Recto Verso, Melihat dan Mendengar Karya yang Sama

Wednesday, November 18, 2015


Buku adalah jendela dunia. Semua orang tahu itu. Meskipun kita hanya duduk berdiam, tapi jiwa dan imajinasi bisa pergi ke lain alam. Banyak sekali buku yang sudah menginspirasi saya, akan tetapi ada satu buah buku, yang karenanya saya kembali ingin belajar menulis.

Kalau artis saja bisa nulis, masa' saya enggak?

Benar, cita-cita saya semasa remaja dulu adalah menjadi seorang penulis. Namun, karena tak ada satu pun prestasi yang saya hasilkan dari kegiatan itu, saya menyerah, putus asa, lalu berhenti begitu saja.

Tiba-tiba di tahun 2010 saya menemukan pencerahan, sebuah cahaya yang telah hilang. Saat itu, karena saya sudah resmi serumah dengan suami setelah tujuh bulan menjalani LDR, saya memulainya dengan bersih-bersih rak buku milik suami. Ketika itu, sebuah buku berwarna hijau - berjudul aneh - dari pengarang yang saya sudah ketahui namanya sebagai seorang penyanyi, menyita perhatian saya.

Buku-buku yang berserakan tak karuan tak saya hiraukan.

Saya membaca semua endorsement tentang buku itu. Semua positif. Semua menyambut kelahiran buku itu dengan takjub. Apalagi sang penulis berhasil membawakan karyanya dalam dua versi, yaitu dalam bentuk tulisan dan lagu.

Sampai disini, pasti sudah bisa menebak 'kan, apa judul buku itu?

Iya, Recto Verso jawabannya.

Recto Verso
Recto Verso by Dee Lestari

Judulnya aneh 'kan? Bahkan penulisnya pun mengatakan demikian. Kata ini memang jarang terdengar. Dan Dee, berhasil "merampas" kata itu menjadi miliknya. Hehe, semoga kalimat saya tadi nggak lebay ya...

Coba deh, tanyakan pada orang-orang di sekitarmu, "Apa kamu tahu recto verso?"

Saya menebak, jawaban yang terbanyak adalah, "Itu kan karyanya Dee Lestari." Dee sendiri mengatakan bahwa recto verso memiliki arti sebuah gambar yang seolah-olah terpisah, padahal menjadi satu kesatuan yang menyeluruh. Dee menjadikan kata itu sebagai judul karyanya karena karyanya ini mempunyai dua versi, yaitu audio (lagu), dan visual (buku). Meskipun bentuknya berbeda, namun sejatinya baik lagu maupun buku itu adalah satu. Ia bisa dinikmati bersama-sama.

Mengutip armeyn.com, dalam dunia percetakan, recto dan verso dikenal sebagai halaman depan dan belakang. Recto adalah halaman di sebelah kanan, dan verso adalah halaman di belakangnya.

diambil dari armeyn.com

Dan mengapa recto verso ini begitu istimewa?

Selain karena lewat karyanya ini, Dee berhasil membangunkan passion saya yang mati suri, recto verso menjadi penghibur tersendiri. Jika saya sedang tidak tahu ingin melakukan apa, maka recto verso lah yang jadi pelampiasannya. 11 rangkaian nada dalam albumnya, telah puluhan kali saya dengarkan. 11 kisah yang Dee bawakan dalam bentuk tulisan, telah puluhan kali saya baca ulang. Dengan membaca satu atau dua cerpen saja, semangat saya bisa kembali ada. Itulah mengapa buku ini selalu ada di samping tempat tidur saya. :)

Gaya cerita Dee dalam buku ini begitu mempesona. Dia seperti berkata lewat huruf dan tanda baca. Dan ada beberapa cerpen favorit saya disana.

Dalam "Firasat", saya menyimpulkan bahwa terkadang terlalu peka itu menyiksa.
"Aku Ada" berkisah, meskipun raga telah terpisah dari jiwa, namun cinta bisa mendengar, melihat, tanpa perlu alat. Bahwa dia yang telah pergi, mungkin saja ada di sampingmu kini.
Dalam "Hanya Isyarat", saya ikut merasakan sesak karena perasaan yang tak sempat terungkap. 
Dalam "Peluk", saya seperti menangkap kisah yang menjadi pemisah antara penulis dengan suami pertamanya.
Dee pun tak perlu menulis kata "sedih" untuk melukiskan sebuah kesedihan. Kata-kata yang dipilihnya dalam "Tidur", cukup membuat saya menangkap bahwa hati tokohnya porak poranda.

Ahh, Andrea Hirata benar, Dee selalu menghormati intelektualitas pembacanya.



Read More

4 Alasan Mengapa Berjualan dengan Sistem Dropship Sebaiknya Mulai Ditinggalkan? (Updated)

Wednesday, November 4, 2015




Jaman sekarang, saat kecanggihan teknologi sudah berada dalam genggaman, apapun bisa kita lakukan untuk mendapatkan uang. Berbisnis tak lagi membutuhkan banyak modal, asal ada kemauan, kita sudah bisa menjadi penjual. Kita bahkan bisa "save" banyak uang dengan berjualan online, karena kita tak perlu menyewa tempat untuk berjualan. "Sewa tempat", bisa jadi merupakan modal terbesar saat memulai bisnis.

Dalam dunia online-shopping, ada istilah re-seller dan drop-shipper. Kali ini saya mau mengulas tentang dua istilah itu.

