Langsung ke konten utama

Mencicipi Kuliner Legendaris Solo di RM Kusuma Sari

Saya, Mba Ety Abdoel dan Mak Ana Ike

Tanggal 16 Pebruari lalu, saya, Mba Ety Abdoel dan Mak Ana Ike, bertemu di sebuah rumah makan. Karena saya ingin makan Selat Solo, maka yang pertama dicari adalah tempat makan yang menghidangkan Selat Solo sebagai menu andalannya.

Rumah Makan itu bernama Kusuma Sari, yang terletak di Jln. Yos Sudarso, Nonongan, Solo. Kusuma Sari dipilih setelah melalui beberapa pertimbangan. Pertama, lokasinya strategis - mudah dijangkau BST (Batik Solo Trans), supaya Mba Ety ngga kesulitan mencari tempatnya karena beliau dari Karanganyar sana. Selanjutnya, rekomendasi dari Mba Mae, yang sayangnya kemarin ngga bisa ikut kopi darat dengan kami.

Oya, sebelumnya Mas Suryo, teman Mas Yopie juga merekomendasikan tempat ini ding.. Konon, Selat-nya Pak Don, adalah selat yang legendaris di kota ini. Sebentar. Pak Don? Pak Don yang dimaksud Mas Suryo adalah Prof. Sardono W. Kusumo yang merupakan putra kandung dari Bu Menggung. Nah, Kusuma Sari ini didirikan oleh almarhumah Bu Menggung, dan diteruskan oleh Pak Don. 


Kenapa sih saya ngebet banget pengen Selat Solo?

Sedikit cerita ya... Saya pindah ke Solo tahun 2010. Waktu itu kami ngontrak rumah di daerah Jajar, ngga jauh dari Hotel Alila yang berdiri menjulang itu. Suatu hari, Bu Ida, adik dari pemilik kontrakan, mengadakan arisan di rumahnya. Sebagai suguhannya, Bu Ida memasak Selat Solo. Alhamdulillah, kami kebagian. Hehe... 

Itu kali pertama saya makan, dan tau makanan bernama Selat Solo. Dan itu rasanya..endeeessss... Om Ge, teman Mas Yopie sampe bilang, "Duh, boleh nambah ngga ya?" Hahaha... Laper apa doyan? Tapi emang enak banget sih masakan Bu Ida. Dan dari situlah akhirnya saya sukaaaa banget sama yang namanya Selat. Bisa dibilang, pertama kali nyoba, langsung jatuh cinta. Bahkan waktu hamil Aga pun, saya sempat pengen makan Selat juga, hehe...


Selat Solo itu apa sih?

Pernah lihat di acara Master Chef Indonesia pas ada tantangan membuat Bistik Jawa? Nah, Bistik Jawa (Javanese Beefsteak) bisa dibilang merupakan nama lain dari Selat Solo. Meskipun terkadang, untuk Bistik Jawa ada yang membuat kuahnya lebih kental lagi. Kata "Selat", sebenarnya merujuk pada "Salad".

Selat Solo terdiri dari daun selada (lettuce), diracik dengan telur rebus (biasanya disebut bacem telur), kentang goreng, timun, wortel rebus, buncis rebus, dan ditaburi keripik kentang. Yang khas lagi adalah tambahan mayonnaise atau mustard yang biasanya diletakkan di sisi atau di atas daun selada itu tadi. Selanjutnya, susunan "Salad" tadi disirami saus yang tidak terlalu kental, yang terbuat dari campuran bawang putih, cuka, kecap manis, saus Worcestershire atau kecap inggris, air, dan dibumbui dengan pala dan lada hitam.

Nah, yang membuat Selat Solo tidak "murni" Salad, adalah adanya potongan daging di tengahnya. Daging ini, menurut Pak Bondan Winarno, harus menggunakan daging gandik sapi, yaitu paha belakang yang tidak mengandung lemak dan seratnya panjang.

Di DetikFood, Pak Bondan juga merekomendasikan RM Kusuma Sari sebagai tempat makan Selat, karena masakannya bagus dan harganya murah. Saya setuju dengan pendapat Pak Bondan. Harga seporsi Selat Segar di RM Kusuma Sari hanya Rp 17.000,- 


Selat Segar RM Kusuma Sari

Foto dulu makanannya :)

Sejarah Selat Solo

Kalau dilihat, Selat Solo ini tidak njawani ya? Beda dengan masakan khas daerah lain, misalnya sego megono atau gudeg Jogja yang jawa banget. 

Jadi, seperti dikutip dari Wikipedia, selama era kolonial Hindia Belanda, penjajah Eropa membawa bahan makanan Eropa berikut teknik memasaknya. Beberapa upper-class atau ningrat Jawa dan pribumi Jawa yang berpendidikan, terkena pengaruh masakan Eropa; seperti roti, keju dan bistik. Masakan ini diakui sebagai masakan kelas atas masyarakat Hindia Belanda. Hal ini menyebabkan adopsi dan fusi masakan Eropa ke dalam masakan lokal Jawa, seperti pengembangan resep Selat Solo di Surakarta, jantung istana Jawa dari Kasunanan Surakarta.

Jejak pengaruh Eropa dalam Selat Solo, dapat dilihat dari penggunaan mustard atau mayonnaise, juga kecap inggris atau saus Worcestershire.

Tambahan lagi, kentang juga sebenarnya bukan makanan orang Jawa. Umbi kentang adalah salah satu makanan pokok di Eropa, walaupun pada awalnya kentang berasal dari Amerika Selatan.

Di RM Kusuma Sari sendiri, ada kuliner lain berbahan dasar kentang, yaitu kroket dan risoles. Kata orang, kalau ke Kusuma Sari, dua makanan ini ngga boleh terlewatkan. Dan memang rasanya enak, kentangnya lembut. Yummy banget deh. Harganya, Rp 8.000,- per porsi. 


Risoles

Risoles (dalam bahasa Belanda disebut rissole), awal mulanya berasal dari Perancis. Dalam bahasa Perancis, rissoler, berarti menjadikan merah / menjadikan coklat. Risoles mulai dikenal pada abad ke-13. Dahulu, makanan ini hanya sekedar panekuk yang digoreng menggunakan mentega atau lemak sapi / lemak babi. Selanjutnya, makanan ini berkembang, dan menggunakan daging cincang sebagai isian. Tapi di Kusuma Sari, risolesnya juga diisi dengan kentang yang dihaluskan. Isiannya hampir sama dengan Kroket yang mereka hidangkan.

Resoles dan Kroket di RM Kusuma Sari. Lezatos!

Kroket

Sama seperti Risoles, Kroket juga dibawa ke Indonesia oleh bangsa Belanda, meski sejatinya makanan ini berasal dari Perancis. 

Di Belanda, kroket adalah sebuah makanan yang terdiri dari ragout yang dilapisi dengan putih telur dan tepung panir, lalu digoreng. 

Di Indonesia, kroket biasanya merupakan gumpalan kentang yang ditumbuk halus, berisi daging cincang yang dibumbui dan dicampur dengan sayuran seperti wortel atau buncis, kemudian dilumuri kocokan telur dan tepung panir sebelum digoreng.

jepret dulu kulinernya, pakai Asus

Jepret Foto Pakai ASUS

Kulineran belum lengkap jika tidak diabadikan. Sayangnya, kamera handphone saya tidak cukup bagus. Beruntung sekali, Mba Ety punya handphone ASUS. Alhamdulillah, bisa pinjem deh. ☺❤ 

Oya, foto-foto di atas diambil menggunakan ASUS Zenfone yang punya kemampuan PixelMaster Camera. PixelMaster adalah teknologi yang dikembangkan oleh ASUS, yang menggabungkan hardware, software dan desain optik untuk memberikan kualitas gambar yang lebih baik. 

Ada 5 aspek yang menjadi kunci kelebihan PixelMaster Camera, yaitu:

1. Low Light Mode
Mode ini membantu kita ketika mengambil foto di ruang dengan pencahayaan yang kurang / gelap. Hasil foto bisa terlihat lebih jelas. Mode ini tersedia di ZenFone 5 dan ZenFone 6.

2. High Quality Imaging Hardware
ZenFone 5 dan ZenFone 6 menggunakan Lensa Largan. Ini membuat foto kita terlihat bersih dan lebih tajam hasilnya. IR cut filter membantu dalam akurasi warna dan keseragaman.

