Heidi; Film, Buku, dan Sepotong Rindu

Friday, October 9, 2015

Heidi


Saya bukan pecandu film, yang menjadikan aktivitas menonton film sebagai rutinitas. Saya juga bukan tipe orang yang gemar "mencari" film yang bagus. Biasanya saya baru menonton film setelah teman-teman merekomendasikannya. Maka wajar saja jika saya jarang pergi ke bioskop, karena saya lebih sering menonton film di rumah. Tapi bukan berarti saya belum pernah ke bioskop yaa, hehe... Sesekali sih pernah, menyegaja kesana untuk melihat film yang sedang diputar. Dan pasca menikah kurang lebih enam tahun ini, saya baru sekali menonton film di bioskop, rame-rame dengan suami dan si sulung. Itu pun "Walking with Dinosaurs" yang kami tonton, karena Amay suka sekali dengan dinosaurus.

Saya kurang suka film action. Saya juga kurang suka film-film dari hollywood. Kalaupun ada, paling hanya beberapa. Hehe...biar lah saya dibilang udik.

Omong-omong soal film, beberapa hari lalu ketika beberes rumah, saya menemukan sebuah buku lama, Heidi judulnya.


dok. pribadi

Lima tahun lalu ketika menemukan buku ini, saya seolah mendapat harta karun. Heidi, buku karya Joanna Spyri ini, pernah saya lihat sekilas dalam bentuk film, dua puluh tahunan yang lalu. Waktu itu, sambil menatap layar kaca dua warna (hitam putih) berukuran 14 inch, saya menyaksikan sebuah penggalan film.

Yang membuat momen itu berkesan adalah karena saya melihatnya bersama almarhumah ibu tercinta. Ibu melarang saya memutar channel yang lain, karena menurut beliau film itu bagus. Dan kata ibu, beliau pernah menonton film ini sebelumnya. Saya patuh, meskipun saat itu saya kurang menikmati film itu.

Yang sangat saya ingat dalam film itu adalah ketika seorang gadis kecil menderita sakit hingga membuatnya tak mampu berjalan. Sepanjang hari, ia harus rela menghabiskan waktunya duduk di atas kursi roda. Kemudian suatu hari ia pergi ke sebuah tempat yang asri. Disana ia tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi padang rumput yang hijau. Dan ajaibnya, setelah beberapa lama tinggal disana, ia bisa kembali berjalan.

Saya pikir gadis kecil yang lumpuh itulah yang bernama Heidi, tapi ternyata bukan. Maklum lah, karena film itu berbahasa inggris, saya yang masih kecil saat itu, kurang paham dengan jalan ceritanya. Namun buku ini membantu saya mengetahui jalan cerita sesungguhnya.

*

Heidi, adalah seorang gadis yang telah yatim piatu. Bibinya kemudian membawanya pada kakeknya yang tinggal di gunung. Alasannya saat itu adalah karena ketiadaan biaya, dan ia harus bekerja ke Frankfurt. 


www(dot)planet-series(dot)tv


Selang beberapa lama, Heidi yang sudah terlanjur betah hidup berdua dengan kakeknya kembali dijemput oleh Bibi Detie. Bibi Detie mengatakan bahwa ia telah menemukan sebuah keluarga yang mau menampung Heidi. Keluarga tersebut memiliki anak seumuran Heidi, Clara, yang sedang sakit. (Clara inilah yang sebelumnya saya kira adalah Heidi) 


mirvideo(dot)tv



Clara yang merupakan anak orang kaya, menyukai Heidi yang baik hati. Suatu hari, Heidi jatuh sakit. Sakitnya ini karena dia mengalami homesick dan ingin kembali pada kakeknya di gunung. Keluarga Clara pun dengan berat hati mengirimnya pulang. 

Singkat cerita, Clara yang merindukan Heidi pun menyusul gadis kecil itu. Di sanalah, di rumah-gunung milik kakek Heidi itu, akhirnya Clara bisa sehat dan dapat berjalan kembali.

Pesan moral yang saya dapatkan dari kisah Heidi adalah; "money could only buy material things, but it could not buy happiness."

Film Heidi, meskipun hanya sepenggal yang saya lihat, tapi ceritanya benar-benar melekat. Ini adalah satu-satunya film yang bisa membuat saya terkesan hingga puluhan tahun lamanya, dan belum tergeser oleh film lain.


Mungkin banyak film lain yang lebih bagus, namun history di belakang film ini lah yang membuatnya istimewa. Seperti ketika kita menemukan pasangan, meskipun banyak yang lebih kaya dan rupawan, tapi yang istimewa lah yang membuat hati kita tertawan. :D



Read More

Negeri Neri; Novel yang Bagi Saya Layak Difilmkan

Sunday, October 4, 2015

Menurut saya, bagus atau tidaknya sebuah novel ditentukan oleh sejauh mana novel itu bisa "mengganggu pikiran" pembacanya. "Mengganggu pikiran" disini artinya, apapun kegiatan yang kita lakukan, jalan cerita novel yang sedang kita baca masih terngiang-ngiang di kepala.

