Langsung ke konten utama

Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta

Kaliurang, Yogyakarta, memang menyimpan banyak potensi wisata. Salah satunya, Museum Ullen Sentalu, yang terletak di Jalan Boyong, kawasan wisata Kaliurang, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Museum ini diprakarsai oleh Keluarga Haryono dan diresmikan oleh KGPAA Paku Alam VIII pada 1 Maret 1997.

sumber foto: disini
Nama Ullen Sentalu sendiri diambil dari singkatan Bahasa Jawa, ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku, yang berarti "Nyala lampu blencong (lampu minyak yang digunakan dalam pertunjukan seni wayang kulit) merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan."

Saya berkunjung kesini akhir tahun lalu, bersama dengan dua keluarga yang merupakan teman dekat suami. Begitu memasuki area parkir, kesan sejuk, magis, dan luas, segera menyergap dalam diri saya. Sambil menunggu giliran masuk, karena pengunjung di dalam museum memang dibatasi, saya menerka-nerka apa yang akan saya dapatkan di dalam sana.

Yak, dan tibalah giliran kami, 6 orang dewasa dan 2 anak-anak, serta beberapa anggota rombongan yang lain, untuk memasuki area. Begitu masuk, kami disambut oleh seorang guide yang cantik dan ramah. Kami diingatkan untuk tidak mengambil gambar dalam bentuk apapun. Agak kecewa, namun pada akhirnya saya mengerti maksudnya, apalagi kalau bukan untuk menjaga keotentikan karyaseni di dalamnya?

Setelah itu, kami dibawa masuk ke sebuah ruangan seperti labirin, namanya Guo Selo Giri. "Jangan terpisah dari rombongan ya, supaya tidak tersesat," begitu pesan Mbak Pemandu. Di dalam, ada banyak cerita yang disampaikan, sampai saya lupa detailnya. Daripada ngawur, mending kesini sendiri saja yaa.. :D Yang jelas, ada nama Kanjeng Bobby atau Pakubuwono XII (konon katanya beliau tidak mempunyai permaisuri, namun memiliki beberapa selir), Gusti Nurul, dll. Banyak lukisan disana. Di dalam juga ditampilkan macam-macam batik khas Solo dan khas Jogja, juga filosofi yang melatarbelakanginya. Di sebuah ruangan, kita dipersilakan untuk beristirahat dan diberi minuman tradisional, seperti jamu. Di ruangan ini kita diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Keluar dari Guo Selo Giri, kami dibawa ke area lain dalam museum itu. Wow, ternyata luas sekali. Ada sebuah tempat terbuka yang memang dikhususkan sebagai area untuk mengambil gambar. Saya salut dengan Mbak Guide, begitu detail ia menjelaskan kepada kami apa-apa saja yang kami lihat disana. Kami pun diperbolehkan untuk bertanya jika belum jelas.

Sampai saya keluar dari museum itu, otak saya masih dipenuhi dengan cerita-cerita yang saya dengar tadi, tentang Kerajaan Mataram yang terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta setelah Perjanjian Giyanti. Yogyakarta yang terpecah menjadi Kasultanan dan Pakualaman, Surakarta yang juga terpecah menjadi Mangkunegaran dan Kasunanan. Oo, ternyata begini. Oo, ternyata begitu.




Saya kebetulan kurang bisa mengingat sejarah, auuwww... Jadi lebih baik kesini saja supaya lebih puas belajar sejarahnya. Tiket masuk ke Ullen Sentalu; Rp 30.000,- untuk orang dewasa dan Rp 15.000,- untuk anak-anak. Harga berbeda jika yang datang adalah turis mancanegara, yaitu; Rp 50.000,- untuk orang dewasa dan Rp 30.000,- untuk anak-anak.

Selamat berlibuuuurrrr.... :D

Komentar

  1. Balasan
    1. Iya Mba Ety.. sejuk koq, nggak panas walaupun areanya terbuka. :)

      Hapus
  2. Kmrn waktu ke YIk sdh berencana mau ke sini di sela2 padatnya jadwal....sayangnya kmrn kaliurang maceeet....br smp kilometer 5 bslik lg deh...krn waktu terbatas...lain waktu hrs kesampean nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, Jogja sekarang maceeetttt. :)

      Hapus
  3. Jogja kota yang selalu ngangeni ufts jadi mau pulang kesana lagi

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …