Langsung ke konten utama

Hello, Salam dari Saya, Ibu yang Tak Sempurna!

Perang antar Mama masih sering kita temui hingga saat ini. Topiknya pun bermacam-macam. Mulai dari sufor vs ASI, popok kain vs diapers, sectio caesar vs partus spontan, homemade baby food vs MPASI instan, dan lain-lain.

Jadi ibu masa kini, apalagi bagi para ibu yang aktif berselancar di dunia maya, mesti punya hati yang seluas samudera. Salah-salah, bisa stress karena membaca status orang lain yang seolah-olah menghakimi kita, hehe... Tak hanya di dunia maya saja sebenarnya, kebesaran hati juga amat diperlukan ketika menghadapi pendapat orang lain akan hidup kita, di dunia nyata.

Saya ibu dari dua anak, yang memang sudah terlihat berbeda tak hanya dari fisik, tapi juga dari cara melahirkannya. Amay, si sulung, dikeluarkan paksa melalui perut saya. Dan Aga, adiknya, saya lahirkan per vaginam.

Komentar orang-orang pada Amay dan Aga bermacam-macam. Amay yang secara fisik mirip saya, -kurus dan terlihat seperti tulang berjalan-, dan Aga yang dari perawakan hingga struktur giginya mirip sekali dengan sang papa.

Aga 2 tahun

Amay, 2 tahun


Orang-orang sering membandingkan keduanya. Dulu, waktu saya belum memiliki Aga, komentar pedas mesti saya telan, sendirian. Saya pernah dibilang hanya mengurusi suami dan mengabaikan Amay, karena Amay bertubuh kecil. Kadang mereka yang berkomentar memang tak memikirkan bagaimana perasaan saya yaaa... Padahal kalau dipikir-pikir, ibu mana sih yang tak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Ibu mana yang tak ingin melihat anaknya tumbuh "normal" seperti "dambaan" orang lain?

Kenapa kata normal dan dambaan saya beri tanda petik? Ya karena sering saya jumpai seseorang sedang mengharapkan anak orang lain tumbuh seperti yang dia inginkan. Padahal ibu si anak mah biasa aja.

Contoh kasus, "Amay beratnya berapa? Kelihatannya kurus ya? Minum susu nggak?" dan ketika saya jawab bahwa Amay ini full ASI sampai umur 2 tahun, ditambahi lagi deh kalimatnya, "Ooh...mestinya dikasih susu biar agak berisi. Kasihan lho, kayak anak kurang gizi." 😬😤

Ada yang begitu? Adaaaa... Saya sudah kenyang dengan sindiran seperti itu. Awalnya sih saya selalu jawab, "Amay ini doyan buah, doyan sayur juga lho... Makannya juga lahap koq." Tapi lama-kelamaan seiring dengan imunitas saya yang makin kebal terhadap nyinyiran, saya ladeni mereka dengan satu senyum saja. 😊

Amay kan memang seperti saya, mau makan sebanyak apa, badannya cuma segitu-gitu aja. Bisa naik paling sekilo-dua kilo, itu pun perlu waktu berbulan-bulan. Susahnya tuh ya, udah susah payah menaikkan berat badan, eeeh, langsung turun drastis hanya karena demam dua hari.

Beda dengan Amay, Aga, adiknya punya badan yang lebih montok. Orang-orang ngga akan percaya kalau Aga ini makan karbo-nya hanya sedikit. Jumlah suapan Aga itu ya, paling hanya sekitaran 6-10 suap sendok bayi. Tapi alhamdulillah Aga masih doyan sayur, meski dia hanya suka buah-buahan tertentu saja.

Kalau ditanya, koq bisa? Ya jawabnya takdir, hihihi... Aga sama lincahnya dengan Amay koq. Dia hobi banget main bola. Dia juga sering jalan cepat -kalau belum bisa dikatakan berlari- kesana kemari.


Dari rahim saya sudah lahir dua macam anak dengan perawakan tubuh yang berbeda. Monggo aja sih kalau masih mau nge-judge saya. Atau mau bilang saya lebih sayang Aga daripada Amay? It's a big NO!! Saya selalu berusaha memberikan kasih sayang yang sama pada dua anak laki-laki saya. Bahkan kalau boleh cerita yaa, saya dulu malah sering menangis waktu Aga bayi. Saya sering menangis karena merasa mengabaikan Amay. Mungkin itu termasuk baby blues syndrome. Tapi alhamdulillah ngga lama koq, dan saya mulai mencintai Aga sebesar cinta saya pada kakaknya.


Belum selesai soal berat badan, "keresahan mereka" merambah ke perkembangan fisik anak-anak saya.

Umur 8 bulan, gigi Amay belum keluar. Sedangkan teman sepantarannya yang lahir 2 minggu setelah Amay, sudah punya 2 gigi seri. Sambil bercanda, ibu si bayi bilang, "Untumu ndi, May? Iki wis biso nglethuk balung lho. (gigimu mana, May? Ini aja udah bisa makan tulang lho)"

Saya tau dia hanya bercanda. Tapi candaannya yang terus menerus dilontarkan tiap kami berjumpa, mau ngga mau bikin saya rendah diri juga. Apalagi gigi Amay yang terlambat tumbuh itu sempat membuat saya khawatir kalau-kalau Amay memang ngga punya gigi. Tapi alhamdulillah, umur 12 bulan, gigi seri bagian kiri atasnya muncul juga.

Amay 1 tahun, masih titah, gigi baru 1

Yup, gigi Amay yang tumbuh pertama itu adalah kado ulang tahunnya dari Allah. 😂

Nah, belajar dari pertumbuhan Amay, ketika di umur 8 bulan gigi Aga belum tumbuh, dan kejadian ini kembali "meresahkan" tetangga saya, saya mencoba menenangkan mereka dengan berkata, "Tenang...dulu Amay punya gigi pas umur 12 bulan." Alhamdulillah, mereka jadi tidak khawatir lagi. 😜

Urusan gigi sudah terlewati. Lalu apalagi?


Jalan.

"Maaayyy...lomba lari yuk, May!" dan saat itu Amay baru merangkak. Teman Amay yang 2 minggu lebih muda dari Amay itu sudah bisa jalan. Dia memang tidak melalui proses merangkak seperti Amay. Tapi Amay dibilang keasikan merangkak jadi males jalan.

Sabar...sabar... Dan tibalah saat yang dinanti-nanti, Amay bisa berjalan di umur 15 bulan. Hal ini saya jadikan acuan untuk perkembangan Aga. Sama dengan kakaknya, Aga juga melangkahkan kaki pertamanya di usia ini. Catatan ini saya jadikan senjata untuk menenangkan mereka yang resah dengan kemampuan berjalan Aga yang katanya cukup terlambat. 😀

Ngga apa-apa, saya mah santai orangnya. Lha wong kata ibu saya, Mas Pepi juga bisa jalan umur 18 bulan koq.😇

Selesai urusan jalan, yang masih saya hadapi saat ini adalah kemampuan bicara Aga. Aga kini 25 bulan dan kosa katanya baru beberapa saja.



Iya, Aga baru bisa mengucap "Ma, Pa, top! (stop!), dan ua (dari kata "aqua", minum maksudnya)" Entah darimana dia dapat kosakata terakhir itu. Padahal kami juga selalu mengatakan "mimik" atau "minum". Dan untuk kata "top!", itu karena setiap keluar dari kamar mandi, kami memintanya untuk berdiri di atas keset dulu. "Stop! Jangan jalan-jalan dulu nanti kepeleset!" gitu. Nah sekarang tanpa dikomando pun dia akan bilang "stop!" sendiri.

Apa saya ngga khawatir melihat Aga yang belum bisa bicara banyak kata? Tentu saja kekhawatiran itu ada. Tapi saya mencoba mengingat perkembangan Amay waktu dulu. Amay bisa mengucap kata "pipis" di usia 26 bulan. Ini yang mempermudah proses toilet training-nya dahulu. Di usia 26 bulan juga, Amay bisa mengucap kata "putuk" yang berarti "tutup", dan beberapa kata lain yang konsonannya masih terbalik-balik.

Mohon do'anya saja ya, supaya Aga segera bisa bicara banyak kata. 😊😊



Tulisan ini adalah curhat bareng dengan bloggerKAH. Baca tulisan Rani R Tyas disini, Widut disini, dan tamu kita Irawati Hamid disini

Komentar

  1. Mbaa Arin, itu feel you deh yg masalah gigi, jalan dan bicara itu, saya gak cuma tetangga loh yg resah dengan perkembangan anak saya tapi mertua jg membanding2kan anak saya dgn cucu temannya yg usianya lebih muda dari anak saya :(

    saya sampe mnta pada suami agar memberi pengertian pada ibunya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbaaa..huhuhu... paling sedih kalau dibanding-bandingkan yaa.. gimana pun juga, kita ibunya, pasti merasa kalau anak kita lah yang terhebat ya Mba.. :(

      Hapus
  2. Mbak arin...saya juga pernah ngalami. Sampe skrg pun masih. Tp sy belajar cuek..tp kadang sesekali saya ketusin juga. Hehhe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, sekarang saya cuek aja lah, hehe..

      Hapus
  3. Aga.. kamu punya temen #caribolo Han malah masih bubling sampai sekarang, dia belum mengucap satu katapun. Semoga semester depan anak kita langsung lancar ngomong ya. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin aamiin... ayo Han, kita berusaha dan berdo'a sama-samaaa.. :)

      Hapus
  4. Wah ternyata rumit juga ya jadi ibu... Udah mengandung, melahirkan susah payah, lanjut menyusui dan merawatnya... Eh masih dinyinyirin juga :D

    Kata ibuku, perkembangan masing2 anak beda2, jangan dibanding2kan... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah Mas, hehe.. bener ibunya Mas, dibanding-bandingkan tuh sakitnya disinii, huhuhu...

      latihan ya Mas, jadi ntar kalau punya anak udah ngga kaget, hehehe

      Hapus
  5. Hana juga gak embem ginuk ginuk badannya, karena aktif anaknya jadi lari-lari an sana sini, joget-joget gak bias diem hahaha. Yang penting anak sehat mbak :)

    BalasHapus
  6. Wuii seru banget ni ada kolaborasi anyar maning...
    Emang ya mb rin kayaknya apa apa di budaya kita seakan akan kayak dilombain gitu #semacam social culture yang ga tertulis, kayak nikah, hamil, tumbuh kembang anak etc....kan malah bikin setres alias spaneng hahaahha, uda gitu yang biasanya nyeletuk pedes karetnya 3 yo kok wong sing baru kenal atau ga deket2 banget wkwkwkkw...
    Hmmm aku dah pernah baca yang baby blues waktu aga lahir trus dikau merasa bersalah ama amay..hiks

    Tapi mb rin, anak cowok mah wajar sih ya kalo ga gitu gembul pas uda lepas balita, soalnya kan lagi aktif aktifnya...toh ntar dewasanya makin ganteng hahhahahahii #ngomong upu toh mbul

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya gitu deh tante mbul, hehe.. romantika ibu muda.. #halah

      ah iyaa, makassiiiih udah baca curhatankuuu.. tapi Amay Aga memang beda tante..tulangnya aja gedean adiknya. :D

      Hapus
  7. kalau nurutin omongan orang itu nggak ada habisnya ya. belum nikah dikritik, belum punya anak dikomen, udah punya anak ternyata komennya berjibun seperti itu. wow. manusia mbak. ya gitu lah. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. He em Mba..entah ya kenapa kita demen ngomentari orang? Hihihi..

      Hapus
  8. Masalah perkembangan anak selalu saja menuai omongan ini itulah, dan kadang kita suka baper membandingkan kakak dan adik. Ini sering diingatkan oleh suami, jangan membandingkan.
    Mo telat ngomong atau jalan, yang penting sehat. Semua bisa kok diajarin. Aku berusaha nutup mulut untuk tidak komen tentang anak orang lain karena gak pengin juga anak2ku dikomentarin heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mak, karena aku tau rasanya gimana dinyinyirin, maka aku pun berusaha untuk nggak nyinyir dengan anak orang lain. :)

      Hapus
  9. Mbak, tidak usah perduli dengan omongan orang terutama yang nyinyir. Hihihi... karena mereka sebenarnya sedang membicarakan ketidakmampuan diri mereka sendiri. Hihihi...

    Masalah perkembangan anak sebaiknya bertanya ke sumber yang bisa dipercaya ya, mbak, supaya klop dan tidak ragu.

    Jangan percaya dengan, katanya, katanya.

    Aku percaya setiap anak itu unik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mak, sekarang sih saya udah terlatih, hehe.. udah cuek. toh, saya Mamanya anak-anak. saya paling tau anak-anak saya. iya kan? :)

      Hapus
  10. Santae kayak di pante..haha
    yang penting sehat dan pinteeer

    BalasHapus
  11. Hohoho kalo ngurusin omongan orang emang nggak ada habisnya ya. Aku aja yang keguguran dua kali selalu disalahin ini itu. Kebayang nanti kalau punya anak. Bisa nggak ya nggak ketemu orang-orang yang suka komen seenaknya itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, emang semua tindak tanduk kita bakalan menuai komentar, wkwkwk.. dimana-mana sama yaa?

      Hapus
  12. Hihiii hihi
    Sama kayak aku. PAs keponakan udah bisa ngomong lancar, Ayyas ngomong nggak jelas. Pas keponakan udah bisa baca, Ayyas nggak eh di omongin. Aku mah biasa aja :)
    Semangaaat kita mba

    BalasHapus
  13. Salam kenal mba, saya lagi hamil 7 bulan dan baca-baca postingan begini jadi nambah ilmu sebagai bekal untuk mengurus anak nanti. Kakak saya sering curhat juga bahwa anaknya dibilang kurus, dia sampai stres padahal sudah berusaha gonta ganti menu. Saya cuma berusaha menenangkan bahwa anaknya cerdas secara linguistik, aktif, toh semua anak pasti punya kekurangan dan kelebihan kan? ^_^ keep sharing mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, sehat sehat selalu Mbaa.. betul, tiap anak punya kelebihan dan kekurangan. mari kita fokus ke kelebihannya saja.. :)

      Hapus
  14. Semangat mba. Ajarin terus Aga belajar banyak kata ya, Dimas juga telat bicara mba, malah baru lancar pas usia 3 tahun. Saya sering ajak ketemu banyak teman, jadinya dia banyak kosakata baru. Dan mendengar obrolan kita.

    BalasHapus
  15. Anak pertama saya, cenderung montokkk, hehehe

    Anak kedua, makan sehari bisa 4-5x, tapiii badannya cenderung kecil, dan sama naikin 1-2 kilo butuh berbulan-bulan, dan ketika sakit, langsung turun lagiii

    Sejatinya tiap anak itu unik ya mbaaa, mau orang rempong nyinyirinnn, kita yang paling tau gimana anak-anak kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, kan kita yang sehari-hari sama mereka kan, hehe... yang penting sehat dan cerdas, :)

      Hapus
  16. Waduuhhh, masih ada to yang komen kayak gitu. ampyun deh....

    BalasHapus
  17. aduh...kalo mikirin kata orang mah pusing...he2, anak ku juga agak lambatperkembangannya..tapi masih dalam skala normal , kecuali misalnya udah tiga tahun ga bisa jalan ..nah tu baru di resahin...

    orang-orang emang suka rese...disenyumin ajahy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba.. hehe, karakter orang memang macem-macem. :)

      Hapus
  18. Lucunya Aga dan Amay. Semoga selalu sehat dan jadi anak sholeh. ^_^

    BalasHapus
  19. lucu-lucu ya anaknya mbak ... saya baru punya anak 1 , rencana pingin nambah 1 lagi :)

    BalasHapus
  20. Halo mbak, salam kenal ya.
    Semoga Aga dan Amay tumbuh jadi anak sehat dan hebat :)
    kalo ada yang bilang bagus2 ttg aga amay, aamiinin aja. kalo ada yang nyinyir nyinyir, cuekin aja. haha.
    saya nikah belum dikasi momongan ya gitu mbak, banyak dinyinyirin orang. ngadepin orang nyinyir melelahkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba.. Insya Allah dilaksanakan tips dari Mba.. Semoga Mba segera diberi amanah yaa..aamiin.. :)

      Hapus
  21. Suatu hari Aga dan Amay yang akan nyeritain gimana mereka sayang sama orangtuanya :))

    Salam,
    Pink

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …