Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Look I'm Very Beautiful

Saturday, February 6, 2021

 

Look, I'm Very Beautiful! 

Eits, jangan sirik dulu. Ini adalah judul buku karya Mbak Afifah Afra yang sudah saya miliki sejak beberapa tahun silam. Saya ingin mengulas sedikit isinya, karena kebetulan isinya ngga jauh-jauh dari "Self Love", sebuah topik yang sedang ramai diperbincangkan.

Btw, ada yang pernah mendapat bully-an karena fisik yang (menurut para pem-bully) ngga sesuai standar kecantikan di dunia? Entah kulit yang hitam lah, rambut keriting lah, gigi yang ngga rapi lah, whatever it is?

Saya pernah. Paling sering karena gigi saya yang ngga rapi. 

Karena kata-kata "gigi maju mundur", "untune jegang", yang sering orang lain ucapkan itu, saya pernah merasa jelek, lho. Ngga sempurna, begitu. Terbukti bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus, tanpa kita sadari bisa membentuk pola pikir dan kepribadian kita. Termasuk omongan orang.

Untuk kalian yang saat ini sedang menerima bully-an seperti itu, jangan diambil hati. Ingat kata Christina Aguilera, "You are beautiful, no matter what they say." Dan yang jelas, mengejek diri sendiri sebagai makhluk jelek, adalah salah satu tindakan kufur kepada Allah.

Coco Chanel mengatakan; "Beauty begins the moment you decide to be yourself."

Jadi sebenarnya, pertanyaan "gimana ya biar aku bisa jadi cantik?" itu, jawabannya mudah sekali. Cukup dengan menjadi diri sendiri.

Nah, untuk bisa menjadi versi terbaik dirimu sendiri, sebelumnya kamu harus paham tentang "Self Concept".

Look I'm Very Beautiful
Look I'm Very Beautiful, gambar diambil dari www.tokoafifahafra.com


Sekarang, ayo kita belajar tentang Konsep Diri / Self Concept!

Konsep diri itu apa?

Konsep diri atau self concept merupakan penggambaran tentang diri kita, serta apa yang kita inginkan tentang diri kita, yang sumbernya bisa berasal dari apa yang kita pikirkan maupun yang orang lain katakan. Tuh kan, konsep diri kita bisa dipengaruhi oleh omongan orang terhadap diri kita.

Konsep diri ada yang bersifat positif, ada juga yang besifat negatif. Untuk mengetahui apakah konsep diri kita positif atau negatif, kita perlu identifikasi dulu self ideal, self factual dan self esteem kita. Wah, apa lagi itu self ideal, self factual, dan self esteem?

Self Ideal, Self Factual, dan Self Esteem

Self Ideal adalah gambaran ideal tentang diri kita, yakni citra seperti apa yang kita inginkan atau kita harapkan. Biasanya, self ideal sangat dipengaruhi oleh sosok panutan kita, meski tidak selalu begitu juga.

Misalnya nih: Arinta yang saya harapkan adalah Arinta yang seorang blogger, pecinta lingkungan sekaligus penghafal Al-Qur'an. Wow yaa... 😂 Mari kita lihat kenyataannya.

Self Factual adalah diri kita yang sebenarnya. 

- Apakah Arinta sudah jadi seorang blogger? Sudah
- Apakah Arinta sudah benar-benar mencintai lingkungan? Sedang menuju ke arah sana. Saat ini sedang membiasakan diri untuk mengolah sampah dapur menjadi kompos, juga sedang berusaha untuk diet plastik meski sulit sekali karena masih suka lupa.
- Apakah sudah hafal Al-Qur'an? Beluuummm... Tapi sedang berusaha ikut menghafal surat-surat yang sedang dihafalkan oleh anak-anak.

Jadi, sudah bisa disimpulkan ya, bahwa self factual saya masih jauh dari self ideal yang saya patok sendiri. Meski begitu, saat ini saya cukup percaya diri dengan apa yang ada di dalam diri saya. Di tulisan selanjutnya, saya akan menulis cara menjadi versi terbaik dirimu sendiri.

Self Esteem

Self ideal dan self factual akan sangat mempengaruhi dosis self esteem (harga diri --> seberapa besar kita menghargai diri sendiri). Semakin dekat self factual dengan self ideal, berarti semakin besar self esteem kita. Rasa percaya diri pun akan terbangun semakin kokoh, dan kita akan pandai mencintai diri kita (Self Love). Inilah yang disebut dengan Konsep Diri Positif.

Jika self factual masih jauh dari self ideal, maka kita akan memiliki self esteem yang rendah. Kita jadi "membenci" diri kita, dan terbitlah rasa minder (underestimated). Berkebalikan dengan underestimated, ada overestimated, yaitu kondisi di mana seseorang merasa self factual-nya mendekati self ideal, padahal sebenarnya belum. Dia memiliki self esteem yang tinggi, meski kenyataannya palsu. Dengan kata lain, orangnya "kepedean".

Baik underestimated maupun overestimated, keduanya merupakan Konsep Diri Negatif.

Di halaman 29, Mbak Afifah Afra menuliskan; "Self Ideal yang ideal, mestinya adalah sesuatu yang digali dari diri kita sendiri. Kelebihan kita. Kita harus menjadi diri sendiri. Be yourself. Kun anta tazdada jamala."

Mungkin ada yang bertanya, apa artinya kun anta tazdada jamala? Kun anta tazdada jamala artinya kurang lebih begini; Jadilah dirimu sendiri, niscaya kamu akan menjadi cantik dengan sendirinya. Ini sejalan dengan pesan dari seorang Thich Nhat Hanh;

To be beautiful means to be yourself. You don't need to be accepted by others. You need to accept yourself. 

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara membangun konsep diri yang positif? Untuk membangun konsep diri yang positif, harus diawali dengan "Mengenal Diri Sendiri". Jadi, sudahkah kamu mengenal dirimu sendiri?


Read More

Bukti Nyata Kehadiran Allah untuk Hamba yang Membutuhkan-Nya

Saturday, November 21, 2020


Tulisan ini dibuat karena untuk ke sekian kalinya, saya merasakan pertolongan Allah yang benar-benar nyata. Saya  sampai tergugu, betapa baiknya Allah pada kami semua. Allah menyediakan semua hal yang kami butuhkan, bahkan lewat jalan yang tak pernah kami sangka sebelumnya.

Baca: Heart Field; Usaha Saya Mengganti Kecewa dengan Rasa Bahagia

~

Pandemi corona memang berdampak pada mayoritas penduduk dunia. Termasuk juga pada suami saya. Tapi saya tak ingin mengeluh, karena saya tahu di luar sana masih banyak yang mengalami hal lebih buruk dari kami. Maka dari itu, ketika kami membutuhkan sesuatu, kami jadi lebih intens berharap akan pertolongan-Nya. 

Saya teringat pesan dari Ustadz Yusuf Mansur; Ketika kita butuh sesuatu, langsung ingat Allah. Jangan langsung cari pertolongan kepada manusia! Malu! Kita punya Allah yang lebih punya segala-galanya.

Kalimat itu senantiasa saya pegang, sehingga berhutang pada manusia adalah pilihan terakhir. Jadi, saat membutuhkan biaya untuk ini itu, saya cuma minta pada Allah. Tak hanya berdoa setelah selesai sholat, tetapi saya melangitkan pinta setiap saat saya teringat. Entah sambil mencuci piring, memasak, beberes rumah, apapun.

Selain itu, tentu teman-teman sudah banyak yang tahu, saat punya hajat, sholatlah. Ingin dicukupkan rezekinya, sholat adalah salah satu sarananya (dhuha, hajat, tahajud). Jangan lupa baca Al-Qur'an juga sebagai penenang. Jika hati tenang, pikiran juga jadi lebih positif, tak menyisakan ruang untuk berprasangka negatif. Ini penting, karena Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya, bukan?

Manfaat membaca Surat Al-Waqi'ah

Baca ini deh: Lelah Jadi Sobat Misqueen? Ini Bacaan Agar Kita Bisa Jadi Orang Kaya

Oya, mungkin teman-teman penasaran, momen Allah sebagai "penyelamat" itu bagaimana ceritanya?

