Langsung ke konten utama

Saya #BeraniLebih Capek untuk Keluarga dan Cita-Cita

Baru saja saya berkenalan dengan seorang teman baru. Di sela-sela obrolan, beliau bertanya, "Mbak Arin itu ibu rumah tangga tulen?" Hehe, langsung saja saya jawab "iya". Alhamdulillah, kenyataannya memang begitu.

Ibu rumah tangga tulen yang dimaksud adalah ibu rumah tangga yang tidak berkarir di luar. Jadi karirnya 24 jam non stop di rumah. Jadi jangan ada yang protes ya, hehe.. 

Jangan dikira menjadi ibu rumah tangga itu nggak ada prestasinya. Saya sih meyakini bahwa prestasi seorang ibu adalah ketika bisa mencetak anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholih, baik, bermanfaat untuk semua makhluq-Nya. Dan itu adalah cita-cita saya. Memang, cita-cita menjadi ibu terbaik memerlukan proses dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Tapi dengan usaha dan do'a, saya berusaha meraihnya.

Cita-cita saya yang lain adalah menjadi seorang penulis. Bermula ketika anak saya kecanduan buku-buku cerita, saya pun memutar otak agar anak saya tidak bosan dengan cerita yang itu-itu saja. Yah, maklum saja, budget saya untuk membeli buku per bulannya tidak seberapa. Dengan mengarang cerita sendiri, setidaknya saya terlatih untuk berimajinasi, dan yang paling penting adalah bisa menekan pengeluaran untuk membeli buku bagi Amay dan Aga.

Karena cita-cita saya itu, saya bergabung dengan beberapa komunitas menulis. Awalnya sempat ragu, karena di dalam komunitas itu banyak penulis-penulis yang sudah menelurkan puluhan buku. Sementara aku? Hehe... Tapi Alhamdulillah, banyak penulis baik hati yang mau membagi ilmu.

Karena cita-cita saya itu, saya pun harus pandai membagi waktu. Antara pekerjaan khas ibu-ibu, Amay, Aga, dan latihan menulis buku. Capek? Tentu. Kadang sampai bingung bagaimana mengatur waktu. Tapi saya memang harus #BeraniLebih Capek agar saya mendapatkan apa yang saya mau. 

Kadang sebuah ide tiba-tiba terlintas dan meminta untuk segera dieksekusi. Tapi ya, masa saya harus berhenti nyuci? Pernah juga dengan lancar saya merapal sebuah rencana yang akan saya tuliskan. Tapi ya, masa sayuran yang akan dimasak itu harus ditinggalkan?

Saya sih percaya dengan kalimat "no pain, no gain". Untuk mendapatkan sesuatu yang kita impikan, ada harga yang mesti kita bayarkan. Sekarang, saya membiasakan diri untuk mengingat-ingat ide yang pernah muncul di kepala, lalu menuliskannya setelah semua tugas domestik saya terlaksana. Seperti saat ini, saya menulis ini setelah memastikan anak-anak saya dibuai oleh mimpi.  

Facebook: https://www.facebook.com/arinta.adiningtyas
Twitter: https://twitter.com/arinta_arinta

Komentar

  1. bersusah2 dahulu bersenang2 kemudian...tapi saya salut lo sama irt yang ngeblog,keren^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi..iya Mak.. nulis sambil mata kriyip-kriyip karena ngantuk, wkwkwk...

      Hapus
  2. Hidup IRT ....*begaya pom pom girl

    BalasHapus
  3. IRT itu hadiahnya Surga in shaa Allah.
    Semangat jadi IRT plus blogger plus penulis ya Mak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. duuh..adem banget komennya Mak.. aamiin Mak.. semangat!!

