Tanggal Tua Mati Gaya? No Way Lah Ya...

Wednesday, May 18, 2016


Rutinitas di tanggal 1 ala saya...

"Pa, udah cek rekening?" tanya saya pada suami.
"Udah."
"Trus?" tanya saya lagi. Suami sih udah sangat paham apa yang dimaksud sang istri. :p
"Udah masuk." Jawabnya singkat. Selalu singkat. Tapi, walaupun singkat begitu, rasanya bikin riang gembira. Hihi.. Apalagi kalau ditambah, "Ya udah siap-siap sana! Catat apa aja yang mau dibeli!" Huwaaa..tambah hepi diri ini.

Yah, meskipun gajian adalah hal yang tiap bulan dirasakan, tapi kedatangannya selalu saya nantikan. Ya iyalah ya... Gaji kan hak kita, hasil dari kerja keras selama satu bulan sebelumnya. Jadi, wajar lah kalau kita ingin menikmatinya.

Maka, meskipun yang dibeli adalah barang-barang kebutuhan dalam sebulan, tapi saya selalu suka shopping di awal bulan. :D

mendaftar barang-barang yang akan dibeli

Yups, belanja sudah. Saatnya memisahkan uang gaji ke dalam pos-pos khusus, antara lain:
1. Bayar SPP Amay
2. Bayar Satpam
3. Bayar Sampah
4. Bayar Arisan
5. Bayar Listrik
6. Lain-lain

Ya, ke lima pos di atas adalah pengeluaran wajib dalam sebulan. Pos ke enam, pos lain-lain adalah untuk pengeluaran yang sifatnya tidak terduga. Sisanya, untuk zakat, makan dan tabungan.

Tapiii, meski sudah dianggarkan, terkadang ada pengeluaran dadakan yang jumlahnya melebihi anggaran. Misalnya, tiba-tiba Pak Satpam datang mengantar undangan. Eh, dalam waktu yang hampir bersamaan, ada tetangga yang sakit atau teman yang baru saja melahirkan. Seperti April kemarin, semua berbarengan. Tambahan lagi, ada tetangga yang juga pindahan. Masa iya sih, kita tega nggak ngasih kenang-kenangan? Nggak cukup sampai situ, ada teman yang mengajak makan siang. Ulang tahun ceritanya. Nah, mikir lagi deh buat beli kadonya.

Terkadang jumlah dalam amplop lain-lain itu masih kurang, sehingga terpaksa harus disubsidi dari biaya "makan". Tabungan sih, kalau bisa jangan diotak-atik. Buat masa depan kan, hehe, kecuali kalau kepepet. :p

Kalau sudah begitu, menunggu gajian bulan depan rasanya paaaanjang dan laaaama. Lalu dimulailah rutinitas merapal mantra, "Sabar, prihatin dulu, tunggu bulan depan." >_<

Otak pun terus berpikir, mencari cara bagaimana supaya stabilitas rumah tangga tetap terjaga. Maksudnya, bagaimana supaya kebutuhan tetap tercukupi, gizi keluarga terpenuhi, tanpa harus hutang sana-sini. Ini penting!

Syukurlah, selalu ada cara untuk menikmati hidup meski dengan cara sederhana. Apa saja itu?

1. Kumpulkan Recehan
 
Kata suami, jangan gengsi meski harus belanja dengan uang seperti ini. Jangan salah, toko-toko besar justru sering kewalahan mencari uang recehan. Nggak usah jauh-jauh, kakak saya yang punya usaha foto copy dan service komputer pun sering menukarkan uang kertas dengan uang logam. Untuk apa lagi kalau bukan untuk kembalian. Jadi, mulai sekarang, recehannya jangan disepelekan yaa... :)

Lumayan lho, bisa buat beli diapers, atau bahkan mie instan buat sarapan. :p

Kumpulkan recehan, tanggal tua terselamatkan


2. Kurangi Jajan

Saya ini, meski berbadan kecil, tapi porsi makannya seperti monster. >_<
 
Kalau di rumah nggak ada yang bisa dimakan, bisa-bisa saya galau berkepanjangan. Tsaah...
Tapi, jikalau bencana tanggal tua melanda, saya punya cara agar tak mati gaya. Apa tuh? Iya, bikin cemilan saja.
 
Bikin cemilannya jangan yang tanggung-tanggung. Buatlah makanan yang mengenyangkan sekalian. Contohnya timus ubi ungu ini. Murah, mengenyangkan, dijamin nggak galau seharian, hehehe...

cemilan pengganjal perut lapar, timus ubi ungu


3. Keluarkan Dagangan
 
Kalau lagi malas bikin sesuatu, keluarkan cilokmu. Hihihi... *mentang-mentang jualan cilok. 
Bukaaan, bukan untuk dimakan sendiri. Keluarkan cilok untuk ditawarkan pada teman-teman, siapa tau ada yang sedang butuh cemilan, ya kan? Nah, hasil jualannya kan bisa buat beli jajan. Wkwkwkwk...
Tapiii..jujur, saya juga sering ngabisin dagangan sendiri ding. >_<




4. Habiskan Weekend di Rumah Saja
 
Setelah seminggu beraktivitas, biasanya kita butuh menyegarkan pikiran. Tapi, kalau kondisi sedang tanggal tua, tentu harus mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan jika kita ingin jalan-jalan. 
Jadi, biasanya nih, saya dan keluarga menghabiskan waktu di rumah saja. Misalnya, dengan menonton film bersama, membaca buku bersama, atau menggambar bersama. 