Jadi begini... Karena pandemi corona, penghasilan suami mengalami pemangkasan. Tidak hanya uang makan dan uang pulsa - internet - listrik saja yang dihilangkan, tetapi bonus di tiap proyek pun ditiadakan. Artinya, setiap bulan kami harus bertahan dengan gaji pokok saja.

Tak cukup di situ, saat lebaran tiba, uang THR pun tak ada. Iya sih, kami tidak mudik, tetapi kebutuhan lebaran tak hanya sekadar mudik saja to? Bukan baju, bukan pula kue-kue, tapi ada pos lain yang tidak bisa di-skip. 

Nah, saat dapat kabar bahwa THR dari kantor ditiadakan, saya hanya terdiam. Saya tidak ingin mengomel panjang lebar, karena suami pun tentu tidak menginginkan hal ini. Lagipula, mengomel untuk hal seperti ini hanya buang-buang energi. Apalagi saat itu sedang Ramadhan, saatnya kita berlatih untuk "menahan".

Sembari menyelesaikan target khatam, saya pun memohon keluasan rezeki dari-Nya. Dan di suatu hari, selepas dhuha, suami menghampiri saya. Ia berbisik, "Alhamdulillah, Papa dapat transferan dari X untuk proyek yang ini (proyek di luar kantor), segini."

Dengan masih mengenakan mukena, saya menangis. Menangis karena semakin tersadar betapa Allah sangat mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Ya Allah, terima kasih, terima kasih banyak... Jika mengingat peristiwa itu kembali, saya pasti langsung merinding.

Baca juga: Kapan Do'a Dikabulkan?

Setelah itu masih banyak momen lainnya yang akan sangat panjang jika ditulis satu per satu. Yang terbaru adalah saat kami membutuhkan biaya untuk Aga masuk SD. Ceritanya, kami sengaja mendaftar jauh-jauh hari, demi mendapatkan diskon Uang Gedung sebesar 50%. Potongan biaya ini berbatas waktu, tentu saja.

Jujur, tabungan kami masih kurang, sampai akhirnya Allah memberi pertolongan. Allah mendatangkan klien yang baik hati, yang membayar tagihan tepat waktu. Padahal sesungguhnya, saat itu kami mengharapkan pemasukan dari klien lama, tetapi yang diharap-harap justru tidak tanggap. Namun, peristiwa ini justru membuat kami menjadi semakin yakin bahwa Allah adalah penggerak segalanya. Semua terjadi atas kehendak-Nya.

Q.S. Al-Baqarah: 216
Q.S. Al Baqarah: 216

Setelah semua terkuras sementara kami masih memiliki beberapa keperluan, nikmat Allah kembali datang. Allah menangkan suami saya di sayembara desain logo Kopi Purworejo. Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah... Pertolongan Allah memang selalu tepat waktu. Semoga dengan ini kami semakin beriman dan bertakwa pada-Nya. Aamiin.

Baca juga: 5 Hal yang Menyebabkan Do'a Tak Kunjung Dikabulkan

Lalu, setelah semua Allah penuhi, apakah sholat dhuha dan mengajinya berhenti? Jangaaan. Kalau behenti, namanya kurang ajar, masa datang pas sedang butuh doang? Sholat sunnahnya harus tetap dilakukan, sebagai bentuk terima kasih karena Allah selalu mencukupi kebutuhan kita. So, teman-teman, yuk, ingat pesan Ustadz YM. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. :)



Read More

Jadi Kuntilanak karena Tak Mau Sholat

Wednesday, October 14, 2020


Bagaimana perasaan kalian jika mengetahui salah satu anggota keluarga kalian yang sudah meninggal, berubah menjadi hantu? Sedih pasti. Inilah yang terjadi pada Risa Saraswati dan keluarganya. Salah seorang kerabat mereka (masih bisa dipanggil nenek), berubah menjadi sesosok kuntilanak yang menyeramkan. Konon penyebabnya adalah karena ia tak pernah mau beribadah (sholat).

Teman-teman yang suka membaca blog ini pasti tahu kalau saya adalah penyuka konten horor. Saya bahkan pernah menulis tentang 3 Channel horor favorit di YouTube, dan salah satunya adalah channel Jurnalrisa.

Baca: 3 Channel Horor di YouTube Favorit Kayusirih

Di episode #TanyaRisa kemarin, tepatnya tanggal 13 Oktober 2020, terungkap sebuah kisah yang menyeramkan sekaligus menyedihkan. Seram, karena ternyata, dari tayangan ini tuh kita seperti diberikan gambaran bahwa siksa kubur itu bukan sekadar ancaman kosong belaka. Sedih, karena saya jadi membayangkan jika saya berada di posisi anak cucu sosok "dia yang tak boleh disebutkan namanya" itu. Mau menolong pun tidak bisa, karena kembali lagi, pada akhirnya kita sendiri lah yang akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat selama di dunia.

episode paling menyeramkan jurnalrisa
episode Jurnalrisa paling menyeramkan

Biar ada sedikit gambaran, saya ceritakan sedikit, yaa...

Jadi, Risa punya kerabat yang masih bisa disebut nenek, dan sebenarnya beliau ini adalah seorang yang baik. Namun, satu kekurangannya adalah, beliau tidak mau mengerjakan shalat. Semua saudara sudah menasehati, bahkan nenek Risa (Mak Uwat) sampai menghadiahi beliau mukena dan sajadah, dengan harapan agar beliau mau mengerjakan shalat. Sayangnya, ajakan untuk beribadah ini ditolak. Bahkan beliau ini berkata kurang lebih begini: Kalian aja yang ke surga, saya mah mau ke sawah lega aja.

Suatu hari, beliau meninggal dunia. Teror pun bermula. Sehari setelah beliau dimakamkan, malamnya beliau "mengunjungi" seluruh keluarga dengan menggedor-gedor pintu dan menampakkan wujudnya yang terlihat sangat memprihatinkan. Teror ini berlangsung hingga beberapa hari, sampai seluruh keluarga sudah merasa terganggu, bahkan trauma. 

Kakek Risa pun mengajak sosok ini untuk berbicara dengan cara mediasi (tontonlah Jurnalrisa hingga beberapa episode, supaya paham mediasi itu seperti apa). Nah, dari mediasi itu, si nenek ini bercerita bahwa beliau disiksa oleh entah siapa (malaikat mungkin ya), dengan mukena dan sajadah pemberian Mak Uwat.

episode terseram Jurnalrisa

Huhu, seram yaa... 

Sungguh, tayangan Jurnalrisa episode ini membuat saya belajar banyak hal. Pertama, bagaimana kehidupan kita di akhirat nanti, tergantung pada amalan kita di dunia ini. Kedua, ketika nyawa sudah terpisah dari badan, tak akan berguna semua penyesalan. Ketiga, tidak semua bisa dibantu dengan doa, terutama bagi mereka yang tidak ada setitik pun iman di dalam hatinya.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa hablum minannas saja tak cukup. Kita harus memperhatikan hubungan kita dengan Allah (hablum minallah) juga. Memang, shalat tidak menjadi jaminan apakah kita akan menjadi ahli surga nantinya. Namun, setidaknya kita punya ikhtiar untuk mendapatkannya. Apalagi shalat merupakan ibadah mahdhah yang pertama kali dihisab, bukan?


Read More

Bacaan Gharib: Saktah, Tashil, Imalah, Isymam, dan Naql

Friday, May 29, 2020


Assalamu'alaikum, teman-teman... Bagaimana Ramadhan kemarin? Target khatamnya bisa terpenuhi? Bisa dong ya, insya Allah. Omong-omong, pasti saat tadarus secara intens di Ramadhan kemarin, teman-teman sempat ketemu dengan Saktah, Tashil, dan kawan-kawannya kan? Kali ini saya mau bahas tentang tata cara membaca bacaan Gharib pada Al-Qur'an ini.

Sebelum ke Saktah, Tashil, dkk, saya mau cerita dulu nih.

Jadi belasan tahun silam, saat ngaji bareng ibu-ibu kompleks di Cilebut, Bogor, oleh ustadz Na'im saya diminta untuk membaca potongan Surah Yasin. Ketika sampai di sebuah ayat, guru saya yang saya panggil Ummi, memotong,

"Arin, itu Saktah." Kata beliau.

