Pengalaman Mama di #UsiaCantik; Stroke Bisa Sembuh, Asal...

Tuesday, November 22, 2016


Tentang Mama Mertua

Euis Sursilawati atau oleh teman-teman sekolahnya akrab dipanggil dengan nama Euis Begy, adalah mama mertua saya. Kami bertemu pertama kali di tahun 2005. Saat itu saya kelas 3 SMA, dan sudah dekat dengan Mas Yopie, yang kini menjadi suami saya. Kesan pertama, tentu selain deg-degan dan salah tingkah yang saya rasakan, yaitu bahwa Mama adalah orang yang friendly. 

Pertemuan pertama kami waktu itu berlangsung singkat. Ketika itu, Mama yang sedang mengantar Ayah terapi di Purworejo, tiba-tiba datang ke rumah kami yang sederhana. FYI, dulu Mas Yopie dan keluarganya masih tinggal di Wonosobo. Mas Yopie, yang waktu itu ikut mengantar Ayah, sempat SMS saya, apa boleh main sore-sore? Saya jawab, "tentu saja boleh." Lalu dibalasnya lagi, "Tapi ini saya (dulu Mas Yopie masih pakai kata 'saya') sama Mama. Kebetulan Ayah lagi diterapi, jadi daripada nunggu lama, Mama ngajak ke rumah dirimu." 

Kaget dong yaa.. Tapi masa' ada orang mau bertamu malah kita tolak? Jadi dengan penampilan dan keadaan yang benar-benar apa adanya saat itu, kami menyambut Mas Yopie, Mama dan De Onie. Karena pertemuan itu juga, ibu saya (almarhumah) saat itu jadi makin jatuh cinta sama Mas Yopie, hehe...

Saya pernah menuliskan do'a ibu saya pasca pertemuan itu, di Mamah; Do'a Ibu yang Terijabah


Mama Mertua di Tanjung Bira

Ketika Mama Diuji...

Oya, tadi saya menyebutkan tentang Ayah (mertua) yang sedang terapi. Memangnya kenapa dengan Ayah sih? 

Ceritanya begini. Tahun 2005, Ayah terserang gejala stroke. Beliau sempat dirawat beberapa lama di Rumah Sakit tertua di Yogya, Bethesda. Saat Ayah sakit itulah, Mama yang saat itu sudah memasuki #UsiaCantik, 40 tahun, diuji kekuatan dan kesabarannya. 

Selain harus merawat Ayah yang sakit, Mama juga harus membagi pikirannya untuk ketiga anaknya yang tinggal berpencar-pencar; De Onie, De Ine, dan Mas Yopie. Mas Yopie sih waktu itu sudah kuliah tingkat 3 di Jogja ya, jadi sudah cukup mandiri. De Onie waktu itu masih SMP di Wonosobo, sedangkan De Ine masih SMA di Purworejo. Kebayang 'kan bagaimana stress-nya Mama saat itu?



Tapi, Mama itu luar biasa... Kenapa?

Yang saya salut dari Mama adalah, cara beliau merawat Ayah -pasca keluar dari Rumah Sakit- yang saat itu kesulitan menggerakkan beberapa bagian tubuhnya. Untuk berjalan susah, untuk bersalaman dengan orang pun, tangan kanannya harus dibantu digerakkan oleh tangan kiri. Kata Mama, "Pakai sandal aja Ayah masih suka lepas-lepas." 

Tapi, Mama tidak pernah malu membawa Ayah pergi kemanapun. Bahkan beberapa kali, Mama menyengaja pergi dengan menggunakan transportasi umum, meski ada mobil di rumah. Mama tidak memanjakan Ayah seperti orang lain pada umumnya. Iya, biasanya 'kan (yang sering saya lihat ya...) orang yang sakit stroke, dibiarkan saja tiduran di ranjang atau duduk-duduk di kursi roda tanpa melakukan apa-apa. Tapi Mama tidak begitu. Mama mengajak Ayah berjalan-jalan, memenuhi undangan pernikahan, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Lalu untuk apa itu semua? Tentu saja itu untuk kebaikan Ayah sendiri. Selain agar Ayah semakin sehat dengan sering bergerak, juga agar Ayah semakin percaya diri. Dari itu 'kan Ayah jadi yakin bahwa Mama selalu siap sedia di samping Ayah, bagaimanapun kondisinya saat itu. Ini juga saya jadikan catatan, bahwa hakikat pernikahan adalah bersedia menjalani masa-masa suka dan duka, bersama-sama. 



Ada Pelangi Setelah Hujan...

Life begins at forty, kata orang. Banyak yang meyakini, bahagia-tidaknya kehidupan kita ditentukan di #UsiaCantik itu, yaitu usia 40 tahun. Tentu ada kekhawatiran jika mengingat kembali bahwa di usia ini Mama justru sedang diuji. Rasa khawatir bagaimana dengan masa depan anak-anaknya nanti (yang masih membutuhkan banyak biaya) ketika melihat kondisi Ayah yang seperti itu, seringkali mengganggu pikiran. Tapi Mama adalah Mama, yang kuat tirakatnya.

Dengan rutin menjalani terapi, dengan kesabaran dan kekuatan Mama yang tak bertepi, juga atas kehendak Illahi, Ayah pun pulih kembali. Beliau bisa beraktivitas seperti sedia kala. Alhamdulillah. Bahkan 3 tahun pasca Ayah sakit, yaitu tahun 2008, Ayah dan Mama diundang oleh Allah untuk berhaji ke tanah suci. Usia Mama saat itu menginjak 43 tahun.

Berdasarkan pengalaman yang Ayah dan Mama jalani sendiri (selain tetap memperhatikan petunjuk dokter dan juga rutin menjalani terapi), stroke bisa disembuhkan, dengan dukungan dua hal: 

1. Motivasi internal --> Ada keinginan untuk sembuh dari dalam diri sendiri. Ingin sembuh dan yakin bisa sembuh, itu penting.
2. Motivasi eksternal --> Motivasi dari orang-orang terdekat, terutama istri dan anak-anak. Mereka harus jadi penyemangat agar pasien bisa melawan sakitnya.
Mama diserang badai di #UsiaCantik, tapi di #UsiaCantik itu pula Mama menemukan pelangi... Seperti janji Allah; Setelah kesulitan, ada kemudahan. Tentunya, itu berlaku bagi orang-orang yang bersabar.