"Negeri Neri", sebuah novel karya Sari Safitri Mohan, berhasil mengalihkan dunia saya hingga beberapa hari. Saya terjebak dalam belantara hutan "Negeri Neri" sampai beberapa waktu. Mungkin bisa dibilang, saya sulit untuk move on dari kisah itu.

Sebenarnya, novel ini sudah terbit sejak 2012 lalu, tapi saya baru menikmatinya setelah seorang teman memberikan novel ini pada saya. Kalau saya tau gimana bagusnya novel ini, saya tidak akan sayang mengeluarkan uang untuk membelinya. Serius.

Ada cerita di dalam cerita, begitulah kira-kira cara penulis novel ini menuangkan idenya. Seperti anakan sungai yang bercabang-cabang, akhirnya mereka bertemu dalam satu muara.

Berawal dari kisah Mala, gadis cilik berusia enam tahun, yang tersesat dalam rimbunnya hutan di belakang rumahnya. Di dalam hutan itu ia berjumpa dengan Ibu Bunga. Untuk selanjutnya, Ibu Bunga mendongengkan perjalanan hidup seorang Elin, yang ternyata merupakan anak dari kakek bertelinga kanan setengah. Ibu Bunga menyampaikan cerita itu episode per episode, setiap kali Mala mengunjungi tempatnya.

Selanjutnya, Mala menceritakan dongeng yang didengarnya dari Ibu Bunga kepada Flora kakaknya, yang mempunyai hobi menulis.
"Kak, memang gimana rasanya laki-laki dan perempuan yang berpelukan dan hujan-hujanan?"
Flora seperti tersengat listrik seribu watt mendengar pertanyaan Mala. Namun Flora memutuskan untuk mendengarkan cerita Mala meskipun rasa penasaran akan kebenaran cerita yang disampaikan Mala demikian besar.

Cerita-cerita Ibu Bunga, yang disampaikan pada Mala dan ditulis ulang oleh Flora, diterbitkan di majalah sekolah. Sambutan yang baik dari para pembacanya, membuat Flora didaulat untuk masuk ke dalam tim redaksi.

Masalah kemudian timbul. Klimaks dari novel ini adalah ketika Flora hilang. Ia diculik untuk mempertanggungjawabkan tulisannya, karena ada pihak yang merasa bahwa "Negeri Neri" sebenarnya bukan merupakan karya fiksi, namun ada unsur pencemaran nama baik. Semua merasa kehilangan, hingga suatu hari salah satu dari penculiknya menyerahkan diri.

Sampai di halaman 254, jantung saya berdebar lebih cepat. Saya memang begitu, menikmati setiap kata yang saya baca, sehingga seolah-olah saya benar-benar berada di dalamnya. Dikisahkan, pelaku penculikan mengakui bahwa ia menculik dan menghilangkan nyawa Flora.
"Saya taruh dia di dekat sungai yang banyak buayanya. Saya tunggu dari jauh sampai saya lihat seekor buaya memakannya." akunya, saat ditanya bagaimana caranya membunuh Flora.

Duh, disitu saya sempat kecewa. Koq, tokoh Flora dibuat meninggal sih? Tapi ternyata kisah novel ini belum berakhir. Masih banyak keterkejutan-keterkejutan yang dibuat oleh penulis, hingga saya meyakini bahwa penulis merupakan orang yang jenius karena berhasil membuat cerita berputar-putar, sambung-menyambung, namun sama sekali tidak terkesan dipaksakan.

Ada beberapa tokoh penting dalam novel ini;
1. Mala. Gadis cilik penyambung lidah Ibu Bunga. Tanpanya, Ibu Bunga tak akan bisa menguak tabir ketidakadilan yang menimpa dirinya.
2. Ibu Bunga. Darinya, awal cerita yang rumit ini bermula.
3. Flora. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan dongeng dengan kenyataan, melalui tulisan.
4. Elin. Dirinya lah, muara semua kisah.
5. Aria. Laki-laki ingkar. Darinya kita bisa mengambil pelajaran, bahwa laki-laki akan mengeluarkan seluruh daya upaya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun setelah impian didapatkan, dirinya tak lagi penasaran, ia akan lupa dengan apa yang pernah dijanjikan.
6. Momon. Nah, ternyata sosok ini punya kejutan. Ternyata ia adalah Laks, saksi hidup perjalanan kisah Elin dan Aria.
7. Rio. Pemimpin redaksi majalah Suluh, yang menerbitkan "Negeri Neri".
8. Anggi. Lewat kelihaiannya dalam men-sketsa, ia bisa menggambarkan sosok Ibu Bunga, melalui arahan Mala. Sketsa yang dibuatnya berhasil mengobati kehampaan yang selama ini dirasakan kakek bertelinga kanan setengah.

Novel Negeri Neri

Dan kisah "Negeri Neri" ini pun diakhiri dengan epilog yang indah; 

Cinta kita memang pernah indah meski engkau akhirnya membungkamku. Teriakan kecilku telah terdengar, meski lonceng asmaradana usai. Aku telah kauhanguskan. Dan api khianatmu membuatku bagai kertas putih panjang yang telah habis jadi abu. Tapi senyumku pada sepi ini, kini melegakanku.
Jangan kaulupakan aku.
Jangan pernah kauhilangkan jejakku.





Read More

Jangan Jadi Online Shop Nyebelin

Saturday, October 3, 2015

Kalau Asma Nadia punya karya yang judulnya: "jangan jadi muslimah nyebelin", maka yang saya tulis ini mungkin merupakan pengembangannya.

foto dari sini
Lagi heboh ya di dunia maya, tentang online shop dan calon pembeli yang salah paham. Jujur, saya pun baru tahu kalau ada satuan "ea" yang artinya "each". Jadi memang sebagai online shop sebaiknya tidak buru-buru emosi, khawatir nantinya malah malu sendiri. Selain itu, nanti malah jadi merugi, pembeli terlanjur kabur dan nggak mau balik lagi.

Hmm..nggak mau kan itu terjadi?

Tapi selain yang di atas tadi, saya juga mau sedikit kasih saran untuk para pelaku online shop. Biar apa? Biar nggak jadi online shop yang nyebelin. Mmm...saya juga jualan lho, jual mukena dan cilok. Tapi karena supplier mukenanya lagi sibuk, jadi sementara saya fokus di cilok saja. *eh...ini bukan promosi, hihi...

Nah, saya juga pengen, sebagai online shop, saya nggak dianggap nyebelin (saya masih berusaha, jika masih dianggap nyebelin juga, dimaafkan yaa... :D). Dan profesi sebagai pemilik usaha online (dalam hal ini lebih tepat ditujukan untuk tenaga pemasarannya sih), tidak dipandang sebelah mata.

Optimasi social media memang sah-sah saja. Tapi ada hal-hal yang mesti diperhatikan karena promosi di media sosial juga ada etikanya.

1. BBM
Jaman sekarang jualan bisa dimana saja. BBM pun dijadikan sebagai salah satu sarananya. Tapiii...pliiisss, jangan hobi BC (broadcast) barang daganganmu yaa... Orang-orang yang ada di kontak kita bisa tahu koq kalau kita jualan. Mereka kan bisa baca status-status kita.

Nah, ini nih, salah satu yang memotivasi saya menulis artikel ini.

Ceritanya, suatu hari saya diundang untuk masuk ke sebuah grup BBM oleh seorang teman. Karena saya kenal baik dia, saya pun menyetujui. Ternyata di grup itu ada beberapa online shop juga (terlihat dari namanya) dan salah satunya mengajak saya berteman. Oke, saya terima.
Belum ada semenit kami berteman, dia sudah BC saya dengan dagangannya. Belum sempat saya baca isi BC-nya, dia sudah mengundang saya masuk ke grupnya. Belum sempat saya masuk, dia kembali mengirim BC tentang grupnya itu. Ohhh..itu sungguh menyebalkan. Serius!!!
Akhirnya, saya delcon saja dia, hehehe... BC sesekali sih boleh yaa, tapi jangan keseringan lah. Promo lewat status saja saya pikir sudah cukup koq. Dan pembeli yang serius pasti akan langsung menghubungi kita.

2. Facebook
Sejak awal kehadirannya, facebook sudah dijadikan media untuk berjualan. Jaman dulu nih, sering banget para online shop itu menandai/nge-tag/tagging barang dagangannya. Kalau sekarang masih ada yang pakai cara itu, berarti dia so so so yesterday, hihi... *pinjem istilah blogger kekinian. *laludijitak
Ya kan sekarang mah ada page. Pakai aja fasilitas itu. Tapiii, untuk dapat like yang banyak memang salah satunya mesti bayar untuk iklan di facebook. Kalau yang ini saya kurang paham deh yaa cara-caranya.
Intinya, saya mau bahas tentang etika men-tag orang ini. Sama aja sih, kurang sopan kalo menurut saya mah. IMHO, ini sama kayak pedagang oleh-oleh di bus-bus antar kota, yang suka main taruh dagangannya ke pangkuan kita.
*iya gak sih? kalau menurut teman-teman gimana?

Jadiii..sudahi saja hobi nge-tag foto dagangannya yaa... Kan semua teman facebook kita juga pasti tau lah kalau kita jualan. Sering-sering bikin status aja, yang menarik gitu, yang bikin orang penasaran sama produk kita, dan akhirnya pengen beli dagangan kita.
*soal ini saya juga masih belajar, belum jago.