Saya bingung. Saktah? Baru denger, Ya Allah.

Tahu saya kebingungan, Ummi pun menjelaskan, "Kalau ketemu Saktah, berhenti 2-4 harakat, tapi jangan nafas."

Setelah itu, saya pun melanjutkan bacaan sesuai dengan arahan beliau. Oya, ayat yang saya maksud adalah ini;

Bacaan Saktah
Waktu itu saya malu banget, merasa bodoh karena ilmu saya ngga sebanding dengan jilbab yang saya kenakan. Namun, sekarang saya malah bersyukur. Alhamdulillah, saat itu saya tidak menolak saat disuruh membaca, sehingga saya tahu di mana letak kesalahan saya. Alhamdulillah lagi, guru saya langsung memberi penjelasan tentang Saktah saat itu juga, dan itu melekat pada saya sampai hari ini. :)
 

Nah, sekarang kita bahas tentang Saktah, Tashil, dkk, yuk! Sebenarnya, Saktah dan Tashil merupakan salah dua dari 5 jenis bacaan Gharib. Bacaan Gharib itu apa saja?

1. Saktah

Saktah artinya diam atau tidak bergerak. Pada saat menemui bacaan Saktah, yang kita lakukan adalah berhenti sejenak sebelum membaca bacaan berikutnya, tanpa mengambil nafas selama 2 sampai 4 harakat.

Bacaan Saktah contohnya ada di Surat Yasin di atas. Ada juga di Q.S. Al-Muthaffifiin ayat 14. 

Bacaan Saktah
Setelah mengetahui tata cara membaca bacaan Saktah, semoga nanti ketika teman-teman tadarus, teman-teman bisa mempraktikkannya, yaa.. 😊
 

2. Tashil

Tashil secara bahasa berarti memberikan kemudahan atau keringanan, atau dengan kata lain menyederhanakan. Secara istilah, Tashil adalah membaca antara hamzah dan alif. Tashil dibaca dengan meringankan bacaan hamzah yang kedua.

Bacaan Tashil ada di Q.S. Fussilat ayat 44. 

Tashil


Mengutip pontren.com, mengapa bisa ada bacaan tashil, karena apabila ada dua hamzah qatha' bertemu dan berurutan pada satu lafadz, bagi lisan orang Arab akan terasa berat melafadzkannya, sehingga lafadz tersebut ditashilkan atau diringankan.

3. Imalah

Selanjutnya adalah Imalah. Imalah artinya memiringkan. Bacaan Imalah ada pada Q.S. Hud ayat 41.

Bacaan Imalah
Pada bagian ini, lafadz "majroha" dibaca "majreha".

Mengapa lafadz "majroha" diimalahkan? Mengutip pontren.com, salah satu alasannya adalah sebagai pembeda, sebab "majroha" berarti berjalan di darat, sedangkan di ayat tersebut, konteksnya adalah perjalanan di permukaan air. Kecenderungan perjalanan di permukaan air adalah tidak stabil (terkadang diterjang ombak kecil, ombak besar, atau terhempas angin), tidak seperti perjalanan darat. Sehingga, lafadz "majroha" pun diimalahkan.

4. Isymam

Isymam secara bahasa, memiliki arti menggabungkan, memadukan atau mencampurkan. Secara istilah, isymam adalah menghimpun dua bibir untuk mengiringi huruf yang sukun sebagai isyarat dhammah dengan tanpa suara atau nafas. 

Bacaan isymam ada di Q.S. Yusuf ayat 11. 

Bacaan Gharib

Lafadz "manna" dibaca seolah bibir mengucapkan "manuna", namun "nu"nya hanya sekadar diisyaratkan dengan memanyunkan/memajukan bibir.

5. Naql

Naql artinya memindah. Secara istilah, Naql berarti memindahkan harakat ke huruf sebelumnya. Naql terdapat di Q.S. Al-Hujurat ayat 11. 

Naql

Pada lafadz yang saya lingkari, "bi' sal ismu" dibaca "bi'salismu". Jadi, hamzah washal yang mengapit huruf lam tidak perlu dibaca. Sehingga, benar bila tujuan bacaan Naql adalah untuk memudahkan dalam membacanya.


Nah, teman-teman, kita sudah belajar tentang bacaan Gharib hari ini. Nanti pada saat mengajari anak-anak mengaji, insya Allah kita bisa ajarkan pada anak-anak juga ilmunya. Oya, tulisan di atas saya rangkum dari beberapa sumber, terutama pontren.com, yaa.. Tulisan ini juga sekaligus menjadi motivasi bagi saya, supaya saya semakin rajin mempelajari Al-Qur'an setiap harinya. Semoga bermanfaat, yaa.. Kalau ada yang mau menambahkan, jangan ragu untuk berkomentar, yaa.. 😊



Read More

Simpan, Jangan Kau Habiskan! Berikut Ini Tuntunan Islam dalam Mengatur Keuangan

Monday, February 10, 2020


Pernah baca dongeng tentang seekor semut yang pandai berhemat? Ceritanya patut kita teladani, lho! Ya, meski hanya dongeng, tapi kan dongeng memang dibuat selain untuk hiburan, juga sekaligus untuk menyampaikan nilai-nilai moral yang bermanfaat dalam kehidupan. Dan dari dongeng tentang semut yang pandai berhemat itu, kita diingatkan tentang pentingnya mengelola rezeki dari Tuhan.

*

Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja dan melarang kegiatan meminta-minta atau menggantungkan hidup kepada orang lain. Karena itu, bijak dalam mengatur keuangan, adalah poin penting untuk bisa meraih kemandirian ekonomi. Bagaimanakah tuntunan Islam dalam mengatur keuangan?

1. Menabung

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda : "Simpanlah sebagian dari hartamu untuk kebaikan masa depanmu, karena itu jauh lebih baik bagimu." (H.R. Bukhari)

Dalam hadits lain, "Rasulullah menyimpan makanan untuk kebutuhan keluarga selama setahun." (H.R. Bukhari no 2904 dan Muslim no 1757)

Dari dua hadits di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk menyimpan rezeki yang kita dapatkan untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Jadi, ketika diberi rezeki lebih, sebaiknya jangan terburu nafsu untuk menghambur-hamburkan uang, karena belum tentu di masa yang akan datang kita akan mendapatkan rezeki dengan jumlah yang sama. Untuk itu, berhematlah, menabunglah. Jangan sampai, ketika kita diuji dengan masa "paceklik", kita jadi kebingungan, dan bersusah-susah mencari utangan. Na'udzubillahi min dzalik.


2. Hidup Sederhana

Hidup secara sederhana bukanlah sesuatu yang hina. Islam bahkan melarang umatnya untuk bersikap berlebih-lebihan. Ketika membelanjakan uang, belilah sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan bukan berdasarkan keinginan. Artinya, hindarilah membeli sesuatu yang tidak benar-benar kita perlukan. Tapi bukan berarti harus kikir juga, yaa.. Sewajarnya saja.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Furqon ayat 67; "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih)  orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, di antara keduanya secara wajar."


3. Kurangi Kebiasaan Berutang

Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Rezeki bisa datang tiba-tiba, begitu pula dengan musibah. Saat terdesak, tidak ada pegangan, mungkin berutang bisa jadi jalan keluar. Islam memang memperbolehkan utang-piutang dalam keadaan darurat. Namun, harus diingat bahwa utang sebaiknya hanya dilakukan dalam kondisi terdesak/kepepet/terpaksa, dan bukan untuk tujuan konsumtif.

Mengutip muslim.or.id, Umar bin Abdul Aziz berkata,
"Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berutang, meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya utang adalah kehinaan di siang hari dan kesengsaraan di malam hari. Tinggalkanlah ia, niscaya martabat dan harga diri kalian akan selamat, dan masih tersisa kemuliaan bagi kalian di tengah-tengah manusia selama kalian hidup." (Umar bin Abdul Aziz Ma'alim Al Ishlah wa At Tajdid, 2/71)

Cara Mengatur Keuangan Sesuai Ajaran Islam
"lebih baik bersusah-susah menyimpan daripada harus susah-susah cari utangan"

Namun, bagi yang berutang memang karena desakan kebutuhan, dan benar-benar berniat untuk mengembalikan utangnya, insya Allah akan diberi kemudahan oleh Allah dalam membayarnya. Bismillah, yaa... Semoga ke depannya kita diberi rezeki yang lebih baik lagi. Aamiin YRA.


4. Sedekah

Tak akan miskin orang yang menyedekahkan rezekinya di jalan Allah. Jika teman-teman masih ragu bahwa Allah akan melipatgandakan apa yang sudah kita keluarkan, silakan baca-baca kisah "Keajaiban Sedekah". Bukan. Bukan untuk membelokkan niat sedekah kita, tetapi untuk menguatkan niat bahwa berbagi tak akan membuat kita merugi.

Baca: Jangan Takut Berbagi, Banyak Hal Bisa Kita Raih Setelah Kita Ikhlas Memberi


5. Rumus 1-1-1

Untuk teman-teman yang menjalankan bisnis, kalian bisa meniru cara sahabat Nabi yaitu Salman al-Farisi dalam mengelola keuangannya. Metode beliau ini dikenal dengan formula atau rumus 1-1-1. Dengan modal 1 dirham, beliau membuat anyaman dan dijual dengan harga 3 dirham. 1 dirham digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, 1 dirham untuk sedekah, dan 1 dirham sisanya digunakan kembali untuk modal.

Beliau ini luar biasa. Saya? Belum tentu bisa ikhlas menyedekahkan 1/3 bagian dari rezeki, apalagi sampai melakukannya setiap hari. Tapi bismillah lah yaa... Tak perlu langsung 1/3 dari penghasilan, 2,5% saja dulu, lalu rutinkan agar menjadi sebuah kebiasaan.

Maka, lakukan saja nasihat manis di bawah ini:
Saat Allah naikkan level keuanganmu, jangan naikkan level gaya hidupmu, tapi naikkanlah level sedekahmu.

Bila formula 1-1-1 masih dirasa berat karena, ya, siapalah kita dibanding Salman al-Farisi? Maqom-nya beda jauh kan? Nah, mungkin rumus 50-30-20 bisa kita terapkan. Jadi, 50% untuk biaya hidup (makan, listrik, sekolah anak, termasuk cicilan rumah juga), 30% untuk tabungan, 20% sisanya untuk hiburan (misal untuk persiapan jalan-jalan, mudik, belanja baju, sepatu, dan lainnya, termasuk sedekah).

Cara Simple Mengatur Keuangan
Alokasi Gaji, source: Instagram @zapfinance


Begitu kira-kira tuntunan Islam dalam mengatur keuangan. Intinya mah, jangan boros, hidup seadanya saja, jangan ngada-ngadain. Jangan lupa juga untuk menabung dan bersedekah. Yang paling penting dari itu semua adalah, selalu ingat sama Allah. Ingat bahwa semua ini hanya titipan, dan kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah Dia titipkan pada kita. So, jangan sombong karena Allah bisa dengan mudah membalikkan keadaan. ❤




Read More

Lelah Jadi Sobat Misqueen? Ini Bacaan Agar Kita Bisa Jadi Orang Kaya

Wednesday, January 1, 2020


Ini adalah tulisan pertama di tahun 2020, dan ditulis di hari pertama di tahun ini. Sebagai permulaan, tentu saya ingin membagikan tulisan yang mengandung optimisme, agar hari-hari yang akan kita jalani ke depannya dipenuhi dengan semangat dalam berkarya, sehingga kesuksesan yang kita impikan pun bisa kita raih. Makanya, saya membuat tulisan tentang amalan atau do'a atau bacaan yang bisa membuat kita kaya dan terhindar dari kemiskinan. Namun, bak sebuah antitesis, inginnya mau optimis, tapi keadaan di depan mata malah bikin meringis.

Qodarullah, tepat di malam tahun baru, hujan membasahi beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan, cukup banyak pula daerah yang terendam banjir karena hujan yang tak kunjung reda. Banyak yang akhirnya mengeluhkan kedatangan hujan, yang di musim kemarau lalu begitu dinanti-nantikan. Astaghfirullah... Lalu, bolehkah kita mencela turunnya hujan?

Saya jadi teringat ketika beberapa hari lalu turun hujan pula di Majalengka. Ba'da sholat ashar, saya buka Al-Qur'an dan membaca Surah Al-Waqi'ah. Ketika membaca Surat Al-Waqi'ah di sore itu, jika biasanya saya hanya membaca saja tanpa berusaha mencari tahu artinya, kali itu mata saya tertuju ke ayat 82. Saya pun membaca artinya,

"dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan-Nya." (Q.S Al-Waqi'ah : 82)

Kebetulan di mushaf yang saya baca, terdapat Asbabun Nuzul atau sebab turunnya sebuah ayat. Dan sebab turunnya ayat 82 dari Surat Al-Waqi'ah adalah sebagai berikut;

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa pada suatu hari saat hujan turun, Rasulullah bersabda, "Di antara manusia, ada yang bersyukur dan ada yang tidak bersyukur ketika hujan." Beberapa orang berkata ini adalah rahmat dari Allah, sebagian yang lain berkata, sungguh tepat benar ramalan si fulan. 

Kemudian turunlah ayat ini. "Wa taj'aluuna rizqokum annakum tukadzdzibuun."

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik untukmu
Selalu ada hikmah di balik musibah. Source www.mamakepiting.com.

Ya, terkadang tanpa sadar kita memang menjadi hamba yang kufur terhadap ni'mat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Termasuk ketika kita mengutuki turunnya hujan. Padahal, Allah telah berfirman dalam Q.S. Qaf ayat 9;
"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (Q.S. Qaf ayat 9)

Membaca tulisan di atas, mungkin teman-teman yang terdampak banjir akan berkomentar, memang banjir ada manfaatnya?

Sebagai seorang yang beriman, kita harus meyakini bahwa di balik sebuah musibah, pastilah terkandung hikmah. Mungkin, dari musibah ini Allah ingin kita berbuat baik kepada bumi, tempat kita tinggal. Tidak membuang sampah sembarangan lagi, tidak menebang hutan secara liar lagi, tidak boros-boros air lagi, dll. Dari kejadian ini, semoga kita dapat mengambil pelajaran. Aamiin YRA.

Jadi, jangan mencela hujan lagi ya, teman. Jika kita khawatir hujan yang berlebihan akan menimbulkan kesengsaraan, lebih baik berdo'a seperti ini:

للَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

(Allahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa, Allahumma 'alal aakaami wadz dzirabi wa buthunil awdiyati wa manabitisy syajari)
"Ya Allah, hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya Allah, berilah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan."

Mari kita pandang segala sesuatu dari sisi positif. Turunnya hujan berarti turunnya rahmat. Hujan yang berlimpah, insya Allah berlimpah pula rahmat Allah. Bila perlu, sedia banyak ember di rumah untuk menampung air hujan. Menampung air hujan sama dengan menampung rezeki dari Tuhan. Insya Allah, cara ini selain bisa mengantisipasi kekeringan juga bisa mengurangi risiko banjir.

Baca : Tampung Air Hujan, Antisipasi Kekeringan

Omong-omong tentang Surah Al-Waqi'ah, setahun belakangan ini saya memang rajin membaca surah ini, mematuhi nasihat Omanya Mas Yopie. Kata beliau, "Tiap habis ashar kalau bisa baca Surat Al-Waqi'ah, biar lancar rezekinya suami."

Awalnya saya kurang yakin, sampai suatu hari ketika membuka instagram, saya membaca manfaat membaca Surat Al-Waqi'ah, yaitu;
  1. Dijauhkan dari kemiskinan
  2. Harta yang barokah dan melimpah
  3. Ditunaikan hajat yang berhubungan dengan rezeki
  4. Dijadikan orang yang dermawan

manfaat rutin membaca surat al-waqi'ah
Surat Al-Waqi'ah menjauhkan diri dari kemiskinan. Source: instagram @kampung.islami

Ah, Oma memang luar biasa. Kita yang muda seringnya merasa lebih pintar dan lebih tahu darinya. Hmm, jadi malu rasanya.

