Bakmi Mewah, Sajian Pas untuk Kehangatan di Dalam Rumah

Wednesday, January 18, 2017


Beberapa hari terakhir, Solo selalu diguyur hujan setiap sore. Kalau langit sudah mendung, angin bertiup kencang, gordyn beterbangan, apa lagi yang bisa saya ingat selain jemuran dan suami yang belum pulang atau masih di jalan?

Iya, sebulan terakhir, kami memang sudah terpisah dengan kantor Akanoma. Enam tahun menjadi satu dengan studio, kami harus beradaptasi dengan keadaan sekarang ini. Positifnya, suami jadi lebih disiplin dalam bekerja, ngga pake acara lembur sampai malam karena sekarang mah pergi pagi pulang petang. Selain itu, pekerjaan dapat dilakukannya dengan baik tanpa gangguan Amay dan Aga yang seringnya meminta sang papa berbagi layar. Iya, suami saya sering “momong” anak-anak sambil bekerja, jadi separo layar untuk memutar film, separo lagi untuk AutoCAD. Hahaha... Tapi sekarang mah udah jelas, mana rumah mana kantornya. :D

Lalu, dampak negatifnya apa? Ya paling kalau pas hujan begini, kan kasihan kalau pulang kehujanan ya... Kalau biasanya datang dan pulang kantor mah ngga berasa apa-apa, lha wong di rumah aja, sekarang, kendalanya cuaca. Ngga boleh nyalahin hujan juga sih, karena hujan adalah rahmat. Ya ‘kan? Harus disyukuri. Kalau kedinginan? Ya dihangatkan lah. Hehe...

Makanya, saat hujan kemarin, setelah memastikan bahwa beliau sudah akan pulang ke rumah, saya pun menyiapkan seteko teh hangat dan mmm...bakmi mewah.



Bakmi? Emang bakmi ada yang mewah? Bakmi kan identik dengan masakan Jawa yang ndeso to?

Hehehe... Yang ini bedaaa... Sekarang kita bisa membuat Bakmi ala resto, di rumah. Bikinnya cepet dan ngga pakai ribet.

Sini aku bisikin yaa... Bakmi Mewah itu beda dengan bakmi biasa. Mie-nya kenyal, tipis, lembut tapi tidak mudah putus. Rasanya pas, ngga keasinan seperti mie instan yang biasa kita makan. Potongan daging ayam dan jamurnya pun enak lho. Ini menurut lidah saya sih, silakan dicoba deh biar ngga penasaran, lalu beri penilaian. :D

Kalau soal harga, tentu tidak bisa disamakan dengan mie instan biasa. Lha wong di dalam Bakmi Mewah ada tambahan daging ayam dan jamurnya juga koq, ya wajar kalau sedikit lebih mahal. Ya ngga?

Nah kemarin ceritanya pas hujan-hujan itu saya bikin 2 versi. Yang satu versi anak-anak, satunya lagi versi orang dewasa. Yang membedakan adalah, untuk Amay-Aga, saus sambalnya tidak saya campurkan. Soalnya, Amay itu sensitif banget sama rasa pedas. Aga pun baru 2 tahun kan, belum bisa makan pedas.

Bakmi Mewah punya Amay Aga, non pedas

Buat kami yang dewasa, selain tambahan sayur, yang tak boleh ketinggalan adalah cabe. Biar kata cabe lagi mahal, tapi makan pedes mah tetep jalan, hihi...

Saya sempat mencicipi mie-nya Amay-Aga. Walau tanpa saus, rasanya ngga eneg. Daaan, mengingat bahwa Amay-Aga ini ngga sabaran kalau udah lihat mie instan, Bakmi Mewah ini bisa ready dalam waktu 2-3 menit saja. *Hihi, lalu terbayang Bakmi Jowo langganannya Pakde di Jogja yang bikinnya pake arang dan luamaaaa banget jadinya. Inget banget waktu itu saya harus menahan lapar karena menunggu hampir sejam. :D

Untuk kami yang dewasa, agak lebih ribet memang. Tapi demi rasa pedas yang nampol, ya ayuklah kita bikin kreasinya.

Kemarin pakai cara mudah saja.
1. Siapkan bawang merah dan bawang putih secukupnya. Iris tipis.
2. Siapkan cabe sesuai selera. Saya pakai 3 buah cabe rawit dan 2 buah cabe keriting. Pedas banget memang, tapi jadi kemepyar kalau kata orang Jawa.
3. Siapkan sayuran yang ingin ditambahkan.
4. Rebus Bakmi Mewah, tiriskan.
5. Siapkan bahan tambahan yang diinginkan. Saya pakai yang ada di kulkas, yaitu telur puyuh. Bisa juga ditambahkan udang, tapi karena saya alergi udang, jadi saya skip saja, toh sudah ada ayam dan jamurnya. Hehe...


Bumbu membuat Bakmi Mewah ala rumahan

Cara memasaknya mudah, sama seperti saat kita membat Bakmi Jowo ala-ala. 
Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum, masukkan irisan cabe, tumis hingga layu. Masukkan sayur dan telur puyuhnya. Masukkan juga mie-nya. Bumbunya sih, dituang di mangkuk saja lah kalau saya mah, hehe.. Kalau ingin lebih asin, tambahkan garam seukupnya. Tapi untuk saya, bumbu yang sudah tersedia di bungkus Bakmi Mewah sudah passs rasanya. Sudah? Aduk semuanya, dan Bakmi Mewah Pedas siap disantap.

Nah, seperti ini jadinya.

Bakmi Mewah Versi Pedas

Teman-teman yang suka memasak, pasti langsung ke-ide-an untuk berkreasi pakai Bakmi Mewah ya? Hihi...share dong, sukanya bikin apa saja kalau pakai mie instan?


Read More

Family Trip I, Keraton Mangkunegaran, Surakarta

Saturday, January 7, 2017

Alhamdulillah, libur tahun baru 2017 kemarin, kami sekeluarga bisa jalan-jalan bersama. Luar biasa, karena keluarga Hermansyah bisa berkumpul semua, alhamdulillah...

Mama mertua datang ke Solo, Jumat, tanggal 30 Desember 2016. Saat itu belum komplit semua sih, karena Om Dika (suami Tanton) dan keluarganya Tantin belum datang. Jadi cuma ada Oma, Mama, Ayah, Tanton dan baby Radit yang diantar Mang Iyus.

Tanggal 31-nya, Sabtu, kami ke Keraton Mangkunegaran. Dadakan, karena sampai detik itu kami bingung pengen kemana. Tadinya saya dan Mas Yopie usul, gimana kalau ke Umbul Ponggok (ini sih karena terpengaruh sama foto liburannya temen-temen #BloggerSolo, hehe...) atau ke kolam renang Pandawa? Tapi dua usulan itu ditolak, wkwkwkwk...

Akhirnya Mas Yopie punya ide, gimana kalau kita ke Keraton? Tadinya sih saya mikir, buat apa? Kayaknya ngga ada yang menarik disana, haha... Tapi Mas Yopie bilang, kan Mamah suka foto-foto selfie tuh, jadi disana biar pada foto-foto di ikon-nya Kota Solo, hihi... Okelah kalau begitu... Bukan apa-apa ya, dulu saya dan suami pernah ke Keraton Kasunanan, tapi ngga ngerti mau apa. Waktu itu sempat lihat drum band nya sih. Tapi mungkin karena ngga ada guide-nya (entah karena memang ngga ada atau pas kami berkunjung, guide-nya sedang pada sibuk), jadi kami cuma lihat benda-benda peninggalan jaman dahulu tanpa tau sejarahnya.

Singkat kata, sampailah kami di Keraton Mangkunegaran. Saya lewat jalan Slamet Riyadi (barat ke timur ya, karena 'kan satu arah), belok kiri di samping McD, melewati depan Soto Triwindu yang sedang direnovasi. Sampai perempatan belok kiri lagi. Sempat melirik ke arah Cafe Tiga Tjeret, tapi sayangnya kami harus belok ke kanan dulu, hihihi...

Iya, kami masuk lewat pintu yang berseberangan dengan Cafe Tiga Tjeret dan Omah Sinten itu.

Sampai sana, Mamah membeli tiket masuk untuk kami semua. Biaya masuknya cukup murah, Rp 10.000,- saja per orang. Anak-anak tidak dihitung.

Disini, ternyata ada guide yang siap memandu perjalanan kami. Alhamdulillah, jadinya kami bisa sekaligus belajar, 'kan? Ngga cuma jalan-jalan doang.

Sebelum kemana-mana, Mas Dodi sang guide, menawarkan untuk memfoto kami di depan. ☺

berfoto di depan Keraton Mangkunegaran, Surakarta

Kami memutari halaman yang diselimuti rumput hijau itu. Kebetulan saya ngecek di wikipedia juga, ternyata halaman ini memiliki nama dan fungsi tersendiri. Namanya adalah Pamedan, tempat berlatihnya para prajurit. Setelah berjalan memutar, sampailah kami di Pendopo. Disitu, kami harus melepas alas kaki. Kami diberi plastik kresek untuk wadahnya.

Belum apa-apa, Mas Dodi langsung menyayangkan kedatangan kami. Sayang kenapa? Soalnya kami terlambat datang. Seandainya kami datang lebih pagi, jam 10 begitu, kami bisa menyaksikan pertunjukan gamelan. Jadi setiap hari Rabu dan Sabtu antara jam 10-12 WIB, digelar pertunjukan ini. Antara hari Rabu atau Sabtu itu (duh maafkan saya yang pelupa, saya sudah tanya Mas Yopie juga, tapi beliau juga ngga ingat hari apa persisnya) bahkan ada tari-tarian juga. Hiks hiks..kami kelamaan mikir sih yaaa, jadinya kelewat deh. Tapi ngga apa-apa, next time insya Allah kesini lagi. ☺


lihatlah tas kresek kami. isinya alas kaki yang harus dilepas saat memasuki pendopo keraton mangkunegaran.

Oya, kata Mas Dodi, lantai pendopo ini terbuat dari Marmer yang didatangkan langsung dari Italia. Sayangnya, waktu terjadi musibah banjir di tahun 1966 (semoga ngga salah tahun ya, lupa-lupa ingat soalnya), lantai marmernya terendam, dan menimbulkan noda berwarna coklat. 