Ini salah satu film yang kami tonton bersama: Grave of The Fireflies, Film yang Penuh dengan Air Mata

belajar menggambar dengan Papa, bebas waktunya, gratis biayanya


Nah, itu dia tips anti mati gaya di tanggal tua ala saya. Ada yang mau nambahin? :)

 

Read More

Yang Sama Antara Saya dan Rian Luthfi

Tuesday, May 10, 2016

Hai Haiiii...
Puassss banget kemarin bisa libur beberapa hari. Soalnya kemarin saya pulang kampung, dan bertemu bapak tercinta. Mau jenguk ibu, tapi pas hari jum'at malah hujan. Sedih sih, tapi insya Allah do'a saya untuk beliau selalu terlantun koq. :)

Bicara soal almarhumah ibu, sepenggal kalimat terakhir yang beliau pesankan untuk saya adalah, "Sabar. Roda pasti berputar." Saya sering tergugu jika terngiang kalimat itu. Saya sih selalu yakin bahwa apa yang dikatakan ibu akan terjadi. Nanti, akan ada masanya semua yang saya inginkan terpenuhi. Dan untuk semua mimpi yang harus terkubur itu, insya Allah akan mendapat ganti. :)

Udaaaahh.. Move on, Rin! Hehehe... 

Oya, bicara soal mimpi, saya kaget euy waktu buka blognya Mbak Rian Rosita Luthfi. Di blog kompor mledug nya, ibunda dari Keenan ini ternyata punya mimpi yang hampiiiir sama dengan saya (waktu masih muda). *sengaja pake tanda kurung :p

Pada penasaran nggak, mimpi tentang apa sih? Penasaran kan? Penasaran dong?

1. Jadi Penyiar Radio
Jaman saya SMP, bisa eksis di radio ternama di Purworejo itu suatu kebanggaan. Kenapa? Karena dia pantas dijuluki anak gaul. Apalagi kalo sering dikirimi salam, wuih, berarti banyak yang ngefans sama itu anak. Lalu pertanyaannya, adakah yang kirim salam buat saya? Jawabnya enggak. Kasihan 'kan? Huhuhu... 


Trus yaa, dulu saya pernah menunggu setengah jam sepulang sekolah cuma untuk menunggu jarum pendek merapat ke angka dua. Kenapa? Karena acara radio ter-hits di masa itu dimulai jam 2, dan saya pengen nelepon radio itu biar lagu saya diputar. Hahaha...habisnya saya nggak punya telepon di rumah. Dan kebetulan tepat di sebelah sekolah saya adalah kantor Telkom, yang di depannya tersedia beberapa box telepon umum.

Karena berusaha banget biar ikutan gaul itulah, saya pun punya keinginan jadi penyiar radio. Kayaknya asik banget, banyak teman, banyak kenalan. Tapi problem saya adalah, saya ini kurang percaya diri. Beneran deh, saya ini pemalu banget, dan nggak jarang malu-maluin diri sendiri. >_<
Tapi alhamdulillah, saya sempat mencicipi rasanya jadi penyiar. Waktu itu, TK tempat saya mengajar mengadakan kunjungan ke RRI Bogor, dan saya diberi kesempatan untuk menjadi penyiar selama kurang lebih setengah jam. Rasanya dream comes true banget. :)


2. Jadi Sinden
Sedikit berbeda dengan Mbakyu Rian Luthfi yang asli Jogja tapi domisili di Cibinong ini, saya nggak terlalu pengen jadi sinden sih. Tapi waktu SMP dan SMA, saya sempat merasakan bagaimana menjadi sinden, hehe.. Kebetulan saya tergabung di grup Paduan Suara, yang terkadang "disuruh" merangkap sebagai sinden saat membawakan lagu yang diiringi tim karawitan.