Sejak itulah, saya usahakan setiap hari membaca surat ini. Sebagai istri yang tidak bekerja, tak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu suami. Padahal, saat ini kebutuhan ekonomi semakin meningkat, seiring dengan bertambah besarnya anak-anak. Maka dari itu, saya berusaha membantu sebisa saya. Karena hal yang paling mudah adalah berdo'a, maka saya harus rajin berdo'a untuk kesehatan suami saya, juga untuk kelancaran pekerjaannya.

Semoga kita bisa mengamalkan membaca Surat Al-Waqi'ah setiap hari, agar kita bisa menjadi orang yang kaya hati, dan terhindar dari kemiskinan serta kefakiran. Aamiin YRA. Untuk saya pribadi, setelah rutin membaca Surat Al-Waqi'ah ini, alhamdulillah selalu dimudahkan segala keperluannya. Memang belum sekaya Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, tapi setidaknya hutang-hutang mulai berkurang. Alhamdulillah. Allah memang tak pernah ingkar janji. :)




Read More

Banyak Masalah yang Sulit Diatasi? Please, Jangan Bunuh Diri!

Thursday, July 4, 2019


Belum lama penggemar Drama Korea dibuat sedih oleh kabar perpisahan Song Song Couple, beberapa hari lalu K-Lovers kembali berduka karena meninggalnya Jeon Mi-seon. Walau saya tak mengerti banyak tentang Jeon Mi-seon, tapi saya ingat betul dengan wajahnya, karena saya sempat mengikuti drama televisi berjudul Bread, Love and Dream yang ditayangkan di Indosiar 2010 lalu. Di serial yang juga dikenal dengan judul lain yaitu "King of Baking, Kim Tak Gu" itu, Jeong Mi-seon berperan sebagai ibu dari Kim Tak Gu. 

Yang membuat sedih dan mendorong saya untuk menulis di sini adalah tentang bagaimana Jeon Mi-seon meninggal. Di berita online yang saya baca, Jeon Mi-seon dikabarkan sedang mengalami depresi setelah kepergian salah satu anggota keluarganya. Hal inilah yang diduga kuat mendorongnya mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di toilet tempat ia menginap pada tanggal 29 Juni lalu.


Jeon Mi Sun



Depresi memang tak bisa dianggap sepele. Secara fisik memang tidak terlihat kesakitan, tetapi efeknya bisa mengakibatkan kematian.


Omong-omong soal bunuh diri, saya jadi ingat YouTube-nya Risa Saraswati. Beberapa kali ada "sesuatu" yang memasuki tubuh tim #JurnalRisa dan mereka bercerita bagaimana mereka kehilangan nyawa. Tak sedikit yang diketahui meninggal karena bunuh diri.

Oya, tentang #JurnalRisa, postingan Wina Natalia di instagram yang sedang membahas sosok William lah yang akhirnya membawa saya ke sini. Sebelumnya memang saya tidak tertarik menontonnya karena saya kira #JurnalRisa sama seperti konten horor kebanyakan, yang cuma pengen bikin kita deg-degan. Tapi setelah saya lihat satu per satu, ternyata anggapan saya keliru.

Ya, mungkin akan ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, tapi yang saya rasakan, konten #JurnalRisa ada banyak hikmahnya. Coba deh, sempatkan untuk menonton satu judul saja, jika bermanfaat, lanjutkan menonton konten lainnya, tapi jika tidak, tinggalkan saja. That simple!





Yang saya capture di atas, adalah salah satu yang merasakan manfaat dari menonton acara #JurnalRisa.

Risa Saraswati dan sepupu-sepupunya sering berdialog dengan mereka yang berada di lain dunia dengan kita. Entah di episode yang mana, saya lupa, saat itu ada yang masuk ke tubuh salah satu tim, dan ternyata dia adalah Noni Belanda. Noni ini menangis saat menceritakan kisah masa lalunya. Jadi sebenarnya, meskipun dia adalah keturunan Belanda, tapi ia tidak suka dengan apa yang dilakukan Belanda pada Pribumi. Ia malah banyak membantu orang-orang pribumi. 

Namun, suatu hari ia dijebak (ada pribumi yang minta tolong padanya, dan karena ia memang suka menolong, maka dia tidak menaruh curiga) untuk masuk ke suatu tempat di mana telah banyak pribumi yang sudah menunggunya. Ya, pribumi-pribumi melakukan hal yang tak senonoh padanya, sampai kemudian ia meninggal. 

Pada saat masuk ke tubuh tim Risa, ia berulang kali berkata, "Saya tidak sama dengan mereka (dengan Belanda lainnya)." Nah, karena iba, akhirnya ia pun dibawa oleh Risa dan papa. Siapa itu papa? Tonton terus, nanti kalian akan mengerti. :)


Risa Saraswati



Tapi tidak semuanya bisa dibantu.

Suatu kali ada Mbak Kunti memasuki tubuh Riri, adiknya Risa. Lehernya tidak bisa ditegakkan. Ia menangis minta tolong. Tapi karena Risa melihat leher itu patah karena ia gantung diri, Risa mengatakan tak bisa membantu, karena apa yang ia alami saat ini adalah hasil dari perbuatannya sendiri.

Di lain episode, saat Risa menyusuri rel kereta di daerah Bandung, ada juga sosok lain yang memasuki tubuh salah satu tim. Sosok itu terlihat menyesal, dikiranya dengan menabrakkan diri ke kereta api, semua masalahnya bisa selesai. Ternyata tidak sama sekali. Malah kini ia harus menjalani hasil perbuatannya itu, tanpa tahu hingga kapan akan berakhir. 

Ya, bunuh diri adalah tindakan terlarang, karena itu berarti mendahului takdir.

Allah berfirman dalam Q.S. An Nisa' ayat 29: "... dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu."

Tidak ada masalah yang tak bisa selesai. Mohonlah pada-Nya agar semua bisa terurai. Yang perlu kita lakukan adalah sabar dan tawakkal, karena Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Allah berfirman dalam Q.S. Ath-Thalaq ayat 2: "Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar."


Carilah pertolongan, kepada keluarga, teman, atau pemuka agama. Bila perlu, pergilah ke psikiater. Yang pasti, bunuh diri bukanlah cara terbaik. Kalian keliru jika menganggap bahwa setelah bunuh diri, semua derita akan berakhir. Tidak. Kematian bukanlah akhir. Bahkan ia adalah awal dari kehidupan akhirat yang lebih kekal.

Jangan menyerah, jangan merasa lemah.

Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita agar tetap berjalan di jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin YRA. 





Read More

Beberapa Ide Berbagi Kebaikan di Bulan Ramadan

Wednesday, May 22, 2019


Bulan Ramadan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan. Menurut Wikipedia, Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab yaitu ramida atau ar-ramad, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Al-Qurthubi menjelaskan dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/291, "Dinamakan bulan Ramadhan karena ia menggugurkan/membakar dosa-dosa dengan amal shalih." Maka wajar jika umat muslim berlomba-lomba untuk berbagi kebaikan di bulan yang mulia ini.

Nah, kayusirih punya beberapa ide berbagi baik yang bisa teman-teman lakukan untuk menambah amalan baik di bulan Ramadhan. Ya, selain amalan-amalan wajib yaitu shalat dan puasa, ada hal-hal yang mungkin terlihat kecil bagi kita, namun jika kita ikhlas melakukannya, insya Allah kita akan memperoleh keberkahan.

1. Mendoakan Orang Lain

Berdoa merupakan salah satu ibadah termudah. Dan doa orang yang berpuasa, adalah salah satu dari tiga golongan doa yang tidak tertolak. Maka dari itu, manfaatkanlah momentum ramadan ini untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Allah sudah berjanji bahwa Dia pasti akan mengabulkan doa kita, meski kita tak pernah diberi tahu kapan Dia akan mengabulkannya.

Baca juga : Kapan Do'a Dikabulkan?


doa yang mustajabah


Nah, setelah mengetahui keutamaan berdoa di bulan ramadan, jangan pelit untuk mendoakan sesama, ya, teman-teman. Ibarat pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, sesungguhnya memiliki makna yang sama. Tak hanya bemanfaat untuk orang yang didoakan saja, namun doa itu pun akan kembali kepada kita.

Rasulllah SAW bersabda, "Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat 'Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu'." (HR Muslim: 4094)

2. Memudahkan Urusan Orang Lain

Terkadang, untuk menunjukkan superioritas, seseorang kemudian mempersulit urusan orang lain. Padahal sikap seperti ini merupakan suatu contoh kemudharatan. Ada dua bentuk kemudharatan yang harus kita tahu dan sebisa mungkin harus kita hindari, yaitu;

- Bentuk pertama --> Menghalangi mashlahat yang seharusnya diterima oleh orang lain.
- Bentuk kedua --> Memberi kemudharatan secara langsung kepada orang lain, seperti mengganggu atau menyakiti atau membuat cemas, dll.

Satu nasihat kecil yang berbunyi "jika tidak mampu membuat orang lain bahagia, setidaknya jangan membuatnya sedih" sebaiknya harus kita jadikan gaya hidup. Jika ini sudah menjadi kebiasaan, insya Allah hidup kita akan lebih tenang dan tentram.

Mari kita isi hari-hari kita dengan kebaikan. Tak hanya di bulan ramadan saja, namun di hari-hari setelahnya juga. Mudahkanlah urusan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan urusan kita pula.


Mudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusanmu


3. Berbagi Kebaikan, Sekecil Apapun Itu

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di bulan ramadan, kebaikan sekecil apapun akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Maka dari itu, jika ada rezeki lebih, sisihkan sebagian rezeki itu untuk orang lain yang membutuhkan. Bila perlu hitung harta kita, tunaikan zakat maal-nya.

Seperti KEB Chapter Solo yang insya Allah pada hari Sabtu, 25 Mei 2019 akan menyerahkan donasi dari teman-teman untuk Panti Jompo Aisyiyah yang terletak di Jalan Pajajaran Utara III No 7, Sumber, Kec. Banjarsari, Surakarta. Panti Jompo Aisyiyah ini adalah panti yang menampung lansia yang rata-rata sudah tidak memiliki keluarga, "dititipkan" keluarga karena tidak mampu, atau tunawisma. Mereka tidak dipungut biaya sama sekali, dan menurut informasi, biaya operasional panti jompo ini hanya mengandalkan bantuan dari donatur. 



Ada dua area di panti ini. Satu area untuk lansia yang masih bisa beraktivitas dan satu area lainnya yang merupakan area isolasi, diperuntukkan bagi lansia yang sudah sangat renta/bobrok yang segala aktivitasnya dilakukan di tempat tidur.

Tak hanya donasi uang, kami juga menerima bahan pokok, popok dewasa, perlengkapan mandi, dll. Cek instagram @emakbloggersolo untuk info lebih lanjut, yaa..

Misal di sekitar teman-teman belum ada gerakan penggalangan dana seperti ini, tidak perlu bingung kebaikan seperti apa yang akan kita bagi. Berbagi takjil kepada para tetangga, juga merupakan sedekah. Senyum, salam, dan sapa saat bertemu dengan tetangga juga merupakan sedekah. Menyingkirkan batu di jalan juga merupakan sedekah.

Ya, sedekah itu mudah. Berbagi baik itu mudah. Mari berlomba-lomba melakukan kebaikan, semoga apa yang kita lakukan dapat menjadi bekal saat nafas tak lagi mampu kita hembuskan.




Read More

Jangan Takut Berbagi, Banyak Hal Bisa Kita Raih Setelah Kita Ikhlas Memberi

Saturday, May 11, 2019


Di suatu pagi, bapak menelepon saya sambil bercerita. Pagi itu ketika beliau menyapu halaman depan yang kotor oleh daun yang berguguran, seorang tetangga datang. 

"Pak Sun," sapa tetangga kami itu. Bapak menghentikan ayunan sapu lidi di genggaman tangannya, kemudian menjawab sapaan yang tadi ditujukan padanya.

"Aku nyuwun tulung, Pak Sun." Lalu mengalirlah seluruh keluh kesahnya. Anaknya sedang sakit, dan beliau sama sekali tidak memiliki pegangan.

Usai mendengar curahan hati tetangga kami tadi, tanpa pikir panjang bapak langsung masuk ke dalam rumah. Diambilnya satu dari dua lembar uang ratusan ribu yang tersisa di dalam dompetnya, lalu diberikannya uang itu pada tetangga kami yang sedang menunggu di halaman. Sedianya, uang itu akan digunakan untuk beliau makan dan membayar tagihan listrik. Tapi entah saat itu, kata bapak, beliau tidak memikirkan itu semua. Beliau hanya fokus pada tetangga yang sedang membutuhkan uluran tangannya.

Setelah mengucapkan terima kasih hingga berkali-kali, tetangga kami tersebut pulang ke rumahnya, dan bapak pun melanjutkan kegiatan menyapunya. Belum lagi selesai menyapu, teman saya datang membawakan uang yang saya titipkan. Ya, sehari sebelumnya saya memang mengirimkan sejumlah uang ke rekening teman saya itu karena bapak tidak memiliki rekening, dan teman saya baru sempat mengambil uang tersebut keesokan harinya.

Saya mengirimkannya tanpa memberi tahu bapak sebelumnya. Kejutan ceritanya, hehe... Alhamdulillah, kebetulan saat itu saya mendapatkan rezeki lebih, sehingga bisa mengirimi bapak sedikit uang.

Setelah menerima uang dari teman saya tadi, bapak segera menelepon saya dan menceritakan kejadian sebelumnya. Bapak tergugu, betapa Allah sangat cepat mengembalikan uang yang baru beberapa menit lalu dikeluarkannya.

Ya, inti dari cerita di atas adalah, ketika bapak tidak ragu-ragu untuk berbagi kepada tetangga, beliau tidak memusingkan besok akan makan apa dengan uang yang tersisa, di situlah Allah menunjukkan kebesarannya. Allah sesungguhnya telah menyiapkan penggantinya lewat saya, lewat teman saya sebagai perantaranya, dan itu tidak diketahui oleh bapak sebelumnya.



Memberi itu mengayakan, begitu bunyi sebuah nasihat. Namun kekhawatiran-kekhawatiran kitalah yang biasanya membuat niat baik itu tersendat. Khawatir jika Allah tidak akan mengembalikan sedekah kita, khawatir jika apa yang kita sedekahkan membuat kita tidak bisa makan, dll. 

Padahal, Allah sudah berjanji dalam Q.S Al-Baqarah : 261, "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Namun, meski kita tahu bahwa Allah pasti akan mengembalikan secara berlipat-lipat apa yang sudah kita sedekahkan, jangan sampai niat kita bersedekah menjadi kotor karenanya. Luruskan niat bahwa sedekah kita ikhlas karena Allah semata, bukan karena ingin menggandakan harta. Mengapa? Takutnya nanti kita akan kecewa.

Adakah yang pernah begitu? Sedekahnya semata-mata ingin mendapatkan balasan 10 x lipat dalam waktu singkat, dan karena balasan yang ditunggu-tunggu tak juga datang, akhirnya kecewa, lalu malas dan enggan untuk bersedekah kembali?

Jangan sampai begitu, yaa... Ini juga untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa ada beberapa perkara yang bisa membatalkan sedekah, antara lain yaitu;

1. Al-Mann --> Menyebut-nyebut pemberian sedekah di depan orang yang diberi sedekah untuk menunjukkan bahwa ia lebih baik dari orang yang diberinya itu. Hati-hati, karena perbuatan ini mencakup seluruh bentuk sedekah, baik itu kepada teman, tetangga, kerabat, bahkan kepada anak / istri.

Rasulullah SAW bersabda; "Ada tiga golongan yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya, 'Siapa mereka wahai Rasulullah?' Sabda beliau, 'Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki), Al Mannan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu.'" (H.R. Muslim: 106)

Subhanallah, ancamannya menyeramkan sekali. :(

2. Al-Adzaa --> Menyakiti orang yang diberi sedekah. 

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah : 263, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf* lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun."

*) Daripada memberi tapi menyakiti, lebih baik menolak dengan cara yang baik, dan memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari peminta.

Termasuk dalam perbuatan al-adzaa adalah bersikap sombong terhadap orang yang diberi sedekah dan menyakitinya dengan kalimat yang menyakitkannya, atau dengan sesuatu yang mencela kehormatannya dan merendahkan kemuliaan dan kedudukan orang tersebut.

3. Ar-Riyaa' --> Perbuatan seseorang yang menampakkan amalnya karena ingin mendapat pujian dari orang lain. Tidak hanya dalam masalah sedekah saja, tapi dalam setiap amal, perbuatan riyaa' dapat menghapus pahala amal tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah : 264, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riyaa' (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."


Bsimillah, semoga kita terhindar dari sifat di atas ya, teman-teman, agar apa yang kita keluarkan tidak berakhir sia-sia, aamiin YRA. Namun, jangan karena susah menjaga niat, kita lalu putus asa dan memilih untuk tidak bersedekah. Bersedekah atau berbuat baiklah, baik itu secara terang-terangan maupun secara diam-diam. Soal niat, biarlah Allah yang membaca hati kita. :)

Nah, salah satu cara bersedekah diam-diam adalah dengan langsung mentransfer ke lembaga penyalur Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), misalnya ke Dompet Dhuafa.

Dompet Dhuafa Republika adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Kelahirannya berawal dari empati kolektif komunitas jurnalis yang banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin, sekaligus kerap jumpa dengan kaum kaya. Dari situ, digagaslah manajemen galang dana kebersamaan dengan siapapun yang peduli kepada nasib dhuafa.

Ada banyak hal yang sudah dilakukan oleh Dompet Dhuafa baik itu di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun pengembangan sosial.

Manfaat senang berbagi
Dompet Dhuafa


Melihat keseriusan Dompet Dhuafa dalam menyalurkan amanah dari para donatur, kayusirih mengajak teman-teman semua untuk ikut menyalurkan Zakat, Infak, Sedekah, maupun Wakaf ke Dompet Dhuafa. Mumpung masih Ramadhan, waktu yang istimewa karena Allah membuka lebar-lebar pintu keberkahan-Nya.

Mumpung masih Ramadhan, mari hitung Zakat Maal teman-teman. Sisihkan pula THR-nya, agar saudara-saudara kita di sana juga bisa merasakan kemeriahan Hari Lebaran.

Jangan takut berzakat, teman-teman... Zakat itu mensucikan harta, menenangkan jiwa, sekaligus membahagiakan sesama. 






Read More

#AyoHijrah Meski Istiqomah Bukan Hal Mudah. Bersama Bank Muamalat Indonesia, Bismillah Lebih Berkah.

Thursday, May 2, 2019

Istiqomah bukan hal mudah
#AyoHijrah

Hijrah menjadi kata yang akrab di telinga beberapa tahun belakangan. Secara harfiah, hijrah adalah berpindah. Namun, di kalangan para sufi dan ulama fiqih, hijrah tak hanya dimaknai sebagai perpindahan secara fisik, geografis, atau perilaku yang kasat mata saja. Lebih dari itu, hijrah merupakan kekuatan batin dalam menyisihkan segala sesuatu selain Allah dari dalam hatinya.

Dibandingkan saat memutuskan untuk berhijrah, sesungguhnya berjuang untuk istiqomah adalah hal yang lebih susah. Apalagi jika setiap hari kita menghadapi godaan di sana-sini. Namun, bukan berarti karena susah lantas kita boleh begitu saja menyerah. Bismillah saja, semoga Allah mempermudah.

Jika diminta untuk menuliskan pengalaman dalam berhijrah, barangkali tiga momen dalam hidup saya di lima belas tahun ke belakang ini layak dikisahkan.


Hijrah Pertama; Jual Perhiasan untuk Bisa Berjilbab


Momen hijrah yang pertama kali saya lakukan adalah saat kelas 3 SMA, saya mengganti seragam sekolah yang tadinya terdiri dari kemeja dan rok pendek, menjadi setelan panjang plus jilbab. Saat itu bulan Agustus 2004, beberapa hari menjelang Hari Kemerdekaan.

Perjalanan saya sampai akhirnya mantap berhijab, bisa dibilang cukup lama. Saya pernah sangat ingin berhijab saat menyaksikan video klipnya Haddad Alwi dan Sulis. Namun keinginan itu perlahan menghilang, dan salah satu penyebabnya adalah karena orang tua yang tidak terlalu men-support. 

Memang di masa itu masih jarang sekali ada anak sekolah yang menggunakan jilbab. Bahkan di kelas saya hanya ada 2 siswi berhijab. Orang tua saya pun beralasan, tak ingin jilbab dijadikan mainan. Khawatirnya, ketika nanti bosan lalu saya copot lagi jilbabnya. Begitu.

#AyoHijrah, source: Instagram Bank Muamalat Indonesia

Setelah melewati naik turunnya iman, keinginan untuk berhijab itu kembali muncul saat saya kelas 3 SMA. Apalagi, satu demi satu teman-teman saya di kelas pun mulai menutup aurat. Berhari-hari saya merayu ibu agar beliau mau membelikan seragam baru. Sampai akhirnya ibu berkata,

"Tanggung, Nduk, sedhela maneh wis lulus. Ibu durung kagungan duit."

Iya sih, memang serba tanggung. Saya sudah kelas 3 SMA dan itu berarti bahwa seragam sekolah hanya akan digunakan dalam beberapa bulan saja. Ini bisa menjadi sebuah  pemborosan di satu sisi, apalagi jika  mengingat bahwa ibu sedang tidak memiliki uang. Tapi karena niat saya sudah bulat, saya kembali bernegosiasi dengan beliau,

"Cincinku dijual wae, Bu, nggo tumbas seragam."

Melihat kesungguhan hati saya, ibu luluh juga. Cincin dan anting saya, saya lepas demi bisa membeli seragam baru. Untuk seragam putih abu-abu dan atasan seragam pramuka, ibu membeli setelan seragam yang sudah jadi. Rok pramuka dibuat dari kain yang sedianya akan dipakai untuk membuat celana bapak.

Adapun untuk seragam identitas sekolah, ibu membeli bahan dan langsung dititipkan ke penjahit. Alhamdulillah, seragam itu bisa selesai dalam waktu 3 hari. Nah, untuk seragam olahraga, kebetulan saya punya celana training pemberian Bulik Ning. Kaosnya saya kirim ke tukang jahit untuk diganti lengan panjang. Ini merupakan ide seorang teman yang juga baru berjilbab. Hihi, alhamdulillah, jadi lebih berhemat karena ternyata, mengganti lengan pendek menjadi lengan panjang saat itu cukup murah, hanya 15.000,- rupiah.

Dan minggu selanjutnya, saya sudah tampil dengan penampilan baru, alhamdulillah.

#AyoHijrah, source: Instagram Bank Muamalat Indonesia

Ya, hijrah itu siap. Saat kita menyadari waktu akan terus berjalan dan dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Saat memutuskan untuk berhijab itu memang saya sering merasa takut kalau-kalau saya tak punya waktu lagi untuk sekadar menutup aurat.


Hijrah Kedua; Merelakan Kekasih Pergi Demi Cinta yang Sejati

Memutuskan untuk berhijab membawa konsekuensi tersendiri bagi saya pribadi. Dari pakaian yang saya kenakan, seringkali orang memandang bahwa pengetahuan agama saya lebih tinggi. Padahal tidak begitu juga. Menutup aurat adalah kewajiban, adapun ilmu dan pemahaman agama, bisa kita pelajari pelan-pelan.

Namun, anggapan orang-orang ini membuat saya termotivasi untuk ikut kajian setiap hari Jumat sepulang sekolah. Bersama Isnaeni, sahabat saya sedari kelas 1 SMP, saya menimba ilmu agama lebih dalam lagi.

Dari kajian-kajian itu, saya menyadari satu kekeliruan. Saya masih pacaran. Batin saya berkata ini salah, tapi di sisi lain saya tetap ingin melanjutkan hubungan ini. Saya beralibi, toh kami tidak pernah bersentuhan. Kami juga tidak pernah jalan berduaan. Kami hanya bertemu saat dia ke rumah, dan itu pun selalu didampingi anggota keluarga yang lainnya.

Sampai akhirnya datanglah hari itu. Di sebuah hari di akhir tahun 2005, di usia saya yang ke 17 tahun, usia di mana seorang remaja biasanya sedang butuh perhatian dan pengakuan akan keberadaannya dari pihak lain selain keluarga, di situlah saya membuat sebuah keputusan yang berat. Hari itu saya melepaskan seseorang yang telah sekian lama menghuni hati ini. Saya merelakannya pergi demi membuktikan cinta saya pada Illahi.

Butuh waktu untuk tak mengingatnya kembali di hari-hari yang saya lewati. Butuh waktu untuk benar-benar merelakannya pergi. Meskipun terkadang saya tergoda untuk menyapanya kembali, tetapi saya selalu berusaha untuk menahan diri.

Kadang ada rasa iri saat melihat teman-teman punya gandengan. Seringkali pula terpikir, “Kenapa aku harus tahu kalau pacaran itu dilarang? Kenapa aku nggak bisa cuek saja jika menyadari sebuah kesalahan? Kenapa aku harus takut sama dosa?” Begitulah, pemikiran-pemikiran bodoh itu seringkali terlintas.

Tapi sesaat kemudian saya disadarkan bahwa itulah cara Allah menyayangi kita. Sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata Allah juga. Seorang sahabat memberi nasihat,
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

#AyoHijrah, source: Instagram Bank Muamalat Indonesia

Ya, meski saya belum tentu layak untuk masuk ke surga-Nya, setidaknya saya sudah berusaha.


Hijrah Ketiga; Menyimpan Uang di Bank Syariah

Proses pencarian jati diri masih saya lakukan sampai hari ini. Dalam pencarian itu, saya terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari ke hari. Saya pernah merasa tak berguna karena saya tak melakukan apa-apa, tetapi perasaan itu perlahan menghilang setelah saya bergabung dalam beberapa komunitas menulis.

Sudah 6 tahun saya menulis di blog, dan 3 tahun ini saya menjalani hobi ini secara profesional. Dari kegiatan ini, alhamdulillah saya mendapatkan teman, wawasan, dan penghasilan. Jika Andrea Hirata dalam buku Padang Bulan-nya mengatakan bahwa “Time heals every wound”, bagi saya, bisa menulis dan bertemu dengan teman-teman baru juga merupakan self healing.

Belakangan, tak hanya komunitas menulis saja yang saya ikuti. Awal tahun ini saya tergabung dalam sebuah komunitas bernama Institut Ibu Profesional (IIP). Tujuan utamanya adalah untuk meng-upgrade ilmu kepengasuhan. Alhamdulillah, dari sini saya bertemu dengan teman-teman baru. Salah satunya adalah Mbak Dian Safrina.

Suatu hari, Mbak Dian memesan buku pada saya. Ya, selain menjadi blogger, usaha sampingan saya adalah berjualan buku. Kegiatan ini bermula karena saya ingin menghadirkan buku bacaan untuk anak-anak, tapi jika terus-terusan membeli, ini berbahaya untuk kantong saya dan suami. Jadi, saya pun ikut berjualan deh, hehe...

Nah, saat Mbak Dian membayar bukunya, Mbak Dian mengajak saya untuk berhijrah. Hijrah apa? Hijrah rekening, hehe... Ke mana? Ke Bank Muamalat Indonesia (BMI). Memang, ketika Mbak Dian menjadi Star of The Day di IIP beberapa waktu lalu, Mbak Dian memperkenalkan dirinya sebagai seorang bankir di bank syariah pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat.


Nah, gambar di atas adalah tangkapan layar saat Mbak Dian mengajak saya untuk hijrah ke Bank Muamalat.

Jika dua kisah hijrah saya sebelumnya dilakukan dengan "memaksakan diri" (Ya, terkadang kita harus memaksakan diri untuk melakukan sebuah kebaikan, bukan?), hijrah yang satu ini tak perlu dipaksa-paksa lagi. Dengan senang hati saya menyambut tawaran Mbak Dian, dan akhirnya kami pun berkencan.



Mbak Dian menawarkan, "Mau buka rekening apa, Mbak Arin? Ada Mudharabah dan Wadiah. Kalau Mudharabah, ada bagi hasil dan ada biaya administrasi. Nah kalau Wadiah, artinya titipan, jadi tidak ada biaya administrasi, tapi Mbak Arin tidak akan mendapatkan bagi hasil juga."

Mendengar penjelasan tersebut, saya memutuskan untuk memilih Wadiah saja.

Sempat ada sedikit kejadian lucu, karena saya tidak memiliki SIM, juga tidak memiliki NPWP. KTP pun bukan KTP Solo, karena saya masih belum bisa move on dari Purworejo. Mbak Dian sampai gemes, xixixi... Tapi alhamdulillah saat itu saya membawa Kartu Keluarga. Dengan menambahkan NPWP suami, akhirnya rekening saya di BMI pun sudah jadi.

Dengan Mbak Dian Safrina, teman di IIP

Setelah rekening selesai, Mbak Dian membimbing saya untuk mengunduh aplikasi mobile banking Bank Muamalat. Dengan penuh kesabaran, Mbak Dian juga mengajari saya cara mengoperasikannya. Alhamdulillah, jadi nggak bingung deh.


Tentang Bank Muamalat dan #AyoHijrah 

Oya, sejak 8 Oktober 2018 yang lalu, Bank Muamalat Indonesia telah melangsungkan Grand Launching kampanye Ayo Hijrah. Apa sih #AyoHijrah itu dan apa tujuannya?

#AyoHijrah adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama selalu meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan kita dengan Sang Pencipta, tapi juga merupakan jalan hidup (way of life) sehingga #AyoHijrah juga mengajak untuk menjalani hidup sesuai tuntunan Islam, agar hidup kita semakin baik dan berkah.

Tujuan kampanye #AyoHijrah ini adalah, dengan #AyoHijrah diharapkan ada peningkatan kualitas diri, baik secara individu maupun organisasi, untuk semakin kaffah menjalankan syariat Islam, khususnya dalam konteks layanan perbankan syariah. Bank Muamalat juga bercita-cita untuk menyetarakan pertumbuhan nasabah bank syariah agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim.

Lalu mengapa masyarakat Indonesia harus hijrah ke Bank Muamalat? Nah, beberapa alasan ini bisa menjawab apa saja yang melatarbelakangi hijrah saya;

1. Bank Muamalat adalah bank pertama murni syariah di Indonesia yang berdiri sejak 1992

2. Bank Muamalat tidak menginduk dari bank lain, sehingga terjaga kemurnian syariahnya

3. Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah

4. Bank Muamalat memiliki produk dan layanan keuangan lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas seperti Mobile Banking, Internet Banking Muamalat dan jaringan ATM dan Kantor Cabang hingga ke luar negeri

Pada tahun 2009, bahkan Bank Muamalat mendapatkan izin untuk membuka kantor cabang di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini menjadikan Bank Muamalat sebagai bank pertama di Indonesia yang mewujudkan ekspansi bisnis di Malaysia. Hingga saat ini, Bank Muamalat telah memiliki 325 kantor layanan, termasuk 1 kantor cabang di Malaysia. Operasional Bank juga didukung oleh jaringan yang luas berupa 710 unit ATM Muamalat, 120.000 jaringan ATM Bersama dan ATM Prima, serta lebih dari 11.000 jaringan ATM di Malaysia melalui Malaysia Electronic Payment (MEPS).

Tentang Bank Muamalat Indonesia

Nah, sejalan dengan kampanye #AyoHijrah ini, produk Bank Muamalat juga berubah nama, seperti:
Tabungan iB Hijrah
Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah
Tabungan iB Hijrah Rencana
Tabungan iB Hijrah Prima
Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
Deposito iB Hijrah
Giro iB Hijrah
Adapun Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Super Ringan dan Fix and Fix, masih dalam proses pengajuan kepada Regulator / OJK

Nah, semoga dengan kampanye #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia bisa menjadi pusat dari Ekosistem Ekonomi Syariah, dan cita-citanya untuk turut membangun industri halal di Indonesia bisa terwujud. Aamiin YRA.


Read More