hijau itu. Kebetulan saya ngecek di wikipedia juga, ternyata halaman ini memiliki nama dan fungsi tersendiri. Namanya adalah Pamedan, tempat berlatihnya para prajurit. Setelah berjalan memutar, sampailah kami di Pendopo. Disitu, kami harus melepas alas kaki. Kami diberi plastik kresek untuk wadahnya.

Belum apa-apa, Mas Dodi langsung menyayangkan kedatangan kami. Sayang kenapa? Soalnya kami terlambat datang. Seandainya kami datang lebih pagi, jam 10 begitu, kami bisa menyaksikan pertunjukan gamelan. Jadi setiap hari Rabu dan Sabtu antara jam 10-12 WIB, digelar pertunjukan ini. Antara hari Rabu atau Sabtu itu (duh maafkan saya yang pelupa, saya sudah tanya Mas Yopie juga, tapi beliau juga ngga ingat hari apa persisnya) bahkan ada tari-tarian juga. Hiks hiks..kami kelamaan mikir sih yaaa, jadinya kelewat deh. Tapi ngga apa-apa, next time insya Allah kesini lagi. ☺


lihatlah tas kresek kami. isinya alas kaki yang harus dilepas saat memasuki pendopo keraton mangkunegaran.

Oya, kata Mas Dodi, lantai pendopo ini terbuat dari Marmer yang didatangkan langsung dari Italia. Sayangnya, waktu terjadi musibah banjir di tahun 1966 (semoga ngga salah tahun ya, lupa-lupa ingat soalnya), lantai marmernya terendam, dan menimbulkan noda berwarna coklat. 

Pendopo ini memiliki empat soko guru, yang melambangkan empat elemen kehidupan.


Soko Guru dan Lantai Marmer yang Terendam Banjir.

Tak hanya itu, karena Raja pada masa itu sedikit terpengaruh dengan kebudayaan luar (beliau kuliah di Eropa), sehingga di langit-langit Pendopo pun bisa kita temukan lambang-lambang astronomi, tapi tetap ada sentuhan batiknya.


langit-langit di Pendopo Keraton Mangkunegaran

Setelah melewati Pendopo, kita akan sampai di area bernama Pringgitan. Disini ada tangga menuju Dalem Ageng. Di Dalem Ageng kita tidak diperkenankan mengambil foto. 




Mengambil informasi dari Wikipedia (karena saya takut salah), Dalem Ageng merupakan sebuah ruangan dengan luas 1.000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, dan sekarang berfungsi sebagai museum. Disini terdapat bermacam-macam barang yang dipamerkan. Mulai dari perhiasan-perhiasan, senjata-senjata (saya lihat ada katana, tombak setinggi hampir 4 meter, dll), perlengkapan menari, uang-uang logam, medali-medali, juga harimau yang sudah diawetkan. 

Keluar dari Dalem Ageng, kita disambut topeng-topeng, hehe... Area ini disebut Beranda Dalem. Disini kita bisa melihat foto keluarga raja. Mamah paling tertarik di area ini, hihi, apalagi waktu lihat foto Gusti Paundrakarna. Iya, Paundra yang artis itu. 

Jujur, banyak pengetahuan yang kemudian saya dapatkan setelah jalan-jalan kesini. Utamanya tentang silsilah kerajaan Mangkunegaran. Kemudian saya juga baru tau bahwa Gusti Paundrakarna ternyata merupakan cucu dari proklamator kita, Ir. Soekarno

Kata Mamah, "Duh, kamana wae, Rin?", hihihi, duh Wong Solo-nya (saya loh yaaa) malah kudet nih. Maafkan. ✌




Area taman di dalam Keraton Mangkunegaran.

Di depan 

Setelah keluar dari Dalem Ageng, acaranya memang lebih bebas dan lebih santai. Kami boleh mengambil foto dimana saja. Seperti tiga foto terakhir di atas. ☺

Ada yang mau berkunjung ke Solo juga? Mari sini... ☺



Comments

  1. Aku juga pernah kesini.. sukaaa.. jadi tow waktu itu aku jelajah jejak mangkunegaran.. dari mulai ke istana (keraton).. trus langsung cuzz ke astana (makam) di matesih karanganyar.. jadi ceritanya nyambung.. napak tilas gitu deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiiih..seru Mbaaa.. Kapan #BloggerSolo mau bikin beginian? Xixixi..

      Delete
  2. pas banget nih setelah selesai makan siang di resto serba jamur di blog tetangga, langsung keliling-keliling ke Keraton Mangkunegaran - Surakarta bareng keluarga...sik asik deh ih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.. Habis dari keraton, makan lagi Mang.. :D

      Delete
  3. Kayaknya lebih terawat mangkunegaran kalau lihat fotonya. Kemarin aku jg abis dari keraton kasunanan... Gak boleh masuk2 ke bangunan, kecuali museumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Mba.. Lantainya lebih bersih. Jadi ketika disuruh lepas alas kaki pun ngga risih.