Reseller bisa diartikan sebagai orang yang menjual kembali. Ia berasal dari dua kata; "re" dan "seller". Sedangkan dropshipper adalah istilah lain dari makelar. Dropshipper bertugas mencarikan pembeli untuk produsen, dan nantinya dia akan mendapatkan komisi dari usahanya tersebut. Komisi itu bisa berupa imbalan langsung dari produsen, bisa juga dari selisih antara harga beli dari produsen dengan harga jual ke konsumen.

Perbedaan lain antara reseller dengan dropshipper adalah; reseller harus membeli atau mempunyai stok barang yang dijualnya, sedangkan dropshipper tidak perlu. Jika reseller harus mengepak sendiri pesanan pelanggan-pelanggannya, dropshipper tak perlu melakukan itu semua. Yang dilakukan seorang dropshipper hanyalah mempromosikan barang dagangan milik produsen, mencari pembeli, sedangkan pengiriman barang akan dilakukan oleh produsen.

Sepintas memang menjadi seorang dropshipper terlihat enak, juga tanpa beban karena tak perlu takut akan mengalami kerugian. Kerjanya sama-sama memainkan hape. Pun, seorang dropshipper tak perlu mengeluarkan modal untuk menjadi penjual. Hanya pulsa internet yang tetap dibeli meskipun tidak jadi seorang dropshipper sekalipun.

Tapiii...ada yang harus diperhatikan oleh para dropshipper.

Ada yang menganggap bahwa menjadi dropshipper hukumnya tidak boleh. Ini mengacu pada sebuah hadits yang berbunyi; "Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki." (HR. Tirmidzi, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud)

Tapi menurut sumber lain yang saya baca, menjadi dropshipper masih dibolehkan. Intinya, dalam hukum jual beli, tidak ada syarat yang melarang seseorang menjual barang milik orang lain. Juga tidak ada keharusan untuk memiliki barang terlebih dahulu untuk dijual. Contoh kasus adalah pada penjualan dengan sistem pesanan (made by order), barang belum ada, namun transaksi bisa terjadi. Contoh lain lagi adalah menjual dengan bantuan katalog, barang belum dimiliki oleh si penjual, namun calon pembeli sudah bisa melihat barang yang akan dia beli. Tentu yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa masing-masing pihak harus melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan pada saat akad.

Saya tidak akan membahas lebih panjang soal hukum ini karena ilmu saya belum cukup untuk mengupasnya. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya tentang berjualan dengan sistem dropship ini.

Saya hobi berjualan. Beberapa barang pernah saya jual, seperti; kosmetik, mukena, gamis, hingga makanan seperti cilok dan siomay. Hobi saya ini mungkin diwariskan oleh ibu saya yang dahulunya memang berdagang di pasar. Tentang hobi ini, saya bahkan pernah mencandai suami, "Enak ya kalau punya warung atau toko, tiap hari kita dapat uang, haha," kata saya sambil membayangkan asiknya menunggu pembeli sambil membaca koran. Melayani pembeli dengan mengambilkan barang kemudian menerima uang lalu memberikan kembalian. ^^

Namun karena saya sadar bahwa saya tak punya modal, maka saya buru-buru bangun dari mimpi. :D

Saya pun melewati beberapa proses. Saya pernah menjalani peran sebagai dropshipper. Iya, seperti yang saya tuliskan di atas, menjadi dropshipper itu enak. Tinggal posting barang, pelanggan datang, bayar ke produsen. Sudah. Tidak perlu repot packing, pergi ke ekspedisi, juga tidak perlu memikirkan stok barang hingga kerugian. Berapa jumlah barang yang bisa kita jual, kalikan dengan komisi dari produsen, maka itulah keuntungan bersih yang kita dapatkan.

Tapi, suatu hari seseorang menyadarkan saya. Katanya, kalau ingin mendapatkan hasil yang banyak, jangan puas dengan hanya menjadi seorang dropshipper. Jadilah setidaknya seorang reseller, jika kamu belum mampu menjadi produsen. Mengapa? Ini dia alasannya;

1. Menjadi dropshipper itu tidak dikenai target. Karena tidak ada target itulah, kita menjadi semaunya sendiri. --> Lagi mood ya jualan, nggak ya diem. Kalau kita lebih sering bad mood, gimana mau dapat hasil banyak, hayo?
Jika kita menjadi reseller, kita keluar modal, maka kita akan berupaya agar barang yang kita miliki lekas habis supaya modal bisa kembali. Perputaran uang menjadi lebih cepat, hasil yang didapat pun lebih banyak.
Asaaall, cara ngabisin stoknya bukan dengan diobral. :p


2. Tidak fokus. Mentang-mentang cuma modal pulsa, semua barang dagangan teman kita jualkan. Produk yang kita tawarkan jadi bermacam-macam. Ini membuat calon pembeli bingung, "Sebenarnya dia jualan apa sih ya? Sekarang posting baju, sejam kemudian jual pempek palembang, dua jam kemudian jual parfum, besoknya lagi jual coklat."
(Ini benar-benar nampar saya, hehe...)
Lagipula kalau kita fokus, orang-orang akan tahu apa yang kita jual. Keuntungannya adalah, jika mereka membutuhkan barang yang kita jual (mukena misalnya), mereka akan langsung menghubungi kita.

3. Jika pahit-pahitnya kita merugi, setidaknya kita sudah belajar menjadi pengusaha. Katanya, kerugian yang dialami seorang pengusaha itu ibarat vitamin. Jadi kalau kita sudah pernah mencicipi "vitamin" itu, insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang hebat. Sehebat apa seorang pengusaha, tergantung dari vitamin dan dosis yang sudah dia cicipi.


