Minggu, 03 Juli 2016

Cilok Setengah Juta, Dimuat di Gado-Gado Majalah Femina


Sebut saya norak. Hehe... Tapi saya memang sedang norak-norak bergembira. Apa pasal? Setelah perjuangan yang paaannnjjaaannggg dan laaammmmaaaa, akhirnya saya bisa menakhlukkan satu media besar itu. Iyap, tulisan saya akhirnya bisa nangkring di rubrik Gado-Gado Majalah Femina.

Majalah Femina, foto oleh Mbak Rien DJ

Selama ini saya hanya bisa iri, melihat tulisan teman-teman muncul di rubrik itu. Ini bukan soal honor yang memang cukup besar dibanding media yang lainnya ya, tapi ini soal mengukur kemampuan diri. Bisakah saya seperti teman-teman lain?

Memang, tulisan saya sebelumnya sudah pernah nangkring di beberapa media cetak seperti Jawa Pos dan Solo Pos. Ada yang mau baca? Ini tulisan saya di Jawa Pos untuk rubrik Gagasan: Bersahabat dengan Bumbu Dapur, dan ini salah satu cerita lucu saya yang dimuat di Rubrik Ah Tenane, Solo Pos, yang menggunakan tokoh utama bernama Jon Koplo.

Tak hanya itu, cerita lucu tentang Amay pun pernah saya kirimkan ke Majalah Reader's Digest Indonesia, yang masih satu grup dengan Majalah Femina. Sayangnya, sejak Oktober 2015 lalu, majalah ini hanya bisa kita baca dalam versi digital. :(

Haha Hihi di Reader's Digest Indonesia

Menulis untuk Majalah Femina ini cukup sulit bagi saya, karena hingga belasan kali mengirim tulisan, nyatanya saya kurang bisa menangkap selera Majalah ini. Belasan ide, belasan judul sudah saya kirimkan, namun tak satu pun berhasil memenuhi syarat. Padahal untuk media lain, terkadang 1-2 kali kirim saja, Alhamdulillah tulisan saya bisa sesuai dengan karakter mereka.

Baca Tiada Alasan Tak Menanam, tulisan saya yang dimuat di Majalah Ummi. Juga, Do'a yang Dinantikan, yang dimuat di Majalah Hadila.

Dan tibalah saat yang saya tunggu-tunggu. Saya dihubungi oleh Mbak Ratna dari Femina melalui SMS, yang menanyakan apakah tulisan saya berjudul "Cilok Setengah Juta" adalah karya asli saya dan belum pernah diterbitkan? Alhamdulillah, secercah harapan muncul. Saya tidak bisa berhenti tersenyum. Saya pun mengirimkan berkas-berkas yang diminta, via email dan via pos. 

Dan hari itu tiba. Hari dimana tulisan saya muncul di edisi 25 tahun 2016. Rasanya penasaran. Persis seperti seorang ibu yang hendak melahirkan, seperti apa rupa anakku?

Tapi rasa penasaran itu mesti ditahan, karena saya belum bisa menemukan majalah itu di tukang koran sekitaran Colomadu, Karanganyar. Hiks... Mau ke toko buku, tapi suami belum sempat mengantar. Iya, saya kemana-mana memang mesti sama beliau, hehe... Tapi Alhamdulillah, Allah menolong saya melalui tangan Mbak Saptorini alias Mbak Rien DJ yang bersedia mencarikan majalah itu di toko langganannya. Alhamdulillah Alhamdulillah.. :)

Hingga kini sebenarnya saya belum melihat secara langsung bagaimana penampakan tulisan saya, karena majalahnya masih di Mbak Rien. Tapi saya cukup puas, melihat judul besar yang terpampang disana, dan nama saya yang tertulis di ujung kanan bawah. :)

tulisan saya di Gado-Gado Femina


Buat yang penasaran, ini adalah tulisan saya, versi asli yang saya kirimkan tanggal 5 Januari 2016. 