Sekarang, Ayah dan Mama memiliki hobi baru, yaitu travelling. Saat ada waktu, Ayah Mama sering melancong ke beberapa daerah, seperti Tanjung Bira, Tana Toraja, Bali, hingga ke Singapore dan Malaysia. Entah setelah ini beliau berdua ada rencana kemana lagi. Yang pasti, mantunya ini pengen diajak juga lah, xixixixi... *ngarep. 


Ayah Mama di Bali
Ayah Mama di Bedugul 
Melihat romantisme Ayah dan Mama di usia mereka yang tak lagi muda, siapa yang menyangka bahwa beliau berdua pernah melewati masa yang sulit? Lihatlah, Ayah Mama kembali muda, ya 'kan? Anak-anaknya aja kalah, xixixi... 

Ada satu lagi yang membuat "iri". Ayah suka menyuruh bahkan mengantar Mama ke salon kecantikan untuk perawatan. *Huwaaa, mau lah disuruh nyalon juga, xixixi...* Selain itu, Ayah juga mengijinkan Mama untuk membeli produk-produk perawatan harian, meski harganya tak bisa dibilang murah. Iya, kecantikan 'kan mesti dijaga. Itu juga salah satu cara bersyukur, to?

Tak lupa, Mama selalu mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari. Mama juga rajin berpuasa. Puasa, selain bisa meningkatkan ketaqwaan, juga bisa untuk menjaga kesehatan sekaligus mengontrol berat badan. Tahu 'kan, puasa itu juga mendetoksifikasi racun dalam tubuh kita? Makanya Mama masih kuat momong cucu. ☺☺ 


Mama, De Ine, Saya (kiri). Mama saat menggendong Aga (kanan).


Semua Ada Masanya...

Sebenarnya, selain ujian yang datang di usia Mama yang ke-40 tadi, Mama sudah kenyang dengan segala keterbatasan. Mama dilahirkan di bulan Mei tahun 1965, dan persis di tanggal dan bulan yang sama tahun berikutnya, Oma melahirkan Bi Yati, adik Mama. Karena Mama masih kecil, ditambah dengan adiknya yang baru lahir, Oma sedikit repot mengasuh Mama dan Bi Yati, hingga akhirnya Mama diasuh oleh Mbah Buyut (neneknya Mama) di Majalengka.

Sejak kecil tinggal terpisah dengan orang tua kandung (Oma dan Opa tinggal di Bekasi), menempa Mama menjadi pribadi yang mandiri. Pernah beliau cerita, saat sekolah dulu, jika ingin punya sepatu dengan warna baru, beliau mengandalkan pewarna Wenter, sehingga sepatu satu-satunya itu bisa terlihat baru lagi. Lucu sekaligus miris. Tapi itulah Mama, pandai mengemas duka menjadi tawa.

Apa yang Mama alami sejak kecil hingga usianya memasuki #usiacantik, telah membentuk Mama menjadi pribadi yang kuat. Ah, jadi ingat sebuah nasehat; ketika engkau meminta kekuatan, Allah mengirimkan ujian agar kamu menjadi kuat. 

Ingat juga pesan kakek Jamil Azzaini, yang pernah saya dengar di sebuah acara televisi beberapa tahun lalu. Biji jagung, untuk bisa tumbuh dan menghasilkan buah (yang nantinya akan bermanfaat sebagai bahan pangan), perlu dikubur dengan tanah lalu diinjak-injak.

Tere Liye pun pernah menuliskan, "Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh."

Seperti kata peribahasa, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Keterbatasan, kesedihan, juga tempaan oleh keadaan yang Mama alami sejak kecil berbuah kekuatan dan kebahagiaan pada akhirnya. Yang penting kita jalani hari-hari yang kita lalui dengan sebaik-baiknya, karena masa depan kita sedikit banyak adalah hasil dari kita di masa lalu dan masa sekarang. 

Sekarang, mau berganti sepatu sehari 3x, insya Allah Mama bisa. Mau beli baju tiap hari juga insya Allah ada dananya. Saya ingat sekali pesan Mama suatu hari, "Mbah Buyut itu ngajarkan, kalau mau hidup bahagia, kita harus bersyukur, bersabar, dan jangan bohong (jujur). Itu, tiga itu Mama ingat-ingat terus." Dan apa-apa yang diajarkan Mbah Buyut pada Mama, diingat dan dilakukannya, sehingga beliau bisa jadi seperti saat ini.
Penuh syukur menjalani hari-hari, bersabar ketika diuji, dan jujur sebagai penyelamat hati.

Ayah Mama di Art Science Mueseum, Singapore
Ayah Mama di Tana Toraja







Ayah-Mama telah berhasil melewati hampir 33 tahun kebersamaan, dengan derai tawa, juga basah air mata. Kini Ayah-Mama tinggal menikmati masa tua dengan sebaik-baik impian masa muda. Semoga anak-cucu Ayah-Mama mampu meneladani kebaikan-kebaikan yang Ayah-Mama contohkan. Semoga kami bisa memetik pelajaran, karena tak ada perjalanan yang mulus tanpa gelombang ujian. Semoga kami bisa menikmati hari-hari yang masih penuh dengan perjuangan, demi cita-cita kami; 
"Bahagia, tanpa jeda."



"Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L'Oreal Revitalift Dermalift"



Read More

4 Tips Aman Ikut Arisan a la Irawati Hamid

Saturday, November 19, 2016

photo credit: https://www.mojomarketplace.com/item/arisan


Arisan identik dengan kegiatan para Nyonya, benar tidak?

Iya, kebanyakan, yang mengikuti kegiatan arisan adalah para ibu. Jarang sekali bapak-bapak mengadakan arisan. Setidaknya, ini berdasar pengamatan di lingkungan terdekat saya. Jika ibu saya dulu mengkuti beberapa macam arisan, dari arisan PKK, arisan RT, RW, juga arisan beberapa kelompok lain (banyak banget ya? iya emang...), bapak saya cuma ikut 1 arisan saja, yaitu arisan Malam Minggu Kliwon, hehe... Bapak pun ikut karena memang arisan itu ditujukan untuk menabung konsumsi, jadi rumah tangga yang ketempatan arisan di malam minggu kliwon itulah yang mendapatkan arisan. Supaya tidak memberatkan tuan rumah, maka uang konsumsinya ditabung dalam bentuk arisan.

Sekarang, setelah menjadi Nyonya Yopie, saya juga ikut arisan. Arisan yang saya ikuti ini ada yang sifatnya wajib, ada juga yang sunnah, hehehe.. Sunnah disini artinya, jika saya ikutan maka saya bisa sekalian menabung, jika tidak ya tidak apa-apa. ✌

Lalu, manfaat arisan menurut saya apa saja?

1. Seolah-olah dipaksa menabung. Ini bermanfaat dong yaa... Karena kalau sudah ikut arisan itu 'kan kita diwajibkan untuk setor dalam jumlah tertentu secara rutin. Dan ketika kita dapat arisan, yeaayyy, kekumpul uangnya.. Hehe.. Kalau ngga ikut arisan, mau ngumpulin sejumlah "itu" akan jadi hal yang mustahil buat saya, karena godaan untuk terus memakai uang biasanya besar sekali, hehe...
Tapiiii, ketika kita dapat arisan, untuk setoran selanjutnya bukan menabung lagi jadinya, tapi bayar hutang, xixixi...

2. Menjalin silaturrahmi dengan tetangga. Ini penting. Alhamdulillah lingkungan tempat tinggal saya itu asik-asik orangnya. Tapi kami bisa jarang sekali bertemu meski berada dalam komplek yang sama. Penyebabnya adalah, ada beberapa yang bekerja, atau terkadang mendampingi suami ke luar kota. Kalau saya sih di rumah saja, jadi biasanya tiap sore ada waktu untuk nongkrong sambil momong anak-anak.

3. Temu kangen dengan teman-teman lama. 

Arisan perumahan, dress code: Meraaahhh :)

Lalu, menurut Mbak Irawati Hamid, bagaimana agar arisan yang kita ikuti bisa mendatangkan manfaat? Ini 4 tips-nya:

1. Pilihlah teman arisan yang dapat dipercaya (sebisa mungkin orang yang dikenal baik)
Setuju banget. Ini penting. Teman yang ngga bisa dipercaya itu bisa merugikan anggota kelompok yang lain. Kasihan yang rutin membayar dengan tertib, ya 'kan? Urusan uang itu sensitif loh, karena bisa merenggangkan hubungan persahabatan sekalipun. 
Sering sekali terjadi, yang sudah dapat arisan malah ngga bertanggung jawab, dan nunggak di setoran-setoran selanjutnya. :(

2. Pilih tenor arisan yang tidak terlalu lama (maksimal setahun dalam satu periode arisan)
Ini juga penting, biar tetap semangat dan ngga lupa. Terlalu lama menunggu giliran kadang bikin males juga. Apalagi kalau udah pernah dapat, ya 'kan? Kan hutangnya jadi buanyaaakkk, hehehe...

3. Pilih nominal yang sekiranya tidak memberatkan.
Nah, kalau ini cuma kita yang bisa mengukur kemampuan diri. Jangan dipaksakan ikut arisan dalam jumlah besar kalau tidak mampu. Jangan karena gengsi, lalu kita meng-iyakan ajakan teman, padahal sebenarnya kita belum mampu.
Catatan lagi, kalau mampunya cuma ikut 1 nomor arisan, ngga usah memaksakan ikut 5 nomor. Iya sih, memang jadinya kalau 1 nomor sudah dapat, masih ada harapan 4 nomor yang lain. Tapiiii, ingat lagi sama kemampuan diri. Mampu tidak? Karena pernah ada -pengalaman dengan orang dekat-, yang sok-sokan ikut banyak nomor, tapi setelah semua dapat, dia kerepotan membayar dan malah merepotkan keluarga. :(

4. Anggaplah iuran arisan sebagai utang yang wajib dibayar setiap bulan.
Seperti yang saya bilang di atas, sebelum dapat arisan, maka isitilahnya adalah "menabung". Tapi setelah kita mendapat arisan, maka istilah "menabung" berubah menjadi "hutang". Serem 'kan? Apalagi hutang adalah sesuatu yang wajib dibayar. 

Tambahan tips dari saya:
* Selalu beritahu suami, arisan apa saja yang kita ikuti. Hubungannya dengan apa? Ya dengan "menabung" yang bisa berubah jadi "hutang" itu tadi. Ini termasuk urusan muamalah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di kemudian hari.

* Bijak dalam mengikuti arisan. Pilih arisan yang masuk akal ya, teman. Sudah banyak terjadi, seperti yang beberapa kali diberitakan di televisi dan media lainnya, penipuan berkedok arisan. Niatnya mau menabung, ee malah uangnya dibawa kabur orang yang tidak bertanggung jawab. :(

Semoga tips-tips di atas jadi pengingat ya teman-teman... ☺
Read More

Belajar Tentang Toxoplasma Gara-Gara Rahayu Pawitri

Saturday, November 12, 2016

Hai.. Selamat Weekend..

Pada kemana nih weekend ini? Saya sih di rumah saja karena kebetulan Pak Yopie ke Bandung, hehe.. Lagipula hari Sabtu tadi ada Expo Pendidikan di sekolah Amay, dan hari Minggu besok insya Allah akan ada pertemuan parent's club yang diadakan rutin setiap minggu ke dua tiap bulannya. Jadi yaa, ga bisa jalan-jalan, hehe..

Oya, weekend ini saya mau menulis tentang Mbak Rahayu Pawitri. Saya mengenal Mbak Wiwit (begitu Mbak Rahayu Pawitri ini akrab disapa), setelah tergabung dalam arisan link Blogger Perempuan. Padahal sebenarnya saya dan Mbak Wiwit ini sama-sama anggota IIDN loh (komunitas kepenulisan pertama yang kami ikuti), hehe, tapi justru dekatnya setelah jadi anggota arisan. You know, gara-gara arisan ini saya jadi dekat dengan beberapa blogger? Kami mengobrol secara intens, bahkan kini kami mengadakan English Day setiap hari Jum'at. Asik 'kan? That's what friends are for. Jadi punya teman banyak seharusnya membuat kita berkembang, hehe.. Tapi berkembang disini bukan berarti memanfaatkan loh yaaa.. Itu sih big no! *Tapi saya memanfaatkan Mbak Wiwit dan Mbak Ria juga ding...biar ketularan jago bahasa Inggrisnya, xixixixi...*

Sudah kenal Mbak Ria kan? Itu lho, yang punya Chocolicious.

Oya, hasil bincang-bincang dengan Mbak Wiwit, saya jadi belajar satu hal. Tentang Toxoplasma. Kebetulan, Mbak Wiwit ini dulu pernah terinfeksi Toxoplasma ini. Ini yang membuatnya agak ragu memberi adik untuk Hana, putri se-matawayang-nya. 

