Skip to main content

Rumah Impian

Tulisan ini adalah postingan kolaborasi dengan #BloggerKAH, setelah beberapa bulan kami absen karena adaaaaa aja kesibukan di antara kami bertiga. Mbak Ran yang baru punya baby Alisha, saya yang masih saja disibukkan oleh cucian dan setrikaan, dan Mbak Widut yang tiap pengen nulis ngga ada temennya. Xixixixi, iyaaa, diantara kami bertiga, Mbak Widut memang yang paling rajin nulis dan paling sering menang lomba. Huhuhu jadi envy sama semangatnya.

Nah, berawal dari curhatan Mbak Widut yang pengen punya dapur outdoor, saya akhirnya mengusulkan bagaimana jika tema bulan ini adalah tentang Rumah Impian?


Meskipun saya pernah menulis seperti apa rumah impian saya, tapi makin kesini, rumah impian saya jadi agak berubah.

Baca: Jatuh Cinta pada Rumah dengan Gaya '8Oan

Ya, dulu saya memang jatuh cinta pada rumah dengan gaya tahun 198Oan. Kenapa? Sudah saya jelaskan di tulisan itu. Tapi karena menyadari bahwa rumah 8Oan itu muahaalll, jadi saya anggap impian ini cuma benar-benar mimpi, yang Alhamdulillah jika menjadi kenyataan, tapi ngga masalah juga kalau ngga kesampaian.

Saya memilih untuk mensyukuri apa yang saya punya. Saya tentu ngga ingin jadi orang yang kufur nikmat. Udah dikasih tempat buat neduh mosok masih kurang bersyukur, ya kan?

Sekarang, fokus saya adalah pada semua yang sudah saya miliki. Saya akan merawatnya, dan mengusahakannya untuk terlihat lebih baik lagi. Nah, kalau ada rezeki lebih, saya pengen bikin rumah saya kayak gini nantinya.

foto dari IG @rumahcantikidaman

Fasade-nya dibikin begini, lalu rumahnya dibikin 2 lantai, dan di atas ada space buat naruh tabulampot, hehe... Iya, karena luas tanah rumah saya hanya 8O meter, tentu impian untuk menanam banyak pohon harus saya urungkan. Meski begitu, saya tetap menanam pohon koq. Ada pohon jeruk dan jambu jamaika. Saya menanamnya dalam pot. Istilahnya, tabulampot, tanam buah dalam pot.

Nah, untuk saat ini, saya lagi pengen pasang kanopi di belakang rumah, untuk ruang cuci jemur, biar njemurnya nggak di depan rumah. Sekarang sebenarnya bisa sih njemur di belakang, cuma lantainya belum rata.

Do'akan yaa biar segera terkumpul dananya.

Terima kasiiiih.. ☺❤

By the way, pernah ada yang bilang gini, "Arin mah enak, suaminya arsitek, pasti gampang lah mewujudkan rumah impian." 

Mmm, iya sih, suami saya arsitek. (Kalau mau tahu kiprah beliau di dunia arsitektur, saya pernah menulis prestasinya bersama teman-temannya di sini. Kalau mau rumahnya didesainkan suami saya, bisa juga hubungi via email atau komen di bawah tulisan ini. Ups, promosi) Tapiiii, justru karena suami saya adalah arsitek, jadi malah nggak bisa didebat. Suami selalu punya alibi untuk menjadikan rumahnya begini dan begitu, baiknya begini dan begitu biar sehat, biar rapi, biar ini, biar itu dan kalau ada rezeki lagi mau bikin rumah di sini dan yang begini. Gitu gitu deh.

Untuk itulah, kadang untuk membela diri, saya bilang, "Ya udah, anggap aja ini rumah pertama, bikin yang sesuai keinginan Arin yaa... Ntar rumah berikutnya -aamiin- terserah dirimu lah mau dibikin kayak gimana. Toh, yang paling banyak diem di rumah kan Arin. Ya ya ya?" Gitu. Dan itu berhasil membuatnya diam, meski perdebatan yang sama selalu terjadi saat kami ingin menambah atau mengubah sesuatu dari rumah ini.

Yang saat ini masih jadi perdebatan adalah partisi untuk dapur. Kebetulan, dapur saya memang terlihat dari ruang tamu. Saya pengennya partisinya sekaligus meja makan, seperti ini, tapi peletakannya bukan nempel di dinding seperti ini yaa..

ambil foto dari IG @ariana_arriana

Suami setuju kalau partisinya meja plus lemari makan, tapi ngga mau ala-ala shabby gitu, dan maunya tengahnya bolong. Yaaaa, percuma dong yaa, dapurnya tetep kelihatan. Alasannya sih, karena rumah kami kecil, jadi kalau tengahnya tertutup begitu, malah bikin rumahnya jadi kelihatan sempit. 