3. Instagram
Belakangan, instagram juga dipakai untuk memasarkan produk. Yang keren sih yang bisa bayar endorser. Biasanya yang dicari adalah para selebgram, seleb instagram, yang banyak followernya.
Nah, yang nggak punya modal dan nggak punya etika, biasanya suka nyepam nih. Saya belum punya modal, tapi saya insya Allah tau etika, jadi saya nggak nyepam. :p
Spammer ini sering menyasar instagram para artis. Jadi, mau fotonya apa captionnya apa, komentarnya; "cek IG-ku yuk sis, banyak tutorial hijab bla bla bla" atau "Mau putih dan langsing, *** solusi jitunya. Cek IG-ku aja yaa" atau "SUPPLIER sweater, cardi, jaket termurah dan fast respon se-ig!!" Dan masih banyaaakkk yang lainnya.

Raisa si penyanyi yang cantik jelita itu aja sampai nulis di bio-nya loh, "Tidak sulit bikin saya bahagia, cukup dgn tdk nge spam di IG saya. Thanks!" Gitu katanya.
Kalau dihukumi, mungkin hukum nyepam ini makruh kali yaa..kalau ditinggalkan dapat pahala (kan bikin orang bahagia), kalau dilakukan ya nggak dosa. Eh, tapi dosa nggak sih bikin orang sebel? :D

Di 3 social media di atas saja sudah banyak yang jadi olshop nyebelin kan? Ini belum twitter, youtube, blog, dan yang lainnya.

Tambahan nih. Selain mesti pakai etika, jadi pedagang juga harus latihan sabar. Kalau ada kekurangan dari pembeli ya dimaklumi, jangan terbawa emosi. Kan pembeli adalah raja. Ya kan? Ya kan? Kalau kesalahannya masih dalam tahap wajar, maafin aja. Kalau mau ditanggapi ya ditanggapi dengan baik, kalau enggak mood, mending nggak usah sekalian. Mungkin salah satu tipsnya; posisikan diri kita sebagai pembeli juga. Gitu kali ya?

Sooo...yuk ah berbenah. Supaya rezekinya makin melimpah dan barokah. :)

ps: catatan ini dibuat untuk mengingatkan diri saya juga.
Read More

"Marriage with Heart", untuk Rumah Tangga yang Sehat

Wednesday, September 30, 2015

“Mereka datang dalam keadaan baik dan bersih
Nanti, jika saatnya tiba,
Bisakah aku mengembalikannya sebersih semula?
Sanggupkah dagu kita tegak di hadapan-Nya
Sambil berkata, “Wahai Tuhanku, telah kutunaikan tugasku
Telah kujalankan amanah-Mu.”

Puisi di atas adalah sepenggal pendahuluan yang bisa kita temukan dalam buku “Parenting With Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Syahdu bukan? Tidak berlebihan ‘kan jika setelah membacanya hati saya dipenuhi dengan perasaan bersalah dan penyesalan yang amat dalam?

Iya, buku “Parenting With Heart” itu bisa membuat mata saya terpaku membaca kalimat demi kalimat, hingga terkadang keduanya mengembun bahkan menganak sungai. Buku ini menyentil nurani saya, hingga saya tersadar bahwa saya masih sangat jauh dari predikat “ibu yang baik”.

Dan kini, sebuah buku baru terlahir dari penulis yang sama, Ibu Elia Daryati dan Mbak Anna Farida. “Marriage With Heart”, begitulah judulnya.

Sama seperti buku sebelumnya, buku ini disampaikan dengan bahasa yang ringan dan lugas sehingga mudah dicerna. Isinya tidak seperti buku-buku pernikahan kebanyakan, yang biasanya mengulas secara kaku tentang hak dan kewajiban suami istri dalam pandangan agama, lengkap dengan hukum fiqih dan dalil-dalilnya. Buku ini bisa kita nikmati kata demi kata tanpa harus membuat kening berlipat lima. Walaupun penulisnya adalah muslimah, Marriage With heart tidak hanya diperuntukkan untuk orang Islam saja. Bahasanya universal, dan bisa diaplikasikan oleh pemeluk agama apapun.

Yang menarik, membaca buku ini, saya seperti membaca jawaban-jawaban dari curhatan kebanyakan orang. Bahwa masalah dalam rumah tangga itu tidak hanya seputar urusan ranjang saja, tapi ternyata ada banyak hal lain yang mungkin luput dari pengamatan kita.

Hubungan antara mertua dan menantu yang tak harmonis, mungkin jadi salah satu yang sering kita lihat memicu retaknya sebuah ikatan perkawinan. Ups, jadi ingat sebuah iklan di televisi yang seolah menggambarkan begitu seramnya sosok ibu mertua, padahal nggak semua mertua begitu lho, contohnya mertua saya.

Selain itu, adanya PIL atau WIL, juga kerap menjadi bara dalam rumah tangga. Lalu bagaimana sebaiknya suami atau istri sebaiknya bersikap jika ada penelusup dalam rumah tangganya? Amit-amit deh, ya, semoga kita nggak mengalaminya. Namun jika sudah terlanjur ada, buku ini memuat beberapa saran penyelesaiannya.

Masalah lain yang dibahas, banyak!

Anda punya anak tiri? Sedang menjalani LDR? Atau merasa tak berguna karena “hanya” menjadi ibu rumah tangga? Atau, pasangan Anda kecanduan media sosial bahkan CLBK dengan mantannya? Atau merasa punya kesenjangan ekonomi dengan pasangan, merasa seperti ATM yang bisa selalu keluar uang? Eh, jangan salah, walaupun kelihatannya sepele, tapi jika berlarut-larut, bisa bikin hubungan dengan pasangan makin kusut.

Makanya, ada tips dan trik supaya keharmonisan rumah tangga menjadi awet adanya. Penasaran? Beli saja bukunya. Saran saya, jangan dibaca sendirian. Ajak pasangan Anda membacanya juga, supaya bisa belajar bersama-sama, dan pernikahan bisa dijalani dengan kompak sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

Seperti tanaman, romantisme terhadap pasangan juga perlu dirawat agar tumbuh sesuai harapan. Komunikasi, baik secara verbal maupun sentuhan, penting dipelajari. Malu? Bingung memulainya bagaimana? Ibu Elia dan Mbak Anna membagi semua tipsnya. Bahkan, di halaman 156, mereka memberi bocoran sebuah link yang bisa Anda buka untuk melihat bagaimana lelaki Jepang menyatakan cinta pada istrinya. Ini bisa menjadi ide juga, bukan?

~~~

Pernikahan memang merupakan sebuah perjanjian yang berat, yang menyertakan Tuhan semesta alam. Allah mengirimkan kepada kita seseorang yang tak sepenuhnya kita kenal. Pasangan kita itulah yang menjadi teman hidup dan teman beribadah kita, tim yang kuat untuk pulang menuju Tuhan. Lalu apa yang akan Anda katakan ketika Anda dan pasangan sama-sama berada di hadapan-Nya kelak?


Semoga nanti di hari akhir, pasangan kita akan berkata, “Ya Allah, aku bersyukur Engkau telah memberikan dia kepadaku. Sesungguhnya aku ridha kepadanya.”


Read More

Rahasia Pelangi: Buktikan Jika Kau Cinta

Thursday, September 10, 2015

taken from my instagram @rien_arin

Novel ini lahir dari tangan dua orang yang peduli terhadap lingkungan. Di dalamnya, kita dapat menemukan penyebab terjadinya konflik antara gajah dan manusia, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Ah iya, salah satu yang mendorong lahirnya novel ini memang karena kekhawatiran akan ancaman kepunahan gajah.

Benar kata orang, novel ini sangat informatif, karena secara detail Mbak Riawani dan Mbak Shabrina bercerita secara gamblang bagaimana kondisi Tesso Nilo dan Way Kambas. Mm, lebih tepatnya, bagaimana kondisi hewan-hewan yang dilindungi saat ini, gajah khususnya, juga kondisi hutan yang semakin berkurang. 

Diawali dengan kisah yang menghentak, ketika seorang Anjani kecil diajak ayahnya menyaksikan sebuah pertunjukan sirkus. Diceritakan, seekor ibu gajah; "Belalainya terulur, meraih belalai anaknya, melilit dengan cepat, lalu membanting tubuh gajah kecil itu ke tanah." Disitu bulu kuduk saya merinding. Apa yang terjadi kemudian dengan gajah kecil itu? Hhh... Dan masih ada hentakan lainnya, seperti saat Anjani dewasa yang telah menjadi seorang mahout, menolong kelahiran seekor bayi gajah yang akhirnya dinamai Akasia, bersama seorang mahout lainnya tanpa bantuan dokter hewan. Saya seperti merasakan jantung saya terpacu lebih cepat. 

Membaca novel ini, saya seakan diajak menaiki Beno, si gajah, sambil mengelilingi rimbunnya hutan. Saya bahkan seolah ikut merasa tubuh saya bergerak naik turun sambil menciumi bau hutan yang segar, aroma wangi durian hutan bercampur dengan aroma lumut dan dedaunan busuk. Hmmmhh... Namun, jangan mengharap cerita cinta di dalamnya naik turun bagaikan roller coaster, yang naik dan turun dengan drastis. Rasa cemburu Anjani akan kedekatan Rachel dengan Chay masih wajar, meskipun marahnya itu kemudian dianggap sebagai kelalaiannya hingga menyebabkan Rachel celaka. Keputusasaan yang dialami Rachel juga masih manusiawi, apalagi jika karakter Rachel memang digambarkan sebagai gadis tomboy yang tidak takut dengan apapun.

