Ide Undangan Unik untuk Pernikahan atau Khitanan

Thursday, August 14, 2014

Ketika lebaran di rumah mertua beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga suami bersilaturrahmi ke beberapa saudara. Di salah satu rumah, saya menemukan sebuah benda. Saya terheran-heran melihatnya. "Wah, ada aja ya idenya?" ucap saya. Benda apakah itu?


Iya, itu adalah sebuah korek api yang ditempeli undangan khitanan. Sebuah ide yang kreatif bukan? Mengingat korek api adalah benda yang sering dipakai, misalnya untuk menyalakan rokok atau kompor, mungkin si pengirim undangan menggunakan korek api dengan tujuan agar setiap digunakan bisa terlihat, dan agar yang diundang selalu ingat untuk menghadiri acaranya.

Saya pernah mendapatkan undangan yang berupa kalender dan juga kipas. Saya pikir undangan-undangan seperti ini efektif dan bermanfaat, karena biasanya, mau seharga berapapun sebuah undangan, jatuhnya ke tempat sampah juga. Lebih miris lagi, kalau di undangan tersebut ada foto pre-wedding sang calon pengantin. Udah mahal-mahal nyetaknya, dibuang-buang juga 'kan? :p

Jadi, untuk yang belum menikah dan sedang mencari ide undangan untuk pernikahannya, yuk buat undangan yang bisa bertahan "lebih" lama... :)



Read More

Ada Apa dengan Marshanda?

Wednesday, August 13, 2014

Marshanda memang sedang menjadi sorotan beberapa bulan terakhir. Bermula dari gugatan cerainya pada sang suami, Ben Kasyafani, ia membuat publik ternganga tak percaya. Rumah tangga yang terkesan harmonis dan romantis selama ini, ternyata berujung perpisahan. Kemudian perebutan hak asuh anak antara keduanya juga menjadi perbincangan, hingga yang paling menghebohkan adalah keputusan Marshanda untuk melepas hijab. Belum hilang kekecewaan para fans, walaupun semua itu merupakan hak asasinya untuk membuka atau menutup aurat, publik kembali dikejutkan dengan berita pemasungan yang dilakukan oleh ibunya sendiri.

cantik banget kan ya?


Awalnya saya kurang tertarik mengikuti perkembangan beritanya. Saya juga mengetahui ini semua dari berita yang disebarkan teman-teman facebook, bukan dari infotainment. Namun kasus terakhir menggelitik naluri saya, ada apa sebenarnya dengan Chacha, begitu Marshanda biasa disapa. Saya pun iseng membuka situs youtube, mencari sesi wawancaranya bersama Alvin Adam dalam Just Alvin.



Dari wawancara itu, saya mencoba melihat permasalahan ini dari sisi Chacha, setelah selama ini saya melihat semua dari sisi saya sendiri. Saya cukup terkejut ketika ia menceritakan tentang ibundanya yang selama ini menjadi managernya. No, bukan soal manajemen keuangan yang memang menjadi pokok persoalan antara Chacha dengan sang ibu. Saya justru mulai mengernyitkan dahi dan tak henti bertanya-tanya pada diri sendiri, ketika Chacha bercerita bahwa ketika dia sakit dan meminta perhatian lebih pada sang ibu untuk memeluk dan mengelus-elus punggungnya, sang ibu menolak sembari menangis dan berkata bahwa beliau sudah cukup tua, lalu kenapa Chacha tega memintanya untuk selalu terjaga dan kehilangan waktu tidur?



Oh ibu, apa kasihmu masih tak terhingga sepanjang masa? Apa kasihmu masih seperti mentari, yang hanya memberi dan tak harap kembali?