4. Ini alasan terbaru yaa..
Cerita dulu; Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluhkan online shop tempat ia membeli barang. Masalah bermula ketika ia menanyakan nomor resi, namun pemilik online shop tidak juga memberikannya hingga hari ke-3. Teman saya, karena khawatir ini olshop tipu-tipu, akhirnya mengancam pemblokiran. Masalah semakin runyam karena olshop ini tersinggung dan mengancam akan menuntut balik. 
Pusing 'kan?



Padahal inti dari masalah ini adalah: kemungkinan olshop ini adalah dropshipper, sehingga, karena bukan dia yang mengirimkan barangnya, ia tidak bisa segera meng-info-kan nomor resi pada pembelinya. Ia terlebih dulu harus menanyakannya pada si pengirim (supplier olshop ini). Muter-muter 'kan ya? Iya.. Dan disinilah, bukti bahwa menjadi dropshipper pun ada kendalanya tersendiri. 

Jadi setelah tulisan ini, kamu masih mau jadi dropshipper, Rin? :p
Read More

Tampung Air Hujan, Antisipasi Kekeringan

Thursday, October 29, 2015


Sedih rasanya ketika berbagai media memberitakan bahwa saudara-saudara kita banyak yang mengalami kekeringan sehingga harus berjalan berkilo-kilo jauhnya untuk mendapatkan air, atau harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli air. Dan ternyata, hal ini kini terjadi di kota saya sendiri, kota yang notabene masih hijau.

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat memberitahu saya bahwa di Purworejo, kota kelahiran saya, dilaksanakan shalat istisqa di alun-alun kota. Shalat itu dilakukan untuk meminta hujan pada Tuhan Semesta Alam. Beberapa waktu sebelumnya pun, sahabat dekat saya yang lainnya, mengeluhkan bahwa di daerahnya sudah tidak ada air. Untuk mendapatkan air bersih, ia harus membelinya.

Saya yang tidak bisa membantu apa-apa, hanya bisa urun do'a, semoga hujan segera turun untuk menghapus kekeringan. Saat saling berkabar itulah, tiba-tiba saya teringat dengan Bak Penampungan Air Hujan (PAH) yang sering dibicarakan oleh suami dan kawan-kawannya.

Suami saya adalah seorang arsitek yang tergabung dalam Tim Akanoma yang dipimpin oleh Yu Sing. Beberapa desain Akanoma memang menerapkan prinsip rumah ramah lingkungan. Salah satu ciri rumah ramah lingkungan yang didesain Akanoma adalah adanya bak PAH dan bak pengolahan air limbah. Mengenai bak pengolahan air limbah pernah saya tulis disini.


Apa sebenarnya bak PAH itu? 
Pernah tidak sih, kita terpikir untuk menyimpan air agar saat musim kemarau kita tidak lagi galau? Pernahkah juga terpikir, bagaimana caranya supaya air hujan tidak mubazir? Iya, karena di musim penghujan air seolah tak lagi berharga. Air yang akan dirindukan lagi di kemarau nanti, terbuang sia-sia.

Bak PAH sendiri, sesuai dengan namanya, memang merupakan sebuah wadah yang dibuat untuk menampung air hujan. Bak PAH sudah diterapkan oleh warga Gunung Kidul, karena daerah ini memang sering mengalami krisis air meskipun curah hujannya cukup tinggi.

Ini salah satu contoh bak PAH di Gunung Kidul. sumber; kabarhandayani.com
Air yang ditampung di bak PAH, dialirkan dari talang. Warga Gunung Kidul sendiri menggunakan air ini untuk memasak, mencuci, mandi, bahkan juga untuk minum. Padahal sebenarnya air hujan memerlukan beberapa kali tindakan filtrasi agar layak untuk dikonsumsi.

Rata-rata, bak PAH ini dapat menampung air sekitar 9 meter kubik. Air sebanyak ini kira-kira cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 2 minggu.

gambar diambil dari Facebook GreenYatra. Air hujan juga dimanfaatkan untuk menyiram toilet.


Contoh bak PAH yang lain. Air dari bak PAH dapat langsung digunakan untuk menyiram tanaman.


Meskipun katanya, rumah ramah lingkungan membutuhkan budget yang lebih besar dari rumah "biasa", tapi pemanfaatan air hujan dengan cara ini patut dicoba, karena seperti yang dilansir di http://www.kelair.bppt.go.id/sitpapdg/Patek/Spah/spah.html, ada beberapa manfaat yang bisa kita rasakan, antara lain;

1. Menghemat penggunaan air tanah. 
Beberapa waktu lalu sebuah televisi nasional menayangkan bahwa warga ibu kota berbondong-bondong memperdalam sumurnya karena air sudah semakin kering. Hal ini bisa menimbulkan masalah baru, karena jika air tanah terkuras, maka dikhawatirkan permukaan tanah akan mengalami penurunan. Hal yang paling buruk yang mungkin terjadi adalah amblasnya tanah.

2. Menampung 10 meter kubik air pada saat hujan. Kalau ingat bencana kekeringan yang mungkin akan terjadi di kemarau yang akan datang, tentu kita tidak akan rela air hujan begitu saja terbuang.

3. Mengurangi run off dan beban sungai saat hujan. Wah, berarti bisa diartikan bahwa menampung air turut berperan dalam penanggulangan bahaya banjir, dong? Sounds great, kan?

4. Menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah.

5. Mempertahankan tinggi muka air tanah.

6. Menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah.

7. Memperbaiki kualitas air tanah dangkal.

8. Mengurangi laju erosi dan sedimentasi.

9. Mereduksi dimensi jaringan drainase

10. Menjaga kesetimbangan hidrologi air tanah sehingga dapat mencegah intrusi air laut.

11. Mencegah terjadinya penurunan tanah.

12. Stok air pada musim kemarau. Nah ini yang paling penting, supaya bencana kekeringan tidak lagi terjadi di kemarau yang akan datang. 