Secara keseluruhan, saya menilai, Mbak Shabrina dan Mbak Riawani adalah penulis yang cerdas. Salah satunya karena terpikir untuk menghadirkan tokoh Chay yang berasal dari Negeri Gajah Putih, Thailand. Seperti yang tertulis di halaman 123; "Negeri kelahirannya memuja gajah sebagai hewan suci." Tentu hal ini sangat cocok dengan bahasan utama dalam novel ini yaitu tentang gajah. Bagaimana keduanya mengolah data menjadi sedemikian mengalir pun patut diacungi jempol. Namun mungkin akan lebih komplit lagi jika dikisahkan bagaimana jatuh bangunnya Anjani menyembuhkan traumanya akan gajah, hingga memutuskan untuk bekerja menjadi mahout. Kalimat "Kau terlihat gugup. Yakin mau menjadi mahout?" yang dilontarkan Chay pada Anjani di halaman 41, bagi saya masih terlalu cepat membuat Anjani berubah jika mengingat rasa trauma pada gajah yang dialami Anjani sewaktu kecil termasuk berat.

Tapi tunggu, entah mengapa tiba-tiba mata saya melirik angka di pojok halaman. Hei, sudah halaman 286, tapi mengapa akhir cerita cinta antara Chay-Anjani dan Ebi-Rachel belum juga dibahas sih? Saya belum mendapatkan sedikitpun petunjuk untuk bisa mengambil kesimpulan apakah kedua pasangan itu akan bersatu? Apalagi, di halaman 289, Rachel justru mengatakan bahwa orang tuanya akan membawanya kembali ke Jakarta. Artinya, kemungkinan Ebi bersatu dengan Rachel menjadi semakin kecil.

Dan di halaman 302, saya mulai senyum-senyum sendiri. Untunglah kedua anak saya sudah terlelap dipeluk mimpi, hihi, jadi nggak ketahuan emaknya lagi ngapain. Hehe, habisnya saya seperti teringat ketika suami saya menyatakan cintanya dahulu. *ups

Yup, novel ini memang bukan novel romantis yang bisa mengaduk-aduk perasaanmu atau membuatmu menangis hingga menghabiskan satu pak tissue, tapi percayalah, jika kamu mencintai alam ini, hatimu akan tersentuh untuk memulai berbuat sesuatu. Dan Cinta bukan seberapa banyak kau mengatakan, melainkan sejauh mana kau membuktikan. Semoga novel ini bisa sekaligus menjadi ajang kampanye untuk lebih mencintai alam dan seisinya. :)

Read More

Rezeki Suami Tergantung Do'a Istri?

Sunday, August 30, 2015



Setelah menikah dan mengikuti suami, praktis saya "hanya" menjadi seorang ibu rumah tangga karena saya memutuskan untuk melepas pekerjaan. Saat itu alasannya karena kami tinggal di kota yang berbeda, suami di Jogja dan saya di kota hujan, Bogor. Tujuh bulan berjauhan, cukup membuat saya lelah secara lahir dan batin. Setiap dua minggu sekali saya menggunakan jasa travel untuk mengunjungi suami di Kota Gudeg itu. Kenapa malah saya yang mondar-mandir alias wira-wiri? Jawabannya, sekalian mencicil memindah barang-barang saya yang ada di Bogor.

Hampir enam tahun kami menikah, dan Alhamdulillah kami sudah memiliki dua balita yang ganteng dan semoga menjadi anak sholih. Untuk kembali bekerja seperti dahulu, rasanya banyak yang harus dipikirkan. Utamanya tentang bagaimana anak-anak saya nanti jika saya tinggalkan? Iya, mungkin beberapa orang lain cukup beruntung karena berdekatan dengan orang tua, sehingga anak-anak bisa dititipkan dengan neneknya. Tapi kami di Solo (suami berhijrah ke Solo) benar-benar sendiri, tak ada sanak saudara.

"Kan ada daycare?", beberapa yang lain coba mengusulkan. Setelah ini pertimbangannya menjadi lain. Jika dihitung gaji yang akan saya terima nanti dikurangi biaya untuk daycare, hasil yang mungkin bisa saya tabung tidaklah banyak, artinya, tidak jauh berbeda antara jika saya bekerja atau jika saya di rumah saja. Lantas? Ya sudah, saya "terima nasib" saja. Toh, suami saya sangat bertanggung jawab pada keluarga. Dengan atau tidaknya saya bekerja, suami bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Menjadi ibu rumah tangga "saja", bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa. Saya memang tidak bisa membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga seperti lainnya, tapi setidaknya ada satu hal yang bisa saya lakukan. Berdo'a. Iya, saya selalu berdo'a untuk kemudahan suami mencari nafkah, untuk kesehatannya agar semua pekerjaannya lancar, untuk rezekinya agar berlimpah dan barokah. Saya melakukannya tidak hanya setiap selesai shalat, namun setiap kali saya ingat. Sambil mencuci, sambil menyapu, sambil menyusui si bungsu, jika saya ingat maka meluncurlah do'a-do'a itu.

Dan Alhamdulillah, kekuatan do'a itu memang benar adanya. Suami saya yang seorang Arsitek, beberapa kali memenangkan sayembara bersama tim kantornya. 

Februari lalu, suami saya yang masuk dalam tim Akanoma, menjadi juara 1 Holcim Award National Competition 2015. Berkat sayembara itu, suami saya yang sebelumnya belum pernah pergi ke luar negeri, diajak jalan-jalan ke Swiss gratis selama enam hari. :D

National Holcim Award 2015
Tidak hanya bersama tim kantornya, Akanoma, suami saya juga pernah memenangkan sayembara bersama dua orang sahabatnya. Mereka menamakan diri sebagai Tim Sandal Kulit. Tim ini berisi tiga orang sederhana dengan pemikiran yang luar biasa. 

Suami saya (kanan) bersama dua orang sahabatnya mejeng di Radar Solo

Terakhir, 21 Agustus 2015 lalu, suami saya dan tim Akanoma kembali meraih juara 2 dalam Sayembara Desa Wisata Arsitektur Nusantara 3.

Suami saya, Yopie Herdiansyah, di Malam Arsitektur Nusantara 3

Jadi, jangan pernah merasa tidak berguna walaupun orang-orang hanya menganggapmu sebagai seorang ibu rumah tangga, karena mungkin, do'a yang keluar dari bibirmu yang akan mengantarkan suamimu menuju kesuksesan itu. 

Blessful August Giveaways by indahnuria.com

Read More

Alergi Udang

Friday, August 28, 2015


Ada rasa sedih tiap kali melihat olahan makanan laut terhidang di depan mata. Bukan apa-apa, sepenuh hati ingin ikut menikmati, tapi apa daya tubuh saya selalu protes jika termasuki. Mulut rasanya ingin ikut menyantap mereka, tapi tubuh enggan menerima.
 
 
Saya punya pengalaman buruk dengan olahan udang...
 
Suatu hari, saya diajak saudara saya ke bioskop untuk menonton film yang sedang ramai dibicarakan. Selepas dhuhur kami berangkat menuju sebuah mall, berharap bisa menonton film tersebut di jam satu siang. Namun, apa mau dikata, setelah berhasil menembus antrean yang amat panjang untuk membeli tiket, kami malah kebagian jadwal pemutaran di enam jam berikutnya, alias jam tujuh malam.

Karena malas pulang ke rumah, kami memutuskan untuk "membunuh waktu" dengan berjalan-jalan keliling mall. Tiba di depan sebuah restoran Jepang, saudara saya mengajak saya untuk masuk. Lapar katanya. Saya tau saya alergi udang, maka dari itu saya hanya memesan beberapa menu berbahan ayam. Tapi, melihat menu yang dipesan saudara saya, saya tergoda untuk mencicipinya juga. 

"Tukeran yak..." kata saya sambil mengulurkan tangan untuk mengambil makanan yang menggoda iman saya.

"Mmm, ini rasanya nggak kayak beef, tapi juga nggak mirip ayam. Apa sih ini?" tanya saya. Walaupun rasanya asing, tapi saya tetep lahap. Lha wong enak sih, yaa... Hihi...

"Itu kan shrimp roll, Rin... Udang." jawabnya santai.

Dan entah karena sugesti atau apa, tiba-tiba mulut saya seolah menebal, pipi mulai kesemutan, tenggorokan langsung terasa gatal, nafas saya pun mulai sesak.

"Eh, kamu alergi udang?" tanya saudara saya. Ia makin panik setelah mendengar nafas saya mulai berbunyi ngik ngik ngik...

"Aduh, kenapa nggak bilang?" Hmmm... Udah sakit, dimarahin pula. Ya memang salah saya juga sih, harusnya tanya dulu itu makanan apa, baru dimakan.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke toko buku supaya pikiran saya tidak fokus dengan sensasi alergi yang tubuh saya rasakan. Namun, semua usaha sia-sia. Rasa gatal dan sesak nafas itu tetap terasa.

"Aduh, aku nggak tahan lagi. Huhuhu, aku nggak mau mati di sini." Saya mulai menangis dengan nafas yang kembang kempis. Tak cuma itu, mata saya pun semakin menyipit karena tertutup pipi yang memerah dan membengkak.

Saudara saya semakin ketakutan, dan akhirnya ia pun mengajak saya pulang. Sampai di rumah, saya diberi sebutir obat, dan secara ajaib lima menit kemudian alergi saya benar-benar hilang. Saya pun memaksa saudara saya untuk segera kembali ke bioskop, karena film akan segera diputar. Hahaha...


Alergi Udang


Pengalaman buruk dengan udang itu membuat saya was-was. Saya jadi menghindari udang dan sebangsanya setiap kali makan di luar. 
 
Namun, ketika hamil anak pertama, saya yang sedang ngidam benar-benar ingin sekali mengunyah sate udang yang warnanya sangat menggoda. Suami saya, karena tau riwayat alergi yang pernah saya alami, berkali-kali menolak membelikan karena khawatir saya dan janin akan kenapa-kenapa. Hingga kemudian, karena tidak tahan dengan rengekan saya, suami pun menyerah. Beliau membelikan setusuk sate udang untuk saya. Iya, setusuk doang. Namun, melihatnya, mata saya langsung merekah.