3. Jadi Vokalis Band
Aduh Mbak Rian, gimana kalau kita bikin band baru? Habis kayaknya kita sehobi banget nih. Lumayan lah, saya punya gigi taring yang cukup mirip sama punyanya Arin Lavigne, eh, Avril Lavigne ding.. >_<
Dulu pernah iseng-iseng banget bikin band sama beberapa teman sekelas. Memang niatnya dijadikan band kelas karena biasanya saat class meeting ada lomba band antar kelas gitu. Tapiii...gagal dong, hihi.. 
Aduh, kalau mereka baca ini, ingatkah mereka dengan Elekyo Band? (baca; elek yo ben :p)


4. Bisa Jahit
Nah, kalau ini adalah mimpi setelah jadi emak-emak. Kenapa baru terpikir? Karena jujur, saya pingin banget bisa seperti ibu, yang dengan kedua tangannya, beliau membuatkan baju untuk saya dan kakak-kakak saya. Next, sepertinya harus memantapkan hati untuk mengambil kursus menjahit. Apa panggil Mbak Vanti aja yaa? :D


Nah, yang sedikit berbeda, kalau di Mimpi Kemarin Lusa nya Mbak Rian beliau juga ingin menjadi seorang event organizer juga, saya sih enggak. Hehehe.. Saya sadar kalau saya kurang cak-cek (cekatan). Saya juga agak pemalas, sedangkan seorang event organizer nggak boleh punya sifat itu. Satu lagi, saya kurang tegas, sehingga kurang layak menjadi pemimpin. :)

Wis Mbak Rian, kapan balik Jogja? Tak tunggu di Solo Balapan. Yok kita karaokean bareng. Mau nyinden ala Uti Waldjinah, apa nge-rock ala Avril Lavigne? Saya tak nyanyi lagunya Shaden aja.. Hihihi...



Read More

14 Hari Menjadi Selebriti

Wednesday, May 4, 2016

Judulnya lebay ya?
* Memang iya. Masalah buat loe? (haduh, songong banget lah, kayak Soimah)
Tapi bener lho, saya merasa jadi selebriti. Soalnya 14 hari itu, blog saya dikulik, Instagram diacak-acak (lebay lagi), twitter difollow dan nama saya disebut-sebut di postingan para blogger kece.

Cerita bermula saat 2 April 2016 yang lalu, nama saya keluar sebagai pemenang arisan link yang diadakan teman-teman member Blogger Perempuan di grup V. Nggak nyangka, nggak nyangka banget nama saya yang keluar. Saya tadinya berharap keluar di akhir-akhir aja deh, karena saya mau "renovasi" blog saya dulu, sambil cari inspirasi dari blogger yang lain. Tapi ternyataaaa...

Ya udah, saya pasrah aja. Ibarat kedatangan tamu, saya bener-bener nggak punya suguhan yang layak. Mungkin gambarannya begini; sebagai tuan rumah, rambut saya masih acak-acakan, belum mandi dan masih dasteran, eee...ada tamu yang datangnya rombongan. Kondisi rumah berantakan, lantai belum dibersihkan, debu juga beterbangan. Halah, komplit.

Dan benar saja. Tamu pertama langsung beraksi. Mbak Susi iniii, udah wanti-wanti, "Nggak terlalu pedes koq, cabenya cuma tiga". Karena saya suka pedes, jadi ya asik-asik aja. Saya langsung bebenah, sesuai dengan yang beliau instruksikan. Meskipun mungkin hasilnya belum maksimal.

Lega?

Beluuum.. Tamu yang lain masih banyaaak. 20an lho jumlahnya. Rata-rata mereka menanyakan kenapa blog ini dinamakan kayu sirih. Saya, terus terang, nggak ngerti juga. Blog ini bikinan suami tahun 2010 lalu, dan baru saya isi 3 tahun setelahnya. Waktu ditanya kenapa namanya kayu sirih, beliau sih bilangnya karena kayu dan sirih itu lekat dengan wanita. Kembali lagi, mungkin yang dimaksud suami adalah wanita jadul (mungkin karakter saya memang agak jadul ya? >_< ), yang masak pakai kayu bakar dan suka "nginang" pakai daun sirih. Bukan, bukan berhubungan dengan ilmu kejawen yaa... Hadeuh, kepikir tentang kejawen pun enggak lhoo...

Tapi saya terkesan deh, sama penerawangan Mbak Rani, katanya begini: Sesuai namanya, kayu dan sirih. Sesuatu yang memang identik dengan wanita, karena sirih hidup bersandar dan berdampingan pada batang kayu dan itulah kira-kira penjabaran arti kehidupan Mbak Arinta sebagai seorang wanita yang diharapkan dapat berguna untuk sesama wanita lain juga sebagai kekasih yang bersandar pada kekasih hatinya. Saya aminkan ya Mbak, semoga setelah ini, saya bisa menebar lebih banyak manfaat lagi.

Mbak Rani ini, pas nama saya yang keluar, bakat jadi cenayangnya tiba-tiba muncul, hihi.. Katanya, saya ini blogger sekuat naga. Kenapa? Cuma karena saya ber-shio naga. Hahaha... Tapi saya tersanjung sih..hihi..meski cuma sebentar. Kemudian saya mencoba menangkap makna sebenarnya; mungkin loh yaa, maksud Mbak Rani adalah karena saya tetap bertahan belajar menulis, meski hasilnya belum terasa. Pokoke sinau ora leren-leren. :D

Lalu Mbak Alfa, yang udah wawancara saya, xixixi... *berasa keren ^_^
Ngobrol sebentar sama Mbak Alfa, saya jadi sepakat dengan satu hal. Tak akan lari jodoh (rezeki) dikejar. Slow saja, yang penting sehat. Kan kata Mak Indah Julianti Sibarani juga, "blogging with heart, money will follow." 

Trus ada juga tulisan Mbak Esther yang bikin saya nggak ngerti mesti komen apa. Kenapa? Soalnya pake bahasa inggris, haha..ngga ngerti deh gimana ngomongnya. 

Saya juga terpesona dengan tulisan Mbak Inuel yang katanya mencoba meraba-raba saya, wkwkwk.. Juga tulisan Mbak Widut (Widi Utami), Mbak Vanti, Mbak Inay, Mbak Yurma, Mbak Dwi Sari, Mbak Retno, Mbak Rahayu, Mbak Mutia, Bu Mutia, Mbak Ria, Mbak Tian, Mbak Awin, Mbak  Nunk, Mbak Anis, , Mbak Rahmah, Mbak Rian, juga Mbak Sofy. (maaf kalau ada yang kelewat, emak siweur matanya...xixixi)

Alhamdulillah, alhamdulillah.. Dari arisan link ini, saya jadi punya teman baru. Teman ngobrol semi tsurhat, yang asik-asik, hihi.. Semoga lain waktu kita bisa bertemu yaa.. aamiin..

Nah, berikut ini adalah link tulisan teman-teman grup V (Pokoknya kalau nanti saya kangen, tulisan-tulisan ini akan saya baca lagi :D) ;


1. Susi : http://www.susindra.com/2016/04/arinta-adiningtyas-penulis-dari-purworejo.html
2. Inuel : http://www.jombloku.com/2016/04/meraba-dengan-mata-tertutup-arinta.html
3. Dwi Sari : http://www.kisekii.com/2016/04/tips-emak-ala-kayu-dan-sirih.html
4. Inay: http://www.innnayah.com/2016/04/arinta-adiningtyas-profil-blogger.html?m=1
5. Yurma: http://www.yurmawita.com/2016/04/7-fakta-tentang-kayusirih-blog.html?m=1
6. Alfa: http://pojokmungil.com/menjadi-mommy-blogger-kenapa-enggak/
7. Rahayu: http://www.rahayupawitriblog.com/2016/04/belajar-parenting-dari-arinta.html?m=1
8. Ria : http://www.riatumimomor.com/2016/04/bw-bp-arinta-adiningtyas.html
9. Rani : http://www.ranirtyas.com/2016/04/arinta-adiningtyas-sosok-di-balik-kayu.html
10. Mutia : http://www.elisakaramoy.com/2016/04/mengenal-sisi-sisi-menarik-mbak-arinta.html?m=1
11. Tian : http://www.tianlustiana.com/2016/04/agar-ide-tidak-buntu.html
12. Muthz : http://www.turiscantik.com/2016/04/atasi-malas-ngeblog-ala-si-kayu-sirih.html
13. Vanti: http://ayunovanti.com/tips/semangat-menulis-jangan-kau-pergi-belajar-dari-pengalaman-mbak-arinta/
14. Esther : http://estherariesta.com/mom-blogger-arinta-adiningtyas/
15. Awin : http://alivia-awin.blogspot.co.id/2016/04/kayu-sirih-mbak-arinta.html
16. Retno: http://lemaripojok.blogspot.co.id/2016/04/dibalik-nama-kayusirih.html?m=0
17. Nunk: goo.gl/4Jx4dA
18. Anis:  http://achmianisa.blogspot.com/2016/04/blogger-cantik-yang-doyan-bisnis.html
19. Rahmah: http://chemistrahmah.com/cerita-kayu-sirih-arinta-dalam-semangkuk-pallu-basa.html
20. Rian: https://superduperlebay.wordpress.com/2016/04/20/menjadi-multitasking/
21. Sofy: http://www.sofy-hidayati.com/2016/04/menebar-manfaat-lewat-blog.html
22. Widut: http://www.widut.co/2016/04/arinta-adiningtyas-being-full-time.html

Terima kasih dari blogger Kayu Sirih :)


Read More

5 Ide Kado untuk Calon Istri yang Iritnya Berkali-Kali

Friday, April 29, 2016

Masa-masa pacaran, biasanya seseorang jadi lebih royal pada pasangan. Padahal, pacar belum tentu jadi jodoh beneran. Tapi karena cinta, bahkan tanpa diminta, apapun akan diberikan. Untuk yang beruntung, perjalanan percintaan bisa sampai ke pelaminan. Akan tetapi, tak jarang hubungan yang sudah dipupuk bertahun-tahun, harus kandas di tengah jalan. Jika sudah begitu, kadang terbit penyesalan. "Nyesel gue udah ngeluarin banyak modal buat dia," begitu kira-kira.

Nah, buat kamu yang nggak mau rugi, pilah-pilih kado juga penting lho... Maksudnya? Begini... 
Dulu, ibu saya pernah berpesan pada kakak laki-laki saya, "Jangan pacaran sebelum kamu bisa cari uang sendiri. Ibu nggak punya banyak uang buat modal."

Iya lah... Pacaran butuh uang buat nraktir makan, ngajak jalan, bahkan buat sogokan biar pacar mau balikan kalau lagi marahan. Apalagi kalau pacar ulang tahun, uang yang harus dikeluarkan semakin besar, ya kan? Buat beli kue (yang bahkan ortu sendiri nggak pernah dibeliin), juga buat beli kado biar nggak jadi pacar yang malu-maluin. Yakali, mau nyanyi ala Jamrud;

"yang kuberi, bukan jam dan cincin
bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hatiii.." 

Untuk itu, ini nih, saya ada ide buat kamu-kamu yang nggak mau rugi. :D
Ada beberapa kado yang harganya murah, tapi bisa bikin dobel untung. Benda-benda ini, bisa kamu pakai juga, kalau pacarmu itu beneran jadi istrimu. Wah, iritnya berkali-kali, hihi...

Apa saja tuh? Jujur, saya nyontek dari sini;


Di custombagus.com, selain merchandise dan aneka souvenir, ada juga beberapa kebutuhan rumah tangga yang layak dijadikan kado. Benda-benda itu antara lain;

1. Gelas/Cangkir
Ini pengalaman pribadi. Pak suami ngasih saya 1 set gelas. Dulu. Dulu banget pas jaman SMA dan masih pacaran. Kardus gelas itu masih tertutup rapat, sampai bertahun-tahun kemudian. Bahkan sampai hubungan kami bubar jalan dan terpisah di provinsi yang berlainan, kado darinya belum juga saya gunakan. Setelah menikah, gelas itu akhirnya saya pakai juga. Lumayan, untuk sebuah rumah tangga baru, gelas ini sangat berguna. Untungnya sih, nikahnya sama dia juga. Hehehe...

sumber foto: custombagus.com
2. Mug
Sama dengan gelas. Ngasih kado mug buat pacar juga bisa jadi ide untuk berhemat. Setidaknya, kamu nggak perlu beli mug lagi nanti, buat menikmati kopi. :)
Kesannya koq murah banget ya, ngasih kado cuma mug doang? Eits..perempuan baik-baik mah, nggak akan menilai sesuatu dari harga barang.
FYI, meskipun perempuan itu mengharap diberi kado berlian, tapi sebenarnya dia lebih menghargai ketulusan dan kesetiaan. *ehemmm...
Nah, biar sedikit lebih bermakna dan lebih mudah dikenang, mugnya didesain khusus dong. Atau dikasih tulisan penyemangat gitu. Atau dibikin couple? Wow kan idenya?
Bingung? Serahkan saja pada ahlinya. custombagus.com bisa membantu kamu mendapat desain yang spesial.

Mug Warna Dalam di custombagus.com, cantik

3. Jam Dinding atau Jam Meja
Ini lumayan berhemat juga. Siapa tau pacar kamu nanti beneran jadi istrimu, kamu nggak perlu lagi beli jam dinding untuk rumah kalian. Ya kan?
Tapi tetep, kalau mau makin spesial, kasih kata-kata pengantar dong.
Misalnya nih;
jika kau rindukan aku
dengarlah irama detak di dinding itu
disitu ada detakku
yang juga merindukanmu

*eeaaaa ^_^
Jam Meja Berkualitas by custombagus

4. Payung
Payung? Iya.. Tenang aja, payung juga bisa jadi barang yang spesial koq. Jangan khawatir calon istrimu akan ngambek. Beri dia kata-kata indah. Misalnya; Selagi aku tak ada, biarlah payung ini yang menggantikanku melindungimu dari panas dan hujan.
Gombal banget ya? Haha..iya. Tapi perempuan suka koq digombalin. :D
Dengan memberi kado payung ini, kamu juga bisa ikut memakainya nanti. Dan saat kamu resmi menjadi suami, kamu nggak perlu beli lagi. *iritnya kebangetan >_<



5. Bantal
Sebagai ganti boneka, boleh lah kasih bantal aja. Boneka nggak semua perempuan suka (contohnya saya). Tapi bantal, semua orang membutuhkannya. Iya apa iya? :D

bantal cantik by custombagus

Nah, buat kamu yang isi dompetnya sekarat dan mau hemat, tapi bingung karena si doi mau ulang tahun, cari saja benda yang murah meriah namun bermakna di custombagus.com. 




Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog bersama custombagus.


Read More

Gara-Gara Upin dan Ipin

Tuesday, April 26, 2016



Siapa tak kenal Upin Ipin? Serial animasi yang diimpor dari negeri tetangga ini setiap hari menghiasi layar kaca. Meskipun tak sedikit yang mengkritik acara ini, terutama karena adanya tokoh Bang Sally yang sedikit melambai, tapi jujur saja saya tetap suka dan tetap menyuguhkannya untuk anak-anak.

Memangnya, nggak khawatir anak-anak akan jadi gagap bahasa? Hehe, terus terang, tidak. Malah, anak-anak (Amay khususnya, karena Aga belum bisa bicara), jadi makin bertambah kosa-katanya. Amay jadi tahu bahwa di Malaysia, sepatu disebut kasut, dan sepeda disebut basikal. 

Tentu, sebelumnya saya jelaskan juga bahwa bahasa Melayu sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya pada kata seronok, jika di Indonesia kata ini berkonotasi negatif (meskipun di KBBI, seronok memiliki arti; menyenangkan hati, sedap dilihat), maka di Malaysia sana, kata seronok berarti bahagia. 

Lalu, apa saja sih, pengaruh positif yang saya (dan anak-anak) dapat setelah (ikut) menonton Upin Ipin?

1. Gara-gara Upin Ipin, anak-anak bisa belajar agama dengan mudah. Bagi yang sering menyaksikan acara ini, tentu setuju dengan pernyataan saya. Ya 'kan? Gara-gara mereka berdua, anak saya jadi hapal do'a berbuka puasa, niat berpuasa, huruf hijaiyyah (lagunya kadang diputar di awal acara), mengenal tentang zakat, juga shalat tarawih. Saya tinggal menambahkan sedikit saja.

Kisah dalam Upin Ipin yang menceritakan kejadian sehari-hari membuat kita lebih mudah menangkap ilmu yang diselipkannya dalam dialog maupun dalam adegan demi adegannya. 





2. Gara-gara Upin Ipin, saya jadi tahu bahwa untuk mengeringkan sepatu, kita bisa menaruhnya di belakang peti ice (kulkas). Di sebuah episode dimana Upin dan Ipin kena marah oleh Cikgu Besar karena kuku dan sepatunya kotor, kemudian sepulangnya dari sekolah mereka mencuci sepatunya, namun karena hujan turun dengan derasnya, mereka khawatir sepatu mereka tak akan kering, Opah memberi saran pada mereka berdua untuk menaruh sepatu yang telah dicucinya itu di belakang kulkas. Bisa kering kah? Coba saja! Saya sudah membuktikannya loh, hehe...

3. Gara-gara Upin Ipin, saya jadi rindu dengan permainan masa kecil. Rindu dengan suasana kampung yang saling rukun dan tolong-menolong. Rindu dengan segarnya udara yang tak tercemar polusi. Rindu dengan sempurnanya hidup, meski jauh dari kemudahan teknologi. 

4. Di setiap episode, selalu saja ada ilmu yang dipelajari dan hikmah yang bisa dipetik. Anak-anak jadi tahu sistem tata surya, asal mula pelangi, polusi udara, manfaat buah dan sayur, yang kesemuanya dikisahkan dengan apik dan menarik. Pun soal perjuangan memperoleh sesuatu, seperti ketika Upin dan Ipin membantu Opah mengambil getah karet lalu dengan uang hasil menoreh itu mereka bisa membeli mobil-mobilan baru. 

5. Persahabatan. Ada satu soundtrack Upin Ipin, yang liriknya begitu dalam soal persahabatan;
tiada bukit yang terlalu tinggi
untuk kita daki bersama
dan tak ada laut yang terlalu dalam
untuk diselami
Serial Upin Ipin sesungguhnya mengajarkan kita untuk selalu hidup rukun, berdampingan, meski berbeda suku dan agama. Mei-Mei dan Jarjit juga Raju (sekarang sudah jarang muncul), datang ke rumah Upin Ipin pada saat Hari Raya Idul Fitri. Upin Ipin dan kawan-kawannya pun datang ke rumah Mei-Mei saat Hari Raya / Tahun Baru China. 

Buat kamu-kamu yang udah pada gede, bahkan udah pada punya anak, tapi masih suka rasis, coba contoh Upin Ipin! Malu lah... Lagipula, hidup rukun dan saling menghormati itu lebih membuat bahagia, ya 'kan?




Itu sekelumit yang saya ingat, tentang pengaruh Upin Ipin di kehidupan saya dan anak-anak. Barangkali, ada teman-teman yang merasakan juga, atau mau menambahkan lagi? :)
Harapan saya, di Indonesia akan ada acara yang sarat ilmu dan nasehat seperti Upin Ipin juga nantinya. :)

Read More

Susi Susindra, Sosok Kartini Masa Kini

Sunday, April 24, 2016

Kartini...
Gejolak hati yang ingin merdeka
Merdeka... Bebas dari kungkungan adat
kuno yang tak mau berfikir tinggi
Bebas dari kamar pingitan gadis 
Indonesia.
(Sepotong sajak Raden Ajeng Kartini oleh Tika Diah Savitri, siswi SMP Sumbangsih kelas IA, Jakarta, yang dimuat di harian Kompas, 5 Agustus 1977, halaman 5)

Seperti ingin menyematkan predikat Kartini dalam sosok lain, alam pun menentukan bahwa nama Mbak Susi Ernawati Susindra lah yang keluar dalam arisan link periode IV. Bagaimana tidak? Seperti Kartini, Mbak Susi adalah wanita hebat yang juga berasal dari kota ukir, Jepara. Dan mungkin jika Kartini bisa melihat, beliau akan tersenyum ketika melihat perjuangannya tak sia-sia. Wanita yang dahulu terkungkung dalam batasan-batasan, kini bisa mengukir prestasi dalam berbagai bidang. Mbak Susi, adalah sosok yang mewakili wanita-wanita berprestasi itu.