      Hapus
  4. Tos mak..
    Daku jg gentayangan di dunia ngeblogbkalau si kecil udh tdur...
    Beginilah emak2, semangatnya tiada tara...
    Tepuj tgn dulu utk para emak...yeayyyyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. toosss mak... hihi, banyak temannya...alhamdulillah :D

      Hapus
  5. berani lebi capek ya mak
    jadi ingat dah buat laporan sambil ngerjain kerjaan rumah gegara ART kayak penampakan gitu

    @guru5seni8
    penulis di www.kartunet.or.id dan http://hatidanpikiranjenrih.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi..istilah baru, ART kayak penampakan. kadang muncul kadang enggak, gitu ya mbak? :D

      Hapus
  6. alhamdulillah, bisa menyempatkan menulis. kalau saya masih seperti dulu, di saat saya baru buka netbook (pinjam suami), suami bilang mi... leren dhisik. walah, sakitnya tuh di mata ini pedes karena emang kalau udah malem harus terpejam. tetap semangat saja....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau sama bu ima sih saya mesti angkat topi. mengajar dg niat membagi ilmu, tdk semata-mata mencari lembaran berwarna biru (yg merah juga ding :D), udah gitu masihbisa bagi waktu utk nanam sayur dan beternak. duh, capeknya mesti tikel-tikel alias berlipat-lipat..hihi.. hebatnya lagi bu ima udh punya buku.solo. duuhhhh...

      Hapus
  7. Apa kata dunia kalo tak ada emak rumah tangga. Karena emak is the real hero.
    ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh..jadi hero? pahlawan super ya mas? hehe..

      Hapus
  8. Cita-cita yang mulia mbak, semangatt selalu.. ^_^

    BalasHapus
  9. Capek badan bila karena semangat untuk menggapai yang diinginkan, apalagi dibarengi dengan niat menggapai ridha-Nya, sungguh akan terasa menyenangkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali pak. terima kasih sudah mampir.. :)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Saat "Dia" Tertawa di Sampingku

Yeaayyy sudah tanggal 19, itu artinya Blogger KAH kembali datang. Kali ini kami menulis sebuah tema yang terinspirasi dari curhatan-curhatan kecil sehari-hari. Hehe, saya, Mbak Rani, dan Mbak Widut memang suka ngobrol dan curcol. Hingga kemudian lahirlah ide untuk membahasnya di sebuah postingan blog.

Tema kali ini adalah pengalaman horor. Oya, bulan ini kami kedatangan tamu yaa, Mami Susi, yang tampaknya suka banget dengan hal-hal mistis, kami undang untuk bercerita juga.

Silakan baca tulisan Mami Susi Susindra dengan "Wanita Berwajah Rata"nya disini, Mbak Rani dengan Hantu Genit-nya disini, dan Mbak Widut dengan kisah sawannya si K disini
~~~
Sebelumnya saya pernah menulis sebuah kejadian yang menegangkan di rumah bude di Jogja, berjudul "Jangan Baca Ayat Kursi". Waktu itu saya memang tidak merasa apa-apa, karena memang pada dasarnya saya kurang peka dengan keberadaan makhluq astral. Akan tetapi, Amay, yang kala itu belum genap dua tahun, terlihat agak sensitif…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Jangan Jadi Online Shop Nyebelin

Kalau Asma Nadia punya karya yang judulnya: "jangan jadi muslimah nyebelin", maka yang saya tulis ini mungkin merupakan pengembangannya.

Lagi heboh ya di dunia maya, tentang online shop dan calon pembeli yang salah paham. Jujur, saya pun baru tahu kalau ada satuan "ea" yang artinya "each". Jadi memang sebagai online shop sebaiknya tidak buru-buru emosi, khawatir nantinya malah malu sendiri. Selain itu, nanti malah jadi merugi, pembeli terlanjur kabur dan nggak mau balik lagi.

Hmm..nggak mau kan itu terjadi?

Tapi selain yang di atas tadi, saya juga mau sedikit kasih saran untuk para pelaku online shop. Biar apa? Biar nggak jadi online shop yang nyebelin. Mmm...saya juga jualan lho, jual mukena dan cilok. Tapi karena supplier mukenanya lagi sibuk, jadi sementara saya fokus di cilok saja. *eh...ini bukan promosi, hihi...

Nah, saya juga pengen, sebagai online shop, saya nggak dianggap nyebelin (saya masih berusaha, jika masih dianggap nyebelin juga, dimaafkan…