"Makan satu aja dulu, nanti kalau terasa gatal, jangan dilanjutin lagi. Kalau sesak nafas, kita langsung ke dokter." Katanya, sambil menyiapkan segelas susu dan air kelapa.

Saya mengangguk, sambil mengunyah sate udang yang saya idamkan. Tak lupa saya berdo'a dengan khusyuk supaya Allah melindungi saya dari buruknya makanan yang saya makan.

Alhamdulillah, saat itu saya tidak merasakan keluhan apapun. Masya Allah... Apakah ini karena do'a yang saya panjatkan, atau karena si janin di dalam kandungan? Wallahu a'lam, karena kenyataannya, setelah bayi saya lahir, saya kembali merasakan gatal-gatal jika memakan sesuatu yang berbau seafood.

Rasanya iri deh melihat orang lain dengan tenangnya mencocolkan udang crispy ke saus sambal, atau menyiramkan cumi-cumi asam manis ke atas nasi hangat, atau menyantap hidangan kepiting saus padang yang menggoda selera. Kapan saya bisa menikmatinya? Apa harus hamil dulu, ya?




Read More

Ibu Kost Terbaik Sedunia

Wednesday, August 26, 2015

Hampir semua orang pernah mengalami rasanya menjadi anak kost. Entah saat sekolah, kuliah, ataupun setelah bekerja. Saya pun begitu.
Saat kuliah dulu, saya sempat menjalani kehidupan sebagai anak kost, meskipun  saya baru memulainya di semester tiga. Saya sempat berganti ibu kost. Yang pertama hanya sebulan, kemudian seorang teman mengajak untuk kost di tempatnya. Disinilah, di tempat ke dua ini, saya bertemu dengan ibu kost terbaik sedunia.
Tidak berlebihan sepertinya jika saya menyebut beliau demikian. Ibu kost saya ini, meskipun bersuara lantang karena berdarah Batak, namun hatinya luar biasa baik. Dengan biaya kost yang hanya tiga ratus ribu rupiah per bulan, di Jakarta, kami mendapat fasilitas berupa tempat tidur, lemari pakaian, kipas angin, dan kamar mandi di dalam kamar masing-masing. Ibu kost pun masih menambahnya dengan jus buah segar. Tidak setiap hari memang, tapi sering. Rasanya, tiga ratus ribu rupiah itu tidak sebanding dengan apa yang kami dapatkan.
Setiap kali mendengar pintu terbuka atau suara kaki menaiki tangga, ibu selalu memanggil, "Ariiin (atau nama anak kost yang lain), ini jusnya diminum dulu!" Wah, nikmat bukan? Selain itu, ibu juga sering menawari kami makan malam, namun sering kami tolak karena tak enak. Bukan tak enak rasa makanannya, tapi perasaan kami lah yang tak enak. Ibu kost ‘kan menggunakan jasa katering dan jarang sekali masak sendiri, mana tega kami ikut menghabiskan makanannya?
Ada momen mengharukan yang belum terlupa hingga kini, yaitu saat ulang tahun saya yang ke dua puluh satu. Entah dari siapa ibu mengetahui tanggal lahir saya, di hari itu ibu memberikan kejutan luar biasa. Saat itu, sepulang kuliah saya dipanggilnya. Saya tidak diijinkan masuk ke kamar. Di bawah (kamar saya di atas), telah menunggu semua anak-anak kost. Saat itulah kejutan dimulai. Ibu kost mengeluarkan tumpukan donat merek terkenal yang disusun menyerupai kerucut, lengkap dengan lilinnya. Saya terharu hingga meneteskan air mata. Tak cukup dengan itu, ibu dan dua putranya memberi saya bingkisan. Selanjutnya, kami semua diajak untuk menyantap nasi goreng yang sudah beliau siapkan. Ibu kost yang baru saya kenal beberapa bulan memberikan perhatian yang luar biasa besar.
Di waktu lain, saya dikejutkan dengan tumpukan cucian yang sudah rapi. Sebenarnya ibu sering sekali menyuruh kami menggunakan mesin cuci otomatis di bawah, namun lagi-lagi kami tak enak hati. Kami pun mencuci pakaian kami sendiri, dengan tangan. Dan hari itu, selain cucian saya yang sudah terlipat rapi, celana panjang saya yang sobek juga dijahitkan oleh beliau. Duh, malunya saya mendapatkan perlakuan luar biasa ini. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih atas apa yang ibu lakukan untuk saya, dan berkali-kali pula ibu menjawab, “Tenanglah, Rin. Ibu sudah biasa.”
Kini, setelah menikah dan memiliki anak, saya baru mengunjunginya satu kali. Ini karena sekarang saya berada jauh di kota Solo. Seandainya jarak kami dekat, tentu saya akan sering berkunjung kesana. Ibu kost saya, ibu kost terbaik di dunia. Semoga Allah membalas semua kebaikannya, dan semoga kami dipertemukan kembali oleh-Nya.


Read More