Dan ini adalah problem yang belum terpecahkan, wkwkwk...

Ah sudahlah..lihat aja nanti siapa yang menang. Hahaha.. Baiklah, sekarang baca rumah impiannya Mbak Rani dan Mbak Widut yaa.. Penasaran, kayak gimana rumah impian mereka. ☺

Comments

  1. Hahaha.. kasihan sekali ya Mbak Widut yang selalu bersemangat di antara kita bertiga tapi cuma dia sendiri yang sempet nulis, sementara kita? Eh kita bentar lagi juga nyusul sih ya? Aamiinkah aja deh.

    Btw partisi kalo lemari+meja makan kalau dilihat dari depan, semisal lemarinya bagian belakang nggak rata jadi kayak kurang rapi Mbak Rin.. Mending bikin partisi yang dari kayu ditekuk-tekuk itu lho.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi partisi yang ditekuk-tekuk itu ngga fungsional Mbak..xixixi.. ya cuma sebatas pembatas aja..

      Delete
  2. Semoga cepat terkumpul dananya Mbak :D Biar punya rumah idaman secepatnya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin YRA. Makasiiiih Mbaaa. Semoga rezeki Mba juga berlimpah ya..aamiin

      Delete
  3. Sayang banget rumah era 80 mahal ya? Saya juga kepengen punya rumah yang bagus, semoga tercapai ya Mbak keinginannya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba.. muahaaalll..hehehe.. aamiin Mba, saling mendoakan ya..

      Delete
  4. Enak ya suaminya arsitek, bisa desain sendiri dong :D

    ReplyDelete
  5. Aku pengin rumah yg nggak terlalu besar, tapi halamannya yang luaaasss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dulu idealisme nya juga begitu. Tapi tanah di Solo kan mahal..hihi.. kecuali kalau nanti pulang ke Purworejo..di sana masih relatif murah.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Popular posts from this blog

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Jawa Timur Park 2 (Batu Secret Zoo)

Beberapa waktu lalu, alhamdulillah keluarga kecil kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Malang. Awalnya saya dan Amay hanya ingin menemani suami bertemu dengan kliennya, namun kemudian terpikir untuk sekaligus berwisata ke Batu. Mumpung ada waktu :)

Karena budget kami terbatas, kami memilih hotel yang ramah di kantong. Hanya dengan 200 ribu rupiah per malam, kami sudah bisa menikmati kamar yang nyaman, fan, televisi, juga air hangat untuk mandi. Tak perlu kamar ber-AC lah, karena Malang sudah cukup sejuk :). Kami juga memilih hotel yang tak terlalu jauh dengan stasiun, tentunya agar menghemat ongkos transportasi. 

Keesokan harinya, kami mengunjungi Jawa Timur Park. Lagi-lagi, untuk menghemat pengeluaran kami menyewa sepeda motor untuk pergi kesana. Biaya sewa motor rata-rata 50 ribu - 60 ribu, atau 75 ribu untuk layanan antar jemput. Jadi kita tak perlu mengambil dan mengembalikan sendiri sepeda motor sewaan kita. (Sudah bisa disebut backpacker belum? :p) 
Oya, tentang Jatim Park, …

Jangan Jadi Online Shop Nyebelin

Kalau Asma Nadia punya karya yang judulnya: "jangan jadi muslimah nyebelin", maka yang saya tulis ini mungkin merupakan pengembangannya.

Lagi heboh ya di dunia maya, tentang online shop dan calon pembeli yang salah paham. Jujur, saya pun baru tahu kalau ada satuan "ea" yang artinya "each". Jadi memang sebagai online shop sebaiknya tidak buru-buru emosi, khawatir nantinya malah malu sendiri. Selain itu, nanti malah jadi merugi, pembeli terlanjur kabur dan nggak mau balik lagi.

Hmm..nggak mau kan itu terjadi?

Tapi selain yang di atas tadi, saya juga mau sedikit kasih saran untuk para pelaku online shop. Biar apa? Biar nggak jadi online shop yang nyebelin. Mmm...saya juga jualan lho, jual mukena dan cilok. Tapi karena supplier mukenanya lagi sibuk, jadi sementara saya fokus di cilok saja. *eh...ini bukan promosi, hihi...

Nah, saya juga pengen, sebagai online shop, saya nggak dianggap nyebelin (saya masih berusaha, jika masih dianggap nyebelin juga, dimaafkan…