Mamah; Do'a Ibu yang Terijabah

Tuesday, April 21, 2015

Semoga saya tidak terlihat lebay dengan judul itu. Tapi demi mengingat ucapan ibu, kemudian disandingkan dengan kenyataan yang saya rasakan saat ini, sepertinya memang Allah telah menjawab do'a ibu.

Saat itu, saya masih belasan tahun, masih berseragam putih abu-abu. Ketika duduk santai berdua di teras, tiba-tiba ibu berkata sambil matanya menerawang jauh, "Semoga kamu nanti dapat mertua yang sayang sama kamu."

Beliau lalu melayangkan pandangannya pada saya yang saat itu masih merasa bahasan ini tabu. "Soalnya kalau mertuamu saja sayang, pasti suamimu lebih sayang lagi," katanya melanjutkan. Saya yang mendengar kalimat itu hanya mengucap aamiin sambil membatin, "Aduh bu, masih lama lah kalau soal kayak gitu."

Dan dari peristiwa itu saya langsung percaya bahwa ucapan ibu pada anak-anaknya adalah do'a yang tidak tertolak. Mamah, begitu saya memanggil ibu mertua saya, adalah sosok mertua yang baik pada menantunya. Mamah sering menelepon saya, hampir tiap hari kegiatan itu dilakukannya. Tidak hanya sekedar menanyakan kabar anak cucunya. Lewat telepon kami bertukar cerita, bertukar rencana. Kadang kami pun saling bertukar resep dan menu masakan.

Mamah, De Ine (adik ipar), dan Saya
Ada yang lucu dari kisah kami bertiga; saya, ibu dan mamah. Dibanding saya, ibu lebih dahulu mengenal mamah. Bukan, ini bukan karena saya dan suami bertemu karena perjodohan. Mamah dan ibu berjumpa ketika sama-sama mengambil raport. Sekali lagi, bukan antara raport saya dan suami, akan tetapi raport suami dan kakak saya. Iya, suami saya dahulunya adalah teman sekelas Mas Pepi, kakak kedua saya. Pertemuan pertama saya dengan suami adalah ketika di tahun 2002, suami (yang saat itu sedang menanti kelulusan SMA) bertandang ke rumah. Ehem ehem..

Nah, pertemuan pertama saya dengan Mamah adalah ketika Mamah, Adik ipar, dan suami, sedang mengantar Ayah untuk terapi di Purworejo, tiga tahun kemudian. Daripada bengong menunggu Ayah yang sedang diterapi, Mamah memutuskan untuk datang ke rumah. Dari situlah ibu saya mulai "jatuh cinta" pada calon menantunya. Jatuh cintanya ya karena suami memiliki ibu yang peduli pada anaknya, atau lebih tepatnya, perhatian. Hehe... Iya, saat itu kami sudah menjalin hubungan, yang pendekatannya 3 tahun namun berakhir dalam waktu 7 bulan saja, hahaha.. Keputusan itu saya ambil karena saat itu saya memutuskan untuk tidak pacaran.

Namun jodoh memang tak perlu dikejar. Saya kembali berjumpa dengan suami ketika ibu saya meninggal. Sedih memang jika mengingat bahwa kami dipertemukan dalam kondisi saya yang sedang berduka. Tapi saya yakin, ini adalah petunjuk dari Allah, setelah sebelumnya ibu saya mengatakan rindu pada Mas Yopie (nama suami). Dibanding calon-calon yang lain, ibu saya memang jatuh cinta pada menantunya yang satu ini, hehe..

Dan firasat ibu memang benar. Feeling-nya berkata bahwa Mas Yopie adalah laki-laki baik-baik, berasal dari keluarga baik-baik, dan saya telah membuktikannya.

Mamah, begitu perhatian pada saya. Sering sekali beliau membelikan saya baju, hihi.. (menantu macam apa ini? koq malah kebalik, bukannya mantu yang beliin mertua?) Ya tapi memang begitulah Mamah. Mamah yang fashionable berhasil mengubah saya yang agak cuek dalam berpenampilan.

Oya, ada satu hal yang sedang berusaha saya teladani dari Mamah, yaitu kedermawanannya. Mamah senang berbagi, pada siapa pun, dalam kesempatan apapun. Mirip dengan almarhumah Ibu. Ahh, mereka berdua itu; Mamah dan Ibu, dua orang tercantik dalam hidupku. Semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya pada mereka berdua. Aamiin.