Susi Susindra atau kerap dijuluki Susi Bukan Menteri, adalah wanita yang multitalenta. Ia adalah seorang penulis, blogger, juga seorang pengusaha. Ssssttt...usahanya bersama sang suami sudah go international lho.. Hmm.. *apa kabar usaha cilokmu, Rin? :p

Saya mengenal beliau sudah lama (meski hanya sebatas di dunia maya), namun benar-benar berkomunikasi secara intens setelah sama-sama tergabung dalam grup V arisan link Blogger Perempuan, dengan beliau sebagai "juru kunci". Yang paling saya ingat tentang beliau adalah sandal ukirnya. Aduh, beneran ya, orang kreatif mah bisaaa aja mengubah barang biasa menjadi lebih bernilai. Dan FYI, belum lama ini beliau juga memberikan sandal ukir pada Dian Sastro loh. Eleuh, keren bener bisa ketemu si Rinta, eh si Cinta ding.. :D


sandal ukir dian sastro, cakep yak?

Mbak Susi ini orangnya humble banget. Nggak percaya? Coba aja pergi ke www.susindra.com dan buka kolom "Saya". Kegiatannya seabrek, tapi di facebooknya, beliau nggak pernah merasa sok sibuk. Beliau ini juga senang membagi ilmu, tanpa sedikit pun terkesan menggurui. Saya yang pernah dikasih pesan dengan "cepretan karet tiga" pun senang-senang saja menerima sarannya. (Kalau istilah Mbak Susi sih "cabenya tiga", tapi karena kalau tobat sambel itu kita ngga akan kapok berbuat "dosa", saya menggantinya dengan istilah "karet tiga", karena langsung kapok, hihi.. Dan saran-saran yang beliau berikan pada saya, sebisa mungkin saya lakukan)

Yang patut dicontoh dari ibu dua orang putra ini (sama dong ya, sekeluarga kita cantik sendiri? hihihi...) adalah, sesibuk apapun, beliau tetap pandai menikmati hidup. Iya lah... Hidup cuma sekali, sayang kalau nggak dinikmati. Mbak Susi sekeluarga, sering sekali jalan-jalan mentadabburi alam. Aiiih, saya jadi merasa makin kurang piknik. >_<

Lihat saja Instagramnya yang beralamat di @susierna1, banyak sekali foto jalan-jalannya. Asik banget yaa..

Susindra family on vacation

Saya sampai heran, nih orang kayak ngga ada capeknya ya... Baterainya full terus (nge-charge-nya pake apa yak? :D). Padahal banyak banget yang harus diurusi. Kalau kemarin banyak yang bilang, saya ini ibu yang multitasking, sebenernya saya mah ngga ada apa-apanya lah dibanding beliau ini. *udah, ngga usah membandingkan diri lagi Rin, kamu mah kalah jauh. >_<

Tapi beneran, senang sekali bisa mengenal Mbak Susi. Masih banyak ilmu yang ingin saya "curi" dari wanita lulusan Pendidikan Bahasa Perancis Universitas Negeri Semarang ini. Tentang menulis, tentang bisnis, juga bahasa Perancis. Supaya saya bisa makin eksis. Halah...is is is is... :D



Read More

3 Hal Ini Telah Menghambat Produktivitas Saya

Wednesday, April 20, 2016

Beberapa hari ini saya merasa kurang produktif. Iya, tidak ada satu judul pun berhasil saya tulis. Sampai akhirnya semalam saya mengevaluasi diri. Dan saya menemukan tiga hal yang membuat waktu saya berlalu sia-sia.

Menyesal? Pasti lah... Apalagi kalau ingat pesan ini;



Untuk mengurangi kesia-siaan, saya pun berjanji pada diri sendiri untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, dan tidak menghabiskan waktu untuk 3 hal yang telah membuat saya jadi kurang produktif. 3 hal itu antara lain;

1. Banyak Tidur
Entahlah, tidur terlalu banyak justru membuat saya lemas dan malas. Ini berawal ketika siang itu saya meninabobokan si bungsu, yang kemudian membuat si sulung dan saya sendiri ikut terbawa mimpi. Padahal saya dan si sulung tuh jaraaaang sekali tidur siang. Dan sekalinya tidur siang kenapa jadi malas begini, ya?

