Langsung ke konten utama

Mamah; Do'a Ibu yang Terijabah

Semoga saya tidak terlihat lebay dengan judul itu. Tapi demi mengingat ucapan ibu, kemudian disandingkan dengan kenyataan yang saya rasakan saat ini, sepertinya memang Allah telah menjawab do'a ibu.

Saat itu, saya masih belasan tahun, masih berseragam putih abu-abu. Ketika duduk santai berdua di teras, tiba-tiba ibu berkata sambil matanya menerawang jauh, "Semoga kamu nanti dapat mertua yang sayang sama kamu."

Beliau lalu melayangkan pandangannya pada saya yang saat itu masih merasa bahasan ini tabu. "Soalnya kalau mertuamu saja sayang, pasti suamimu lebih sayang lagi," katanya melanjutkan. Saya yang mendengar kalimat itu hanya mengucap aamiin sambil membatin, "Aduh bu, masih lama lah kalau soal kayak gitu."

Dan dari peristiwa itu saya langsung percaya bahwa ucapan ibu pada anak-anaknya adalah do'a yang tidak tertolak. Mamah, begitu saya memanggil ibu mertua saya, adalah sosok mertua yang baik pada menantunya. Mamah sering menelepon saya, hampir tiap hari kegiatan itu dilakukannya. Tidak hanya sekedar menanyakan kabar anak cucunya. Lewat telepon kami bertukar cerita, bertukar rencana. Kadang kami pun saling bertukar resep dan menu masakan.

Mamah, De Ine (adik ipar), dan Saya
Ada yang lucu dari kisah kami bertiga; saya, ibu dan mamah. Dibanding saya, ibu lebih dahulu mengenal mamah. Bukan, ini bukan karena saya dan suami bertemu karena perjodohan. Mamah dan ibu berjumpa ketika sama-sama mengambil raport. Sekali lagi, bukan antara raport saya dan suami, akan tetapi raport suami dan kakak saya. Iya, suami saya dahulunya adalah teman sekelas Mas Pepi, kakak kedua saya. Pertemuan pertama saya dengan suami adalah ketika di tahun 2002, suami (yang saat itu sedang menanti kelulusan SMA) bertandang ke rumah. Ehem ehem..

Nah, pertemuan pertama saya dengan Mamah adalah ketika Mamah, Adik ipar, dan suami, sedang mengantar Ayah untuk terapi di Purworejo, tiga tahun kemudian. Daripada bengong menunggu Ayah yang sedang diterapi, Mamah memutuskan untuk datang ke rumah. Dari situlah ibu saya mulai "jatuh cinta" pada calon menantunya. Jatuh cintanya ya karena suami memiliki ibu yang peduli pada anaknya, atau lebih tepatnya, perhatian. Hehe... Iya, saat itu kami sudah menjalin hubungan, yang pendekatannya 3 tahun namun berakhir dalam waktu 7 bulan saja, hahaha.. Keputusan itu saya ambil karena saat itu saya memutuskan untuk tidak pacaran.

Namun jodoh memang tak perlu dikejar. Saya kembali berjumpa dengan suami ketika ibu saya meninggal. Sedih memang jika mengingat bahwa kami dipertemukan dalam kondisi saya yang sedang berduka. Tapi saya yakin, ini adalah petunjuk dari Allah, setelah sebelumnya ibu saya mengatakan rindu pada Mas Yopie (nama suami). Dibanding calon-calon yang lain, ibu saya memang jatuh cinta pada menantunya yang satu ini, hehe..

Dan firasat ibu memang benar. Feeling-nya berkata bahwa Mas Yopie adalah laki-laki baik-baik, berasal dari keluarga baik-baik, dan saya telah membuktikannya.

Mamah, begitu perhatian pada saya. Sering sekali beliau membelikan saya baju, hihi.. (menantu macam apa ini? koq malah kebalik, bukannya mantu yang beliin mertua?) Ya tapi memang begitulah Mamah. Mamah yang fashionable berhasil mengubah saya yang agak cuek dalam berpenampilan.

Oya, ada satu hal yang sedang berusaha saya teladani dari Mamah, yaitu kedermawanannya. Mamah senang berbagi, pada siapa pun, dalam kesempatan apapun. Mirip dengan almarhumah Ibu. Ahh, mereka berdua itu; Mamah dan Ibu, dua orang tercantik dalam hidupku. Semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya pada mereka berdua. Aamiin.


#K3Bkartinian

Komentar

  1. mamah dan adik ipar mba Arin punya senyum yg sama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tante yoko.. aku malah baru ngeh..hehehe

      Hapus
  2. aih...ibu dan mamah kayaknya kompak deh ngejodohin anak-anaknya. senang mbak kl ibu dan ibu mertua saling menghormati gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya kedatangan Mamah ke rumah tahun 2005 itu jadi kali terakhir pertemuan Mamah dg ibu. Karena th 2008 ibu saya meninggal. :(

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …