Langsung ke konten utama

Mengapa Anak Saya Belum Bisa Bicara?

2 tahun belum bisa ngomong? Anaknya si ini aja udah cas cis cus tuh.. Padahal umurnya kayaknya lebih muda dari anakmu kan?

Sering dengar "perhatian" semacam itu? Pernah mengalami? Atau mungkin malah Anda pernah jadi "pelaku" yang suka membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain?

Baca curhatan saya yaa, seorang ibu yang tidak sempurna, yang anaknya baru bisa mengucap beberapa kata sederhana meski usianya sudah lewat dari 2 tahun.

Okay... Setelah pertanyaan soal gigi yang sudah tumbuh atau belum, dilanjutkan dengan sudah bisa jalan apa belum, biasanya yang jadi perhatian berikutnya adalah, sudah bisa bicara atau belum. Nah, ini! Kadang seolah-olah pengen perhatian, tapi perhatiannya justru menyakitkan, karena kalimat yang diucapkan malah jadi menjelek-jelekkan, seolah-olah anak kita "kalah dalam persaingan".

Plis lah, anak kita sedari awal terbentuknya sudah jadi pemenang lho. Dia mengalahkan jutaan sperma yang lain untuk bisa menemui ovum. Kemudian dia tumbuh, dari yang cuma berupa noktah, hingga menjadi bayi yang sempurna. Padahal di awal terbentuknya, mungkin dia tidak cukup mendapat nutrisi karena sang ibu mengalami morning sickness. Lalu setelah usianya 9 bulan (bisa lebih, bahkan bisa kurang), dia berusaha membobol pintu untuk bisa keluar ke dunia, meski terkadang ia harus dibantu keluar melalui pintu di perut ibunya.

Lalu ketika dia sedikit mengalami keterlambatan, begitu mudahnya kita melabeli dia dengan kata-kata yang mengecilkan hatinya, bahkan hati sang ibu pula. 

Hatimu dimana??

Maaf saya emosi.

Ayolah, jika kita tak mampu membahagiakan seseorang, setidaknya jangan membuatnya tenggelam dalam kesedihan. Jika kita tak mampu membantu, maka berusahalah untuk tidak membuatnya semakin gelisah tak menentu. 

Ibu dari si anak barangkali sudah cukup tertekan dengan keterlambatan putranya, maka jangan menambah-nambah rasa khawatirnya dengan kata-kata yang menyesakkan dada.

Kalau ngga mampu berkata baik, lebih baik, Diam!

Kita do'akan saja supaya anak tersebut bisa lekas berbicara. Ohya, dulu waktu kuliah saya pernah belajar tentang speech organ.

speech organ

Ada setidaknya 7 organ bicara yang kita punya, yaitu:
1. Lips / Bibir
Bibir memproduksi huruf /p, b, m/
Jika anak bisa mengucap mama, papa, dan menjawab "ciluk" dengan "ba!", berarti organ bibir ini sudah siap.

2. Teeth / Gigi
Gigi mengambil bagian dalam produksi huruf konsonan. Ada bunyi yang diproduksi oleh gigi atas, ada pula yang diproduksi oleh gigi bawah.

3. Tongue / Lidah
Lidah adalah organ yang sangat penting untuk berbicara. Huruf c, d, j, l, n, r, t, y, z, adalah contoh-contoh huruf yang dihasilkan dari gerakan lidah. Jumlah vokal dihasilkan dengan bantuan lidah. Perbedaan bunyi vokal juga dipengaruhi oleh posisi lidah. 
Terkadang, bayi atau anak-anak masih bingung menggerakkan organ ini untuk menghasilkan bunyi tertentu, sehingga ia lambat berbicara.
Saat ini saya sedang melatih anak saya untuk menggerakkan lidahnya, misalnya dengan mengucap "lalala" sambil bermain-main atau bernyanyi, juga dengan membelikan es krim dan menyuruhnya untuk menjilatnya.

4. Alveolar Ridge
Alveolar ridge adalah bagian antara gigi atas dan langit-langit keras. Suara yang dihasilkan dengan lidah menyentuh alveolar disebut suara alveolar, misalnya /s/, /t/, /d/, dll.

5. Hard Palate / Langit-langit keras

6. Velum (Soft Palate) / Langit-langit lunak
Ini adalah atap mulut, yang memisahkan rongga mulut dan hidung. Bagian terakhir dari langit-langit lunak disebut uvula. Ketika diturunkan, suara nasal /m/. /n/. diproduksi. Ketika ia ditinggikan, udara keluar melewati rongga mulut, dan suara oral /p/, /t/, /k/, /s/, etc, diproduksi.

7. Vocal Cords / Pita Suara
Ini juga tak kalah penting. Fungsi utama pita suara adalah menyuarakan suara.

Dari ketujuh organ di atas, barangkali ada organ yang belum sempurna. Contohnya lidah itu tadi. Jadi, usia 2 tahun belum bisa bicara, tak perlu dicemaskan asalkan dia bisa mengerti apa yang kita ucapkan, karena itu berarti tidak ada masalah dengan pendengarannya.

Faktor lain yang terkadang menjadi penyebab anak belum bisa bicara adalah karena gerakannya yang lincah. Anak yang terlalu aktif bergerak memang cenderung kurang dalam konsentrasi dan fokus.

Jadi bu-ibuuuu, jika bertemu dengan anak yang belum bisa bicara, mari kita doakan saja supaya ia bisa segera bicara. Kita doakan supaya semua organ bicaranya segera siap untuk memproduksi kata-kata. Lagipula, apa gunanya pandai bicara jika kata-katanya menyakiti sesama manusia, ya kan?

Dan untuk ibu-ibu yang putra/putrinya belum lancar berbicara, sabar! Banyak temannya koq. Yang penting kita tidak berhenti melakukan stimulasi. Ajak bicara, ajak bercerita. Kalau dia bisa mengerti kata-kata kita, bisa menjalankan perintah kita, maka tinggal menunggu waktu saja. Kelak akan ada masanya mereka bisa bicara seperti yang lainnya. Dan semoga, kata-kata yang keluar dari mulut putra-putri kita, adalah kata-kata yang baik yaa.. Aamiin.. ❤❤☺☺

Komentar

  1. mbak, thanks buat postingan ini. Aku mau kasih ke temen buat nenangin dia krn cemas anaknya msh blm bs ngomong pdhal usianya hampir 2 thn.
    Iya, org memang kdg bertanya bukan sekedar ingin berbasa basi tp memang utk menyakiti... Kita2 mesti gede sabarnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Riaaa...ini arin uga stress aslinya. Tadinya aku santai karena beberapa anak juga mengalami hal serupa, dan tiap anak kan perkembangannya beda-beda kan? Tapi orag sekitar yang justru bikin ga tenang. :(

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Ayahmu Miskin, Ya, May? Koq Kulkas Kamu Kecil?

Jika mengingat materi Seminar Parenting tentang bullying bulan lalu, barangkali kalimat yang diucapkan seseorang pada Amay beberapa waktu lalu itu, termasuk dalam verbal bullying. 
Sebelum mengomentari kulkas kami yang berukuran kecil itu, orang yang sama bertanya pada Amay, putra sulung kami. Entah apakah niatnya hanya bertanya ataukah ada tujuan lainnya, katanya, "Ayah kamu miskin, ya, May? Koq kamu ngga punya TV?" yang dijawab oleh Amay dengan cerdas, "Tapi ayahku lebih keren daripada ayah kamu!"
Kalau mengingat kembali materi parenting bulan sebelumnya tentang mempersiapkan ananda masuk SD, bahwa salah satu tanda kesiapan anak untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi adalah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, maka saya berkesimpulan kalau Amay memang sudah siap untuk menjadi anak SD dengan jawaban cerdas di atas. Amay tidak mengadu, dalam artian meminta bantuan orang lain untuk menjawab perlakuan orang itu.
Sayangnya, saat insiden "pemiskinan" it…