2. Nge-game
Nah ini nih... Beberapa hari lalu saya iseng banget meng-install satu buah game di handphone. Niatnya beneran iseng doang. Dan keisengan saya ini ternyata berhasil membuat saya dan si sulung berebut memainkannya. Apaaaa??? *getokkepalaemak
Benar, game itu "nyandu" banget yah... :'(

3. Ngerumpi
Ada yang asik di perumahan tempat tinggal saya. Lingkungan yang cuma diisi 20an KK karena sistem perumahan yang dibuat cluster memang membuat saya dan para tetangga memiliki hubungan yang dekat, satu dengan yang lainnya. Setiap sore, sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain, kami para mahmud pun berkumpul bersama. Adaaa saja bahan obrolan kita. Dari kesehatan anak-anak, resep masakan, sampai tempat belanja sayur dan pakaian yang murah meriah tapi berkualitas pun kami perbincangkan. Tapiiii...mungkin karena saya ngobrolnya sambil nggendong si bungsu (yang kalau udah kecapean jalan trus maunya digendong), malamnya saya jadi kelelahan. Padahal sih, pas ngerumpi rasa capenya nggak berasa. >_<
Karena kelelahan itulah, "nafsu" menulis pun hilang. Tidak hanya pekerjaan menulis saja yang terabaikan, tapi pekerjaan rumah lainnya juga terlantar. Oohhh... :(

Dan mulai besok, saya akan nimbrung dalam rumpian jika pekerjaan saya telah tunai. :)
Jadiii..pekerjaan oke, hubungan dengan tetangga juga insya Allah tetap terjaga. ;)

Lalu kembali lagi saya menancapkan pesan Ibnu Qayyim rahimahullah, dalam ingatan:
Keuntungan terbesar di dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling utama dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Bagaimana dikatakan berakal seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat yang hanya sesaat? 


Read More

Resep Cakalang Bumbu Rujak a la Opik dan Arin

Saturday, April 16, 2016

3 April lalu, tante Opik (adik bungsu saya), telah berumur 18 tahun. Kami tidak biasa merayakan pesta ulang tahun, namun untuk mengungkapkan rasa syukur, hari itu kami memasak masakan yang berbeda dari biasanya.

Ikan bumbu rujak, pasti semua sudah sering membuatnya kan? Karena kami jarang sekali memasak olahan ikan, maka memasak ikan termasuk momen yang istimewa. :)

Pagi itu, kami mencari ikan kakap merah. Tapi karena stok di tempat langganan sudah habis, ibu penjual ikan menawarkan beberapa jenis ikan yang tersisa, seperti; ikan tuna, cakalang, juga udang dan cumi. Ketika kami mengatakan ingin memasak ikan bumbu rujak, beliau langsung menyarankan untuk menggunakan ikan cakalang. Alasannya, daging ikan cakalang itu tebal.

ikan cakalang. diambil dari cakalang1(dot)blogspot(dot)com
Dan benar saja, saat ibu penjual ikan tadi membersihkan dan mengiriskannya sekalian, kami lihat daging ikan ini memang tebal. Lebih tebal dari ikan kakap. Wow... Baru kali ini kami melihat ikan ini, hihi.. Maklum, tempat tinggal kami jauh dari laut, dan kami sekeluarga juga bukan "pecandu" ikan.

Sampai di rumah, kami segera bersiap memasak. Ikan cakalang yang telah diiris itu kami bersihkan. Kami juga mempersiapkan bumbu-bumbu untuk mengolahnya.

Apa saja bumbu yang diperlukan untuk membuat ikan cakalang bumbu rujak ala kami?
Ini dia:
- 3 siung bawang putih
- 3 butir kemiri
- merica secukupnya
- ketumbar secukupnya
- kunyit, seruas jari
- cabe rawit dan cabe keriting, sesuai selera
- sebatang sereh
- dua lembar daun salam
- dua lembar daun jeruk
- lengkuas
- air asam jawa
- 1 bungkus kecil santan instan
- bawang merah goreng untuk taburan
- 3 sdm minyak untuk menumis

Caranya mudah:
- haluskan bawang putih, kemiri, merica, ketumbar, kunyit dan cabe.
- tumis bumbu halus dengan tiga sendok makan minyak goreng.
- masukkan sereh, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas.
- beri air secukupnya. (kira-kira bisa membuat ikan terendam seluruhnya, karena saya menggunakan santan instan).
- masukkan ikan yang telah diiris tadi, masak hingga terlihat empuk. (ada opsi lain, ikan digoreng terlebih dulu).
- masukkan santan instan dan air asam jawa.
- beri garam, sedikit gula merah (atau bisa juga dengan gula pasir, tapi saya lebih suka gula merah), dan bumbu penyedap.
- aduk-aduk hingga matang.
- masukkan ke mangkuk saji, taburi bawang merah goreng dan irisan tomat.
- ikan cakalang bumbu rujak ala saya dan Opik siap disantap.




Alhamdulillah, hari itu kami makan dengan lahap. :)
Read More