      Delete
  4. Replies
    1. Apaaahhh? Travel blogger belum kesini? Terlaluuuh..:p

      Delete
  5. akhir tahun kemarin kami sekeluarga di rumah ajaa Mbaa, kami menikmati liburan di rumah saja :)

    ReplyDelete
  6. Paling favorit Pura ini. Ada lihat gak mak bangunan tua sebelah kanan pas mau masuk Pura? Suka banget sayang gak diurus.
    Dan Pura lebih modern, yak. Paling suka itu di ruang makan, ada kaca di atap hahahah *narsis kumat..
    Sempat ketemu Paundra gaak? :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kemarin lagi persiapan tahun baru Mak..hihi..jadi ngga kesana.

      Oiyaa..kami sempat sok-sokan foto ke atas gitu. Tapi fotonya nge-blur. -_-

      Delete
  7. Bumernya mbrin yang paling tengahkan, nah sebelahnya mb rin siapa?
    Wah itu marmer takkira pola coba, ternyata noda bekas banjir tow gegegegge.

    Kulineran solonya mana nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu Oma.. Ibunya mama mertua..hehe

      Kulinernya Tiga Tjeret itu tan.. :D

      Delete
  8. aku juga pernah ke Keraton, pas pacaran sama Pak Wendie
    dan enggak mudheng ngapain, hehehe

    bdw, aku ngiri, kapan yah bisa doaln bareng keluarga besar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..ini jg alhamdulillah banget bisa kumpul semuanya Mba.. :)

      Delete
  9. Seru bangeeeet mba.. asyik kalau liburan bareng keluarga yaa

    ReplyDelete
  10. Waktu ke SOlo kemarin pengen ke sini sebenernya. Cuma waktunya nggak cukup karena hanya sehari dan kalap belanja di LAweyan cukup lama. Ha..ha... next kudu ke sini nih.... TFS Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke Solo lagi kabar2 dooong.. Biar bisa ketemuan kita. :)

      Delete
  11. Wah jadi pengen kesana lagiiii....

    ReplyDelete
  12. saya mbakkkk
    saya ada rencana ke Solo nih.
    Entar catet deh, mesti pagi dan pagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabariiiii... Oya, pilih Rabu atau Sabtu Mbaa..biar bisa lihat pertunjukan. :)

      Delete
  13. Wah ternyata keren juga ya di Keraton Mangkunegaran ini, banyak nilai historisnya... Saya sering ke Solo, sekalipun belum pernah mampir mbak hihihi...

    Nanti kalau ada kesempatan semoga bisa mampir :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dooong, biar kisah foto bisa mengkisahkan foto-foto keraton. :)

      Delete
  14. Seneng ya mba bisa kumpul dan jalan -jalan bareng keluarga besar.
    Sekalian syukuran rumah baru ya mba..

    ReplyDelete
  15. Aku pernah ke sini dan pengen lagi. Guidenya kocak, asik kalau dia cerita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbaa..guide ku yang kemarin juga asiiik.. :D

      Delete
  16. Belum pernah kesini. Hiks.
    Padahal suka lewat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelum ke Tiga Tjeret mampir sini Mba..hehe

      Delete
  17. aku terakhir kesini masih smp, belum kenal blog..gimana mau posting kak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Popular posts from this blog

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Jawa Timur Park 2 (Batu Secret Zoo)

Beberapa waktu lalu, alhamdulillah keluarga kecil kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Malang. Awalnya saya dan Amay hanya ingin menemani suami bertemu dengan kliennya, namun kemudian terpikir untuk sekaligus berwisata ke Batu. Mumpung ada waktu :)

Karena budget kami terbatas, kami memilih hotel yang ramah di kantong. Hanya dengan 200 ribu rupiah per malam, kami sudah bisa menikmati kamar yang nyaman, fan, televisi, juga air hangat untuk mandi. Tak perlu kamar ber-AC lah, karena Malang sudah cukup sejuk :). Kami juga memilih hotel yang tak terlalu jauh dengan stasiun, tentunya agar menghemat ongkos transportasi. 

Keesokan harinya, kami mengunjungi Jawa Timur Park. Lagi-lagi, untuk menghemat pengeluaran kami menyewa sepeda motor untuk pergi kesana. Biaya sewa motor rata-rata 50 ribu - 60 ribu, atau 75 ribu untuk layanan antar jemput. Jadi kita tak perlu mengambil dan mengembalikan sendiri sepeda motor sewaan kita. (Sudah bisa disebut backpacker belum? :p) 
Oya, tentang Jatim Park, …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …