Pro Kontra Reward and Punishment dalam Mendidik Anak, Mama Pilih Mana?

Waktu mengajar dulu, sekolah tempat saya mengajar menerapkan prinsip "konsekuensi" pada anak didik. Sekolah kami tidak memberikan reward atau hadiah untuk anak yang berprestasi, juga tidak menggunakan punishment atau hukuman untuk anak yang melakukan pelanggaran. Sekolah kami menerapkan prinsip "konsekuensi" untuk mengganti dua kata itu. 

Jadi, misalnya pada saat snack time siswa A tidak mau menghabiskan makanannya, maka kami -guru, pen- akan berkata, "Sebelum makananmu habis, kamu belum boleh pergi ke working area atau area bermain. Kalau kamu mau bermain dengan teman-teman, habiskan dulu makananmu. Semakin lama waktu yang kamu perlukan untuk menghabiskan makanan, maka konsekuensinya waktu bermainmu akan semakin berkurang." Sebaliknya, jika anak bisa melakukan segala kewajibannya tepat waktu, maka haknya pun akan segera ia dapatkan.

Kedengarannya lebih adil dan lebih ramah anak ya? Iya. Meskipun sebenarnya, konsekuensi ini mirip juga dengan ganjaran, baik itu hadiah maupun hukuman, hanya lebih netral saja istilahnya. 

Tapi, apakah prinsip "konsekuensi" ini paling sempurna? Kadang iya, namun kadang juga tidak. Sebagai manusia, ada kalanya kita butuh pujian atau hadiah, agar kita semakin bersemangat untuk melakukan sesuatu. Terkadang, diperlukan juga hukuman, agar seseorang sadar bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan. Hukuman juga diperlukan, agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang.

reward and punishment

Setelah saya punya anak sendiri, saya mencampur berbagai metode pengasuhan. Saya mencari metode yang pas dengan karakter anak-anak saya. Ya, apa yang saya dapat saat mengajar dulu, tidak sepenuhnya saya pakai.

Contohnya pada Amay, terkadang saya mengiming-imingi hadiah, agar ia mau melakukan sesuatu. Pada saat puasa di bulan Ramadhan lalu misalnya, saya berjanji untuk memenuhi makanan apapun yang ia mau untuk berbuka. Saya juga berkata akan membelikan mainan yang ia minta, jika ia bisa berpuasa lebih dari 25 hari. Kenyataannya? Alhamdulillah ia termotivasi, dan bisa mendapatkan sebuah spinner saat lebaran. 


Nah, dari apa yang saya amati dan saya jalani, pemberian reward dan punishment tak bisa sepenuhnya dianggap paling baik, tak bisa juga dianggap buruk. Pemberian reward dan punishment memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, seseorang jadi bersemangat untuk melakukan sesuatu, dan negatifnya, seseorang akan terbentuk menjadi pribadi yang pamrih. Jika tidak ada imbalan, maka ia tak akan berbuat kebaikan.

Untuk itu, saya memilih berada di tengah-tengah.

Saya tidak kontra pada pemberian reward and punishment, karena Allah pun menyiapkan reward berupa surga dengan berbagai macam tingkatannya untuk hamba-Nya yang beriman dan sering melakukan kebaikan. Allah juga sudah menyiapkan punishment di neraka, untuk mereka yang tak beriman dan sering melakukan kemungkaran.

Saya juga tidak menganut prinsip ini secara mutlak, karena saya juga paham, bahwa reward yang berlebihan pun bisa melenakan. Apalagi punishment, bisa membuat seseorang menjadi trauma berkepanjangan.

Kalau teman-teman, bagaimana?

4 comments:

  1. kadang aku terapkan reward n punishment tapi biasanya aku lebih ke cara seperti yang mba lakukan diawal jika makanannya lama dihabiskan maka waktu mainnya kurang. Aku kebanyakan seperti itu hehehe walau memang anakku masih berderai air mata jalaniinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..aku juga mix and match. Ngga pengen saklek sama satu metode aja.

      Delete
  2. Aku udah jalan soal konsekuensi ini. Meskipun dalam kondisi tertentu aku pernah juga pakai istilah hukuman untuk menunjukkan bahwa orang tua tidak sedang main-main dengan peringatannya. tapi sifatnya juga hukuman ringan aja sih dan ya sejenis konsekuensi itu

    ReplyDelete
  3. Sepakat, mau pakai metode seperti apa ya lihat situasi dan kondisinya, karena tiap keluarga punya aturan sendiri.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...