Oh, benarkah sampai seperti itu? Jika benar apa yang dikatakan Chacha dalam acara Just Alvin beberapa hari lalu, maka bagi saya sudah jelas bahwa rentetan peristiwa yang Chacha alami adalah hasil dari pola asuh yang diterapkan sang ibu. Ini memang belum bisa dikatakan sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), wong cuma menolak diminta mengelus punggung. Tapi dari satu hal ini saja, saya koq percaya dengan curhatan Chacha yang sering mengatakan bahwa ia butuh didengar, butuh disayang. See? Happiness has nothing to do with money, beauty, and even popularity.



Kemarin-kemarin, saya hanya berkesimpulan, "Oh, dahsyat sekali ya pengaruh perceraian orang tua terhadap anak-anaknya?" 

Tapi setelah menyaksikan wawancara itu, saya jadi lebih banyak bertanya pada diri sendiri. Apa ya yang menyebabkan kedua orang tua Chacha bercerai? Apakah karena sikap masa bodoh sang ibu terhadap suaminya? Kalau benar masa bodoh, hingga menyebabkan berkurangnya rasa hormat istri terhadap suami, apakah itu karena kekayaannya? Apakah sang ibu berpikir bahwa ia tidak membutuhkan laki-laki pendamping karena semua bisa dilakukannya asal punya uang? Dan ini berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan lain. Mengapa sang ayah sampai begitu tega hingga enggan menemui anak-anaknya? Mengapa Chacha mesti mencari sendiri dimana ayahnya berada?



Saya mulai sedikit memahami apa yang Chacha rasakan selama ini. Iya, dia merasa kesepian dan haus kasih sayang di tengah limpahan kekayaan yang diberikan keluarganya. Meskipun begitu, saya yang pernah merasakan menjadi seorang anak, juga sudah merasakan menjadi seorang ibu, menyayangkan sikapnya yang mengumbar aib ibunya sendiri. 

Saya kemudian terngiang-ngiang sebuah nasihat mulia dari Uwak Muhammad ketika silaturrahmi lebaran yang lalu. "Meskipun ibumu membuangmu, kamu tidak punya hak sedikitpun untuk membalasnya. Kamu masih punya kewajiban penuh untuk menghormatinya."



Semoga Chacha bisa berdamai dengan masa lalunya. Karena setiap manusia diuji sesuai kesanggupannya masing-masing. Ada yang diuji dari sisi finansial, kesehatan, dan mungkin untuk Chacha adalah ujian dari keluarga. Tidak ada orang yang bisa disebut beriman, sebelum dia benar-benar diuji, bukan?
Read More

Resep Carang Gesing

Tuesday, July 22, 2014

Kemarin, saya membuat Carang Gesing, kudapan berbahan dasar pisang. Sejujurnya, saya baru tahu ada makanan bernama Carang Gesing. Akhirnya setelah saya buat dan saya rasakan sendiri, ternyata enak juga rasanya. Ini bisa dijadikan alternatif olahan pisang selain kolak, setup, atau pisang goreng. :)

Resep ini saya dapatkan dari blog Mbak Veronica Dhani. Resep asli saya modifikasi karena ada bahan yang kebetulan tidak tersedia di dapur saya, juga karena saya belum mempunyai timbangan. Jadi, semua serba kira-kira. :)

Caranya mudah koq, makanya saya mau mencobanya. Maklum, baru belajar masak, jadi saya menghindari resep yang ribet.

Bahan:
  • Pisang tentu saja. Di resep Mbak Vero, yang kita butuhkan sebanyak 500gr. (Saya menggunakan sesisir pisang kepok kuning, dikurangi 4 buah untuk dimakan langsung)
  • 300 ml santan dari 1/2 butir kelapa ditambah 10 lembar daun suji. (Karena disini susah mendapatkan daun suji, jadi saya skip deh. 300 ml santan, saya pakai kira-kira sebanyak dua gelas kecil)
  • 75 gr gula pasir. (Saya kira-kira sendiri, kurang lebih 3 1/2 sdm)
  • 1 butir telur ayam
  • Daun pandan secukupnya. (Saya menggantinya dengan pasta pandan, kurang lebih 1/2 sdm)
  • 1/2 sdt garam (Ini saya tambahkan sendiri, supaya ada rasa gurih. Di resep Mbak Vero, garam tidak digunakan)

Cara Membuat:
  • Campur santan, garam dan gula pasir, aduk-aduk.
  • Masukkan telur, aduk-aduk hingga kuning telur pecah.
  • Masukkan pasta pandan.
  • Susun pisang yang telah diiris tipis-tipis ke dalam loyang atau pinggan tahan panas.
  • Tuangkan santan tadi ke dalam loyang berisi pisang. Usahakan pisang terendam.
  • Kukus sampai matang. Bisa disajikan panas atau dingin.
Selamat Mencoba :)



Read More

Puisi untuk Amay

Saturday, July 12, 2014

Kemarin tiba-tiba Amay berpuisi. Karena saya sedang mencuci, saya kurang bisa mendengar dan mengingat dengan jelas kalimat-kalimat yang ia keluarkan secara spontan. Mungkin jika berjudul, puisi Amay berjudul "Pintu". Satu kalimat yang saya ingat betul, adalah
"Aku takut sama Pintu"
Kalau dilihat dari kalimat itu, mungkin dia teringat ketika dua sepupunya menakut-nakutinya dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Padahal, pintu itu terbuka oleh angin.

Amay mengenal puisi sejak saya membelikannya sebuah buku berjudul "Serpih Biskuit" terbitan Tiga Serangkai. Puisi favoritnya adalah "Gubuk Reyot". Jika bertemu buku itu, ia akan meminta saya membacakan puisi-puisi di dalamnya, dan Gubuk Reyot mendapat kesempatan pertama.

Sebenarnya, saya kurang pandai menulis dan membaca puisi. Jika teringat masa-masa sekolah dulu, saya lemah hampir dalam semua bidang. Ilmu-ilmu eksak, jangan tanya pada saya. Bahkan, menuangkan sesuatu dalam bentuk bahasa pun saya tak bisa dan tak biasa. Satu-satunya nilai 9 yang saya dapatkan dengan mudah adalah pelajaran Seni Musik. Bukan karena saya pandai memainkan alat musik, tetapi karena saya saat itu terpilih untuk bergabung dalam Paduan Suara sekolah. Soal suara, pas-pasan. Namun menyanyi adalah hobi.

Nah, karena menyadari bahwa Amay memiliki ketertarikan dengan puisi, saya ingin mengenalkan beberapa bait sederhana untuknya. Tentunya karena berbagai keterbatasan yang saya miliki dan telah saya sadari, saya hanya meniru puisi yang diajarkan kakak saya pada anak-anak didiknya di PAUD.

Tuhanku

Tuhanku hanya satu
Tidak ber-ayah, tidak ber-ibu
Pencipta alam semesta
Langit, bumi, dan seisinya
Aku bersujud kepada-Nya





Read More

Quick Count? Aku Tak Peduli

Friday, July 11, 2014

Saat pulang kampung untuk Pilpres kemarin, saya bertemu dengan seorang tetangga yang pulang dari "repek" atau mencari kayu bakar untuk memasak. Saya berujar pada bapak, "Di jaman serba cepat kayak sekarang, kok masih ada yang repek ya, Pak?" Lalu jawab beliau, "Lha daripada buat beli gas, mahal, mending uangnya buat yang lain." Padahal memasak dengan tungku kayu bakar, jauh lebih susah dan lebih lama. Untuk membuat apinya menyala dengan baik saja butuh perjuangan yang bagi saya tak mudah. Saya membayangkan hidupnya dengan hidup saya sendiri. Mulai dari hal terkecil -menyalakan api-, hingga kecepatan memperoleh beragam informasi.

Pikiran saya pun masih terpaku pada tetangga saya itu. Apa saja yang ada di dalam benaknya ya? Tidakkah dia tahu bahwa ada dunia lain selain dunia nyata yang sedang ia titi? Pedulikah ia dengan pilpres yang baru saja ia jalani? Mengertikah ia dengan quick count, real count, KPU, atau apalah tetek bengek yang menyertai pemilu?

Ah, kadang saya berpikir, mungkin lebih enak menjalani hidup dengan ketidaktahuan. Mungkin lebih baik saya ikutan plonga-plongo saja menghadapi apa yang sedang ramai dibicarakan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Mungkin lebih baik saya perbanyak baca Al-Qur'an saja daripada ikut-ikutan membaca media yang perlu diragukan sisi kenetralannya. Toh, manfaatnya akan lebih banyak saya rasakan sendiri. Untuk apa menekuni media yang justru menyulut prasangka? Untuk apa ikut-ikutan menyebar berita yang belum diketahui kebenarannya secara pasti. Khawatirnya, jika berita yang saya sebar mengandung fitnah, saya akan kecipratan dosanya. Duh, dosa yang sudah saya perbuat secara sengaja saja sudah menumpuk entah berapa bukit.

Akan halnya Pilpres, saya tidak sepenuhnya cuek. Saya telah menganalisa, menimbang, kemudian memutuskan mana yang bagi saya pantas memimpin negeri ini. Saya pun telah menunaikan "tugas" saya sebagai warga negara untuk ikut ambil bagian dalam menentukan masa depan bangsa ini di tanggal 9 Juli kemarin. Siapa yang akan menjadi Presiden nanti, itu sepenuhnya hak Allah. Dia telah menentukan, dan quick count bukanlah standar. Siapa Presiden Indonesia nanti, sudah ditetapkan takdirnya jauh-jauh hari, bahkan sebelum kita ada di bumi ini. Saya pribadi tetap akan legowo jika nantinya yang terpilih bukanlah Presiden pilihan saya. 

Dan mulai hari ini, saya akan menyibukkan diri dengan urusan yang lebih bermanfaat. Bukan hanya untuk mempertajam debat. Hidup ini amatlah singkat, maka sia-sia saja adu mulut sampai keluar urat. Apa yang kita lihat, kita dengar, kita pikirkan, dan kita lakukan, bukankah ada pertanggungjawabannya di akhirat? :)
Read More

4 Unsur dalam Ibadah

Saturday, July 5, 2014

Bulan Ramadhan tiba, kaum muslimin dan muslimat berbondong-bondong mengumpulkan pahala. Sejatinya, bulan yang istimewa ini merupakan bulan latihan untuk sebelas bulan berikutnya. Kita dibiasakan untuk bangun di sepertiga malam yang terakhir melalui sunnah sahur. Kita dilatih untuk giat berdzikir, shalat sunnah (tarawih), menahan nafsu amarah, menahan godaan syahwat, juga menahan lapar dan dahaga melalui puasa agar kita bisa ikut merasakan apa yang fakir miskin rasakan.

Sebenarnya, tidak hanya manusia saja yang berpuasa. Binatang pun melakukannya. Ular dan ulat adalah dua contohnya. Jika ular melakukan puasanya ketika ingin berganti kulit, ulat berpuasa ketika ia akan bermetamorfosis menjadi bentuk baru yang lebih indah yaitu kupu-kupu. Lalu seperti apakah puasa kita? Apakah hanya seperti ular, yang berganti baju baru di hari Lebaran? Ataukah seperti ulat, yang tadinya merupakan binatang yang menjijikkan, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang indah warnanya? Semua itu tergantung dari apa yang kita lakukan selama bulan mulia ini berlangsung.

Lalu bagaimana supaya kita bisa beribadah dengan baik? Ada empat unsur dalam ibadah yang sepatutnya kita ketahui terlebih dahulu supaya ibadah kita menjadi maksimal. Empat unsur tersebut antara lain;

1. Ilmu
Ibadah tanpa ilmu, tentu tak ada gunanya. Sama halnya dengan sedang memegang kalkulator untuk berhitung, namun tak bisa membaca angka. Percuma.