Pendopo ini memiliki empat soko guru, yang melambangkan empat elemen kehidupan.


Soko Guru dan Lantai Marmer yang Terendam Banjir.

Tak hanya itu, karena Raja pada masa itu sedikit terpengaruh dengan kebudayaan luar (beliau kuliah di Eropa), sehingga di langit-langit Pendopo pun bisa kita temukan lambang-lambang astronomi, tapi tetap ada sentuhan batiknya.


langit-langit di Pendopo Keraton Mangkunegaran

Setelah melewati Pendopo, kita akan sampai di area bernama Pringgitan. Disini ada tangga menuju Dalem Ageng. Di Dalem Ageng kita tidak diperkenankan mengambil foto. 




Mengambil informasi dari Wikipedia (karena saya takut salah), Dalem Ageng merupakan sebuah ruangan dengan luas 1.000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, dan sekarang berfungsi sebagai museum. Disini terdapat bermacam-macam barang yang dipamerkan. Mulai dari perhiasan-perhiasan, senjata-senjata (saya lihat ada katana, tombak setinggi hampir 4 meter, dll), perlengkapan menari, uang-uang logam, medali-medali, juga harimau yang sudah diawetkan. 

Keluar dari Dalem Ageng, kita disambut topeng-topeng, hehe... Area ini disebut Beranda Dalem. Disini kita bisa melihat foto keluarga raja. Mamah paling tertarik di area ini, hihi, apalagi waktu lihat foto Gusti Paundrakarna. Iya, Paundra yang artis itu. 

Jujur, banyak pengetahuan yang kemudian saya dapatkan setelah jalan-jalan kesini. Utamanya tentang silsilah kerajaan Mangkunegaran. Kemudian saya juga baru tau bahwa Gusti Paundrakarna ternyata merupakan cucu dari proklamator kita, Ir. Soekarno

Kata Mamah, "Duh, kamana wae, Rin?", hihihi, duh Wong Solo-nya (saya loh yaaa) malah kudet nih. Maafkan. ✌




Area taman di dalam Keraton Mangkunegaran.

Di depan 

Setelah keluar dari Dalem Ageng, acaranya memang lebih bebas dan lebih santai. Kami boleh mengambil foto dimana saja. Seperti tiga foto terakhir di atas. ☺

Ada yang mau berkunjung ke Solo juga? Mari sini... ☺



Read More

Anak UAS? Please, Jangan Cemas!

Sunday, January 1, 2017

Eh, UAS sudah selesai 'kan ya? Sekarang tinggal liburan aja.

Tapi boleh lah kalau saya tulis tentang UAS. Mak Rizki pernah menulis tentang bagaimana agar anak semangat menyambut UAS. Nah, saya jadi keidean nih, untuk menulis hal yang sama, hehe...

test from pixabay

Saya pribadi, sebenarnya bukanlah tipe orang tua yang menuntut anak agar sukses secara akademis. Apalagi Amay masih TK B, jadi biarlah dia happy-happy dulu di sekolah. Tapiii, waktu Amay UAS beberapa minggu lalu, saya ikutan belajar juga sih. Tentang membaca dan berhitung, saya ngga secara khusus mengajari Amay. Saya hanya fokus pada hafalan surah, hadits dan do'a saja. Saya pun ikut menghafal Surah Al-Ghosyiyah bareng Amay, hehe...

Alasannya sih simply karena, masak anaknya disuruh ngafalin qur'an tapi emaknya enak-enakan? Ngga bisa begitu...saya pikir saya harus ikut merasakan susah payahnya menghafal qur'an. Yaa..baru juz 'amma sih, tapi kan ngga gampang juga kan?

Saya sih setuju dengan Mak Rizki yaa... Saat UAS, kita sebagai orang tua mesti banyak berdo'a agar anak kita sukses dalam ujiannya. Saya yakin, berdo'a untuk anak sebenarnya sudah tiap hari kita lakukan. Tapi dengan do'a, usaha kita sudah final, kita titipkan segalanya pada Allah Ta'ala.

Selain itu, saya juga setuju sekali untuk mendukung anak belajar tanpa menuntutnya harus menjadi juara. Toh, berdasarkan Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang saya kutip dari tulisan Mak Rizki, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lagipula, menuntut anak untuk selalu mendapatkan nilai yang terbaik (menjadi juara), terkadang bisa menjerumuskan mereka loh. Iya, banyak anak yang kemudian menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang baik, misalnya dengan berlaku curang seperti mencontek. Tak hanya itu, malahan saat Ujian Nasional tiba, ada yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli bocoran jawaban. Tak bisa dipungkiri, ini adalah salah satu sisi buruk dari sistem pendidikan yang mengandalkan nilai sebagai alat ukur kecerdasan.

So, sebelum semua terlanjur terjadi, mari kita bisikkan pada anak-anak, bukan nilai tinggi yang membuat kita bangga pada mereka, tapi akhlaq mulia lah yang paling utama. ☺
Read More

Begini Caranya Agar Wanita Berhijab Jadi Fotogenik Saat Difoto

Wednesday, December 28, 2016

Siapa bilang wanita berhijab tidak bisa berfoto secara fotogenik?

Banyak cara kok yang membuat wanita berhijab akan kelihatan tetap cantik dan bergaya. Jadi, tidak perlu berkecil hati dengan keputusan untuk berhijab. Aneka foto menarik dan fotogenik tetap dapat dimiliki asalkan sudah tahu siasat berfoto yang tepat.

Daripada terus-menerus tidak percaya diri dengan foto-foto kita ketika berhijab, sebaiknya kita simak dulu beberapa informasi penting ini, ya.


Pastikan Kalau Wajah Kita Bersih Sebelum Berfoto

Bagian yang paling menonjol ketika berfoto adalah wajah. Jadi, tidak mengherankan kalau kita mesti selalu membersihkan wajah sebelum berfoto. Kebiasaan sederhana ini akan membuat wajah kita lebih berseri-seri saat difoto. Wajah yang bebas minyak pasti membuat kita lebih percaya diri ketika difoto dalam berbagai kesempatan.


Mengandalkan Candid yang Menarik

Biasanya hasil foto-foto candid tidak kalah menarik dengan foto selfie atau foto biasa. Itulah sebabnya kita mesti mengeksplorasi gaya candid ketika sedang berfoto. Mintalah teman atau anggota keluarga mengabadikan foto-foto kita secara candid. Sehingga nanti kita memahami angle candid yang paling tepat dan paling membuat kita fotogenik.


Memilih Latar Tempat yang Warnanya Kontras

Latar tempat yang warnanya kontras dengan warna pakaian akan membuat penampilan kita tampak lebih menonjol. Oleh sebab itu, jangan ragu untuk memanfaatkan tempat-tempat menarik ketika berfoto. Siapkan gaya terbaik di tempat yang warnanya kontras. Saat ini banyak lo tempat instagramable yang sangat pas untuk dijadikan lokasi foto. Tak hanya foto indoor, lokasi foto outdoor di taman atau objek wisata alam pun tak kalah istimewa untuk bergaya.


Pakaian dan Hijab Menarik yang Bikin Kita Percaya Diri

Model pakaian yang menarik tidak harus rumit dan tidak nyaman. Karena banyak sekali variasi pakaian muslim yang modis dan menarik. Lihat saja koleksi pakaian muslim dan jilbab murah terbaru di MatahariMall. Semua koleksi di MatahariMall dibanderol dengan harga terjangkau sehingga kita tidak boros ketika berbelanja. Pilihan busana muslim dan jilbab yang up to date siap menyempurnakan penampilan dan bikin kita makin fotogenik.

Hijab from MatahariMall

Bila kita rajin melakukan eksplorasi gaya, pasti kita akan segera menemukan angle foto andalan. Ditunjang dengan gaya berpakaian dan make up yang tepat, hasil foto pun akan memuaskan dan luar biasa. Yuk bergaya secara maksimal demi jepretan foto-foto istimewa!
 
 
Read More

Hello, Salam dari Saya, Ibu yang Tak Sempurna!

Monday, December 19, 2016

Perang antar Mama masih sering kita temui hingga saat ini. Topiknya pun bermacam-macam. Mulai dari sufor vs ASI, popok kain vs diapers, sectio caesar vs partus spontan, homemade baby food vs MPASI instan, dan lain-lain.

Jadi ibu masa kini, apalagi bagi para ibu yang aktif berselancar di dunia maya, mesti punya hati yang seluas samudera. Salah-salah, bisa stress karena membaca status orang lain yang seolah-olah menghakimi kita, hehe... Tak hanya di dunia maya saja sebenarnya, kebesaran hati juga amat diperlukan ketika menghadapi pendapat orang lain akan hidup kita, di dunia nyata.

Saya ibu dari dua anak, yang memang sudah terlihat berbeda tak hanya dari fisik, tapi juga dari cara melahirkannya. Amay, si sulung, dikeluarkan paksa melalui perut saya. Dan Aga, adiknya, saya lahirkan per vaginam.

Komentar orang-orang pada Amay dan Aga bermacam-macam. Amay yang secara fisik mirip saya, -kurus dan terlihat seperti tulang berjalan-, dan Aga yang dari perawakan hingga struktur giginya mirip sekali dengan sang papa.

Aga 2 tahun

Amay, 2 tahun


Orang-orang sering membandingkan keduanya. Dulu, waktu saya belum memiliki Aga, komentar pedas mesti saya telan, sendirian. Saya pernah dibilang hanya mengurusi suami dan mengabaikan Amay, karena Amay bertubuh kecil. Kadang mereka yang berkomentar memang tak memikirkan bagaimana perasaan saya yaaa... Padahal kalau dipikir-pikir, ibu mana sih yang tak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Ibu mana yang tak ingin melihat anaknya tumbuh "normal" seperti "dambaan" orang lain?

Kenapa kata normal dan dambaan saya beri tanda petik? Ya karena sering saya jumpai seseorang sedang mengharapkan anak orang lain tumbuh seperti yang dia inginkan. Padahal ibu si anak mah biasa aja.