#K3Bkartinian

Read More

Saat Kaki Mas Amay Keseleo

Saturday, April 11, 2015

Hari Minggu, 5 April 2015 lalu, kami kedatangan tamu dari Bandung. Cici Sharon, Cici Joyce, Ibu Ming Tjen, dan Pak Paul. Sharon dan Joyce, anak-anak manis yang sudah seperti kakak sendiri bagi Amay.

Ceritanya, Amay sangat bahagia karena kedatangan mereka. Sore itu, dia lari-larian sambil tertawa-tawa. Duh, kelihatan banget cerianya. Sampai menjelang maghrib tiba, mendadak Amay tak sanggup berjalan. Awalnya kami kira itu hanya acting belaka mengingat hari-hari sebelumnya ia selalu bertingkah seolah-olah sedang sakit.

Kami minta dia meluruskan kaki, dan bisa. Tapi ketika kami menyuruhnya berdiri, ia melipat lututnya sambil menangis, "Sakit loh, Ma..." Tangisannya berhenti ketika dia tertidur. Namun tak berapa lama ia kembali meringis. Kami sudah berusaha memijat bagian lututnya yang memang terasa kaku, tapi ternyata tak cukup menolong.

Esok paginya ketika bangun dari tidur, Amay meminta saya menggendongnya. Ia masih takut untuk berdiri. Kami bingung harus bagaimana. Suami sempat mencari tahu dimana tukang urut terdekat, bahkan terpikir untuk membawa Amay ke rumah sakit orthopedi.

Namun Allah sungguh Maha Penyayang. Allah mengirimkan penolong di tengah-tengah kami, yaitu Tante Diba. Beberapa saat setelah Diba masuk kantor (kantor Akanoma memang menggunakan rumah kami untuk sementara), kami menceritakan kronologi kejadian padanya. Rupanya, Diba pernah belajar tentang pijat refleksi. Anak itu memang cerdas, hehe, bisa mempelajari semuanya hanya dengan membaca.

Akhirnya, saat pemijitan pun tiba. Amay memberontak, tapi Diba dan saya berusaha mengendalikannya. Saat itu saya tahu, ini benar-benar sakit ternyata, karena Amay menjerit-jerit begitu kerasnya. Dan ya, kami salah. Salahnya adalah, meskipun titik sakit yang ditunjuk Amay adalah di bagian lututnya, titik refleksinya bukanlah disana. Jadi, sakit di belakang lutut itu adalah akibat dari otot yang terpelintir, dan menurut Diba, titik itu berada di sisi luar punggung kaki. Diba juga memberi tahu saya beberapa titik refleksi yang lain, misalnya sela-sela jari jempol dan telunjuk untuk pencernaan, dan lain sebagainya.

titik yang dipijat jika nyeri lutut

Alhamdulillah, setelah diurut dari titik itu ke atas sampai lutut sebanyak tiga kali, Amay langsung pulih. Iihh, beneran lho, dia bisa berdiri (Meskipun niat awalnya mau menendang tante Diba karena sudah membuatnya sakit. Hmm..tapi sakitnya sih karena sedang diobati..). Kami pun langsung mencandai Amay, "Wah, Alhamdulillah sudah bisa berdiri. Mas Amay sudah sembuh..." Dan ini semua berkat pertolongan tante Diba.

Oya, setelah itu, Amay saya bimbing untuk mandi. Tak berapa lama ia sudah kembali bisa berlari. Duh, kami sangat berterima kasih pada Diba. 

Terima kasih ya tante Diba... :)




Read More

Ketika Gading Tak Boleh Retak

Thursday, April 9, 2015

Karena saya pernah sekolah dan belajar bahasa Indonesia, tentu saya tak asing lagi dengan peribahasa yang berbunyi "tak ada gading yang tak retak" yang artinya tak ada manusia yang sempurna.

Namun akhir-akhir ini, banyak yang menginginkan kesempurnaan dari sosok bernama manusia. Siapa yang menginginkannya? Manusia juga. Tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri juga mempunyai kekurangan, seseorang terkadang berharap lebih terhadap orang lain.

Tak usah jauh-jauh. Lihat saja pendidikan kita, yang menuntut setiap orang menguasai banyak bidang "dengan baik". Kalau tidak, resikonya tidak naik kelas. Bahkan beberapa tahun lalu lebih sadis, tidak akan lulus jika nilai ujian nasionalnya dibawah standar. Alhamdulillah, tahun ini peraturan itu ditiadakan. Saya termasuk "korban" loh, hihi.. Di tahun kelulusan saya dulu, saya sempat deg-degan, khawatir tidak lulus.

Kembali ke soal di atas. Banyak sekali manusia yang menganggap dirinya lebih baik dari manusia lainnya. Yah memang sih ya, gajah di pelupuk mata selalu tak tampak sedangkan kuman di seberang lautan selalu mudah terlihat. Eh, kita belajar peribahasa lagi ini, hihi.. :D

Padahal kalau mau diingat-ingat, Pak Habibie saja punya kekurangan. Meskipun beliau sangat ahli dalam membuat pesawat, kecerdasannya pun tak payah diragukan lagi, tapi beliau ini polos dalam berpolitik. Ya you know lah, orang-orang macam apa yang doyan ngurusi politik. Kebanyakan, kebanyakan loh yaaa, kebanyakan dari politikus itu ya bermental TIKUS. Dan itulah kekurangan Pak Habibie.

Mau contoh lain lagi?

Raja Dangdut Rhoma Irama, siapa yang tak kenal? Dari kata "lari pagi" saja bisa jadi lagu yang indah lewat tangannya. Beliau itu, meskipun lihai dalam menggubah nada, tapi ada kurangnya juga. Kurangnya apa? Hehe, bagi saya sih, kurang setia. :p

Manusia itu tempatnya khilaf, salah, lupa. Yang Maha Sempurna hanyalah Allah Ta'ala. Jadi stop lah menghina-hina orang lain, apalagi sampai memojokkan orang yang kamu benci. Ayo belajar mengevaluasi diri sendiri, sudah sebermanfaat apa kita bagi orang lain?

Dan kembali lagi, tak ada gading yang tak retak. Maklumi sajalah.






Read More

Saat Mas Amay Mengeluarkan Alibi

Tuesday, March 31, 2015

Hari ini, Alhamdulillah dapat rezeki diskonan sebesar 500 rupiah di warung. :)

Ceritanya, selepas ashar saya hendak pergi ke warung untuk membeli diapers, mumpung Aga masih tidur. Saya ambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet. Ketika melihat uang sepuluh ribuan, lima ribuan, dan seribuan di meja, saya pun menyambarnya. Lumayan, buat pegangan.

Nah, ikutlah Amay bersama saya. Anak itu nggak bisa nggak lihat ibunya walau sebentar. Mau ke warung aja diikutin. Lalu, meluncurlah kami berdua dengan sepeda motor.

Begitu turun dari motor, langsung deh anak sholih itu mengambil es krim. Hhmmm... Kepada pemilik warung saya minta diapers. Kemudian ketika melihat beras, teringat beras di rumah yang tinggal beberapa butir. :D

Belum selesai, ingat lagi minyak goreng yang tinggal beberapa tetes, minyak telonnya duo krucils, dan shampoo. Eeeaaa, ini tanggal tua sih yaa.. Dan tepat sekali, semua sudah pada habis. :p

Saya masih pede, insya Allah uangnya cukup deh. Eee, tiba-tiba Mas Amay nyeletuk. "Mas Amay mau nyariin makanan buat Mama, ah.." kemudian saya tanggapi, "Tapi Mama ngga pengen makanan tuh, Mas."

Anak itu menjawab lagi, "Haai (pakai nadanya upin ipin dan boboiboy), Mas Amay cuma mau ngambilin makanan buat Mama koq. Kasihan Mama... (Maksudnya kasihan kenapa nih, Mas? Kasihan Mamanya ngga pernah makan? Haha...)"

Setelah bolak-balik-bolak, dia ternyata tidak menemukan makanan yang dia maksud. "Tapi ngga ada Ma, makanannya." Wooo, langsung dong saya komentari, "Lha itu apa? Ini makanan, itu makanan."

"Ngga ada koq, Ma..." katanya keukeuh. "Oh, ya udah, Mama juga lagi ngga pengen beli makanan koq." lanjut saya.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Ketika Mas Amay mendongak ke atas lalu melihat sesuatu yang pating nggrandul, matanya langsung berbinar. "Nah, itu ada Ma. Mama suka itu kan?" katanya sambil menunjuk makanan tertentu.

"Hmm, bilang aja kalau Mas Amay yang pengen. Kamu mah pakai atas nama Mama segala." kata saya.

"Tapi Mama suka 'kan?" ledeknya. "Iya sih," kata saya dalam hati.

Mendengar obrolan saya dengan Mas Amay, si bapak pemilik warung senyam-senyum. "Kamu lucu ya..." katanya sambil melihat pada si ganteng.