Yah, saya maklum sih, karena untuk bisa mendapatkan Hana, Mbak Wiwit perlu waktu 4 tahun. Ia harus yakin bahwa parasit jahat itu benar-benar sudah enyah dari dalam tubuhnya. Karena, toxoplasma ini memang sangat berbahaya bagi ibu yang sedang hamil. Parasit Toxoplasma ini dapat merusak janin. Dampak yang umumnya terjadi adalah keguguran. Dan bila bayi terlahir maka ia akan megalami beberapa masalah kesehatan, seperti: cacat bawaan, pembengkakan hati dan limpa, penyakit kuning, hingga infeksi mata yang berat. Akibat lainnya adalah janin dengan ukuran kepala yang besar dan berisi cairan (hidrocephalus).

Awal mula Mbak Rahayu Pawitri mengetahui bahwa dirinya terinfeksi toxoplasma adalah ketika ia merasakan sesuatu yang tidak beres pada matanya. Seperti yang ditulisnya di id.theasianparent.com, beberapa jaringan saraf mata kirinya mengalami kerusakan permanen. 


Lalu, Apa Sebenarnya Toxoplasma Itu? 

Mengutip Wikipedia, Toxoplasma atau lebih tepatnya Toxoplasma gondii adalah spesies protozoa parasit pada genus Toxoplasma. T. gondii menyerang kucing, tetapi parasit dapat dibawa oleh semua mamalia. T. gondii menyebabkan penyakit Toksoplasmosis.

Jadi sudah jelas ya, penyakit yang disebabkan oleh parasit ini dinamakan Toxoplasmosis/Toksoplasmosis.


Benarkah Kucing Merupakan Penyebab Utama Infeksi Toxoplasma?

Sebenarnya, semua hewan berdarah panas dapat terinfeksi dan menularkan toxoplasma kepada manusia. Pada hewan-hewan selain kucing, toxoplasma berkembang biak dengan cara membelah diri (non seksual). Kucing, adalah inang definitif toxoplasma. Dalam tubuh kucing, toxoplasma dapat berkembang secara seksual (makro-gamet dan mikro-gamet) dan non seksual.


Bagaimana Cara Penularan Toxoplasma?

Kucing yang terinfeksi toxoplasma hanya menyebarkan ookista dalam jangka waktu tertentu, yaitu sekitar 10 hari sejak terinfeksi. Setelah 10 hari jumlah ookista yang disebarkan biasanya sangat sedikit dan mempunyai resiko penularan yang sangat kecil. Penyebaran ookista ini biasanya terjadi pada kucing muda. Penyebaran ookista biasanya tidak terjadi pada kucing dewasa karena sistem kekebalan tubuh kucing dewasa sudah lebih baik dan relatif dapat mengendalikan sendiri infeksi toxoplasma tersebut.


Pada Ibu Hamil, Langkah-langkah Apa yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Penularan Parasit Toxoplasma?

  • Hindari minum susu yang tidak dipasteurisasi. Ini juga berlaku pada produk-produk turunan susu seperti keju dan yogurt.
  • Hindari makan makanan mentah. 
  • Cuci dan kupaslah buah dan sayuran sebelum dimakan.
  • Cuci bersih peralatan dapur, meja dapur, meja saji, dan bahan makanan apapun sebelum mengolahnya. Pastikan membasuh tangan dengan air hangat dan sabun antiseptik setelah memasak daging mentah.
  • Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut ketika sedang menyiapkan makanan. Pastikan selalu mencuci tangan sebelum makan.
  • Usir serangga seperti lalat dan kecoa dari makanan.
  • Hindari minum air yang telah terkontaminasi. Konsumsi air minum dalam kemasan apabila bepergian ke daerah dengan sanitasi yang buruk.
  • Jika melakukan aktivitas berkebun, gunakan sarung tangan dan jangan menyentuh mata, mulut dan hidung sebelum tangan dibersihkan.


Hampir setengah dari penyebab toxoplasma disebabkan karena kebiasaan mengonsumsi daging mentah atau setengah matang. Kita juga harus berhati-hati ketika makan lalapan atau sayuran mentah. Memang banyak yang meyakini bahwa sayuran segar yang belum diolah, akan lebih mudah dicerna dan terjaga nutrisinya. Akan tetapi, kita toh tidak pernah tau apakah makanan yang kita konsumsi bebas dari parasit ini, karena faktanya, toxoplasma dapat bertahan di dalam tanah selama berbulan-bulan, terutama di tanah yang lembab. 

Parasit Toxoplasma yang mengontaminasi daging ayam, daging sapi dan daging kambing akan mati setelah dimasak dengan matang di atas suhu 67 derajat Celcius.

Belajar tentang toxoplasma, meskipun baru sekilas saja, sungguh membuat mata saya terbuka. Bahwa menjaga kebersihan itu wajib, selain karena kebersihan adalah sebagian dari iman. 

Masih banyak yang ingin saya ketahui tentang penyakit ini. Tapi tenang, Mbak Wiwit akan menuliskannya untuk kita di blognya. Kita tunggu saja yaa, sambil mamam batako dan minum mijon. *laah, ketularan Minceu Lambe_Turah.* 

Rahayu Pawitri: Blogger, Teacher, Content Writer, and also a Mother

Buat yang ingin mengenal Mbak Wiwit, atau ingin sekalian belajar bahasa inggris, atau ingin tanya-tanya tentang Toxoplasma (sebagai seseorang yang pernah terinfeksi Toxo), berikut link social media yang bisa dikunjungi:

Facebook: Rahayu Pawitri
Twitter: @rahayupawitri
Instagram: @rahayu_pawitri





Sumber bacaan tentang toxo: http://www.nutriclub.co.id/kategori/kehamilan/kesehatan-kehamilan/penyakit-toxoplasma-pada-ibu-hamil?p=1



Read More

Facebook "On This Day", Membantuku Menghapus Curhatan Geje

Friday, November 11, 2016

Menjadi seorang Mama sejak hampir 6 tahun belakangan, saya belajar banyak hal, meskipun belum semua ilmu parenting saya kuasai dengan benar. Saya belajar cara bernegosiasi, meski seringnya berakhir dengan nada yang meninggi. Saya belajar untuk bisa begadang, padahal biasanya saya tidur pulas saat malam menjelang. Saya belajar untuk jadi pemberani, padahal sebelumnya dengan kecoa saja takut setengah mati. Dan masih banyak belajar-belajar lainnya, yang saya tak sempat menuliskannya. Tak sempat atau tak ingat yaa.. Ya itulah pokoknya. 

Setiap kali selesai memarahi si sulung, saya minta maaf, memeluk dan kemudian berjanji untuk lebih sabar lagi esok hari. Setiap kali tersadar telah mengabaikan si bungsu, saya sering menyesal, dan berjanji bahwa esok akan lebih memberi perhatian lagi. Dan yaa..janji terkadang tinggal janji saja. Esoknya saya masih susah mengontrol emosi, masih sibuk dengan jari-jemari mengetik sana sini. Mata memandang mereka tapi pikiran melayang entah kemana. Internet memang luar biasaaa pengaruhnya.

Saya terlena, hingga penyesalan selalu datang setelah semua terjadi. Saya terlupa, hingga harus diingatkan lagi, setiap hari.

Dan ketika Kopdar bareng ibu-ibu IIDN, Mba Ety Abdoel menyampaikan materi tentang "Internet Baik", saya seperti tertampar. Detik itu juga saya berjanji untuk berusaha "puasa digital". Saya mesti membagi waktu dengan benar, kapan boleh pegang HP, dan kapan harus pegang anak-anak.

Sekarang Amay sudah 6 tahun, sudah pandai membaca. Dia terkadang browsing tentang binatang-binatang yang ia ingin tahu populasinya, habitatnya, makanannya, dll. Dia juga sering meminta tolong pada saya untuk mencari kata ini-itu dalam bahasa Inggris, bahasa yang sedang digandrunginya selain bahasa Jepang. Dan begitu dia tahu bahwa google translate itu bersuara, dia terkekeh, takjub, dan makin penasaran dengan yang lainnya.

Saya tidak boleh lengah sekejap mata pun, jika Amay sudah memandangi layar, baik layar HP maupun layar monitor. Karena seperti mata pisau, internet bisa membantu kita, namun juga sekaligus bisa membuat celaka. Mencegahnya menggunakan internet saya rasa tidak benar juga, karena khawatirnya nanti dia penasaran dan mencobanya secara diam-diam. Membiarkannya berselancar tanpa pengawasan juga sama halnya dengan mendorongnya ke jurang. Jadi saya memilih untuk memperkenalkan internet yang BAIK. Bertanggungjawab - Aman - Inspiratif - Kreatif.

by Ety Abdoel

Saya lalu ingat lagi tulisan Mak Mutia Elisa Karamoy tentang Menghapus Jejak Digital. Kalau anak-anak bisa kita dampingi saat mereka bermain di dunia maya yang belum sepenuhnya dimengerti oleh mereka. Lha kalau kita? Kita ini terkadang permisif pada diri sendiri. (Meminta anak untuk bersabar, tapi kita sendiri sering kehilangan kesabaran. Kan bertolak belakang ya...) Termasuk ketika melarang anak-anak melihat yang tidak-tidak, tapi diri sendiri malah membuka yang tidak-tidak. Hayoo, siapa? Semoga yang baca tulisan ini TIDAK termasuk di dalamnya yaa..

Kalau udah terlanjur gimana? Salah satu saran Mak Mutia Karamoy adalah, clear history. Selanjutnya bertobat lalu tidak melakukannya lagi. Zina mata, woy!

Nah, beruntung juga di facebook ada facebook on this day yaa.. Yaitu penanda atau pengingat memori, bahwa di tanggal dan bulan ini, di tahun-tahun sebelumnya, kita telah menjejak di dunia maya. Adakah yang seperti saya, suka menghapus memori-memori yang tak penting? Ketika ketinggalan KRL saja jadi bahan curhat di dunia maya? Hihihi...

yeaayy udah dihapus memori facebooknya 


Jadi, mulai sekarang tahan diri yuk, contohkan pada anak-anak kita. Kalau terlanjur membuat "memori", pilih yang sekiranya bermanfaat, hapus yang sekiranya membawa mudharat. 

Sedekat apapun media sosial dengan kita, dia bukanlah teman baik yang pandai menyimpan rahasia.


Read More

5 Things You Need To Know Before Doing Plastic Surgery

Thursday, November 3, 2016

plastic surgery via pixabay

Plastic surgery was first performed by an Italian physicist, Gaspere Tagliacozzi, in 1837. At that time he managed to reconstruct the nose of a patient who suffered damage, using the techniques of ancient India. Indeed, Plastic Surgery was originally intended for medical purposes and not for aesthetics (beauty) as it is today.
Plastic surgery, does not mean the use of plastic materials in the process. The term "plastic" is taken from the Ancient Greek language, Plastikos, which means "form". As Gaspere Tagliacozzi did that time, he used the surrounding skin tissue of the patient's hand.

Nowadays, the trend of plastic surgery increasingly mushrooming. When the first, Plastic Surgery is only done by adults aged 50 years and over, this time even teenagers have felt the need to improve their body. This was driven by the desire to appear such as K-Pop idol who have beautiful faces, small nose, large eyes, and also well-shaped chin.
In Korea, 25 percent of mothers sending their children to perform plastic surgery at the age of 14 to 20 years. Other fact, 76 percent of women aged 20 to 30 years has had plastic surgery. Plastic surgery even served as a birthday gift.
One of the reasons why plastic surgery in Korea became very famous is the incident of Miss Korea 2012, Kim Yu Mi, who proved to have undergone plastic surgery. Although many critics say that it is a fraudulent act, but Kim Yu Mi herself also admitted that she never said that she was born as a pretty one. She retains her title as Miss Korea 2012.

As an Economic Law, the large number of consumers which is followed by the increase of producers (plastic surgery services provider), will led to price competition. In Korea, the costs required to perform any Plastic Surgery is competitive. If in US, it would require at least 10,000 US dollars, then in Korea we only need to provide 2,000-3,000 US dollars. So, Korean Plastic Surgery is the best choice.