Contoh kasus, "Amay beratnya berapa? Kelihatannya kurus ya? Minum susu nggak?" dan ketika saya jawab bahwa Amay ini full ASI sampai umur 2 tahun, ditambahi lagi deh kalimatnya, "Ooh...mestinya dikasih susu biar agak berisi. Kasihan lho, kayak anak kurang gizi." 😬😤

Ada yang begitu? Adaaaa... Saya sudah kenyang dengan sindiran seperti itu. Awalnya sih saya selalu jawab, "Amay ini doyan buah, doyan sayur juga lho... Makannya juga lahap koq." Tapi lama-kelamaan seiring dengan imunitas saya yang makin kebal terhadap nyinyiran, saya ladeni mereka dengan satu senyum saja. 😊

Amay kan memang seperti saya, mau makan sebanyak apa, badannya cuma segitu-gitu aja. Bisa naik paling sekilo-dua kilo, itu pun perlu waktu berbulan-bulan. Susahnya tuh ya, udah susah payah menaikkan berat badan, eeeh, langsung turun drastis hanya karena demam dua hari.

Beda dengan Amay, Aga, adiknya punya badan yang lebih montok. Orang-orang ngga akan percaya kalau Aga ini makan karbo-nya hanya sedikit. Jumlah suapan Aga itu ya, paling hanya sekitaran 6-10 suap sendok bayi. Tapi alhamdulillah Aga masih doyan sayur, meski dia hanya suka buah-buahan tertentu saja.

Kalau ditanya, koq bisa? Ya jawabnya takdir, hihihi... Aga sama lincahnya dengan Amay koq. Dia hobi banget main bola. Dia juga sering jalan cepat -kalau belum bisa dikatakan berlari- kesana kemari.


Dari rahim saya sudah lahir dua macam anak dengan perawakan tubuh yang berbeda. Monggo aja sih kalau masih mau nge-judge saya. Atau mau bilang saya lebih sayang Aga daripada Amay? It's a big NO!! Saya selalu berusaha memberikan kasih sayang yang sama pada dua anak laki-laki saya. Bahkan kalau boleh cerita yaa, saya dulu malah sering menangis waktu Aga bayi. Saya sering menangis karena merasa mengabaikan Amay. Mungkin itu termasuk baby blues syndrome. Tapi alhamdulillah ngga lama koq, dan saya mulai mencintai Aga sebesar cinta saya pada kakaknya.


Belum selesai soal berat badan, "keresahan mereka" merambah ke perkembangan fisik anak-anak saya.

Umur 8 bulan, gigi Amay belum keluar. Sedangkan teman sepantarannya yang lahir 2 minggu setelah Amay, sudah punya 2 gigi seri. Sambil bercanda, ibu si bayi bilang, "Untumu ndi, May? Iki wis biso nglethuk balung lho. (gigimu mana, May? Ini aja udah bisa makan tulang lho)"

Saya tau dia hanya bercanda. Tapi candaannya yang terus menerus dilontarkan tiap kami berjumpa, mau ngga mau bikin saya rendah diri juga. Apalagi gigi Amay yang terlambat tumbuh itu sempat membuat saya khawatir kalau-kalau Amay memang ngga punya gigi. Tapi alhamdulillah, umur 12 bulan, gigi seri bagian kiri atasnya muncul juga.

Amay 1 tahun, masih titah, gigi baru 1

Yup, gigi Amay yang tumbuh pertama itu adalah kado ulang tahunnya dari Allah. 😂

Nah, belajar dari pertumbuhan Amay, ketika di umur 8 bulan gigi Aga belum tumbuh, dan kejadian ini kembali "meresahkan" tetangga saya, saya mencoba menenangkan mereka dengan berkata, "Tenang...dulu Amay punya gigi pas umur 12 bulan." Alhamdulillah, mereka jadi tidak khawatir lagi. 😜

Urusan gigi sudah terlewati. Lalu apalagi?


Jalan.

"Maaayyy...lomba lari yuk, May!" dan saat itu Amay baru merangkak. Teman Amay yang 2 minggu lebih muda dari Amay itu sudah bisa jalan. Dia memang tidak melalui proses merangkak seperti Amay. Tapi Amay dibilang keasikan merangkak jadi males jalan.

Sabar...sabar... Dan tibalah saat yang dinanti-nanti, Amay bisa berjalan di umur 15 bulan. Hal ini saya jadikan acuan untuk perkembangan Aga. Sama dengan kakaknya, Aga juga melangkahkan kaki pertamanya di usia ini. Catatan ini saya jadikan senjata untuk menenangkan mereka yang resah dengan kemampuan berjalan Aga yang katanya cukup terlambat. 😀

Ngga apa-apa, saya mah santai orangnya. Lha wong kata ibu saya, Mas Pepi juga bisa jalan umur 18 bulan koq.😇

Selesai urusan jalan, yang masih saya hadapi saat ini adalah kemampuan bicara Aga. Aga kini 25 bulan dan kosa katanya baru beberapa saja.



Iya, Aga baru bisa mengucap "Ma, Pa, top! (stop!), dan ua (dari kata "aqua", minum maksudnya)" Entah darimana dia dapat kosakata terakhir itu. Padahal kami juga selalu mengatakan "mimik" atau "minum". Dan untuk kata "top!", itu karena setiap keluar dari kamar mandi, kami memintanya untuk berdiri di atas keset dulu. "Stop! Jangan jalan-jalan dulu nanti kepeleset!" gitu. Nah sekarang tanpa dikomando pun dia akan bilang "stop!" sendiri.

Apa saya ngga khawatir melihat Aga yang belum bisa bicara banyak kata? Tentu saja kekhawatiran itu ada. Tapi saya mencoba mengingat perkembangan Amay waktu dulu. Amay bisa mengucap kata "pipis" di usia 26 bulan. Ini yang mempermudah proses toilet training-nya dahulu. Di usia 26 bulan juga, Amay bisa mengucap kata "putuk" yang berarti "tutup", dan beberapa kata lain yang konsonannya masih terbalik-balik.

Mohon do'anya saja ya, supaya Aga segera bisa bicara banyak kata. 😊😊



Tulisan ini adalah curhat bareng dengan bloggerKAH. Baca tulisan Rani R Tyas disini, Widut disini, dan tamu kita Irawati Hamid disini
Read More

Resolusi Saya di 2017

Friday, December 16, 2016

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Tahun 2016 hampir usai. Ada banyak berkah dan keseruan yang saya rasakan di 2016 ini. Jika saya menghitung berkah-Nya, rasanya tak akan habis saya tulis disini. Alhamdulillah...

Tahun 2016 jadi tahun pertama saya mencicip rasanya berada di udara saat perjalanan ke Makassar Maret lalu. Tahun 2016 pula akhirnya alhamdulillah saya dan suami diberi titipan tempat tinggal baru. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... Keduanya terwujud karena saya memiliki mertua yang baik hati. ☺✌

Benar kata Allah, "Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?"

Di dunia yang saya tekuni, dunia menulis, alhamdulillah untuk pertama kalinya pula tulisan saya dimuat di Gado-Gado Majalah Femina. Rasanya luarrr biasa. Mohon do'anya ya, agar tulisan-tulisan berikutnya juga layak nampang kembali disana ☺. Alhamdulillah juga tahun ini pertama kalinya saya mendapat rezeki sebagai buzzer, hihi.. Ya gitulah, selalu excited dan bersyukur untuk setiap pencapaian pertama. Dan semoga selalu tetap bersyukur untuk yang kedua, ketiga, dan berikutnya. Ya mungkin bagi beberapa orang, fee-nya ngga seberapa, tapi alhamdulillah bagi saya ini rezeki dari Allah yang tak pantas jika tidak saya syukuri. 

Nah, untuk #Resolusiku2017, ada beberapa hal yang ingin saya capai, diantaranya:

1. Menghafal Juz 30

Keinginan ini kembali muncul beberapa hari lalu, saat Amay ujian tahfidz Surah Al-Ghosyiyah. Kalau surah-surah sebelumnya insya Allah saya hafal sedikit-sedikit, tapi untuk surah ini saya perlu menghafalnya dari awal. Saya menghafal bersama-sama dengan Amay. Disitu saya juga berpikir, mosok saya menyuruh Amay menghafal sedangkan saya sendiri ngga hafal. Mana contoh keteladanan yang sering saya koar-koarkan? #jitakkepalasendiri

Target di sekolah Amay, lulusan TK-nya memang hafal juz 30. Semoga sampai semester depan saya bisa mendampingi dan menemani Amay dalam menghafal juz 'amma ini. Aamiin...


2. Khatam Qur'an Minimal 4x Setahun

Sejak punya balita, lebih tepatnya sejak melahirkan anak pertama, saya jadi kurang disiplin membaca Al-Qur'an. Adakah yang seperti saya? Sediiih... :( Jangan ditiru yaa... Kalau ditanya kenapa bisa begitu, emak-emak pasti punya banyak alibi untuk membela diri. Jadi ngga usah ditulis disini yaa...

"Tapi koq masih bisa nulis?"

Nah itulah... #plaklagi #jitakkepalasendirilagi


3. Mencicil Hutang

Alhamdulillah selama ini saya jarang memiliki hutang. Saya dan suami bukan tipe yang jika ingin membeli sesuatu, dipaksakan berhutang sana-sini. Tapi sejak membeli rumah beberapa bulan lalu, hutang kami jadi banyak sekali. 

Kenapa kami nekad beli rumah dengan KPR, alasannya karena jika tidak beli sekarang, harganya makin tidak terjangkau untuk kami. Rasanya memang seperti tidak percaya dengan rezeki Allah ya? Tapi ada beberapa pertimbangan lainnya sih yang mungkin tak dipahami orang lain, dan tentu saja kami juga selalu berusaha agar kami bisa lepas dari jerat hutang ini. Mohon do'anya yaa.. ☺


4. Mulai Menabung untuk Pendidikan Anak

Ini juga akan jadi prioritas kami. Kalau kata Mbak Rani R Tyas, biarlah kita makan pakai tahu tempe setiap hari, yang penting dana pendidikan anak terjamin. Jujur saja saya merasa terlambat mempersiapkannya. Saya baru sadar saat akan mempersiapkan Amay ke SD. 


5. Menambah Jumlah Sedekah, Menambah Kualitas Ibadah

Untuk urusan ibadah, saya merasa beberapa tahun ini kurang sekali. Semoga Allah masih memberi saya waktu untuk memperbaiki. Aamiin... 


Sudah itu saja. Kalau terlalu banyak takutnya malah terbebani dengan resolusi sendiri, hehe... 