Lalu tibalah saat berhitung. Diapers, minyak telon, minyak goreng, shampoo, es krim, makanan ringan, dan beras. Tetooot, seratus tujuh belas lima ratus.

Mendadak saya teringat uang di kantong. "Waduh, cukup nggak ya uangnya?" Huuu, kepedean sih, apa-apa diambil.

Dan ternyata uang saya cuma seratus tujuh belas ribu. "Yaah, kurang lima ratus pak. Apa ini aja ngga usah deh."

Si bapak dan istrinya senyum-senyum, "Sudah mbak, wong belanjanya banyak. Biar aja." Aduh, jadi ngga enak hati sebenarnya. Tapi Alhamdulillah ya, dapet rezeki. Untung cuma kurang lima ratus yaa..hihi..
Read More

Sego Wiwit

Sunday, March 22, 2015

Jika Anda berasal dari desa yang punya banyak sawah, khususnya di sekitaran Jawa Tengah, kemungkinan besar Anda tahu apa itu Sego Wiwit. Kenapa mesti desa yang punya sawah? Karena Sego Wiwit ada hubungannya dengan kegiatan bertani.

Sego Wiwit biasanya dibuat untuk mengawali panen. Ada juga yang membuat Sego Wiwit untuk mengawali musim tandur atau tanam padi. Di daerah saya, sebuah desa kecil di Purworejo, Jawa Tengah, Sego Wiwit lebih dikenal dengan nama Wiwitan.

Wiwit sendiri mempunyai arti “memulai” atau “mengawali”. Sedangkan Sego berarti “nasi”. Makna yang lebih luas dari dibuatnya Sego Wiwit ini sebenarnya adalah pengungkapan rasa syukur bahwa panen telah tiba, atau sebagai pengharapan akan hasil panen yang lebih baik di musim tanam kali ini (jika Sego Wiwit dibuat di awal musim tandur).

Sego Wiwit biasanya memiliki beberapa menu sebagai pelengkap, yaitu; urap atau klubanan (orang Solo menyebutnya gudangan), gereh (ikan teri, bisa juga diganti peyek teri), irisan telur rebus, dan tempe goreng.

sego wiwit

Sayangnya, sudah banyak petani yang meninggalkan tradisi ini. Di tanah kelahiran saya kini, hanya beberapa orang saja yang masih membuat sego wiwit untuk dihantar ke tetangga sekeliling setiap panen atau tandur.

Untuk mengobati kerinduan akan rasa sego wiwit, Alhamdulillah kini sudah ada tempat makan asik yang pas di lidah dan ramah di kantong.

alamat lesehan sego wiwit
Kebetulan, kemarin keluarga Akanoma berkunjung kesana sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan Akanoma di National Holcim Award 2014.



Tempatnya yang asik, membuat pengunjung betah berlama-lama. Bahkan, bayi Aga pun sampai tidur nyenyak dibelai semilirnya angin yang bertiup sepoi-sepoi. :)






Read More

Saat Mas Amay Marah

Friday, March 20, 2015

Ada yang lucu kemarin pagi. Ketika tukang sayur langganan memanggil-manggil ibu-ibu sekomplek, Mas Amay dengan semangat menyuruh saya berbelanja. Dia ikut, pasti.

Sambil jongkok, dia melihat-lihat sayuran segar. Matanya tertuju pada sebungkus wortel yang berwarna oranye. Warnanya yang segar memang terlihat menggoda.
“Ma, beli wortel, Ma!” Pintanya.
“Oke,” jawab saya, “Memangnya Mas Amay pingin dimasakin apa sih?” tanya saya kemudian.
“Ya masak wortel aja. Mas Amay ‘kan bisa motongnya,” katanya. Kemudian saya terpikir untuk membuatkan sop ayam, wortel, buncis, dan makaroni untuknya.

Mas Amay memang terbiasa "membantu" saya memasak. Memotong-motong sayuran lebih tepatnya. Alhamdulillah, sejak kecil dia sudah terbiasa makan sayur. Cara saya ini (membiarkannya membantu saya memasak), ternyata bisa menambah kecintaannya pada sayur. Terbukti, Amay yang sebelumnya kurang menyukai brokoli, berubah menjadi sangat suka setelah saya mempercayakan "proses pemotongan" brokoli padanya.

Oke, dan saat memasak pun tiba. Saya mempersiapkan sayur-mayur. Sambil menemani Adik Aga dan Mas Amay yang sedang bermain lego, saya mulai meracik sayuran yang akan saya masak. Adik Aga saya dudukkan di "singgasana".