2. Niat
Ada sebuah hadits berbunyi, "innamal a'malu binniyaat", sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Niat bisa dilafadzkan, namun bisa juga disuarakan dalam hati.

3. Sabar
Semua ibadah memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Dalam puasa, kita diajarkan untuk bersabar menahan lapar dan haus sejak terbit hingga terbenamnya matahari. Dalam tarawih, kita diajarkan untuk bersabar menahan lelah dalam mendirikan shalat hingga 8 atau 20 rakaat. Dalam sahur, kita diajarkan untuk bersabar melawan rasa kantuk. Dalam bersedekah kita diajarkan untuk bersabar melepas apa yang menjadi milik kita. Semua ibadah, membutuhkan kesabaran untuk melakukannya.

4. Ikhlas
Inilah penentu akhir, dan menjadi tolok ukur bagaimana kualitas ibadah kita. Tanpa keikhlasan, semua sia-sia.


Read More

Membuat Dadar Gulung Isi Pisang

Wednesday, June 25, 2014

Liburan ini Alhamdulillah saya kedatangan keponakan dari Semarang. Keponakan yang paling besar tahun ini naik ke kelas VIII SMP. Dia bercita-cita menjadi seorang Master Chef. Memang tayangan Master Chef di teve sepertinya menginspirasi banyak orang ya?

Nah, karena ada asisten yang siap mendampingi saya ketika memasak, saya pun bersemangat untuk mengeksplor kebisaan di dapur. Tsaaah, gayaaaaa....:D

Sebenarnya beberapa bulan ini saya malas memasak, karena satu dan lain hal. Tapi karena ada Kakak Fina, saya sudah berniat membuat beberapa cemilan. Kemarin kami membuat puding. Hari ini, karena kebetulan saya punya sesisir pisang kepok yang saya beli dari tukang sayur kemarin, kami ingin membuat makanan berbahan dasar pisang. Awalnya bingung mau dibuat apa, tapi akhirnya terpilihlah dadar gulung isi pisang, menyingkirkan piscok untuk sementara. Semua bahan yang diperlukan, Alhamdulillah sudah tersedia di dapur.

Mudah sekali membuatnya, hanya memang perlu sedikit kesabaran ketika membuat dadar coklat untuk kulitnya.

Bahan dadar:
1.       6 sdm tepung terigu (saya pakai Cakra)
2.       ½ sdm baking powder
3.    2 sdm coklat bubuk
4.       3 sdm gula pasir
5.       ½ sdt garam
6.       3 butir telur
7.       1 sachet susu kental manis warna putih, larutkan dalam 500 ml air putih
8.       1 sdm margarine, lelehkan


Cara Membuat:
1.       Campur tepung terigu, baking powder, coklat bubuk, gula pasir dan garam.
2.       Masukkan telur, aduk searah hingga adonan tercampur rata dan terlihat licin.
3.       Masukkan air susu perlahan-lahan. Pastikan tidak ada adonan yang menggumpal.
4.       Masukkan margarine yang telah dilelehkan, aduk kembali.
5.       Panaskan wajan, tuang sesendok sayur adonan, ratakan hingga membentuk lingkaran. Angkat.


Bahan Isi:
1.       1 sdm tepung terigu
2.       1 sdm tepung maizena
3.       1 sachet susu kental manis, larutkan dalam 250 ml air putih
4.       1 sdm gula pasir
5.       ½ sdt garam
6.       4 buah pisang kepok, iris kecil-kecil

Cara Membuat:
Campur semua bahan, aduk rata. Masak adonan dengan api sedang. Angkat jika sudah meletup-letup dan mengental.

Eksekusi:
1.       Bentangkan dadar kulit coklat.
2.       Isi dengan bahan isian.
3.       Lipat menyerupai amplop, sisihkan.
4.    Sajikan semuanya, dan dadar gulung isi pisang siap dinikmati.

Pisangnya masih sisa, besok buat apa lagi yaa? :)

Read More

Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta

Tuesday, June 24, 2014

Kaliurang, Yogyakarta, memang menyimpan banyak potensi wisata. Salah satunya, Museum Ullen Sentalu, yang terletak di Jalan Boyong, kawasan wisata Kaliurang, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Museum ini diprakarsai oleh Keluarga Haryono dan diresmikan oleh KGPAA Paku Alam VIII pada 1 Maret 1997.

Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta


Nama Ullen Sentalu sendiri diambil dari singkatan Bahasa Jawa, ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku, yang berarti "Nyala lampu blencong (lampu minyak yang digunakan dalam pertunjukan seni wayang kulit) merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan."

Saya berkunjung kesini akhir tahun lalu, bersama dengan dua keluarga yang merupakan teman dekat suami. Begitu memasuki area parkir, kesan sejuk, magis, dan luas, segera menyergap dalam diri saya. Sambil menunggu giliran masuk, karena pengunjung di dalam museum memang dibatasi, saya menerka-nerka apa yang akan saya dapatkan di dalam sana.

Yak, dan tibalah giliran kami, 6 orang dewasa dan 2 anak-anak, serta beberapa anggota rombongan yang lain, untuk memasuki area. Begitu masuk, kami disambut oleh seorang guide yang cantik dan ramah. Kami diingatkan untuk tidak mengambil gambar dalam bentuk apapun. Agak kecewa, namun pada akhirnya saya mengerti maksudnya, apalagi kalau bukan untuk menjaga keotentikan karyaseni di dalamnya?

Setelah itu, kami dibawa masuk ke sebuah ruangan seperti labirin, namanya Guo Selo Giri. "Jangan terpisah dari rombongan ya, supaya tidak tersesat," begitu pesan Mbak Pemandu. Di dalam, ada banyak cerita yang disampaikan, sampai saya lupa detailnya. Daripada ngawur, mending kesini sendiri saja yaa.. :D Yang jelas, ada nama Kanjeng Bobby atau Pakubuwono XII (konon katanya beliau tidak mempunyai permaisuri, namun memiliki beberapa selir), Gusti Nurul, dll. Banyak lukisan disana. Di dalam juga ditampilkan macam-macam batik khas Solo dan khas Jogja, juga filosofi yang melatarbelakanginya. Di sebuah ruangan, kita dipersilakan untuk beristirahat dan diberi minuman tradisional, seperti jamu. Di ruangan ini kita diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Keluar dari Guo Selo Giri, kami dibawa ke area lain dalam museum itu. Wow, ternyata luas sekali. Ada sebuah tempat terbuka yang memang dikhususkan sebagai area untuk mengambil gambar. Saya salut dengan Mbak Guide, begitu detail ia menjelaskan kepada kami apa-apa saja yang kami lihat disana. Kami pun diperbolehkan untuk bertanya jika belum jelas.

Sampai saya keluar dari museum itu, otak saya masih dipenuhi dengan cerita-cerita yang saya dengar tadi, tentang Kerajaan Mataram yang terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta setelah Perjanjian Giyanti. Yogyakarta yang terpecah menjadi Kasultanan dan Pakualaman, Surakarta yang juga terpecah menjadi Mangkunegaran dan Kasunanan. Oo, ternyata begini. Oo, ternyata begitu.


Wisata di Utara Yogya; Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta


Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta
Saya kebetulan kurang bisa mengingat sejarah, hehe... Jadi lebih baik kesini saja supaya lebih puas belajar sejarahnya. Tiket masuk ke Ullen Sentalu; Rp 30.000,- untuk orang dewasa dan Rp 15.000,- untuk anak-anak. Harga berbeda jika yang datang adalah turis mancanegara, yaitu; Rp 50.000,- untuk orang dewasa dan Rp 30.000,- untuk anak-anak.

Selamat berlibuuuurrrr.... :D

Read More