Tulisan ini diikutkan dalam Hidayah-Art First Giveaway "Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan"


Read More

From Up on Poppy Hill, Drama Animasi Ghibli

Tuesday, December 13, 2016


Mungkin pembaca blog kayusirih ini sudah tau kalau saya suka dengan film-film Ghibli seperti My NeighbourTotoro, Spirited Away, dan Grave of The Fireflies.

Ada film yang baru saya tonton kemarin bareng Amay, berjudul From Up on Poppy Hill. Film ini sebenarnya diproduksi tahun 2011 lalu, disutradarai oleh Goro Miyazaki, putra dari Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli. Konon katanya, awalnya Goro tak ingin mengikuti jejak ayahnya. Ia pun bekerja sebagai seorang landscaper selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memasuki bisnis film.

Baru kemarin saya tonton, saya langsung ingin menuliskannya. *Lalu lirik draft When Marnie was There, Spirited Away, Ponyo, dan yang lain-lainnya*

Kira-kira kenapa coba? Simply karena saya suka banget dengan soundtracknya... Putar deh link youtube di atas. Mendayu-dayu, membawa saya seolah-olah berada di atas bukit di tepi laut itu. Seolah-olah saya adalah Meru, yang tiap pagi mengibarkan bendera tanda rindu pada sang ayah.

picture from nerdreactor.com

Baiklah, saya akan cerita sedikit tentang jalan cerita film ini.

Setting film ini adalah di Yokohama, Jepang, pada tahun 1963. Film ini bercerita tentang Umi Matsuzaki (yang juga memiliki nama panggilan Meru), seorang gadis SMA yang tinggal di sebuah rumah kos.

Saat awal melihatnya bangun lebih pagi dari yang lainnya, menyiapkan makanan untuk seluruh penghuni kos, beberes, hingga mengibarkan bendera, saya sudah berpikir bahwa anak ini memiliki kesedihan yang ingin ia hapuskan.

Ternyata benar, jalan cerita berikutnya menjelaskan bahwa, ayahnya yang seorang Angkatan Laut, tewas karena kapalnya terkena ranjau saat Perang Korea. Kalau diingat-ingat lagi, film Ghibli ini nggak hanya sekali mengangkat kisah anak seorang Angkatan Laut yaa... Contohnya di film Grave of The Fireflies, tentang dua anak korban perang yang kehilangan ayahnya yang seorang Angkatan Laut juga.

Umi ini, punya rasa dengan seorang siswa bernama Kazama Shun. Shun pun memiliki perasaan yang sama. Awalnya, saya pikir hubungan mereka akan diwarnai drama rebutan pacar dengan sang adik, hehe... Soalnya Sora, adik Umi, terlihat senyam-senyum gitu sama Shun. Tapi ternyata saya salah menafsirkan gesturnya, hihi...

Shun dan Umi semakin dekat ketika mereka bekerja sama untuk membersihkan clubhouse sekolah, Quartier Latin. Umi juga mengundang Shun dalam acara reuni almamater yang diselenggarakan teman kosnya, seorang dokter bernama Miki Hokuto. Saat berada di kamar kos itulah, Umi memperlihatkan foto almarhum ayahnya.
 
 

From Up on Poppy Hill

Ternyata, Shun memiliki foto yang sama.

Sepulangnya Shun dari rumah kos Umi, ia bertanya pada ayahnya, sebenarnya ia anak siapa? Kemudian ayahnya mengaku bahwa Shun bukanlah anak kandungnya. Nah, konflik batin pun dimulai. Shun kemudian menjaga jarak dengan Umi. Ia tak mau kedekatannya membuat perasaannya tumbuh semakin dalam. Kenapa?

Iya, karena Shun berpikir, ia adalah saudara dari Umi. Jadi mulai sekarang, Shun dan Umi harus melupakan perasaan mereka.

Umi juga merasa sedih dong yaa... Tapi mau bagaimana lagi?

Hingga tiba suatu hari, saat Umi baru saja pulang dari Tokyo bersama Shun dan Shiro untuk menemui Ketua Yayasan agar mengurungkan niatnya untuk membongkar Quartier Latin, Umi melihat sepasang sepatu di depan rumah. Ia berlari ke dalam rumah dan menemukan ibu yang dirindukannya. Ibunya, Ryoko, adalah seorang profesor yang sedang belajar di Amerika Serikat.

Saat malam menjelang dan keadaan telah sepi, ia menemui ibunya. Ia mengatakan bahwa seorang temannya, Kazama Shun, mengaku sebagai anak dari Yuichiro Sawamura, yang juga ayahnya. Ia menanyakan kebenaran hal itu pada sang ibu.

Ryoko pun menjelaskan pada Umi bahwa sebenarnya Shun adalah anak dari sahabat ayahnya, Hiroshi Tachibana, salah satu yang berada dalam foto yang mereka miliki. Saat itu bayi Shun telah yatim piatu. Karena kelembutan hati Sawamura, akhirnya Shun pun dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga, sebagai anak mereka.

Di saat bersamaan, Ryoko yang memang sedang melanjutkan studi, sedang hamil anak mereka. Ia khawatir kelak tak bisa mengurus Shun dan calon bayi mereka dengan baik. Akhirnya, Shun pun diserahkan pada sahabatnya yang lain, yang baru saja kehilangan putra.