3. Depth of Field Mode
Seperti namanya, Depth of Field Mode, memungkinkan kita untuk menangkap foto dengan tajam. ZenFone akan mengambil dua gambar setelah kita menekan tombol shutter. Kita bisa memilih untuk fokus pada foreground atau background. Fitur ini tersedia pada ZenFone 4, ZenFone 5 dan ZenFone 6.

4. Selfie Mode
Kamera belakang pada ZenFone (4, 5 dan 6) akan secara otomatis mendeteksi jumlah orang dalam sebuah frame dan mulai menghitung mundur sebelum mengambil tiga buah foto. Selanjutnya, kita bisa memilih foto mana yang terbaik untuk dibagikan. ☺

5. Time Rewind 
Time Rewind mengambil beberapa gambar sebelum dan setelah kita menekan tombol shutter, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan gambar yang sempurna menjadi lebih besar. Time Rewind mencatat dua detik sebelum dan satu detik setelah tombol ditekan. Selama periode tiga detik ini, setidaknya 31 foto tertangkap dan kita tinggal memilih foto yang terbaik. ☺☺

Waktu mengambil foto-foto di atas, saya ngga pakai fitur apa-apa, soalnya ngga ngerti caranya. Pas lihat hasil foto saya, Mba Ety sempat bilang, "Harusnya pakai ini (sambil menunjuk fitur yang entah apa namanya), biar hasilnya bisa seperti kamera DSLR."

Tapi meski ngga ngerti apa-apa, saya merasa hasil jepretan saya oke punya, ya kan? #uhuk Bilang "iya" aja deh. Hahaha... Lihat itu Risolesnya, ngiler ngga lihatnya? Plisss, bilang iya lagi. Wkwkwkwk...

Pokoknya, terima kasih banyak untuk Mba Ety Abdoel yang sudah meminjamkan handphone barunya, sehingga hasil foto kami kemarin bagus-bagus banget. Buat Mak Ana juga, pengen kesini lagi kan yaa? Hihihi... Walaupun saya ngga ngerti cara motret yang bagus, tapi pakai handphone ASUS, hasilnya ngga buruk kan? Hehe... Duh jadi pengen punya ASUS ZenFone deeeh.. Semoga ada rezeki untuk saya yaa, agar saya bisa memiliki ASUS ZenFone. Kalau handphonenya bagus kan ngeblognya juga makin semangat. ☺☺✌✌

Terima kasih juga Mba Mae, rekomendasi tempat makannya. RM Kusuma Sari ini cozy banget. Makanannya enak, harganya murah, tempatnya bersih dan adem karena pakai AC. Bisa lah yaa kapan-kapan kita arisan disini. ☺☺❤❤




Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel






Sumber Referensi:
1. http://food.detik.com/read/2012/01/18/105429/1818524/996/yuk-berburu-selat-solo
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Selat_solo
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Kentang
4. http://www.hardwarezone.com.my/feature-5-things-you-need-know-about-asus-pixelmaster-camera-technology
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Risoles
6. https://id.wikipedia.org/wiki/Kroket

Komentar

  1. Aku malah durung tahu makan selat solo,mbok yen ke sana lagi aku diajak... ngareppp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciyuuuss belum pernah? Pas arisan ilmu di Ralana Mak Witri ga dateng koq ya? Ntar semoga arisan ilmu disana Mak..

      Hapus
  2. Referensinya banyak dan lengkap yaa... Iya itu Kusuma Sari tempatnya nyaman, ga terlalu rame kayak tempat ngehits lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong Mbaa..sambil belajar kan, biar tau sejarah..hihi

      Makasih ya Mbaaa.. :*

      Hapus
  3. aku durung tahu maem selat solo..huhuu...kacian amat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha nek Nyolo mung mampir ngombe oq.. Mbok kapan2 mrene sing rada suwi gitu lho bund..

      Hapus
  4. Aamiin semoga rejeki ya mbak Arin, sayang Internet ku tak cukup bagus buat ngeloading gambar gambarnya. Hizz KZL.. KZL..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar Mbaaa.. Nanti aja pas di kantor. Hehe

      Hapus
  5. Kalo ke jateng, rasanya solo salah satu tempat yg belum pernah saya sambangi... Jd pengen ke solo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini Mbaaa..hihi.. Cobain kulinernya. :)

      Hapus
  6. Wahh, tenyata ada makanan yang namanya "selat" yaa Mbaa? selama ini yang saya tahu, selat itu lautan yang dihimpit 2 pulau *masih ingat aja nih pelajaran geografi jaman smp dulu :D*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba.. Haha..dikira temennya Teluk ya Mba? :D

      Hapus
  7. Save, ini perlu dicari kalau ke solo nih..he
    Sebagai orang yg suka soto juga. Waktu itu ke solo beli soto juga sih, tapi blm tahu ini ada soto yg legendaris mba..he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soto Mas? Haha..teliti lagi, Mas.. :D

      Hapus
  8. Ah...kapan2 kesana nyobain seladnya

    BalasHapus
  9. Wah Kusumasari itu legendaris kalau di Solo. Kuliner selat juga legendaris

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas.. Katanya, kalo priyayi sepuh kesini tuh selain mencicipi hidangannya juga mengenang historinya ya? Katanya sih..aku kan bukan asli Solo jd ngga tau. :D

      Hapus
  10. Aku numpang ngetop di siniiii.
    Selatnya Kusumasari enaaak, kroketnya juga, gurih dan manisnya pas.

    BalasHapus
  11. Aku kalau ada rapat atau presentasi pakainya di sini. Makananya lumayan enak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? Ah kenapa ga bilang dari duluuu? Wkwkwk

      Hapus
  12. Sejak kecil suka banget ama Selat Solo mbak, kalau ke solo juga suka ke resto itu, enak enak ples murah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Solo sini Mbaa.. Kopdar kitaaa. :)

      Hapus
  13. Kayaknya enak ya mba, keliatan dari fotonya :)

    BalasHapus
  14. Mmmmm pengennn naik batik trnas solo deuh huhuhuw

    Gading gandik? Tante mbul baru tau loh bagian gading sapi yang no lemak disebut itu huehehhehe #nda bakat jdi chef kamu mbul

    Hmmm kemlecer yakin la sumfaaaah ahahahaha, aku pengen selat solo tapi nyomotin kentang cocol mayo n dagingnya tok

    Risolnya takkira risol mayo, ternyata iyu ada pure blenderan kentang ya
    Fix, tante mbul bapeeeeer eh lapeer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daging tanteee bukan gading, wkwkwkwkw...

      Iya itu risolesnya isi kentang juga. Tante suka risoles mayo juga ta? Aduh..sama dong kita. Kapan2 ke Solo lah, ntar kita bikin sama-sama. :D

      Hapus
  15. wihhh kuliner legendaris, aku blom pernah denger dan blom pernah cicipin sih hahhaha. kapan kapan lah cari ahahha

    BalasHapus
  16. aku tiap jagong sering dapat selat solo, di kantor lamaku ada selat solo di tenda biru, favorit klo makan siang sama temen di selat solo deket balapan..duh tapi kok gak bosen2nya saya mak Arinta oh Arinta :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, ngga bosenin memang Pak.. lha enak oq.. :D

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Ayahmu Miskin, Ya, May? Koq Kulkas Kamu Kecil?

Jika mengingat materi Seminar Parenting tentang bullying bulan lalu, barangkali kalimat yang diucapkan seseorang pada Amay beberapa waktu lalu itu, termasuk dalam verbal bullying. 
Sebelum mengomentari kulkas kami yang berukuran kecil itu, orang yang sama bertanya pada Amay, putra sulung kami. Entah apakah niatnya hanya bertanya ataukah ada tujuan lainnya, katanya, "Ayah kamu miskin, ya, May? Koq kamu ngga punya TV?" yang dijawab oleh Amay dengan cerdas, "Tapi ayahku lebih keren daripada ayah kamu!"
Kalau mengingat kembali materi parenting bulan sebelumnya tentang mempersiapkan ananda masuk SD, bahwa salah satu tanda kesiapan anak untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi adalah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, maka saya berkesimpulan kalau Amay memang sudah siap untuk menjadi anak SD dengan jawaban cerdas di atas. Amay tidak mengadu, dalam artian meminta bantuan orang lain untuk menjawab perlakuan orang itu.
Sayangnya, saat insiden "pemiskinan" it…