Beres, semua sayuran sudah siap dimasak. Saya memutuskan untuk memasak setelah Aga tidur nanti. Tiba-tiba Mas Amay memandang lama ke arah saya, juga sayur-sayuran itu. Lego dan mainan-mainannya ia taruh. “Mama, Mas Amay tuh pingin bantuin Mama, loh.” Dia mengatakannya sambil menangis. Oh, rupanya sedari tadi dia sudah menantikan saat memotong sayur, akan tetapi dia tidak menyadari bahwa saya sudah mulai meracik semuanya saat ia asyik bermain. Duh, saya bisa membayangkan betapa kecewanya dia.

Mas Amay, tanpa berkata apapun, langsung pergi. Ia masuk ke kamar. Hmm...saya ikut menyesal karena telah menghancurkan rencana yang sudah disusunnya sejak pagi. Saya pun membiarkannya sendiri.

Sambil menunggu amarahnya reda, saya membereskan mainannya. Biasanya saya menyuruhnya melakukan hal ini sendiri. Tapi kali ini, demi menebus rasa bersalah saya padanya, saya membantunya beberes mainan.

Tak lama kemudian, Adik Aga terlihat mengantuk. Saya bergegas meninabobokannya. Mungkin semua ibu tanpa asisten sama seperti saya. Sambil menggendong atau menyusui si kecil, pikiran terus mendata apa-apa yang akan kita lakukan selagi si kecil tidur, hehe..

Setelah menidurkan si kecil, saya menuju kamar dan bersiap untuk berbicara pada Mas Amay. Dan oouw, saya kecewa. Mas Amay ternyata sudah tidur. Duh kasihan sekali. Ia membawa rasa kecewanya hingga tertidur.

Memang ya, cara seseorang untuk mengungkapkan kemarahan berbeda-beda. Ada yang melakukannya sambil membanting segala benda di dekatnya, ada yang mengungkapkannya dengan kata-kata yang keras, ada juga yang seperti Mas Amay ini, mengutarakan kekecewaannya kemudian diam atau tidur.

Sebenarnya, ada beberapa macam gaya marah, antara lain;
1. Marah yang Diungkapkan.
Menurut pakar, cara paling sehat ketika marah adalah mengutarakan penyebab kemarahan secara tegas, tanpa ada kesan menyerang.

2. Marah yang Dipendam/Ditahan.
Orang yang marah berusaha untuk menahan amarahnya, namun tidak berusaha untuk mengungkapkan, sehingga tidak bisa dicarikan solusinya. Jika amarah sering dipendam tanpa dicarikan solusinya, lama kelamaan bisa menimbulkan depresi.

3. Marah yang Diredakan.
Cara yang ke tiga ini yaitu, marah dengan mengendalikan sikap, serta menenangkan hati dan perasaannya.

Mungkin gaya marah Mas Amay termasuk yang pertama dan ketiga. Mengungkapkan penyebab amarahnya, kemudian ia berusaha meredamnya dengan menyendiri untuk menenangkan hati dan perasaannya.

Jadi ingat sebuah hadits yang berbunyi; "Laa taghdhob walakal jannah" yang artinya, "Jangan marah, maka surga bagimu". Dan manusia yang paling kuat bukanlah ia yang selalu menang dalam perkelahian, namun yang paling kuat adalah ia yang bisa mengendalikan amarahnya.






Read More

Berjilbab Kok Gitu?

Friday, February 27, 2015

Orang yang berilmu, biasanya memang tak butuh pengakuan akan keilmuannya. Mereka seolah berjalan tanpa kata. Mereka menebarkan apa yang diketahui, tanpa terlihat menggurui. Orang-orang yang menjadikannya sebagai guru, secara sukarela meneladaninya tanpa merasa dipaksa.


Seperti Bulik Ning, yang berhasil membuat saya berkeinginan menutup aurat, tanpa perlu terlebih dulu berkhutbah. Beliau memberi saya teladan, dengan perilakunya yang mungkin hanya bisa saya lihat saat bertemu di hari lebaran.

Pun setelah saya mulai berjilbab dan masih dalam tahap jilbab gaul, Bulik tidak menegur saya dengan dalil ini itu. Saya membetulkan sendiri gaya berjilbab saya, setelah beliau menghadiahi saya baju muslim. :)

Terkadang, apa yang tampak dalam pandangan mata kita, tak sesuai dengan situasi yang orang lain hadapi. Maka dari itu, jangan terlalu buru-buru memberikan judgement. Berjilbab rapi itu tidak mudah lho, bagi saya. Teringat jelas saat pertama kali memutuskannya, banyak sekali kendalanya. Makanya, belajar dari itu, saya berusaha tidak menghakimi seseorang seenaknya.

Pemahaman itu baru saya renungi akhir-akhir ini. Kalau saya kembalikan pada diri sendiri, seandainya ketika itu Bulik Ning "mencacat" gaya berbusana saya, mungkin saja saya akan antipati pada beliau, bahkan yang terekstrim mungkin saya akan melepas jilbab. Untuk itu, saat ini ketika saya sudah belajar bagaimana memahami orang lain, jika saya bertemu dengan orang yang "minus" dalam berperilaku, saya berusaha menahan diri untuk tak berprasangka terlalu jauh. Mungkin, mereka-mereka itu belum menemukan teladan yang baik (role model) di lingkungan terdekatnya.

Tugas kita hanyalah berusaha berperilaku sebaik-baiknya, mulai detik ini. Selanjutnya terserah penilaian orang terhadap kita. Seandainya ada yang terinspirasi karena kita, itu adalah bonus saja, dan seharusnya hal itu tak lantas membuat kita jumawa. Saya teringat sebuah pesan klise, "ketika kamu merasa dirimu paling benar, maka pada saat yang sama sebenarnya kamu telah menjadi orang yang paling buruk".

Mengutip tulisan ust. Salim A. Fillah:

"Jika kau merasa besar, periksa hatimu
Mungkin ia sedang bengkak
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu
Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya'


Dan ingatlah bahwa pengajaran yang terbaik adalah melalui sebuah keteladanan.
Read More

Kopdar IIDN di Hik-nya Amay :)

Wednesday, February 18, 2015

Tanggal 15 Februari yang lalu akan menjadi hari bersejarah untuk saya. Hari itu, untuk pertama kalinya di tahun 2015, kopdar IIDN Solo dilaksanakan. Dan yang membuatnya spesial adalah karena sayalah yang menjadi tuan rumahnya.

Sudah saya niatkan sejak awal memang, kopdar IIDN pasca saya melahirkan akan bertempat di rumah saya, sekaligus menjadi momen syukuran sambil memperkenalkan bayi Aga.



Sempat bimbang, saya dan suami kembali dan kembali berdiskusi apakah kopdar akan tetap diadakan di rumah, mengingat rumah yang masih dalam status kontrak itu tidak terlalu luas. Suami memberi beberapa alternatif rumah makan yang terdekat, namun pada akhirnya pilihan kembali pada dilaksanakannya acara kopdar di rumah. Dan memang iya, ibu-ibu harus rela berbagi tempat lesehan. Haduh..koq ya sempit yaa? Ooh, saya tahu..ini pasti karena ada gerobak yang nangkring di tengah-tengah, wkwkwkwk...


Yaah, walaupun sempit, tapi alhamdulillah ibu-ibu tetap belajar dengan ceria. Uti dan Mbak Fafa berbagi ilmu "Cara Jitu Tembus Media", karena sebelumnya Opini mereka dimuat di harian JogloSemar. Acara semakin marak dengan kehadiran tamu dari Sragen, seorang bidan yang berbakat menjadi pelawak, yang juga mengidolakan Dodit SUCI. Beliau adalah Bu Puji Hastuti (jilbab biru katon ayu), yang untuk datang ke rumah saya harus melewati jalan yang panjang karena tersesat, hehehe. Duh jiann, ibu ini sepertinya sukses menularkan bakatnya pada sang idola. *eh, kebalik ya? Lha wong lucunya lebih-lebih dari Dodit SUCI je... :D


Oiya, demi menjamu tamu-tamu yang unyu-unyu itu, saya mengimpor seorang chef dari Semarang, mbakyuku sendiri. Alhamdulillah, walaupun menu yang kami suguhkan amat sederhana, tapi rasanya bisa dipertanggungjawabkan. Uenaaakkkk.... Kakak saya ini memang mewarisi kehebatan ibu saya dalam meramu masakan. Kapan-kapan dimasakin lagi yaaa.. :)

Sungguh, rasa bahagia itu tidak bisa diungkap dengan kata. Bahkan hingga detik ini, saya masih mengucap syukur yang tak terkira. Terima kasih untuk kesediannya meluangkan waktu ke Gedongan ya teman-teman, semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah, supaya bisa bertemu kembali di lain hari. Aamiin.. Love you all... :)


Read More