Cilok Setengah Juta

“Mas, mau udang, boleh?” pinta saya.
“Tapi dirimu kan alergi udang. Jangan aneh-aneh, ah!” Jawab suami saya, tegas.
Tapi karena tak tahan melihat wajah saya yang begitu ingin menyantap makanan itu, suami saya akhirnya mengambilkan setusuk sate udang untuk saya yang sedang hamil muda, lengkap dengan segelas susu dan air kelapa muda. Dua minuman itu untuk penawar racun, katanya. 
Ajaib, kondisi hamil membuat saya tak pantang memakan makanan yang biasanya menimbulkan gatal di sekujur tubuh itu. Tanpa meminum susu dan air kelapa muda pun, tubuh saya tidak mengalami reaksi alergi. Anehnya, setelah bayi saya lahir, saya kembali alergi dengan udang, kepiting, dan makanan laut lainnya.

Kebanyakan ibu-ibu yang sedang hamil muda memang mengalami yang namanya ngidam. Bahkan pertanyaan “ngidam apa nih?”, termasuk yang paling sering dilontarkan.
Orang ngidam itu macam-macam. Ada yang ingin melakukan sesuatu yang biasanya terdengar aneh, ada juga yang ingin makan makanan yang tak biasa.
Tetangga saya, saat hamil hanya ingin makan sayur nangka muda (sayur gori) saja. Dan jika dia sudah memasaknya, orang lain tidak boleh ada yang ikut mencicipi. Haha, lucu sih kedengarannya, timbang sayur gori doang. Tapi itu nyata, dan dia selalu tertawa jika mengingatnya.
Salah satu orang tua murid di sekolah anak saya lain lagi, saat hamil dia tidak suka memakai alas kaki. Entah itu sandal atau sepatu. Dan kini anaknya berperilaku persis seperti sang ibu. Kalau kami sedang menjemput anak-anak saat pulang sekolah, biasanya anak ini langsung berlari ke arah ibunya sambil menjinjing sepatu dengan kedua tangannya. Malah pernah, disaat anak-anak lain sedang berdo'a di dalam kelas, dia berlari keluar sambil menjinjing sepatunya menuju sang ibu yang menunggunya, kemudian dia kembali lagi ke kelasnya dan melanjutkan berdo'a sebelum pulang.
“Yang paling awet dari anak ini tuh, sepatunya. Gimana enggak, dipakainya cuma pas berangkat aja.” Kata si ibu sembari tertawa. Terkadang memang kebiasaan kita saat hamil terbawa oleh anak kita.

Berbeda dengan tetangga dan ibu dari teman anak saya tadi, saya pun mengalami ngidam yang aneh saat hamil anak pertama. Selain jadi kebal terhadap udang, tiba-tiba saya merasa sangat ingin makan cilok. Ini gara-gara sebuah tayangan televisi yang sedang menayangkan makanan-makanan lezat berbahan aci. Hmmm, tampaknya ibu hamil mesti berhati-hati ketika menonton televisi, karena bisa-bisa perasaan ngidam muncul tiba-tiba setelah melihat sebuah tayangan. J
Maka ketika mama mertua telepon dan bertanya kondisi kehamilan saya, saya mengatakan bahwa saya ingin sekali makan cilok. Demi calon cucunya, beliau sampai menelepon kenalannya di Solo untuk menanyakan dimana kira-kira penjual cilok berada, karena saat itu saya dan suami memang baru dua bulan tinggal di kota Bengawan itu, sehingga belum paham tempat-tempat jajanan. Dan sialnya, saat itu bulan puasa sehingga pedagang cilok yang biasa mangkal di sekolah-sekolah libur berjualan.
Akhirnya, karena hasrat makan cilok tak kunjung terpenuhi, mama mertua datang mengunjungi kami. Beliau bersama dua adik ipar datang ke Solo dengan menumpang travel dari Purwokerto. Kebetulan saat itu ayah mertua sedang dinas di Bumiayu.
Ketika datang, beliau membawakan saya cilok, lengkap dengan bumbu kacang, saos dan kecap.
Sambil menyuruh saya menyantap oleh-oleh paling spesial itu, beliau berkata, "Ini cilok istimewa ya, Rin, soalnya harganya setengah juta." Haha..seketika itu kami semua tertawa. Iya, harganya setengah juta karena ongkos travel dari Purwokerto ke Solo untuk 3 orang hampir setengah juta. Ada-ada saja. J


*tulisan yang terdapat di Majalah Femina, telah mengalami sedikit pengeditan. :)


42 komentar :

  1. Haha kaya nya kalau ada cilok setengah juta (500rb) laku gak yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk..berapa gerobak ya kira-kira? :D

      Hapus
  2. Selamat ya mbak, jd kepengen juga nih kirim ke Femina :D

    BalasHapus
  3. Keren banget mbak, aku juga pengen tulisanku dimuat di majalah. :D

    BalasHapus
  4. Selamat y mba, btw qu coba kirim ke email kontak@femina.co.id ko ga bisa y mb?klo mba kirim kmn?nuhun mba sx lg slmt mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, betul alamatnya yang itu.. dapat jawabannya setelah bbrp bulan memang, agak lama menunggunya. :)

      Hapus
  5. wahh keren mbak arin , jadi pengen cicip ciloknya deh ;)

    BalasHapus
  6. Maaak kereeen.. ;) Akoh pengin juga bisa masuk femina, tapi nggak ada nulis-nulis *laaah*
    Tapi emang bagus ni cerita hehehe dan standar femina *we know laaah* itu kan nggak biasa. Dirimu kereeen.. ^^ selamat yaa mak.. Happy mudik

    BalasHapus
    Balasan
    1. mak rannyyy, ngga usah kirim...ntar nambah2 saingan, wihihi... :v

      Hapus
  7. Rubrik Gado-Gado ini sepertinya populer di temen2 blogger ya mba, tulisannya mengenai apa aja bebas ya.
    Saya tuh dari jamannya Bobo, Mentari doang kirim tulisan ya blm pernah masuk hahaha. Lah jaman kapaaan coba yak.

    Keren mba, menginspirasi saya untuk bisa selalu menulis dan belajar. TFs yaaa

    *komen kali ini serius bgt yo* hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. tumben mba nining komen serius, xixixi.. iya Mba, banyak yang nulis disana, honornya lumayan juga sih, setengah juta, hehe..

      Hapus
  8. Selamat Mba Arinta, keren ceritanya. Femina banget, unik.
    Kapan-kapan share ilmunya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduuuh, makasih mba etyyy... aku kan belajar sama mba ety juga, hehe

      Hapus
  9. Selamat Mbak.. Jadi pingin ngirim juga

    BalasHapus
  10. Selamattt Mak Arin... aku belum pernah kirim gado-gado... Femina emang syuliiitttt ditahlukkan ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi cerpennya mak witri udah nongol disana.. dirimu lebih kereeeennn.. :D

      Hapus
  11. Wih...selamat ya, mbak Arin. Ikut senang... :)

    BalasHapus
  12. Cie cie ... Selamat, ya ^^

    BalasHapus
  13. Aku ikutan senang.. Selamat sekali lagi. Wah emang tulisannya bagus *sesuai standar Femina*

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mba kiriiim, lumayan bisa buat beli popok Han, 2-3 bulan. :D

      Hapus
  14. selamat Mba Arin, tulisannya unik dan tentunya bagus :)

    BalasHapus
  15. hehe... judulnya mengundang banget mba, selamat ya sudah terbit di majalah femina. gak sia2 ya, setelah ke sekian kali ngirim, akhirnya di pajang juga di majalah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ini Mba, saya belajar terus pokoknya, hehe

      Hapus
  16. waah setengah juta ciloknya ...untung terpenuhi ya ngidamnya mba..
    selamat yaa tulisannya renyah dan idenya orisinnil

    BalasHapus
  17. ajarin mb rin, ben aku bisa gampang dimuat di majalah cerpene huihui

    BalasHapus
  18. itu bukan cerpen tante Mbuuul.. kalo cerpen aku nyerah deh.. :(

    BalasHapus
  19. Selamat ya mbaaa, emang tulisannya menarik kok.. Sebelum baca saya bertanya2 dan ikut penasaran, ternyata lucu hehehe

    BalasHapus
  20. akhirnya aq bisa baca cerita yang dibuat mba arin, jos banget ya ciloknya, enakan mana tuh sama cilok yang kita jual mba? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk..enakan ciloknya mertua lah dek..hihi.. dibikinnya pake cinta. :D

      Hapus
  21. wow selamat yaaaa :) Iya benar, rada2 susah untuk dimuat di majalah ini. Tapi kalau sudah dimuat rasanya gimanaaa gitu karena majalah ini termasuk yang plg senior diantara majalah lain ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, makasiiih Mba Ria.. he em, rasanya super duper seneng, hehe..

      Hapus
  22. Mahal di ongkos toh ya Mbak...xixixi.
    Tapi memang begitu orang tua ya...selalu ingin memenuhi keinginan anak-anaknya/menantunya..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...