Kisah Shun dan Umi berakhir bahagia. Hubungan mereka kini tak terhalang oleh darah. Apalagi setelah mereka berdua diyakinkan oleh Yoshio Onodera, orang ketiga dalam foto itu, yang merupakan sahabat dari ayah mereka berdua.

From Up on Poppy Hill

Meski beberapa orang menilai ending dari film ini terkesan buru-buru, namun bagi saya jalan cerita dalam film ini tetap lain dari yang lain. Saya mah sukaaa.. Dan yang penting, untuk sebuah film remaja, saya tidak menemukan adegan yang “enggak-enggak”. Jadi, aman untuk Amay lah.. Amay juga taunya Shun dan Umi bersahabat, ayah mereka bersahabat, dan mereka saling membantu, itu saja. ☺

Nah, satu film Ghibli sudah selesai, tunggu review saya tentang film ghibli yang lainnya yaaa... Itu tante Mbul, Gustyanita Pratiwi juga udah nulis tentang The Cat Returns di SokSinopsis. ☺





Read More

Mengobrak-Abrik Isi Lemari Pojok

Saturday, December 10, 2016


Kalau biasanya ketika membuka lemari, kita lihat isinya hanya baju-baju, kali ini kita akan membongkar lemari yang isinya lain dari yang lain. Saya sering berkunjung kesini, ke Lemari Pojok, karena isinya amat sangat menarik. 

Lemari Pojok Milik Retno Kusuma Wardani

Biasanya, jika si empunya LemariPojok membagikan isinya ke seantero facebook, tidak bisa tidak, rasa penasaran saya akan isi yang ditawarkan, memaksa jari saya untuk meng-klik. Daaan, saya betah berlama-lama disini. Kalau ngga ingat Aga dan Kuota, barangkali saya akan menekurinya lama-lama, haha... Yes, it's rhyming!!

Favorit saya adalah, resep-resep masakan yang tersimpan di laci label lemari. Gampang, dan bahan-bahannya mudah didapatkan. Tapi masalah saya adalah, saya suka malas uplek di dapur, haha.. Jadi resep-resep kue dan masakan dari LemariPojok cuma ngumpul di bookmark aja. ✋

Sebelum kemana-mana, kita bongkar dulu si LemariPojok dan sekalian kenalan dengan pemiliknya yaa...

Adalah Retno Kusuma Wardani, perempuan kelahiran Malang 32 tahun lalu, pemilik LemariPojok itu. Ibunda dari Atha, Aisya dan Aksa (yang ternyata jika disingkat maka akan menjadi Taksaka) ini merupakan blogger sekaligus penulis. Karya-karya fiksi yang dibuat Mbak Retno keren-keren lho. Klik saja label Cernak, Cerpen, Cermin, Puisi atau Fiksi di sisi kanan blognya, dan imajinasimu akan ikut mengangkasa.

Label Lemari Pojok di sisi kanan.


Selain menulis di Lemari Pojok, Mbak Retno, demikian ia biasa disapa, juga menulis untuk media cetak. Beberapa tulisannya antara lain cerpen dan beberapa puisi, tersimpan di dalam dua buah buku antologi terbitan indie. Mbak retno juga piawai membuat cerpen dalam bahasa Jawa, dan dimuat di Majalah Jaya Baya dan Majalah Matan. 

Kalau di blognya sering kita temukan resep masakan yang ditulis oleh Mbak Retno, sebenarnya tak mengherankan, karena resep cake modifikasinya juga dimuat di Koran Jawa Pos. Kereeennn... Sedangkan tulisan saya di Jawa Pos baru satu doang, yaitu tentang Bersahabat dengan Bumbu Dapur yang dimuat di rubrik Gagasan. ☺✌

Mbak Retno ini sama dengan saya, mengganti domain blog dari yang gratisan menjadi TLD beberapa bulan lalu. Mungkinkah karena merasa terkompori dengan teman-teman di grup arisan link? Hehe, iya kali yaa.. Kalau saya sih iya.. ☺

Setelah domain LemariPojok berganti menjadi TLD, tampilan blog yang sekarang semakin cantik euy, meski di beberapa post ada yang sudah dipasangi "continue reading", dan di post lainnya masih ada yang tampil full. Hehe..  Ini bisa kita lihat ketika misalnya kita klik di label "review"

Sebenarnya kita bisa koq memasang "read more" atau "continue reading" secara otomatis untuk semua postingan. Kelebihannya adalah, ngga mesti capek-capek memasangnya secara manual setiap kali membuat postingan baru. Tapi kelemahannya adalah, kepotongnya terkadang kurang elegan, hehehe... Saya sendiri pakai yang otomatis, takut lupa soalnya. ✌

Oya, selain mahir membuat tulisan, Mbak Retno juga pandai menyanyi. Wiiih... Kalau mau kenalan lagi sama Mbak Retno, kita bisa menemukan Mbak Retno Kusuma Wardani disini:

Email: retno.kwardani17@gmail.com
Facebook: Retno Kusumawardani
Twitter: @kwardani_retno
Instagram: @retnoeyustiar



Read More