Mimpi saya sih sederhana saja. Setiap kita menjadi lebih bijak dalam menggunakan air, dan ke depannya, 1 rumah mempunyai 1 bak PAH. Terlalu tinggikah? :)



Read More

Amay, Aga dan Arinta

Tanggung jawab sebagai orang tua ketika anaknya lahir, salah satunya adalah memberi nama. Bukan sembarang nama, namun nama itu mesti memiliki arti yang baik, do'a serta pengharapan. Seperti kebanyakan orang tua, hari-hari jelang kelahiran Amay 4,5 tahun lalu pun kami disibukkan dengan ritual ini. Apa ya nama yang bagus untuk anakku kelak?

Di usia kehamilan yang memasuki enam bulan, dokter memberi tahu bahwa janin yang sedang saya kandung berjenis kelamin laki-laki. "Ini buah zakarnya ya," begitu katanya tanpa saya minta. Sempat kecewa si, "Yah, kenapa dibilangin, Dok? Kan saya pengen surprise." Tapi ya sudah lah, terlanjur, hehe...

Nah, karena sudah diberitahu itulah, akhirnya kami berdua pun mulai menyiapkan nama. Dapatlah, Abiyu Mahya. Rasanya, nama ini masih jarang terdengar. Kan kami nggak ingin nama bayi kami nanti pasaran, hehe... Selain itu Abiyu Mahya punya arti yang bagus. Abiyu berarti yang berjiwa mulia, sedang Mahya berarti yang bersinar terang. Dengan nama itu, kami berharap kelak ia menjadi pribadi yang tak hanya cerdas akal, namun juga cerdas hati. 

Setelah bayi kami lahir, terbersit keinginan suami untuk menambahkan sebuah nama lagi di depan atau belakang Abiyu Mahya. Karena suami adalah seorang arsitek yang mengidolakan Antoni Gaudi, jadilah tambahan nama tadi berbunyi Gaudiansyah. "Syah" ini diambil dari nama suami Yopie Herdiansyah, dan ayahnya Hermansyah. Akhirnya, kami sepakat membuat nama anak pertama kami, Gaudiansyah Abiyu Mahya.

Kenapa Amay?
Memutuskan nama panggilan ternyata tidak begitu mudah. Namun entah mengapa, setelah kami menemukan nama Abiyu Mahya, saya mengusulkan agar anak kami kelak dipanggil Amay. Amay merupakan singkatan dari Abiyu Mahya itu tadi, jadi ketika memanggilnya, dua do'a senantiasa terucap.

Namun ada beberapa orang yang seolah mempermasalahkan. "Amay kan seperti nama anak perempuan?" begitu katanya. Iya sih, kedengarannya memang begitu. Namun setelah beberapa waktu berlalu, saya menemukan pembelaan. Hei, di Gorontalo sana, ada seorang Sultan bernama Sultan Amay lho. Silakan googling deh kalau nggak percaya.

Selain itu, beberapa orang mengartikan AMAY sebagai Anaknya MAs Yopie atau Arin saMA Yopie, hehe, sah-sah saja. Toh ada benarnya juga. :) Keluarga suami bahkan memanggil Amay dengan Gumay. Gumay merupakan singkatan dari Gaudiansyah abiyU MAhYa. Tidak masalah juga, karena ada seseorang bernama Aditya Gumay yang merupakan pendiri Lenong Bocah.


3 tahun 8 bulan kemudian, adiknya Amay lahir. Laki-laki lagi. Tidak seperti saat mengandung Amay, di kehamilan yang ini saya tidak terlalu serius mencari nama. Hehe..entah mengapa. Tapi beberapa hari sebelum anak ke dua saya lahir, suami sudah dapat ide nama depan untuk adiknya Amay ini. Agadiansyah, begitu bunyinya. Aga, diambil dari nama Aga Khan, seorang arsitek muslim yang cukup legendaris. Dan seperti sebelumnya, "Syah" diambil dari nama suami, Yopie Herdiansyah, supaya Amay dan Aga nggak saling cemburu, hehehe...

Kemudian untuk dua nama berikutnya, saya menggunakan nama bayi yang sudah saya rangkai ketika menyambut kelahiran Amay dulu. Jadi dulu saya merangkai beberapa nama untuk cadangan. Ataya Nafi' saya pilih karena Ataya berarti hadiah, dan Nafi' berarti yang bermanfaat. Kebetulan, Aga (begitu akhirnya kami memanggil adiknya Amay), lahir di bulan yang sama dengan bulan anniversary kami berdua, yaitu bulan November. Jadi Agadiansyah Ataya Nafi' berarti hadiah yang bermanfaat untuk kami berdua, dan semoga juga bermanfaat untuk semua makhluq-Nya. Aamiin...


Oya, selain tentang Amay dan Aga, saya juga mau sedikit bercerita tentang nama saya, Arinta, huehehehe...

Jadi gini, kurang lebih 6 tahun yang lalu, seorang wali murid tiba-tiba SMS. Beliau mengatakan, bahwa insya Allah bayi yang dikandungnya saat itu (calon adik dari anak didik saya saat itu), berjenis kelamin perempuan. Beliau lalu bertanya, apa sebenarnya arti nama "Arinta"? Setelah saya jawab bahwa Arinta berarti Adik, beliau lalu bercerita bahwa suaminya suka dengan nama saya. *Nama thok lho yaa, bukan orangnya, haha... :p
Nah, singkat cerita, mommy ini minta ijin pada saya, boleh tidak menggunakan nama Arinta untuk nama bayi nya kelak? Ya saya jawab boleh dong, hehe... Meskipun suami saya akhirnya wanti-wanti, "Nanti nama Arinta jadi pasaran lhoo.. :p" Haha, biarin deh...
Dan efeknya, kakak si bayi ini alias murid saya waktu itu, jadi sering mencandai saya. "Yang ini adek Arin (nunjuk saya), kalau yang di rumah itu Miss Arin." hahahaha..

Lalu beberapa waktu kemudian, teman semasa SMP menanyakan hal serupa. Sama seperti wali murid itu juga, teman saya meminta ijin untuk memakai nama saya jika kelak dia punya anak perempuan. Padahal saat itu dia belum menikah lho.. Dan ternyata itu dibuktikannya sebulan yang lalu saat anak perempuannya lahir. Yeaayyy...Arinta kecil dengan nama lengkap Arinta Inara Atalyssa sudah lahiiirr.. Bangga dan bahagia rasanya, meskipun kelak jadi pedih karena nama ini jadi banyak kembarannya, haha... :D

Ternyata nama saya cukup cantik ya? *tutup muka
Padahal dulu saya tidak suka dengan nama ini. Saya bahkan sempat agak konyol juga karena protes ingin ganti nama. Kalau nggak salah, waktu itu saya pengen nama yang ada "Lestari"nya, biar samaan dengan teman-teman. Iyaaa..soalnya waktu SD dulu, di kelas ada 4 orang dengan nama Lestari. Dan nama "Lestari" kedengarannya anggun gitu. Ya gak?
Trus, saya juga pengen mengubah nama jadi Dhea atau Leony, haha, soalnya saya nge-fans sama Trio Kwek-Kwek. *halah 

Hehe, tapi seru ya pilah-pilih nama anak itu? Jadi, ayo ceritakan arti namamu! :)



Read More

Pengguna Magic Com Perlu Tahu Ini!

Friday, October 23, 2015

Jaman dulu, memasak nasi itu perlu melewati beberapa proses; ada yang namanya ngeliwet, ada yang namanya meng-aron. Apinya; ada yang pakai api tungku (nah, ini yang paling lezat hasilnya menurut lidah saya), ada yang pakai kompor.

Jaman sekarang, masak nasi nggak pake ribet. Habis cuci beras, tambahkan air, lalu klik. Nah, kadang-kadang, proses "klik" nya itu yang sering kelupaan. Jadi, pas dikira nasi udah mateng, eee pas dilihat masih berupa beras. Haha...pengalamannya siapa hayo?

Yah, namanya juga manusia yaa... Dimaklumi deh kalau masih sering lupa. Soalnya "lupa" memang ngga ada obatnya. :D

Oya, meskipun memasak nasi dengan tungku dan dandang memang terasa lebih lezat, tapi prosesnya yang ribet dan memakan waktu itu membuat cara ini sudah banyak ditinggalkan. Gantinya adalah alat listrik bernama magic com itu tadi. 

gambar dari www(dot)vemale(dot)com


Nah, beberapa tips ini mungkin bisa dilakukan agar listrik lebih hemat dan magic com yang kita punya lebih awet.

1. Cabut kabel magic com setelah selesai makan malam.
Cara ini selain untuk menghemat listrik juga untuk mencegah nasi mengeras atau mengeripik. Ini berlaku jika nasi masih tersisa. Besok paginya kita bisa nyalakan lagi supaya ketika sarapan nasi terasa hangat kembali. 
Atau kalau ingin membuat nasi goreng dengan nasi sisa, nasi yang dingin lebih recommended loh. Nggak percaya? Coba saja. :)

Kalau lupa mencabut kabel dan di pagi hari nasi sudah terlanjur mengeripik, coba tips nomer 2.

2. Untuk memudahkan mencuci panci teflon yang dipenuhi nasi kering, rendam panci teflon dengan air panas. Bisa saja merendam panci teflon dengan air biasa, tapi akan membutuhkan waktu lama hingga nasi kering itu terkelupas. Kalau nasi kering sulit terkelupas, sulit dicuci, kita akan tergoda untuk menggosoknya kuat-kuat, pakai kawat. Wohoho, jangaaaaan!!

3. Jangan menggosok teflon kuat-kuat karena selain akan merusak anti lengketnya, ternyata teflon yang tergores bisa menimbulkan berbagai penyakit. Nah, cara nomor 2 tadi sangat berguna, supaya mencuci panci teflon menjadi lebih mudah. Cek urang mah, effortless gitu. :p

4. Cuci beras dengan wadah yang lain. Gesekan-gesekan antara beras dengan panci teflon dapat menyebabkan tergoresnya lapisan anti lengket. Kalau lapisan anti lengketnya tergores, menggunakan teflon bisa membahayakan tubuh. Lihat lagi tips nomer 3, hehehe...

5. Lagi-lagi supaya hemat listrik. Gunakan air panas untuk memasak nasi. Jadi ya, kalau saya sih, sambil mencuci beras kita masak air secukupnya (kira-kira pas untuk memasak nasi). Nah, pas selesai cuci berasnya, pas banget airnya mendidih. Pakai deh itu air panas untuk memasak. Selain nasi lebih cepat matang, listrik pun jadi lebih hemat. Tau sendiri kan, memasak nasi memakai "panci ajaib" lumayan menghabiskan energi listrik? Selain hemat listrik, kan hemat waktu juga tuh. Apalagi kalau perut udah keroncongan minta diisi. Ups, tapi jangan lupa di"klik" yaaa.. :D

Nah, itu baru 5 tips cerdas yang saya tahu tentang penggunaan magic com agar lebih hemat, cermat dan tepat. halah!!!