Although plastic surgery can increase confidence because it can make the face look younger, beautiful, and looks perfect, but there are 5 things to keep in mind before deciding to perform Plastic Surgery:
1. Do general check-up. If you have health problems such as depression, heart disease, diabetes, high blood pressure, or bleeding disorders, you should avoid this action.
2. Always choose the best doctor.
- Never perform plastic surgery in the addition plastic surgeon, for example, perform at a beauty salon and the person who is not a plastic surgeon.
- Ask in detail any risks that may arise. See photos of the surgery he had ever done. If he refuses, it is a sign of danger for you.
- Check also the ability of the anesthetist who will handle the surgery, because the anesthesia process as dangerous as surgery process.
- If in Korea you find a doctor who is not fluent in English, you do not need to worry, because there is someone who can help you. He has been working with great clinics or doctors for your easy and satisfactory surgery trip to Korea. His one-stop concierge service helps you from booking clinics, recommending the best doctors, arranging multiple appointments with the clinics, translation, post-op care, giving medical advices and conflict solving with the clinics instead of you and etc for the best result. Please visit his website at My Real Translator and you will find his contact.
3. Plastic surgery will not be able to stop the process of aging and gravity.
4. All plastic surgery always leaves a scar.
5. For you who wants to look slimmer by liposuction, liposuction will not remove cellulite.
Liposuction does make the body appear slimmer, especially on the stubborn to diet and exercise. But actually, this surgery is not only futile to remove cellulite, but it can actually worsen the appearance of cellulite. This occurs if the amount of fat being sucked up too much so that even more wrinkled skin. Association of plastic surgeons in the United States limits the maximum amount of fat that can be sucked ie 6 pounds in each surgery time, not more than that. More than this amount can be fatal, can even cause death, as if too much fat, blood and fluids removed from the body, will lead to failing heart work.


So, before you choose plastic surgery for beauty, better think one more time and consult to get maximum results and secure.
Read More

5 Blogger Favorit Blogger Kayusirih

Sunday, October 30, 2016

Selamat Hari Blogger!!!

Meski sudah 3 hari lalu, tapi semoga euforianya masih terjaga yaa...

Jujur saja, kadang saya masih "ngga layak" menyebut diri sebagai blogger. Kalau sebagai pemilik blog kayusirih.com sih iya, hehe... Tapi definisi blogger sekarang ini kan ngga hanya sekedar penulis di blog ya? Entahlah...saya juga kurang paham. Hehe..

6 tahunan yang lalu, saat baru pindah ke Solo dan ngga tau mau ngapain, suami membuatkan saya blog ini dengan tujuan agar saya punya kegiatan. Maklum, sebelum menikah saya termasuk sibuk, hehe.. Pagi sampai siang mengajar di Bogor, sore sampai malam kuliah di Jakarta. Begitu menikah dan ikut suami di Solo, i do nothing. Dan ini bikin bete. Karena saya juga ngga punya saudara atau teman dekat disini. Teman ngobrol ya cuma suami.

Tapiii, dasar saya ini ngga pedean, saya baru terpikir untuk menulis di tahun 2013. Yup, butuh waktu 3 tahun untuk memunculkan rasa percaya diri. Saat itu saya berpikir, ya, "The journey of a thousand miles begin with one step". Kalau saya ngga mulai, kapan saya akan sampai? Kalau saya ngga berusaha, mana mungkin saya bisa melakukannya? Meski tulisan pertama saya agak kurang sedap dibaca, tapi saya tak menghapusnya. Biarlah semua proses itu menjadi kenangan, hehe...

Hingga akhirnya saya ada disini. Di lingkaran para blogger yang makin hari makin kreatif dan inovatif menggali potensi diri. Saya minder, kadang-kadang, hehehe.. Tapi saya berusaha untuk tetap menjadi diri saya, dengan semangat belajar yang "diusahakan" tetap membara.

Kalau saya bisa sampai di titik ini saat ini, tentu karena ada campur tangan orang-orang baik yang senantiasa mau membagi ilmunya. Iya, seperti lagu yang diputar setiap sore di televisi nasional saat saya kecil dulu,

Kita jadi pintar dibimbing pak guru, 
kita jadi pandai dibimbing bu guru, 
guru bak pelita, 
penerang dalam gulita, 
jasamu tiada taraaaa

Jadi 5 blogger yang saya favoritkan ini adalah blogger yang saya angkat jadi guru saya, hehe... Pokoknya dari mereka, dari tulisan-tulisan mereka, saya belajar sedikit demi sedikit. Iya, masih sedikit, karena waktu luang saya yang tak seberapa setelah terpotong tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga. 

Udah, langsung saja lah yaaa.. Inilah 5 Blogger Favorit kayusirih:

1. Sary Melati
Mak Sary ini humble banget yaa.. Saya bisa menilai begitu karena beliau follow akun instagram saya, dimana biasanya blogger yang merasa udah nge-hits, ngga mau follow back orang yang follow dia, hehe.. Yaa..meski urusan follow-unfollow adalah urusan selera yaa..hehe.. Tapi Mak Sary ini berbeda. Dan beliaulah orang yang mengijinkan saya masuk ke komunitas blogger pertama saya, KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger). Padahal saat itu tulisan saya baru sedikiiiit, dan tulisan saya juga masih mirip karangan anak SD. 

Sary Melati, Blogger

2. Ety Abdoel
Dari beliau, saya bisa belajar ngeblog secara langsung. Alhamdulillah, setidaknya sebulan sekali saya ketemu dengan beliau ini. Tulisan Mba Ety itu detail, informatif, runut, pokoknya saya suka saya sukaaa.. Saya jatuh cinta dengan tulisan Mba Ety itu, pertama kali waktu beliau menulis untuk lomba Memperingati 10 Tahun Tsunami Aceh. Dan di lomba itu, Mba Ety meraih juara 3. Luarrr biasaaa..

Ety Abdoel, Blogger

3. Pungky Prayitno
Nggak mungkin nggak kenal 'kan? Mak Pungky ini juga favorit saya. Tulisannya asik. Kadang bisa bikin ketawa ngakak, tapi paragraf berikutnya tiba-tiba bisa bikin nangis. Saya juga ngga pernah melewatkan satu huruf pun kalau sudah baca tulisannya. Kereeen pokoknya. Pantes lah kalau Mbak Pungky juga langganan jadi juara.

Pungky Prayitno, Blogger funky and gaul

4. Shinta Ries
Ngga ada alasan untuk ngga memfavoritkan beliau. Karena tergabung dalam grup yang digawanginya itu, saya akhirnya berkenalan dengan banyak nama. Karena Blogger Perempuan juga saya kemudian terdorong untuk membeli domain. Intinya, banyak ilmu yang saya dapatkan darinya. Pintar, cerdas, tapi nggak pelit ilmu. Jarang ada yang sepertimu, Mbak. 

Shinta Ries, Blogger

5. Pakde Cholik
Yeeeeayy.. Saluut sama Pakde. Kalau biasanya, pensiunan itu udah ngga mau ngapa-ngapain, tapi energi Pakde sepertinya nggak bisa membiarkan beliau diam saja. Pakde selalu menebar manfaat melalui tulisan-tulisannya. Selera humornya bikin kita betah baca blognya. Salut..Saluut..Saluutt lah..



Dan, benang merah dari ke-5 blogger favorit saya di atas, sesungguhnya adalah dua kata. Cerdas dan Humble

Sebenarnya masih ada beberapa blogger cerdas dan humble yang saya jadikan guru secara diam-diam, hehe... Tapi karena dibatasi 5 saja, jadi terpaksa hanya 5 nama yang saya tulis di atas.

Dan jika disuruh memilih salah satu saja, sungguh tak mudah untuk memilihnya. Tapi kemudian saya kerucutkan sesuka hati saya, hehe... Yang saya pilih adalaaaahh...yang pernah ketemu dengan saya. Yang pernah saya sentuh secara nyata. Dan iyaaa, pilihan saya adalah Ety Abdoel.


 Blog Ety Abdoel


Bukan, bukan karena yang lain kalah hebat... Nilai mereka berlima sama, tapi karena saya bingung memilihnya, jadi ya sudah, saya pilih Mba Ety saja yaa..hehe... Ini juga sebagai ucapan selamat karena tadi diumumkan bahwa Mba Ety kembali meraih juara untuk lomba blog Sunlife. 

Selamat ya Mba... 



Read More

Jon Koplo di Rubrik "Ah Tenane" Solopos

Friday, October 28, 2016

Setelah sekian lama tidak menulis untuk media cetak, akhirnya minggu lalu saya melakukannya lagi, karena kerinduan untuk bisa mendapat uang dengan lebih cepat telah sampai di ubun-ubun. *Hihihi, mulai matre...* Pilihan saya tepat, karena dengan mengirim tulisan ke media Harian, maka kemungkinan tulisan itu untuk dimuat akan lebih besar.

Bersyukur sekali, tulisan yang saya kirim di hari Jum'at, dimuat satu hari berikutnya. Tepatnya, di Sabtu, 22 Oktober 2016. Padahal prediksi saya, jika dimuat, tulisan itu akan muncul di minggu berikutnya, entah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at atau Sabtu. Dan syukur Alhamdulillah sekali, tulisan saya masih memenuhi kriteria Solopos. Itu cukup membuat bahagia dan mengobati rasa kecewa. Iya, ada sedikit drama yang terjadi sebelumnya, dan kabar dimuatnya Jon Koplo saya, sangat menghibur hati saya yang sedang lara.


Lalu, tulisan macam apakah yang saya buat? Ini hanya kisah lucu-lucuan saja sih. Kisah nyata yang terjadi sekitar 8-10 tahun yang lalu, saat saya masih di Bogor. Lady Cempluk ini adalah Bulik Anna (adik ibu saya yang baik hatinya, tempat saya menumpang selama kuliah dan bekerja di Bogor). Jon Koplo adalah Naufal, adik sepupu saya, yang juga akrab dipanggil Jo alias Paijo . Gendhuk Nicole adalah Fira, sepupu saya yang merupakan kakak dari Naufal.

Kisahnya kurang lebih sama, hanya saya edit bahasanya, karena tulisan ini menyesuaikan dengan karakter di rubrik "Ah Tenane" yang kerap menyisipkan dialog dalam Bahasa Jawa.

Jon Koplo di Rubrik "Ah Tenane", Solopos

Inilah kisah selengkapnya:

Berbagi

Jon Koplo meminta uang pada ibunya, Lady Cempluk, untuk membeli makanan ringan. Saat makan makanan tersebut, Gendhuk Nicole, kakak perempuannya, menghampiri.

Maem apa kuwi?" tanya Nicole pada adiknya yang baru duduk di kelas TK B itu.

Karena Jon Koplo tak menjawab, Nicole pun to the point saja. "Aku nyuwun," pintanya. Namun, Jon Koplo tak mau membagi makanannya itu, meski dia masih memiliki satu bungkus lainnya.

Karena tak ingin melihat pertengkaran, Cempluk pun menasehati Jon Koplo. "Mbak Nicole diparingi to, Le. Yen seneng berbagi, mengko rezekine tambah akeh."

Bagi Jon Koplo yang baru berusia lima tahun, rezeki artinya uang. Awalnya Jon Koplo tak percaya, tapi karena iming-iming rezeki berganda itu, akhirnya ia mau membagi sedikit makanannya. “Ibu, nggak bohong, to?” tanya Jon Koplo pada ibunya.

Yang ditanya ragu, dan akhirnya berkata, “Ya kalau nggak sekarang, akan diganti di masa yang akan datang.”

Merasa bahwa sang ibu seolah memperalatnya, dengan sedikit kesal Jon Koplo membuka satu bungkus makanannya yang lain.

Matanya kemudian berbinar, ada sesuatu di dalam bungkus makanan itu, yang dibungkus plastik dan dilapisi perekat.
“Ha, iki apa ya?” Jon Koplo penasaran.
“Wah, duit! Horeee...” Jon Koplo girang karena menemukan uang lima ribuan.

Dalam hati Cempluk lega, karena Tuhan dengan cepat mengganti kebaikan anaknya, sehingga Jon Koplo percaya dengan nasihatnya. “Lho, rak tenan, yen seneng berbagi kuwi rezekine dadi akeh.”

~~~

tulisan di atas adalah naskah asli sebelum mengalami proses pengeditan di meja redaksi. 

Baca juga kisah Jon Koplo saya lainnya di: Aja Kesusu

Begitulah...

Ada yang ingin mencoba mengirim kisah seru ke Solopos juga? Caranya gampang koq. Untuk rubrik "Ah Tenane", tulislah kisah nyata sepanjang kira-kira 150 kata saja, lalu kirim ke email Solopos: redaksi@solopos.co.id atau redaksi@solopos.com

Ada imbalannya koq. Lumayan, buat beli bakso insya Allah cukup. 

Read More

Heart Field; Usaha Saya Mengganti Kecewa dengan Rasa Bahagia.

Wednesday, October 26, 2016


Mau curcol...

Bulan lalu, saya mendapat hadiah voucher sebesar Rp 200.000,-. Salah saya, saya tidak segera menggunakannya. Tiap ada kesempatan untuk berbelanja, saya bingung mau pilih barang yang mana. Ketika kemarin saya coba menggunakannya, kode voucher tersebut dinyatakan tidak valid

Saya mengirimkan email ke costumer service, kemudian mendapat jawaban yang sebenarnya kurang menjawab permasalahan saya ini. Saya meng-email untuk yang kedua kalinya, dan terjawablah pagi tadi, bahwa ketidakvalidan kode voucher tersebut dikarenakan telah melampaui batas waktu yang ada, yaitu 30 hari sejak pemberitahuan. Artinya, vouchernya sudah KADALUARSA.

Sempat sedih dan kecewa, karena saya tidak menemukan informasi bahwa kode voucher itu hanya berlaku dalam jangka waktu 30 hari, di email terdahulu. Tapi kemudian, saya menghibur diri sendiri, "Ya sudahlah, mau dikatakan apa lagi?" 

Lalu tibalah saat dimana saya kemudian bisa berdamai dengan diri sendiri.

Diba, salah satu Arsitek Akanoma, datang pagi-pagi (FYI, Studio Akanoma ada di rumah saya). Saya langsung teringat dengan status facebook-nya kemarin dan tertarik untuk membahasnya. Saya pikir, saya membutuhkan rumus untuk bisa kembali bahagia, setelah good-mood saya hilang pasca membaca email jawaban yang membuat sedih, kecewa dan menyesal tadi.

Ini dia statusnya:


Iya, saya ingin kembali bahagia. Makanya saya tanya-tanya si tante Diba itu, gimana biar bisa bahagia? Apalagi katanya, orang yang bahagia, detak jantungnya bisa memancarkan kebahagiaan ke sekelilingnya juga. 'Kan kalau ada orang yang bahagia, biasanya orang lain ikut merasakannya, atau paling tidak mendapatkan manfaat dari orang yang bahagia tadi, ya 'kan?

Nah, lalu, setelah bincang-bincang dengan Tante Diba tadi, gimana sih biar hati kita bisa bahagia?

Caranya adalah: ingat-ingat saat kita benar-benar sedang bahagia. Ingat semuanya! Kalau sudah, rasakan! (bukan dipikirkan). Saya tadi mempraktekannya, dan tanpa sadar, bibir saya mengucap, "Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah..." Begituuu terus. Sampai-sampai saya lupa dengan voucher yang hangus tadi. Bahkan saat tiba-tiba teringat pun, saya malah bisa bilang begini pada diri sendiri:
"Apa yang kamu miliki, sesungguhnya bukan milikmu. Bahkan sesuatu yang telah kamu genggam, bisa saja harus kau lepaskan."
Iya, apa yang selalu kita akui sebagai milik kita, sebenarnya adalah milik-Nya. Lalu ketika Dia berkehendak untuk mengambilnya, ngga usah sewot lah yaa... Itu 'kan hak-Nya.




Dari pengalaman voucher hangus tadi, kemudian saya bisa mengambil hikmah atau pelajaran:

1. Bahwa sebenarnya kita tidak punya apa-apa. Kenapa sombong? 
2. Seharusnya, rezeki yang sudah kita dapat, kita syukuri dengan sebaik-baik rasa syukur. Cara bersyukur, salah satunya adalah dengan menjaganya agar tidak hilang.

Seperti kisah dalam sebuah hadits. Pernah ada seorang sahabat datang menemui Rasulullah SAW. Dia datang dengan menunggang unta. Saat tiba, untanya dibiarkan di halaman rumah Rasulullah SAW, tanpa diikat. Kemudian dia menemui Rasulullah SAW. Sebelum menyampaikan maksudnya, Rasulullah bertanya, "Kamu sudah mengikat untamu?"

Dia menjawab, "Aku bertawakal kepada Allah."

Rasulullah SAW menegur, "Ikat dulu, baru engkau bertawakal kepada Allah."


Dalam kaitannya dengan voucher yang hangus, salah saya adalah, kenapa nggak segera belanja?  

Begitulah...

Singkat kata, setelah saya bisa memunculkan rasa bahagia dan melupakan rasa kecewa, saya bisa menjalani hari dengan tenang. Memasak pun lancar, padahal saya sendirian dan harus menjaga Aga juga. Alhamdulillah, semesta memang mengkondisikan semua berjalan seperti mau saya. Waktunya memasak, Aga mengantuk dan tidur tanpa rewel. Saat dia hampir terlelap, saya berbisik, "Adik tidurnya yang nyenyak yaa... Jangan nangis, jangan rewel. Nanti bangunnya setelah Mama selesai masak."

Daaan, Aga bangun tepat saat saya meletakkan mangkuk sayur ke bawah tudung saji, tanpa tangisan! 

Oke, itu baru 1.

Yang ke 2. Siang setelah Amay pulang sekolah, Amay dan Aga bermain bersama. Kebetulan ada Arka juga yang datang ke rumah. Aga, masuk ke rumah tetangga yang punya bola. Yup, anak itu memang hobinya main bola. DI RUMAH TETANGGA, PULA. Padahal di rumah pun ada bola, tapi dia lebih suka bolanya Mas Ivan.

Saat di rumah Mas Ivan itulah saya buka-buka koran. Solopos tepatnya. Kebetulan hari Jum'at lalu, saya mengirimkan satu kisah kesana. Bukan kisah yang gimana-gimana, cuma Jon Koplo saja. Memang, saya sebelumnya memprediksi bahwa tulisan saya jika dimuat akan muncul di hari Senin, Selasa, Rabu atau Kamis. Ternyata, hari Selasa kemarin adalah harinya Bu Ima, salah satu teman IIDN Solo. Jadi, saya berharap hari ini atau besok adalah giliran Jon Koplo saya yang muncul disana.

Saya sempat kembali kecewa waktu melihat koran itu ternyata terbitan Sabtu, tanggal 22 Oktober kemarin.  

Tapiii...

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah judul di kolom "Ah Tenane". BERBAGI... Itu judul yang saya buat Jum'at lalu. Ketika saya cek nama penulis di belakang, yak, Arinta Adiningtyas tertulis disana.

Jon Koplo saya di rubrik "Ah Tenane" Solopos

Tuh kan... Skenario Allah itu selalu penuh kejutan. Kalau semua mulus-mulus saja, rasanya jadi kurang greget. Betul tidak? Saat nonton film saja, kita maunya film yang ceritanya menghentak, ngga monoton dan membosankan, ya nggak?

So, mungkinkah ini karena saya "mengaktifkan" Heart Field tadi? Bahwa rasa bahagia bisa kita hadirkan sewaktu-waktu. Dan saat kita mengingat-ingat momen bahagia kita, sejatinya kita sedang mengingat-ingat nikmat dari Allah SWT. Saat kita menghadirkan memori yang membuat tertawa itu, sebenarnya kita sedang menghadirkan rasa SYUKUR.

Lalu ingatlah, bahwa bahagia kita, jauuuuh lebih banyak daripada sedih kita. Ingat itu selalu. :)






Read More