Mungkin ibu-ibu hebat punya tips lain? :)
Read More

Heidi; Film, Buku, dan Sepotong Rindu

Friday, October 9, 2015

Heidi


Saya bukan pecandu film, yang menjadikan aktivitas menonton film sebagai rutinitas. Saya juga bukan tipe orang yang gemar "mencari" film yang bagus. Biasanya saya baru menonton film setelah teman-teman merekomendasikannya. Maka wajar saja jika saya jarang pergi ke bioskop, karena saya lebih sering menonton film di rumah. Tapi bukan berarti saya belum pernah ke bioskop yaa, hehe... Sesekali sih pernah, menyegaja kesana untuk melihat film yang sedang diputar. Dan pasca menikah kurang lebih enam tahun ini, saya baru sekali menonton film di bioskop, rame-rame dengan suami dan si sulung. Itu pun "Walking with Dinosaurs" yang kami tonton, karena Amay suka sekali dengan dinosaurus.

Saya kurang suka film action. Saya juga kurang suka film-film dari hollywood. Kalaupun ada, paling hanya beberapa. Hehe...biar lah saya dibilang udik.

Omong-omong soal film, beberapa hari lalu ketika beberes rumah, saya menemukan sebuah buku lama, Heidi judulnya.


dok. pribadi

Lima tahun lalu ketika menemukan buku ini, saya seolah mendapat harta karun. Heidi, buku karya Joanna Spyri ini, pernah saya lihat sekilas dalam bentuk film, dua puluh tahunan yang lalu. Waktu itu, sambil menatap layar kaca dua warna (hitam putih) berukuran 14 inch, saya menyaksikan sebuah penggalan film.

Yang membuat momen itu berkesan adalah karena saya melihatnya bersama almarhumah ibu tercinta. Ibu melarang saya memutar channel yang lain, karena menurut beliau film itu bagus. Dan kata ibu, beliau pernah menonton film ini sebelumnya. Saya patuh, meskipun saat itu saya kurang menikmati film itu.

Yang sangat saya ingat dalam film itu adalah ketika seorang gadis kecil menderita sakit hingga membuatnya tak mampu berjalan. Sepanjang hari, ia harus rela menghabiskan waktunya duduk di atas kursi roda. Kemudian suatu hari ia pergi ke sebuah tempat yang asri. Disana ia tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi padang rumput yang hijau. Dan ajaibnya, setelah beberapa lama tinggal disana, ia bisa kembali berjalan.

Saya pikir gadis kecil yang lumpuh itulah yang bernama Heidi, tapi ternyata bukan. Maklum lah, karena film itu berbahasa inggris, saya yang masih kecil saat itu, kurang paham dengan jalan ceritanya. Namun buku ini membantu saya mengetahui jalan cerita sesungguhnya.

*

Heidi, adalah seorang gadis yang telah yatim piatu. Bibinya kemudian membawanya pada kakeknya yang tinggal di gunung. Alasannya saat itu adalah karena ketiadaan biaya, dan ia harus bekerja ke Frankfurt. 


www(dot)planet-series(dot)tv


Selang beberapa lama, Heidi yang sudah terlanjur betah hidup berdua dengan kakeknya kembali dijemput oleh Bibi Detie. Bibi Detie mengatakan bahwa ia telah menemukan sebuah keluarga yang mau menampung Heidi. Keluarga tersebut memiliki anak seumuran Heidi, Clara, yang sedang sakit. (Clara inilah yang sebelumnya saya kira adalah Heidi) 


mirvideo(dot)tv



Clara yang merupakan anak orang kaya, menyukai Heidi yang baik hati. Suatu hari, Heidi jatuh sakit. Sakitnya ini karena dia mengalami homesick dan ingin kembali pada kakeknya di gunung. Keluarga Clara pun dengan berat hati mengirimnya pulang. 

Singkat cerita, Clara yang merindukan Heidi pun menyusul gadis kecil itu. Di sanalah, di rumah-gunung milik kakek Heidi itu, akhirnya Clara bisa sehat dan dapat berjalan kembali.

Pesan moral yang saya dapatkan dari kisah Heidi adalah; "money could only buy material things, but it could not buy happiness."

Film Heidi, meskipun hanya sepenggal yang saya lihat, tapi ceritanya benar-benar melekat. Ini adalah satu-satunya film yang bisa membuat saya terkesan hingga puluhan tahun lamanya, dan belum tergeser oleh film lain.


Mungkin banyak film lain yang lebih bagus, namun history di belakang film ini lah yang membuatnya istimewa. Seperti ketika kita menemukan pasangan, meskipun banyak yang lebih kaya dan rupawan, tapi yang istimewa lah yang membuat hati kita tertawan. :D



Read More

Negeri Neri; Novel yang Bagi Saya Layak Difilmkan

Sunday, October 4, 2015

Menurut saya, bagus atau tidaknya sebuah novel ditentukan oleh sejauh mana novel itu bisa "mengganggu pikiran" pembacanya. "Mengganggu pikiran" disini artinya, apapun kegiatan yang kita lakukan, jalan cerita novel yang sedang kita baca masih terngiang-ngiang di kepala.

"Negeri Neri", sebuah novel karya Sari Safitri Mohan, berhasil mengalihkan dunia saya hingga beberapa hari. Saya terjebak dalam belantara hutan "Negeri Neri" sampai beberapa waktu. Mungkin bisa dibilang, saya sulit untuk move on dari kisah itu.

Sebenarnya, novel ini sudah terbit sejak 2012 lalu, tapi saya baru menikmatinya setelah seorang teman memberikan novel ini pada saya. Kalau saya tau gimana bagusnya novel ini, saya tidak akan sayang mengeluarkan uang untuk membelinya. Serius.

Ada cerita di dalam cerita, begitulah kira-kira cara penulis novel ini menuangkan idenya. Seperti anakan sungai yang bercabang-cabang, akhirnya mereka bertemu dalam satu muara.

Berawal dari kisah Mala, gadis cilik berusia enam tahun, yang tersesat dalam rimbunnya hutan di belakang rumahnya. Di dalam hutan itu ia berjumpa dengan Ibu Bunga. Untuk selanjutnya, Ibu Bunga mendongengkan perjalanan hidup seorang Elin, yang ternyata merupakan anak dari kakek bertelinga kanan setengah. Ibu Bunga menyampaikan cerita itu episode per episode, setiap kali Mala mengunjungi tempatnya.

Selanjutnya, Mala menceritakan dongeng yang didengarnya dari Ibu Bunga kepada Flora kakaknya, yang mempunyai hobi menulis.
"Kak, memang gimana rasanya laki-laki dan perempuan yang berpelukan dan hujan-hujanan?"
Flora seperti tersengat listrik seribu watt mendengar pertanyaan Mala. Namun Flora memutuskan untuk mendengarkan cerita Mala meskipun rasa penasaran akan kebenaran cerita yang disampaikan Mala demikian besar.

Cerita-cerita Ibu Bunga, yang disampaikan pada Mala dan ditulis ulang oleh Flora, diterbitkan di majalah sekolah. Sambutan yang baik dari para pembacanya, membuat Flora didaulat untuk masuk ke dalam tim redaksi.

Masalah kemudian timbul. Klimaks dari novel ini adalah ketika Flora hilang. Ia diculik untuk mempertanggungjawabkan tulisannya, karena ada pihak yang merasa bahwa "Negeri Neri" sebenarnya bukan merupakan karya fiksi, namun ada unsur pencemaran nama baik. Semua merasa kehilangan, hingga suatu hari salah satu dari penculiknya menyerahkan diri.

Sampai di halaman 254, jantung saya berdebar lebih cepat. Saya memang begitu, menikmati setiap kata yang saya baca, sehingga seolah-olah saya benar-benar berada di dalamnya. Dikisahkan, pelaku penculikan mengakui bahwa ia menculik dan menghilangkan nyawa Flora.
"Saya taruh dia di dekat sungai yang banyak buayanya. Saya tunggu dari jauh sampai saya lihat seekor buaya memakannya." akunya, saat ditanya bagaimana caranya membunuh Flora.

Duh, disitu saya sempat kecewa. Koq, tokoh Flora dibuat meninggal sih? Tapi ternyata kisah novel ini belum berakhir. Masih banyak keterkejutan-keterkejutan yang dibuat oleh penulis, hingga saya meyakini bahwa penulis merupakan orang yang jenius karena berhasil membuat cerita berputar-putar, sambung-menyambung, namun sama sekali tidak terkesan dipaksakan.

Ada beberapa tokoh penting dalam novel ini;
1. Mala. Gadis cilik penyambung lidah Ibu Bunga. Tanpanya, Ibu Bunga tak akan bisa menguak tabir ketidakadilan yang menimpa dirinya.
2. Ibu Bunga. Darinya, awal cerita yang rumit ini bermula.
3. Flora. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan dongeng dengan kenyataan, melalui tulisan.
4. Elin. Dirinya lah, muara semua kisah.
5. Aria. Laki-laki ingkar. Darinya kita bisa mengambil pelajaran, bahwa laki-laki akan mengeluarkan seluruh daya upaya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun setelah impian didapatkan, dirinya tak lagi penasaran, ia akan lupa dengan apa yang pernah dijanjikan.
6. Momon. Nah, ternyata sosok ini punya kejutan. Ternyata ia adalah Laks, saksi hidup perjalanan kisah Elin dan Aria.
7. Rio. Pemimpin redaksi majalah Suluh, yang menerbitkan "Negeri Neri".
8. Anggi. Lewat kelihaiannya dalam men-sketsa, ia bisa menggambarkan sosok Ibu Bunga, melalui arahan Mala. Sketsa yang dibuatnya berhasil mengobati kehampaan yang selama ini dirasakan kakek bertelinga kanan setengah.

Novel Negeri Neri

Dan kisah "Negeri Neri" ini pun diakhiri dengan epilog yang indah; 

Cinta kita memang pernah indah meski engkau akhirnya membungkamku. Teriakan kecilku telah terdengar, meski lonceng asmaradana usai. Aku telah kauhanguskan. Dan api khianatmu membuatku bagai kertas putih panjang yang telah habis jadi abu. Tapi senyumku pada sepi ini, kini melegakanku.
Jangan kaulupakan aku.
Jangan pernah kauhilangkan jejakku.





Read More

Jangan Jadi Online Shop Nyebelin

Saturday, October 3, 2015

Kalau Asma Nadia punya karya yang judulnya: "jangan jadi muslimah nyebelin", maka yang saya tulis ini mungkin merupakan pengembangannya.

foto dari sini
Lagi heboh ya di dunia maya, tentang online shop dan calon pembeli yang salah paham. Jujur, saya pun baru tahu kalau ada satuan "ea" yang artinya "each". Jadi memang sebagai online shop sebaiknya tidak buru-buru emosi, khawatir nantinya malah malu sendiri. Selain itu, nanti malah jadi merugi, pembeli terlanjur kabur dan nggak mau balik lagi.

Hmm..nggak mau kan itu terjadi?

Tapi selain yang di atas tadi, saya juga mau sedikit kasih saran untuk para pelaku online shop. Biar apa? Biar nggak jadi online shop yang nyebelin. Mmm...saya juga jualan lho, jual mukena dan cilok. Tapi karena supplier mukenanya lagi sibuk, jadi sementara saya fokus di cilok saja. *eh...ini bukan promosi, hihi...

Nah, saya juga pengen, sebagai online shop, saya nggak dianggap nyebelin (saya masih berusaha, jika masih dianggap nyebelin juga, dimaafkan yaa... :D). Dan profesi sebagai pemilik usaha online (dalam hal ini lebih tepat ditujukan untuk tenaga pemasarannya sih), tidak dipandang sebelah mata.

Optimasi social media memang sah-sah saja. Tapi ada hal-hal yang mesti diperhatikan karena promosi di media sosial juga ada etikanya.

1. BBM
Jaman sekarang jualan bisa dimana saja. BBM pun dijadikan sebagai salah satu sarananya. Tapiii...pliiisss, jangan hobi BC (broadcast) barang daganganmu yaa... Orang-orang yang ada di kontak kita bisa tahu koq kalau kita jualan. Mereka kan bisa baca status-status kita.

Nah, ini nih, salah satu yang memotivasi saya menulis artikel ini.

Ceritanya, suatu hari saya diundang untuk masuk ke sebuah grup BBM oleh seorang teman. Karena saya kenal baik dia, saya pun menyetujui. Ternyata di grup itu ada beberapa online shop juga (terlihat dari namanya) dan salah satunya mengajak saya berteman. Oke, saya terima.
Belum ada semenit kami berteman, dia sudah BC saya dengan dagangannya. Belum sempat saya baca isi BC-nya, dia sudah mengundang saya masuk ke grupnya. Belum sempat saya masuk, dia kembali mengirim BC tentang grupnya itu. Ohhh..itu sungguh menyebalkan. Serius!!!
Akhirnya, saya delcon saja dia, hehehe... BC sesekali sih boleh yaa, tapi jangan keseringan lah. Promo lewat status saja saya pikir sudah cukup koq. Dan pembeli yang serius pasti akan langsung menghubungi kita.

2. Facebook
Sejak awal kehadirannya, facebook sudah dijadikan media untuk berjualan. Jaman dulu nih, sering banget para online shop itu menandai/nge-tag/tagging barang dagangannya. Kalau sekarang masih ada yang pakai cara itu, berarti dia so so so yesterday, hihi... *pinjem istilah blogger kekinian. *laludijitak
Ya kan sekarang mah ada page. Pakai aja fasilitas itu. Tapiii, untuk dapat like yang banyak memang salah satunya mesti bayar untuk iklan di facebook. Kalau yang ini saya kurang paham deh yaa cara-caranya.
Intinya, saya mau bahas tentang etika men-tag orang ini. Sama aja sih, kurang sopan kalo menurut saya mah. IMHO, ini sama kayak pedagang oleh-oleh di bus-bus antar kota, yang suka main taruh dagangannya ke pangkuan kita.
*iya gak sih? kalau menurut teman-teman gimana?

Jadiii..sudahi saja hobi nge-tag foto dagangannya yaa... Kan semua teman facebook kita juga pasti tau lah kalau kita jualan. Sering-sering bikin status aja, yang menarik gitu, yang bikin orang penasaran sama produk kita, dan akhirnya pengen beli dagangan kita.
*soal ini saya juga masih belajar, belum jago.

3. Instagram
Belakangan, instagram juga dipakai untuk memasarkan produk. Yang keren sih yang bisa bayar endorser. Biasanya yang dicari adalah para selebgram, seleb instagram, yang banyak followernya.
Nah, yang nggak punya modal dan nggak punya etika, biasanya suka nyepam nih. Saya belum punya modal, tapi saya insya Allah tau etika, jadi saya nggak nyepam. :p
Spammer ini sering menyasar instagram para artis. Jadi, mau fotonya apa captionnya apa, komentarnya; "cek IG-ku yuk sis, banyak tutorial hijab bla bla bla" atau "Mau putih dan langsing, *** solusi jitunya. Cek IG-ku aja yaa" atau "SUPPLIER sweater, cardi, jaket termurah dan fast respon se-ig!!" Dan masih banyaaakkk yang lainnya.

Raisa si penyanyi yang cantik jelita itu aja sampai nulis di bio-nya loh, "Tidak sulit bikin saya bahagia, cukup dgn tdk nge spam di IG saya. Thanks!" Gitu katanya.
Kalau dihukumi, mungkin hukum nyepam ini makruh kali yaa..kalau ditinggalkan dapat pahala (kan bikin orang bahagia), kalau dilakukan ya nggak dosa. Eh, tapi dosa nggak sih bikin orang sebel? :D

Di 3 social media di atas saja sudah banyak yang jadi olshop nyebelin kan? Ini belum twitter, youtube, blog, dan yang lainnya.

Tambahan nih. Selain mesti pakai etika, jadi pedagang juga harus latihan sabar. Kalau ada kekurangan dari pembeli ya dimaklumi, jangan terbawa emosi. Kan pembeli adalah raja. Ya kan? Ya kan? Kalau kesalahannya masih dalam tahap wajar, maafin aja. Kalau mau ditanggapi ya ditanggapi dengan baik, kalau enggak mood, mending nggak usah sekalian. Mungkin salah satu tipsnya; posisikan diri kita sebagai pembeli juga. Gitu kali ya?

Sooo...yuk ah berbenah. Supaya rezekinya makin melimpah dan barokah. :)

ps: catatan ini dibuat untuk mengingatkan diri saya juga.
Read More